Kemelut Mengantarku ke Berlin (Part2)

Hari-hari dijalani Sutinah kini dipenuhi penyesalan. Tak jarang timbul niatan bunuh diri, kabur dari rumah majikannya hingga aborsi. Ditambah lagi peristiwa buruk itu, Warsito menjadi lebih dingin, iming-iming akan menikahi Sutinah pun tak pernah lagi terlontar. Hilang, seperti angin yang berlalu begitu saja. Bulan pertama berlalu Sutinah tidak menstruasi, tanpa disadarinya. Bulan kedua berlalu juga halangan bulanan tak datang. Tapi kenapa rasa mual yang hebat menyerang, kepala pusing dan badannya seperti meriang. Mungkin hanya demam biasa. Begitu pikir Sutinah. Tersadarlah Sutinah kalau dia tengah hamil. Semua bertubrukan di benaknya, apa iya dia hamil? Bagaimana kalau majikanku tahu, Warsito pasti bertanggung jawab. Pikiran Sutinah penuh, dan dia memutuskan menyampaikan ini ke Warsito agar segera menikahinya. Tanpa pikir panjang setiba Warsito di rumah, Sutinah langsung menghampiri dan meminta pertanggungan jawab kepada Warsito. Warsito mengelak “Bagaimana aku tahu kalau itu anakkku? Kamu kan bisa saja tidur dengan orang lain.” Jawab Warsito sembari memalingkan wajahnya ke arah tembok, mengusap wajahnya dan berlalu meninggalkan Sutinah. Bak diterpa air bah hancur hati Sutinah, langit seolah-olah runtuh dan gelap. Tak terbayang lagi Sutinah apa yang akan terjadi padanya, hancur sehancur-hancurnya hidup Sutinah. Hanya kegelapan yang terpikir olehnya. Bagaimana hidupnya dan anaknya kelak? Apa yang akan dikatakan majikannya? Orang sekampung pasti akan menghina Sutinah dan keluarganya. Tak akan kuat aku menahan rasa malu ini. Aku lebih baik mati. Begitu pikirnya.

“Tinah, kamu dimana? Ibu nyariin kamu.”
Mendengar suara Tari, Sutinah tersadar, buru- buru diusapnya matanya yang memerah. Dengan langkah tergesa-gesa Sutinah menjawab Tari. “Iya sebentar, aku ke sana.” Jawab Sutinah

“Tinah, kamu ko melamun. Lihat itu ikannya sudah gosong. Diangkat dong!” Tukas Tari melihat Sutinah menggoreng ikan sampai gosong. “Kamu sakit ya? Kemarin juga air sampai tumpah-tumpah didiamin. Ko bengong melulu sih. Kalau gini terus kan aku juga yang repot Tin, kerjaan kamu jadi ga ada yang beres.”
“Maaf Mbak Tari, aku ga sengaja. Aku nggak apa-apa ko. Maaf ya… Aku pasti akan lebih berhati-hati.” Tandasnya.
“Ya udah, tapi kalau begini terus aku lapor ke ibu ya.” Sutinah hanya mengangguk.

“Tin, aku lagi suka nieh sama seseorang. Si Jamal aku udah ga demen. Abis kayaknya playboy.” terdengar suara Tari sambil melebarkan senyum sambil memandang ke arah langit-langit kamar. “Kamu udah punya pacar belolum Tin? Masa selama di Jakarta belum pernah ketemu cowok yang cakep?” Tanya Tari sambil memalingkan badannya ke arah Sutinah. Sutinah hanya diam, wajahnya lusuh dan tatapanya hampa. “Tin, kamu melamun ya?” Kembali Tari bertanya. Tidak ada jawaban dari lawan bicara yang diharapkan Tari. Reaksi Sutinah mengurungkan niat Tari untuk melanjutkan ceritanya. Yang terdengar hanya suara tombol ponsel Tari yang sedang diutak atiknya. Sutinah tetap terdiam, hingga terbersit dibenaknya untuk menceritakannya pada Tari. “Aku hamil Mbak..” Teriaknya tiba-tiba. Tari terkejut dan tak percaya akan apa yang didengarnya. Sutinah sudah tidak tahan menanggung bebannya akhirnya menceritakannya kepada Tari. Tari mendengar dengan penuh harap, tak berniat sedikitpun menghakimi Sutinah sebab bocah itu sudahlah sangat terpukul.
“Kamu harus kasih tau Ibu. Selanjutnya bagaimana bagaimananya ya pasrah saja. Lalu Bapak dan Ibumu di kampung juga harus tahu. Soal Warsito, Ibu pasti akan bantu.”

Sutinah dan nyonya rumah sedang berbicara serius, dan ketakutan nampak di wajah Sutinah. Apapun kata majikannya dia sudah pasrah. Apapun kata bapak dan ibunya di kampung Sutinah pun sudah pasrah. Toh semua ini sudah terjadi, mau diapain lagi. Itulah yang ada dibenak Sutinah.

Tampak kekesalan di wajah nyonya rumah namun Nyonya rumah tidak marah atau mengusir Sutinah, malah akan membantu Sutinah. Tapi Sutinah tidak boleh melahirkan di rumhah itu dan Sutinah disuruh kawin dengan Warsito. Warsito yang mendengar kabar itu, tiba- tiba hilang, Warsito kabur dari rumah majikannya. Sutinah sudah menduga kalau pria itu pasti tidak akan tanggung jawab. Menjelang persalinan Sutinah berangkat ke kampung. Majikannya membolehkan Tari mengantar untuk alasan keamanan Sutinah. Serangkaian cerita sudah disiapkan jika ada orang yang bertanya, suami Sutinah meninggal karena kecelakaan. Rasa malu yang tak terelakkan, cibiran orang akan dirimya tak henti- henti mengalir.

Kenangan pahit yang tak terlupakan oleh Sutinah dan keluarganya. Setahun kini usia puteranya Sudiro, hati Sutinah makin dikuatkan bahwa dia harus bekerja keras demi anaknya. Kembali ke Jakarta menjadi asisten rumah tangga lagi tidak jadi masalah bagi Sutinah, yang penting bisa dapat uang untuk dirinya dan anaknya. Sutinah memantapkan hati berangkat ke Jakarta meninggalkan keluarganya serta puteranya di kampung halaman.

Kekluarga Wijaya mengijinkan Sutinah tinggal disana mengerjakan beberapa pekerjaan rumah bersama Tari. Minggu sore disertai hujan rintik- rintik tak mampu menghilangkan gerahnya kota Jakarta. Keluarga Wijaya kedatangan tamu yang mampir sepulang dari gereja. Obrolan hangat, senyum bahagia, canda tawa sukacita mewarnai jamuan sore itu. Sutinah melihat dari balik dinding dapur menatap majikannya dan tamu-tamunya. Sungguh suatu pemandangan yang luar biasa, suasana yang lama tak dinikmatinya, kebersamaan yang dirindukannya. Perbedaan usia yang jauh diantara mereka sama sekali bukan penghalang untuk berbagi. Tanpa sadar airmata Sutinah jatuh, membayangkan dirinya turut dalam jamuan majikan.

Kring…kring…!!!
Suara telepon berdering, Sutinah mengangkat telepon, tak lama kemuadian memanggil majikannya. Ada raut kesedihan terpancar dari wajah sang majikan melangkahkan kaki dengan gontai kembali ke kamarnya. Tentu saja Sutinah tidak berani berkata sepatah katapun.

“Duduk.” Perintah nyonya rumah kepada Sutinah usai makan malam. “Tidak perlu takut, bukan masalah besar. Begini, bapak dan ibu sudah diskusi. Di gereja ada jemaat yang kena stroke dan sedang membutuhkan perawat sebenarnya. Jadi ibu mau minta tolong, Sutinah sementara ini jadi perawatnya beliau. Itu kalau Sutinah tidak keberatan. Kalau sudah menemukan perawat yang cocok, kamu boleh kembali ke sini.” (To be continued….)

image
Welcome to Berlin
Advertisements

Published by

rosegevari

Menulis apa aja yang pengen ditulis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s