Kemelut Mengantarku ke Berlin (Part2)

Hari-hari dijalani Sutinah kini dipenuhi penyesalan. Tak jarang timbul niatan bunuh diri, kabur dari rumah majikannya hingga aborsi. Ditambah lagi peristiwa buruk itu, Warsito menjadi lebih dingin, iming-iming akan menikahi Sutinah pun tak pernah lagi terlontar. Hilang, seperti angin yang berlalu begitu saja. Bulan pertama berlalu Sutinah tidak menstruasi, tanpa disadarinya. Bulan kedua berlalu juga halangan bulanan tak datang. Tapi kenapa rasa mual yang hebat menyerang, kepala pusing dan badannya seperti meriang. Mungkin hanya demam biasa. Begitu pikir Sutinah. Tersadarlah Sutinah kalau dia tengah hamil. Semua bertubrukan di benaknya, apa iya dia hamil? Bagaimana kalau majikanku tahu, Warsito pasti bertanggung jawab. Pikiran Sutinah penuh, dan dia memutuskan menyampaikan ini ke Warsito agar segera menikahinya. Tanpa pikir panjang setiba Warsito di rumah, Sutinah langsung menghampiri dan meminta pertanggungan jawab kepada Warsito. Warsito mengelak “Bagaimana aku tahu kalau itu anakkku? Kamu kan bisa saja tidur dengan orang lain.” Jawab Warsito sembari memalingkan wajahnya ke arah tembok, mengusap wajahnya dan berlalu meninggalkan Sutinah. Bak diterpa air bah hancur hati Sutinah, langit seolah-olah runtuh dan gelap. Tak terbayang lagi Sutinah apa yang akan terjadi padanya, hancur sehancur-hancurnya hidup Sutinah. Hanya kegelapan yang terpikir olehnya. Bagaimana hidupnya dan anaknya kelak? Apa yang akan dikatakan majikannya? Orang sekampung pasti akan menghina Sutinah dan keluarganya. Tak akan kuat aku menahan rasa malu ini. Aku lebih baik mati. Begitu pikirnya.

“Tinah, kamu dimana? Ibu nyariin kamu.”
Mendengar suara Tari, Sutinah tersadar, buru- buru diusapnya matanya yang memerah. Dengan langkah tergesa-gesa Sutinah menjawab Tari. “Iya sebentar, aku ke sana.” Jawab Sutinah

“Tinah, kamu ko melamun. Lihat itu ikannya sudah gosong. Diangkat dong!” Tukas Tari melihat Sutinah menggoreng ikan sampai gosong. “Kamu sakit ya? Kemarin juga air sampai tumpah-tumpah didiamin. Ko bengong melulu sih. Kalau gini terus kan aku juga yang repot Tin, kerjaan kamu jadi ga ada yang beres.”
“Maaf Mbak Tari, aku ga sengaja. Aku nggak apa-apa ko. Maaf ya… Aku pasti akan lebih berhati-hati.” Tandasnya.
“Ya udah, tapi kalau begini terus aku lapor ke ibu ya.” Sutinah hanya mengangguk.

“Tin, aku lagi suka nieh sama seseorang. Si Jamal aku udah ga demen. Abis kayaknya playboy.” terdengar suara Tari sambil melebarkan senyum sambil memandang ke arah langit-langit kamar. “Kamu udah punya pacar belolum Tin? Masa selama di Jakarta belum pernah ketemu cowok yang cakep?” Tanya Tari sambil memalingkan badannya ke arah Sutinah. Sutinah hanya diam, wajahnya lusuh dan tatapanya hampa. “Tin, kamu melamun ya?” Kembali Tari bertanya. Tidak ada jawaban dari lawan bicara yang diharapkan Tari. Reaksi Sutinah mengurungkan niat Tari untuk melanjutkan ceritanya. Yang terdengar hanya suara tombol ponsel Tari yang sedang diutak atiknya. Sutinah tetap terdiam, hingga terbersit dibenaknya untuk menceritakannya pada Tari. “Aku hamil Mbak..” Teriaknya tiba-tiba. Tari terkejut dan tak percaya akan apa yang didengarnya. Sutinah sudah tidak tahan menanggung bebannya akhirnya menceritakannya kepada Tari. Tari mendengar dengan penuh harap, tak berniat sedikitpun menghakimi Sutinah sebab bocah itu sudahlah sangat terpukul.
“Kamu harus kasih tau Ibu. Selanjutnya bagaimana bagaimananya ya pasrah saja. Lalu Bapak dan Ibumu di kampung juga harus tahu. Soal Warsito, Ibu pasti akan bantu.”

Sutinah dan nyonya rumah sedang berbicara serius, dan ketakutan nampak di wajah Sutinah. Apapun kata majikannya dia sudah pasrah. Apapun kata bapak dan ibunya di kampung Sutinah pun sudah pasrah. Toh semua ini sudah terjadi, mau diapain lagi. Itulah yang ada dibenak Sutinah.

Tampak kekesalan di wajah nyonya rumah namun Nyonya rumah tidak marah atau mengusir Sutinah, malah akan membantu Sutinah. Tapi Sutinah tidak boleh melahirkan di rumhah itu dan Sutinah disuruh kawin dengan Warsito. Warsito yang mendengar kabar itu, tiba- tiba hilang, Warsito kabur dari rumah majikannya. Sutinah sudah menduga kalau pria itu pasti tidak akan tanggung jawab. Menjelang persalinan Sutinah berangkat ke kampung. Majikannya membolehkan Tari mengantar untuk alasan keamanan Sutinah. Serangkaian cerita sudah disiapkan jika ada orang yang bertanya, suami Sutinah meninggal karena kecelakaan. Rasa malu yang tak terelakkan, cibiran orang akan dirimya tak henti- henti mengalir.

Kenangan pahit yang tak terlupakan oleh Sutinah dan keluarganya. Setahun kini usia puteranya Sudiro, hati Sutinah makin dikuatkan bahwa dia harus bekerja keras demi anaknya. Kembali ke Jakarta menjadi asisten rumah tangga lagi tidak jadi masalah bagi Sutinah, yang penting bisa dapat uang untuk dirinya dan anaknya. Sutinah memantapkan hati berangkat ke Jakarta meninggalkan keluarganya serta puteranya di kampung halaman.

Kekluarga Wijaya mengijinkan Sutinah tinggal disana mengerjakan beberapa pekerjaan rumah bersama Tari. Minggu sore disertai hujan rintik- rintik tak mampu menghilangkan gerahnya kota Jakarta. Keluarga Wijaya kedatangan tamu yang mampir sepulang dari gereja. Obrolan hangat, senyum bahagia, canda tawa sukacita mewarnai jamuan sore itu. Sutinah melihat dari balik dinding dapur menatap majikannya dan tamu-tamunya. Sungguh suatu pemandangan yang luar biasa, suasana yang lama tak dinikmatinya, kebersamaan yang dirindukannya. Perbedaan usia yang jauh diantara mereka sama sekali bukan penghalang untuk berbagi. Tanpa sadar airmata Sutinah jatuh, membayangkan dirinya turut dalam jamuan majikan.

Kring…kring…!!!
Suara telepon berdering, Sutinah mengangkat telepon, tak lama kemuadian memanggil majikannya. Ada raut kesedihan terpancar dari wajah sang majikan melangkahkan kaki dengan gontai kembali ke kamarnya. Tentu saja Sutinah tidak berani berkata sepatah katapun.

“Duduk.” Perintah nyonya rumah kepada Sutinah usai makan malam. “Tidak perlu takut, bukan masalah besar. Begini, bapak dan ibu sudah diskusi. Di gereja ada jemaat yang kena stroke dan sedang membutuhkan perawat sebenarnya. Jadi ibu mau minta tolong, Sutinah sementara ini jadi perawatnya beliau. Itu kalau Sutinah tidak keberatan. Kalau sudah menemukan perawat yang cocok, kamu boleh kembali ke sini.” (To be continued….)

image
Welcome to Berlin
Advertisements

Kemelut Mengantarku ke Berlin (Part 1)

Usianya belia, baru 16 tahun November nanti. Tapi soal pekerjaan rumah dia ahlinya. Jangan terkecoh oleh badannya yang mungil. Bukan berarti juga dia tidak bisa melakukan pekerjaan yang biasa dilakukan pria. Namanya Sutinah. Sejak usia 12 tahun dia sudah menjadi pembantu rumah tangga. Selepas lulus SD oleh orangtua Sutinah menyuruhnya bekerja saja. Karena kondisi keuangan yang amat sulit. Mau tidak mau Sutinah pun menurut.

Malam hari Sutinah berkemas sambil diceramahi Ibunya agar begini begitu jangan ini jangan itu. “Tin, bukannya bapak ibu tidak sayang padamu, tapi cobalah mengerti ya nak. Bapak dan Ibu sangat sayang padamu, dan akan selalu mendoakan yang terbaik bagimu. Ingatlah itu selalu. Misalnya nanti kamu tidak betah atau tidak suka, kembali saja kapan pun kamu mau.” Kalimat itu selalu diingat Sutinah. “Aku bisa pulang kapan saja.” Begitu pikirnya. Keesokan paginya Sutinah sudah di jemput Tari, yang akan membawanya ke Jakarta, bekerja di rumah seorang kaya dimana Tari tinggal. Sementara waktu Sutinah akan bekerja bersih-bersih, jika sudah terampil mungkin Sutinah akan diberi pekerjaan lain. Tahun pertama tahun yang sulit bagi Sutinah, semua baru, banyak hal yang Sutinah tak pahami. Untunglah majikan Sutinah baik, dan Tari pun mengajarinya dengan baik, karena Tari dulu mengalami hal yang sama. Tak terasa waktu berlalu sudah 4 tahun Sutinah bekerja dirumah majikannya, dan Sutinah pun sudah mahir melakukan berbagai pekerjaan, bahkan nyonya rumah tak jarang mempercayakan beberapa hal kepada Sutinah termasuk menjaga anaknya yang masih SD kelas 1. Kebaikan hati Sutinah belum tercemar dari para sahabatnya, kepolosan dan keluguan masih melekat kuat pada dirinya. Sholat tak ditinggalkannya, pesan ibunda tercinta selalu diingatnya. Seiring waktu berjalan Sutinah, tubuhnya pun semakin sintal dan menggoda pria yang memandangnya. Wajah asli tanpa riasan terasa sangat menarik hati, tutur katanya yang ndeso menjadi daya tarik tersendiri bagi yang mendengarnya. Sutinah sungguh berbeda dengan pembokat lain yang bekerja di metropolitan Jakarta, banyak yang berubah. Biasanya asisten rumah tangga yang dari kampung akan berubah cara berpakaiannya,cara bicara, cara bepikir dan hal lainnya. Bergaul dengan banyak orang, mengunjungi berbagai tempat dan berbagi cerita dengan sesama pembokat tentang majikan yang galak, pelit, baik, semena-mena dan sebagainya. Mencari informasi tempat kerja dengan gaji tinggi tapi kerjaan sedikit, libur banyak, sering dikasi uang dan hal-hal lainnya. Karena mental yang masih rapuh beberapa pembokat jadi sulit untuk dipercaya. Tapi entah kenapa dengan Sutinah yang terlihat berbeda dengan yang lain. Tak terlihat sedikitpun di wajahnya pancaran kecurangan maupun kelicikan. Tatapan sendu dan lembut, mata bening itulah yang tampak padanya.

Petaka itun terjadi. Sutinah diam, membawa lukanya ke kampung, membawa malu yang hebat di keluarganya. Bapak dan ibunya murka, mencaci maki Sutinah, nyaris saja sang Bapak mengusir dia. Kalau bukan karena kebaikan hati Sutinah dan bantuannya selama ini mungkin juga Sutinah sudah tidak dianggap keluarga. Ibu Sutinah juga paham betul tabiat putrinya yang tidak mungkin melakukan maksiat. Ayah dan Ibu menerima mereka dan menahan malu atas petaka yang terjadi. Anak Sutinah lahir tanpa jelas siapa ayahnya, hatinya sakit, terluka dan malu. Malu yang tak terelakkan. Bayi mungil yang tak berdosa, mulus bak batu pualam, jari tanganya yang kecil membawa air mata sedih dan bahagia. Sutinah terus saja memeluk dan menangisi puteranya. Berkecamuk pertanyaan dalam benaknya yang mustahil terjawab bagi puteranya. Sudiro demikian mereka memanggil bayi mungil itu, dirawat dengan penuh kasih sayang. Orangtua Sutinah pun amat menyayangi cucunya itu. Ketiga adik Sutinah pun terlihat antusias akan keponakan mereka yang datang dengan tiba-tiba. Dan mereka taunya suami Sutinah meninggal di Jakarta. Setahun Sudirgo, kini timbul niat Sutinah untuk kembali ke Jakarta bekerja mencari nafkah untuk anaknya. Atau maksud lain mencari Ayah Sudirgo? Kedua orang tua Sutinah pun menyetujui niatan ini dan bersedia merawat Sudirgo.

Terngiang kembali kejadian di rumah majikannya dengan jelas dan nyata. Bagaimana semua itu berawal. “Tin, bagi kopi dong. Ngantuk nieh.” Pinta Warsito sopir keluarga Wijaya
“Kopi pahit ya, sama kayak yang minum.”
“Hhmm….. Iya deh tapi ditemenin ya sama kamu biar rasa tetap manis. Semanis kamu.”
“Tak usah gombal Mas, nieh kopinya. Saya tinggal ya. Kalau kurang manis tau kan dimana gulanya.”
“Tin, nanti malam tunggu ya, aku ada perlu!”
“Liat nanti saja ya…” Seraya berlalu meninggalkan Warsito.
Malam hari tugas-tugas Sutinah dan Tari sudah selesai, pemilik rumah nampak sedang bersantai dengan obrolan ringan di depan tv. Tari sibuk dengan telepon genggamnya terkadang tawa terkekeh- kekeh hingga terbahak-bahak mewarnai obrolannya. Sutinah diam melayangkan angannya berharap memiliki suami yang kaya, baik, dan taat beragama.
“Tinah, sini… Aku ada sesuatu untukmu!” Terdengar suara Warsito setangah berbisik.
Sutinah mencari arah datangnya suara, dan tampak olehnya Warsito sedang melambai dari balik pohon belimbing di belakang rumah dekat jendela kamar Tari dan Sutinah. Sutinah melihat sekitarnya dan dan kembali memandang Warsito yang melambaikan tangan.
“Ada apa Mas?” Tanya Sutinah seraya menghampiri.
“Temani sebentar dong, pengen curhat nieh.”
“Ya udah, bentar aja tapi ya. Kelihatan sama yang lain kan ga enak.”
Duduk berdampingan di halaman belakang, diantara rumput hijau dan bunga yang menebarkan bau daun bercampur angin malam. Sesekali suara jangkrik turut meramaikan. Jauh di seberang sana ada lolongan anjing yang panjang entah sedang mengisyaratkan apa. Duduk sedekat itu dengan pria asing belum pernah dirasaka Sutinah. Darahnya mengalir deras, detak jantungnya sperti sedang berkejaran. Ada perasaan tak biasa yang Sutinah rasakan. Sutinah berusaha tenang dan mendengarkan.
“Tin, aku sudah cerai dengan istriku. Dia bilang aku tidak pernah menafkahinya. Tidak pernah pulang dan selalu curiga kalau aku punya istri simpanan di Jakarta. ” keduanya membisu sesaat. ” Aku tak bisa menolak lagi.”
Terdiam lagi. Kehangatan tiba-tiba melekat di tangan Sutinah. Ternyata Warsito sedang memegang tangan Sutinah. Sutinah masih diam, kali ini darahnya mengalir lebih deras, nafasnya berat, sepertinya sekitarnya bisa mendengar detak jantugnya yang bersahut sahutan.
“Tin, punya pacar tidak?” Sutinah menggeleng. “Wajahmu cantik, hatimu baik, pasti banyak laki-laki yang mau samamu. Kenapa belum punya pacar?” Sambil terus memegangi tangan Sutinah. Sutinah nampak tak berkutik, hanyut oleh suasana dan buaian pria bekulit gelap, dengan kumis tebal, badan kekar. Sutinah bak beku diantara dinginnya malam, tak mampu melakukan gerakan sedikitpun. Sesekali melirik pria itu dan membayangkan dirinya bersandar di dadanya yang bidang. Apa rasanya ya? Apa seindah yang terlihat di layar televisi? Begitu pikir Sutinah. Perasaan Sutinah seperti diobrak abrik bercampur nafsu, takut tapi juga senang.
“Tin, ko ga dijawab.”
“Anu mas, anu saya kan jelek mana ada yang mau sama saya.”
“kalau proses perceraianku selesai nanti kamu mau ga jadi istriku?”
Kaget seperti disambar gledek, Sutinah membisu dan tak percaya apa yang baru saja didengarnya.
“Tinah tanya bapak ibu dulu Mas di kampung.”
“Tidak masalah.” Seraya menciumi tangan Sutinah, mendekatkan badannya, membau aroma Sutinah. Sutinah semakin melemah dan semakin berhasrat. Kini bibir Si pria berkulit gelap sedang merasakan punggung tangan Sutinah terus menjalar ke lengan hingga ke leher dan tiba-tiba bibir keduanya bertemu. Warsito dengan lahap melumat bibir Sutinah, dengan mulutnya. Nafasnya semakin kuat, suara mulutnya terus menarik nafsu Sutinah.
“Aku akan bertanggung jawab Tinah, aku akan menikahimu segera. Jangan takut.”
Sutinah tak kuasa menahan dorongan itu, akhirnya Sutinah mengikuti Warsito ke kamarnya yang sempit.
“Ini tidak akan sakit, kamu tak perlu takut. Kita akan segera menikah. Tinah juga tak perlu memberitahu siapapun. Duduklah di sini.”
Kembali, tangan dan mulut Warsito menggerayangi tubuh mungil Sutinah yang polos yang masih remaja. Sosok yang belum paham sepenuhnya apa yang dirasakannya. Dan itu tak disia-siakan Warsito. Kini kedua insan itu sudah berada diatas tempat tidur. Tanpa dibalut sehelai benang pun.
(To be continued…..)

20140818-153016-55816224.jpg

Setahun Pertama Bersama Baby Boy

It’s been one year my baby boy Gevariel. Semakin besar, semakin banyak hal yang dia suguhkan untuk orang-orang di sekitarnya.

MEREMBET
Kemampuan untuk berdiri dari posisi duduk, dan kembali duduk semakin mantap. Instingnya semakin terlatih melakukan gerakan dengan hati-hari agar tidak cedera. Sesekali terjatuh, tapi saya sudah tidak terlalu kuatir lagi kalau kalau dia terjatuh saat sedang berdiri meninggalkannya jika saya hendak ke kamar mandi atau ke dapur sesaat. Bagi saya itu pemandangan yang ajaib. Semua dilakukannya dengan hati-hati dan tepat.

MERAIH SEMUA BENDA
Terkadang yang menjadi kewaspadaan saya adalah saat dia merembet dan meraih serta menarik semua benda yang bisa dicapainya. Kadang jika tidak terjangkau dia akan mengambil benda lain dan menjadikannya pijakan agar dia lebih tinggi dan bisa meraih benda yang diinginkannya. Jadi saya harus pastikan saat dia merembet di sekitar ruangan tidak ada barang berbahaya yang dalam jangkauannya.

TIDAK SABARAN
Apa kebanyakan bayi begitu? Jika menginginkan sesuatu tidak sabaran, Geva akan berusaha bangun dan meraihnya, bahkan pernah kejadian saat saya membelakanginya ke wastfel sementara dia duduk di high chair, saya berbalik dan dia sedang berdiri meraih sesuatu dari atas meja. Saya kaget setengah hidup, karena sedikit lagi Geva akan terjatuh ke lantai. Secepat kilat saya hampiri dan berikan apa yang dia mau. Bila di atas meja ada beberapa benda dan saya tidak tau yang mana sebenarnya yang diinginkannya, saya mulai tunjukkan satu per satu. Rengekan akan terus terjadi hingga tiba ke benda yang diinginkannya, Geva akan menunjukkkan antusias, mengulurkan tangannya, dan tertawa. Cara lain, saya akan menaruh benda apa saja di atas meja high chair, jika Geva tidak suka akan serta merta melempar. Itu artinya bukan itu. Begitu juga dengan makanan. Kesukaannya akan makanan orang dewasa terus naik, mungkin suka mungkin penasaran. Saya makan misalnya ubi atau kerupuk dan itu terlihat oleh Geva, dia akan merengek dan menangis meminta makanan yang saya makan. Tak jarang Geva juga akan memaksa memasukkan jarinya ke mulut dan mengorek makanan yang saya makan tadi. Astaga… Terkadang saya tertawa menyaksikan tingkahnya.

MENGHIBUR
Sifatnya yang menghibur masih tetap menyala. Apapun yang dilakukannya yang membuat orang lain tertawa pasti akan diulangi. Dan jika sesuatu yang membuat dia tertawa diulang diulang dan lagi ada fase dia tertawa sekedar saja. Seperti tertawa palsu yang penting Bos Senang. Hahha… Itu artinya joke sudah expired. Atraksi yang sering dilakukannya bangun dan terjatuh masih bisa dinikmati. Itu sepertinya menjadi atraksi andalan. Sebelum beraksi Geva akan memastikan ada penonton dan penonton tertawa. Di pagi hari saat Geva bangun lebih awal dari saya atau papanya, Geva akan mulai atraksi namun sebelumnya Geva akan mandang ke arah saya yang masih terkantuk-kantuk mengawasinya dengan senyum lebar dan semangat membara. Tidak ada respon Geva mandang ke arah papanya yang masih lelap. Juga tidak ada respon. Kembali Geva memandang ke arah saya karena penonton cuma kami berdua. Karena saya tidak tega mengecewakannya saya akhirnya menunjukkan antusias saya, saya menyerukan kegirangan saya, bertepuk tangan dan menyoraki. Tidak salah lagi, atraksi pun mulai. Hahah… Betapa inginnya dia supaya saya terhibur.

MENCOLOK MATA
Hal lain yang ditunjukkan Geva adalah mencolok mata. Tidak semua orang yang dia temui akan dicolok matanya dengan jarinya. Setelah saya amati itu akan dilakukannya kepada orang yang dia ingin bermain bersamanya. Contohnya saat di tempat tidur bersama saya dan papanya, jika papanya tidak bermain maka Geva akan mencolok matan papanya. Hal serupa juga dilakukan pada saya dan pada beberapa orang yang baru ditemuinya. Kalaulah ada cara lain nak…

SESI PIJAT
Gevariel oleh papanya sering dipijat punggungnya kala bermain bersama di kasur sambil menyanyikan wondewonde lo. Dan reaksi yang diberikan Geva adalah terdiam, terbaring tengkurap terlihat amat sangat menikmati pijatan papanya. Setiap kali kali Papanya mulai menyanyikan wondelo dan memijat punggunnya langsung Geva tenang dan menikmati. Saya pun terheran-heran melihatnya. Mencoba melakukan hal yang sama tapi tidak seindah respon terhadap pijatan papanya. Hmmm… Anak muda ini sudah bisa merasakan kehangatan sentuhan pijatan papanya melebihi apapun. Ini salah satu videonya.

MAKANAN BERAGAM
Menginjak usia setahun, makanan yang bisa dimakan semakin beragam. Terkadang saya memberinya biskuit, kerupuk, goreng pisang, ayam goreng, tempe goreng, mangga muda, atau makanan lain yang tidak pedas dalam jumlah sedikit. So far Geva tidak menolak. Tapi untuk makanan utamanya saya akui mengalami penurunan dari segi tekstur. Padahal sebelumnya makanan Geva teksturnya sudah kasar mendekati makanan dewasa. Pernah Geva sakit dan tidak mau makan sama sekali, lalu saya beri dia makanan halus, siapa tau jadi mau. Ternyata dia mau, eh malah keterusan. Next program mengembalikan makanan Geva ke yang semestinya. Untuk menu masih sama, kentang potong dadu ditambah ikan dan aneka sayuran lainnya yang diblend. Cuma saat ini saya sudah menambahkan secuil garam ke makanannya. Saya juga membaca berbagai artikel untuk menu bayi umur setahun, tidak jauh beda dengan yang saya buat. Jika kita baca di buku panduan anak yang dari rumah sakit atau dari berbagai artikel, menganjurkan memberi cemilan pada bayi sela antara makan pagi ke sianga dan siang ke sore. Saya kadang melakukannya dengan memberi buah tapi jarang sangat, sebab Geva maunya ya menyusu saja. Ada juga anak tetangga lebih tua 3-4 bulan dari Geva makanannya masih dinlend dengan halus. Sang anak menolak makan jika makanannta kasar. Semoga Geva tidak demikian. Karena itu harus saya latih segera.

You never know what a baby can show you magic….

20140818-161229-58349222.jpg
Kunjungan Tante Lia n Tante Risa

20140818-161314-58394963.jpg
Bersama Papa

20140819-115059.jpg
Merembet dengan lincah

Banyak cinta untukmu Sayang.. Papa dan Mama amat sayang padamu. Tihan senantiasa memberkati tumbuh kembangmu, memberi hikmat, kekuatan dan pengetahuan akan yang baik dan yang benar. Selamat menempuh tahun/tahun bahagia selanjutnya.

20140819-120132-43292332.jpg
Selamat Ulang Tahun ya doli doli ni Mama…

Vacation in Bandung Eps 2: Tangkuban Perahu (End)

Keluar dari Trans Studio Bandung sekitar jam 7 malam. Kami berkendara lewat Dago ke arah Lembang sesuai arahan Google Maps, dan ternyata ada jalan alternatif yang melewati pemukiman penduduk, jalan bagus tidak selebar jalan utama namun cukup dan lebih cepat. Dipilih jalur ini karena informasi Google maps lewat jalan biasa macet. Ternyata ujung jalan ini sudah sangat dekat dengan pasar Lembang. Hmmm…. Boleh juga. Mengitari Lembang beberapa kali mencari tempat makan yang menyediakan makanan hangat berkuah, semacam Chinese Food, ada satu. Alahmakk mahalnya, kami pesan gurame asam manis, sop ayam, sapo tahu, nasi goreng (salah masak, diminta jangan pedas dikasi super pedas),akhirnya pesan mie ayam (sangat tidak enak) sebagai gantinya atas permintaan ponakan, swike, dan nasi 3 porsi. Minumnya biasa jeruk hangat dan teh tawar hangat. Haujubile… Kami bayar 445rb. Buset dah, mahal amat… Makan di restoran bagus juga ga segitunya ya. Apa dia lagi kesempatan ya. Ga habis pikir, lain kali sebelum pesan tanya harganya dulu ya, atau makan di tempat dengan harga sudah tertera. Sebenarnya masih ada yang lain, seperti sotomie, penyetan, nasi goreng pinggir jalan dll tapi lagi pengen yang begitu.

Saatnya mencari penginapan setelah makan. Melihat dan mencoba menanyakan beberapa akhirnya pilihan jatuh ke Grand Hotel Lembang, letak kamar mirip seperti motel, kendaraan bisa parkir di depan kamar. Kamar twin untuk kelurga kakak saya, dan king size untuk keluarga kami karena punya bayi. Sebab untuk yang berdekatan itu tipe kamar yang sesang tersedia. Room rate 850ribu per malam. Kamarnya luas dan nyaman, sedikit troble dengan air panas di awal. Pertama masuk ada keong di kasur, aihhh langsung saya minta ganti sprei dan bersihin maning. Luas banget menurut petugas kapasitas untuk 1000 orang, ada kolam renang yang tak sempat kami mikmati. Ada welcome drink yang tak kami ambil, dan breakfast untuk 2 orang. Anak diatas 5 tahun kena charge tidak tau berapa. Menu sarapan nasi goreng, omelet telur, pasta, atam goreng, capcay, di meja lain coco crunch, bubur ayam, roti bakar, minuman ada susu, kopi, teh, jeruk, jus jambu dan air putih. Rasanya standar aja, menurut suami yang paling juara omelet telur, namun di beberapa kurang kering dibagian dalam. Alias masih mentah. Sehabis sarapan packing, check out langsung meluncur ke Tangkuban Perahu.

Saya sebenarnya tidak begitu tertarik selain sudah beberapa kali juga karena saya bawa bayi, kasihan kena belerang. Gimana ya, suami belum pernah sih, wkwkwk… Gerbang masuk total kami bayar 95rb termasuk mobil, berlima jadi satu orang 15rb, tapi untuk wisatawan asing bayarnya lebih mahal yakni 75rb. Bis tidak diperbolehkan namun disediakan lahan parkir dibawah sebelum gerbang masuk. Tiba di atas ternyata Tangkuban Perahu makin rapi, makin luas tempat parkir, kios pun makin banyak. Usaha yang bagus untuk pengelola. Ramai sangat pengunjung dikala itu libur lebaran, baik domestik maupun asing. Ponakan saya langsung melonjak naik kuda. Tau tau muncul udah di atas kuda. Wajahnya yang senang dan jujur terlihat jelas. Saya pun tersenyum melihatnya. Raut wajah bahagia dengan tulus.

20140808-104959.jpg
Yoriyas naik kuda

Lainnya yang bisa dinikmati antara lain pemandangan kawah yang fantastik bagusnya, makan jagung bakar, bakso, minum susu jahe, berpoto, aneka souvenir lainnya. Awalnya saya tidak berniat turun lantaran bau belerang takut terhirup bayi saya, ternyaa konfirmasi dari suami tidak ada bau, barulah saya memberanikan turun sambil menggendong anak saya. Saya membeli juga souvenir satu untuk anak saya. Yaitu topi supaya kepala dan telinganya tetap hangat.
Ternyata saat dikenakan lucu juga ya.

20140808-110502.jpg
Gevariel dengan topinya 🙂

Pemandangan kawah yang super fantastik bisa dinikmati, everything tells us how great is our God.

20140808-110628.jpg
Pemandangan kawah dengan sedikit editan.

20140808-110801.jpg
Kawah di belakang

Bagi saya itu keren banget. Perjalanan di Tangkuban Perahu berakhir, kami turun menuju lokasi pemetikan strawberry. Lagi-lagi memenuhi permintaan ponakan saya sudah minta dari jauh-jauh hari. Kami berhenti di Natural Strawberry, sekaligus tempat makan dan istirahat sebelum perjalanan pulang ke Jakarta. Disana ada berbagai menu ikan, ayam maupun seafood. Tidak bayank yang kami order, nasi goreng, jus strawberry, teh manis hangat, kopi, kwetiau goreng dan pisang goreng. Karena kami belum merasa lapar, mampir di sini tujuan utamanya membawa ponakan memtik strawberi. Sudah dijanjikan soalnya, kudu ditepati. Tempatnya enak, ada saung untuk kita sendiri, tapi ada juga resto untuk ruang yang lebih besar.

20140808-111334.jpg

Memetik strwbery ada tiket masuk seharga 10ribu. Dan hasilnya akan ditimbang lalu dibayar.

20140808-111454.jpg

20140808-111518.jpg

Ada juga kebun sayur kembang kol, tempatnya bagus, sejuk dan harga makanannya masuk akal. Tidak seperti chinese food yang sebelumnya kami singgahi :-(.

20140808-111740.jpg

Lainnya di sini bisa naik kuda, dan kembali ponakan saya menungganginya bahkan sampai 2 round. Haha…. Dan kembali pula tawa bahagianya terpampang.

20140808-111910.jpg

Melangkah keluar dari Natural Resto hendak melanjutkan perjalanan kembali ke Jakarta, di tepi jalan banyak kios yang menjual hasil bumi sekitar seperti labu, alpukat, nenas dan lainnya. Saya tergiur mau beli, apalagi anak saya doyan bener sama alpukat. Karena saat itu dia sedang tidur di pangkuan saya jadinya yang membeli kakak saya. Alpukat dan labu kuning. Terlihat sangat cantik. Bahkan setiba di rumah ART kira itu mainan saking bagusnya. Alpukat ada 2 jenis, yang satu kulit lebih halus dan satu sangat kasar. Menurut keterangan penjual yang halus 2 hari akan matang, ternyata 3-4 hari, yang kasar kata penjual 3 hari, ternyata sampai sekarang sudah seminggu belum matangg juga. Haduhhh… Tipsnya lain kali pilih yang udah setengah matang atau yg kulitnya halus aja dah… Ok selesai perjalanan. Saatnya kembali ke Jakarta.. Bye bye Bandung…

Vacation in Bandung, Eps 1: Trans Studio Bandung

Liburan lebaran tahun ini (2014) kami sempatkan main ke Bandung. Jumat berangkat, Minggu balik. Hari pertama Jumat, berangkat dari Lippo Cikarang naik mobil saudara, lancar jaya hingga masuk tol Purbaleunyi, macet panjang, beberapa kendaraan memilih putar balik, baru kali ini lihat di jalan tol ada kendaraan putar balik. Kami keluar di pintu tol Jatiluhur hendak menuju Lembang. Tiba di Lembang sudah sore kami segera memcari penginapan. Pilihan jatuh pada Cottage Cikole, dikelola oleh Perhutani. Kamar yang kami pilih rumah kayu dengan 2 kamar tidur, ada dapur, ruang tamu, kamar mandi ada air panas, dispenser, kompor masak. Bagi saya cocok karena saya punya bayi. Harga 850rb per malam. Karena kami 2 keluarga saya pikir ini cocoklah. Tapi kalau mau lebih private kurang cocok atau tidak ingin antri mandi, pilih hotel saja. Malam hari berendam di Sari Ater, harga tiket 50ribu per orang. Sarapan paginya nasi putih, telur goreng, ayam goreng, kerupuk dan timun. Beyond my expectation. Sebab biasanya di penginapan yang biasa hanya dapat nasi goreng setumplik. Suami saya juga mengakui dan menyukai menu ini, katanya cocok, pas dan cukup. Dari pemginapan kami menuju Bandung kota hendak ke Trams Studio Bandung. Karena belum pernah jadi penasaran. Tiba di lokasi kemudian beli tiket. Harga tiket hari biasa 150rb per orang, hari libur 250rb per orang, dapat diskon 20persen dengan kartu Kredit Bank Mega. Harga tiket sama untuk semua kecuali VIP. Bahkan untuk bayi juga. Semua umur dikenakan harga tiket sama. Waktu itu kami berenam termasuk bayi saya.

Masuk ke dalam memang megah dan orang-orang yang di sana juga kelihatan ceria, ramah membuat pengunjung tersanjung. Menurut saya konsep dasar seperti Kidzania yang di Jakarta hanya ini lebih dimodifikasi arena bermain, semua umur. Kalau Kidzania lebih ke edukatif dan maximal 12 tahun yang bisa bermain.

Wahana yang ada banyak yang mirip seperti di Dufan Ancol, beberapa yang saya mainkan, Giant Swing (ga lagi dah), kapal pirates, cinema 4D, air terjun spt niagaragara, pertunjukan di panggung utama, dunia science banyak hal menarik di sana, ke tempat bermain anak, special effect dan sedikit dunia lain. Studio special effect, haduh, antri lama berbondong bondong orang kirain ada apa. Di dalam ada adegan berbahaya seperti di film action, yang membuatnya sangat tidak menarik adalah intronya lama lama dan lama banget, kirain mau seperti apa ternyata hanya sedikit dan kurang menarik. Selesai dari situ pada negeluh yang nonton. Karena bener bener ga sebanding.

Semua transaksi menggunakan kartu tersendiri jadi kalau habis direfill aja. Memudahkan para counter tak perlu menyediakan uang kembalian. Tinggal gesek saja. Jika masih ada sisa bisa direfund.

Beberapa hal yang menjadi sorotan saya;
1. Bayi bayar penuh tapi disana tidak ada permainan atau arena untuk bayi.
2. Ruang menyusui sangat sempit dan tidak nyaman. Hanya ada kursi pendek 4 dan washtafel, sangat tidak nyaman. Berbeda dengan ruang menyusui di mall di jakarta yang saya temui, sangat jauh. Di studio Trans ruang menyusui paling hanya 1,5 meter x 1,5 meter. Tragis banget apa mereka tidak pernah melihat ruang menyusui? Di salah satu mall di jakarta itu bahkan ada yang menyediakan box bayi, dispenser, kulkas menyimpan asi, pad mengganti popok. Dan sofa untuk ibunya. Sepersepulunhya pun tak ada di studio Trans Bandung.
3. Setelah berjam-jam di dalam saat mau pulang lelah raga ingin segera out, masalah belum berhenti juga saat mau refund. Apalagi saya bawa bayi jadi pengennya lekas keluar masuk mobil dan tidur, tanya petugas. Kalau mau refund dimana? Dijawab: nanti Pak di depan. Ok, kami ke depan ke arah pintu keluar, tanya lagi petugas loket isi ulang, “Di sana Pak, lurus mentok belok kiri”. Oke kami cari menelusuri banyaknya orang karena Studio Trans nyatu dengan mall dan berada di lantai foodcourt. Bertepatan pengunjung padat ditambah asap dari dapur counter food memenuhi dan baunya kemana-mana, ditambah saya gendong bayi sedang kelelahan. Dan ternyata tempat refund itu jauhnya haujubileh..Karena di foodcourt juga belanja menggunakan kartu yang sama. Saya jengkel amat sangat, “Mb kenapa ga sekalian aja loketnya di Lembang. Kenapa sih dipersulit.” Begitu terlontar kepada petugas. Saya bener-bener tidak habis pikir, betapa mereka mempersulit mengembalikan uang. Apa salahnya dibuat counter di pintu keluar. Rasanya saya mau marah.
4. Eskalator menuju arena bermain dari tempat pbelian tiket hanya naik, itu artinya pengunjung dipaksa mengitari mall untuk keluar. Dan itu menambah kekesalan saya. Saya kelelahan dan saya menggendong bayi yang sudah bosan dan rewel. Bisa dibayangkan alangkah menyebalkannya tempat itu. Catatan juga saat itu hari libur tapi pengunjung Studio Trans Bandung hanya sedikit, bahkan berkali-kali kakak saya berucap “lebih banyak petugas dari pengunjung ya.” Lebih dari 3 kali ada kalimat itu terucap. Haha… Memang benar sih.
5. Parkir sempit dan tidak teratur, tidak ada label blok. Nah loe, lupa kan parkir dimana.

Hal positif dari Studio Trans Bandung, petugas atau pegawainya all out banget kinerjanya. Tetap senyum dan ramah dan tak satupun terlihat sibuk memainkan gadget, biarpun sedang tidak ada kerjaan, pemain pentas juga benar-benar totalitas. Salut banget buat mereka.

Catatan akhir saya,
1. saya tidak penasaran lagi, tidak se-woww yang dibayangkan, dan sangat tidak adil untuk pengunjung bayi yang diharuskan bayar full tapi tak ada arena bermain, dan fasilitas nilainya minus.
2. Bagi yang belum pernah, Dufan jauh lebih menarik, tak perlu sepenasaran itu
3. Tidak lagi ke sana dan tidak saya rekomendasikan buat Anda yang dari luar kota
4. Mungkin saya akan ke sana lagi kalau ada yang traktir tiket, urus kartu buat belanja, urus refund dan jemput ke lobi. Catatan mobill juga ga bisa mutar ke lobi dari pakiran.

So thank you so much Trans Studio Bandung it was the first time may be the last time…

20140806-163115.jpg
Pintu masuk Trans Studio Bandung

20140806-163222.jpg
Cottage Cikole milik Perhutani