Kemelut Mengantarku ke Berlin (Part 1)

Usianya belia, baru 16 tahun November nanti. Tapi soal pekerjaan rumah dia ahlinya. Jangan terkecoh oleh badannya yang mungil. Bukan berarti juga dia tidak bisa melakukan pekerjaan yang biasa dilakukan pria. Namanya Sutinah. Sejak usia 12 tahun dia sudah menjadi pembantu rumah tangga. Selepas lulus SD oleh orangtua Sutinah menyuruhnya bekerja saja. Karena kondisi keuangan yang amat sulit. Mau tidak mau Sutinah pun menurut.

Malam hari Sutinah berkemas sambil diceramahi Ibunya agar begini begitu jangan ini jangan itu. “Tin, bukannya bapak ibu tidak sayang padamu, tapi cobalah mengerti ya nak. Bapak dan Ibu sangat sayang padamu, dan akan selalu mendoakan yang terbaik bagimu. Ingatlah itu selalu. Misalnya nanti kamu tidak betah atau tidak suka, kembali saja kapan pun kamu mau.” Kalimat itu selalu diingat Sutinah. “Aku bisa pulang kapan saja.” Begitu pikirnya. Keesokan paginya Sutinah sudah di jemput Tari, yang akan membawanya ke Jakarta, bekerja di rumah seorang kaya dimana Tari tinggal. Sementara waktu Sutinah akan bekerja bersih-bersih, jika sudah terampil mungkin Sutinah akan diberi pekerjaan lain. Tahun pertama tahun yang sulit bagi Sutinah, semua baru, banyak hal yang Sutinah tak pahami. Untunglah majikan Sutinah baik, dan Tari pun mengajarinya dengan baik, karena Tari dulu mengalami hal yang sama. Tak terasa waktu berlalu sudah 4 tahun Sutinah bekerja dirumah majikannya, dan Sutinah pun sudah mahir melakukan berbagai pekerjaan, bahkan nyonya rumah tak jarang mempercayakan beberapa hal kepada Sutinah termasuk menjaga anaknya yang masih SD kelas 1. Kebaikan hati Sutinah belum tercemar dari para sahabatnya, kepolosan dan keluguan masih melekat kuat pada dirinya. Sholat tak ditinggalkannya, pesan ibunda tercinta selalu diingatnya. Seiring waktu berjalan Sutinah, tubuhnya pun semakin sintal dan menggoda pria yang memandangnya. Wajah asli tanpa riasan terasa sangat menarik hati, tutur katanya yang ndeso menjadi daya tarik tersendiri bagi yang mendengarnya. Sutinah sungguh berbeda dengan pembokat lain yang bekerja di metropolitan Jakarta, banyak yang berubah. Biasanya asisten rumah tangga yang dari kampung akan berubah cara berpakaiannya,cara bicara, cara bepikir dan hal lainnya. Bergaul dengan banyak orang, mengunjungi berbagai tempat dan berbagi cerita dengan sesama pembokat tentang majikan yang galak, pelit, baik, semena-mena dan sebagainya. Mencari informasi tempat kerja dengan gaji tinggi tapi kerjaan sedikit, libur banyak, sering dikasi uang dan hal-hal lainnya. Karena mental yang masih rapuh beberapa pembokat jadi sulit untuk dipercaya. Tapi entah kenapa dengan Sutinah yang terlihat berbeda dengan yang lain. Tak terlihat sedikitpun di wajahnya pancaran kecurangan maupun kelicikan. Tatapan sendu dan lembut, mata bening itulah yang tampak padanya.

Petaka itun terjadi. Sutinah diam, membawa lukanya ke kampung, membawa malu yang hebat di keluarganya. Bapak dan ibunya murka, mencaci maki Sutinah, nyaris saja sang Bapak mengusir dia. Kalau bukan karena kebaikan hati Sutinah dan bantuannya selama ini mungkin juga Sutinah sudah tidak dianggap keluarga. Ibu Sutinah juga paham betul tabiat putrinya yang tidak mungkin melakukan maksiat. Ayah dan Ibu menerima mereka dan menahan malu atas petaka yang terjadi. Anak Sutinah lahir tanpa jelas siapa ayahnya, hatinya sakit, terluka dan malu. Malu yang tak terelakkan. Bayi mungil yang tak berdosa, mulus bak batu pualam, jari tanganya yang kecil membawa air mata sedih dan bahagia. Sutinah terus saja memeluk dan menangisi puteranya. Berkecamuk pertanyaan dalam benaknya yang mustahil terjawab bagi puteranya. Sudiro demikian mereka memanggil bayi mungil itu, dirawat dengan penuh kasih sayang. Orangtua Sutinah pun amat menyayangi cucunya itu. Ketiga adik Sutinah pun terlihat antusias akan keponakan mereka yang datang dengan tiba-tiba. Dan mereka taunya suami Sutinah meninggal di Jakarta. Setahun Sudirgo, kini timbul niat Sutinah untuk kembali ke Jakarta bekerja mencari nafkah untuk anaknya. Atau maksud lain mencari Ayah Sudirgo? Kedua orang tua Sutinah pun menyetujui niatan ini dan bersedia merawat Sudirgo.

Terngiang kembali kejadian di rumah majikannya dengan jelas dan nyata. Bagaimana semua itu berawal. “Tin, bagi kopi dong. Ngantuk nieh.” Pinta Warsito sopir keluarga Wijaya
“Kopi pahit ya, sama kayak yang minum.”
“Hhmm….. Iya deh tapi ditemenin ya sama kamu biar rasa tetap manis. Semanis kamu.”
“Tak usah gombal Mas, nieh kopinya. Saya tinggal ya. Kalau kurang manis tau kan dimana gulanya.”
“Tin, nanti malam tunggu ya, aku ada perlu!”
“Liat nanti saja ya…” Seraya berlalu meninggalkan Warsito.
Malam hari tugas-tugas Sutinah dan Tari sudah selesai, pemilik rumah nampak sedang bersantai dengan obrolan ringan di depan tv. Tari sibuk dengan telepon genggamnya terkadang tawa terkekeh- kekeh hingga terbahak-bahak mewarnai obrolannya. Sutinah diam melayangkan angannya berharap memiliki suami yang kaya, baik, dan taat beragama.
“Tinah, sini… Aku ada sesuatu untukmu!” Terdengar suara Warsito setangah berbisik.
Sutinah mencari arah datangnya suara, dan tampak olehnya Warsito sedang melambai dari balik pohon belimbing di belakang rumah dekat jendela kamar Tari dan Sutinah. Sutinah melihat sekitarnya dan dan kembali memandang Warsito yang melambaikan tangan.
“Ada apa Mas?” Tanya Sutinah seraya menghampiri.
“Temani sebentar dong, pengen curhat nieh.”
“Ya udah, bentar aja tapi ya. Kelihatan sama yang lain kan ga enak.”
Duduk berdampingan di halaman belakang, diantara rumput hijau dan bunga yang menebarkan bau daun bercampur angin malam. Sesekali suara jangkrik turut meramaikan. Jauh di seberang sana ada lolongan anjing yang panjang entah sedang mengisyaratkan apa. Duduk sedekat itu dengan pria asing belum pernah dirasaka Sutinah. Darahnya mengalir deras, detak jantungnya sperti sedang berkejaran. Ada perasaan tak biasa yang Sutinah rasakan. Sutinah berusaha tenang dan mendengarkan.
“Tin, aku sudah cerai dengan istriku. Dia bilang aku tidak pernah menafkahinya. Tidak pernah pulang dan selalu curiga kalau aku punya istri simpanan di Jakarta. ” keduanya membisu sesaat. ” Aku tak bisa menolak lagi.”
Terdiam lagi. Kehangatan tiba-tiba melekat di tangan Sutinah. Ternyata Warsito sedang memegang tangan Sutinah. Sutinah masih diam, kali ini darahnya mengalir lebih deras, nafasnya berat, sepertinya sekitarnya bisa mendengar detak jantugnya yang bersahut sahutan.
“Tin, punya pacar tidak?” Sutinah menggeleng. “Wajahmu cantik, hatimu baik, pasti banyak laki-laki yang mau samamu. Kenapa belum punya pacar?” Sambil terus memegangi tangan Sutinah. Sutinah nampak tak berkutik, hanyut oleh suasana dan buaian pria bekulit gelap, dengan kumis tebal, badan kekar. Sutinah bak beku diantara dinginnya malam, tak mampu melakukan gerakan sedikitpun. Sesekali melirik pria itu dan membayangkan dirinya bersandar di dadanya yang bidang. Apa rasanya ya? Apa seindah yang terlihat di layar televisi? Begitu pikir Sutinah. Perasaan Sutinah seperti diobrak abrik bercampur nafsu, takut tapi juga senang.
“Tin, ko ga dijawab.”
“Anu mas, anu saya kan jelek mana ada yang mau sama saya.”
“kalau proses perceraianku selesai nanti kamu mau ga jadi istriku?”
Kaget seperti disambar gledek, Sutinah membisu dan tak percaya apa yang baru saja didengarnya.
“Tinah tanya bapak ibu dulu Mas di kampung.”
“Tidak masalah.” Seraya menciumi tangan Sutinah, mendekatkan badannya, membau aroma Sutinah. Sutinah semakin melemah dan semakin berhasrat. Kini bibir Si pria berkulit gelap sedang merasakan punggung tangan Sutinah terus menjalar ke lengan hingga ke leher dan tiba-tiba bibir keduanya bertemu. Warsito dengan lahap melumat bibir Sutinah, dengan mulutnya. Nafasnya semakin kuat, suara mulutnya terus menarik nafsu Sutinah.
“Aku akan bertanggung jawab Tinah, aku akan menikahimu segera. Jangan takut.”
Sutinah tak kuasa menahan dorongan itu, akhirnya Sutinah mengikuti Warsito ke kamarnya yang sempit.
“Ini tidak akan sakit, kamu tak perlu takut. Kita akan segera menikah. Tinah juga tak perlu memberitahu siapapun. Duduklah di sini.”
Kembali, tangan dan mulut Warsito menggerayangi tubuh mungil Sutinah yang polos yang masih remaja. Sosok yang belum paham sepenuhnya apa yang dirasakannya. Dan itu tak disia-siakan Warsito. Kini kedua insan itu sudah berada diatas tempat tidur. Tanpa dibalut sehelai benang pun.
(To be continued…..)

20140818-153016-55816224.jpg

Advertisements

Published by

rosegevari

Menulis apa aja yang pengen ditulis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s