Kepergian Gadis Desa

Wira dan Tara bersama anak-anak desa lainnya berjalan menyusuri jalan setapak pedesaan memakai seragam merah putih tanpa alas kaki. Seperti yang biasa mereka lakukan setiap berangkat sekolah. Azan sholat subuh pertanda mereka harus bergegas berangkat kalau tak ingin kesiangan tiba di sekolah. Senter ada di sebelah kiri Wira sedang tangan kanannya memegang tangan Tara. Kedua kakak beradik bergandengan sepanjang perjalanan.

“Wira, jangan sampai terpisah dari adikmu ya. Pegang tangannya.” Itulah selalu pesan ibu kepada Wira. Jam sudah menunjukkan pukul 7:20, perjalanan yang amat panjang untuk mencapai sekolah dan syukurlah mereka belum terlambat. Wira membantu Tara membersihkan kaki, memakaikan sepatu lusuh dan merapikan pakaian, dalam sekejap saja Tara langsung bergabung dengan teman-teman sekelasnya bertuliskan kelas 1. Tara berusia 7 tahun duduk di kelas 1 SD bersama murid-murid lainnya dari berbagai desa sedang Wira memasuki kelas bertuliskan Kelas 6. Ya, ini tahun terakhir bagi Wira duduk di bangku sekolah dasar. Wira dan mungkin juga seluruh siswa kelas 6 se-Indonesia was was dengan yang namanya UN, seperti hantu yang hendak mencabut nyawa. Bagi Wira ini tahun yang sulit, banyak hal berkecamuk dalam pikirannya. Ada keinginan kuat dalam diri Wira akan langsung bekerja begitu selesai sekolahnya. Seperti Munaimah hanya sekolah sampi kelas 6 SD saja tapi setiap pulang lebaran terlihat berpakaian bagus, cantik dan selalu membagi-bagikan uang kepada anak-anak kampung. Atau seperti Salimin selepas SD ikut ayahnya ke kota, sekarang kelihatan hidupnya enak, punya sawah, kambing dan rumah. Bagaimana dengan Nirmala, selepas SD, lanjut ke SMP lalu ke SMA, hidupnya begitu saja, bekerja sebagai juru ketik di kantor kelurahan. Fikri yang katanya sarjana akhirnya pulang kampung dan jadi petani. Hidup pas-pasan. Tapi bagaimana Ibu dan bapak ya? Lalu Tara? Siapa yang akan menjaganya kalau ke sekolah? Dia masih kecil. Bila aku lanjut sekolah ke SMP kapan bisa bantu bapak ibu cari uang? Sekolah begitu jauh, harus naik angkot. Uang darimana? Begitulah selalu perang dalam pikiran Wira.

“Bu, Wira sudah putuskan, selepas SD nanti Wira akan bekerja. Bantu-bantu Bapak dan Ibu cari uang. Wira akan cari orang yang bisa bawa Wira ke kota. Pas lebaran pasti banyak yang pulang dan cari yang mau kerja.” Ibu terdiam, tak kuasa menahan air mata, mendengar keinginan puterinya dan meratapi kehidupan. Hal yang tak pernah dia bayangkan akan terpikir oleh Wira.

“Mohon maaf lahir batin ya Wira. Gimana jadi ikut ke kota tidak?” Sapa Minah saat hari lebaran tiba. “Kalau jadi ikut biar aku kasih tahu orang yang mau. Kabari ya. Jangan lama-lama tiga hari lagi aku balik ke kota.” Sembari memasukkan kue ke mulunya.

Bapak diam saja raut wajahnya jelas melukiskan kesedihannya. Isak tangis ibu terdengar dari kamar yang sedang berpelukan dengan Wira. Kaos berwarna biru, celana panjang hitam serta jilbab berwarna putih melekat di tubuh Wira. Wira sudah siap berangkat. Pamitan dan pelukan terakhir untuk Bapak, Ibu dan Tara. Bapak dan ibu tak bisa sanggup agar Wira tidak berangkat ke kota. Tak henti-hentinya doa dipanjatkan untuk keselamatan Wira. Suara motor yang membawa Wira semakin hilang dan akhirnya lenyap. Entah kapan Bapak dan ibu bisa bertemu dengan Wira lagi, entah bagaimana nasib Wira di Jakarta nantinya. Apakah ini hari terakhir bapak dan ibu bertemu Wira? Gadis itu, usianya baru 12 tahun. Melangkahkan kaki ke Jakarta yang penuh deru dan debu.

Advertisements

Published by

rosegevari

Menulis apa aja yang pengen ditulis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s