Surat untuk Norah

Kepada kekasih hatiku
Norah

Dear Norah,
Saat kamu membaca suratku ini mungkin aku sudah berada di perairan Samudera Pasifik. Perjalanan ini akan segera berakhir. Kita akan bertemu dan menyatu dengan birunya laut.

Norah sayang, bagaimana keadaanmu? Kuharap kamu sehat dan tetap ceria. Aku sudah tidak sabar melihat wajahmu, menghirup aroma tubuhmu, menyantap masakanmu dan mendengar suara tawamu. Membayangkanmu didekatku, aku bisa merasakan untaian rambutmu menyUentuh bahuku, mencubit cuping hidungmu yang pesek, melingkarkan lengan ini di pinggang mungilmu. Rasanya sudah tak sabar, biarlah waktu belari kencang mengantar kita berjumpa kembali.

Oh iya bagaimana dengan pekerjaanmu? Apakah Shania teman kantormu sudah menikah? Ku harap dia bertemu pria yang baik. Sampaikan salamku padanya. Tak akan pernah aku lupa bagaimana dia berusaha mendekatiku. Hahaha…. Itu sangat lucu.

Jangan lupa untuk istirahat ya sayang. Kadang aku merasa kamu akan kesepian, pergilah ke rumah kakakmu menginaplah di sana saat libur. Lakukanlah hal-hal menyenangkan dan sedikit gila mungkin akan mengusir kesepianmu.

Norah sayang, sering sekali tak kuasa diri ini menahan airmata setiap kali kumemandang potomu. Kuteringat bagaimana kita bertemu dan berkenalan. Aku merasa ini seperti keajaiban, wanita sehebat dirimu mau menjadi teman hidup untuk seorang pria sepertiku yang tak ada apa-apanya.

Aku sangat tersentuh oleh kelembutan hatimu, tutur bahasamu yang santun dan parasmu yang menarik. Nyali ini menciut ingin berkenalan denganmu apalagi setelah kutahu engkau bukanlah dari kalangan jelata. Setahun aku mengumpulkan segenap kekuatan dan nyali hanya untuk mengajakmu berkenalan. Sungguh di luar dugaan awal perkenalan yang kaku tapi manis. Hingga hati ini terpaut hanya padamu. Dahulu aku menganggap omong kosong belaka kalau ada seseorang tergila-gila pada lawan jenisnya. Hoho… Kurasa aku bukan tergila-gila lagi, tapi tergila-gila tergila-gila dan tergila-gila. Aku terhanyut dan terbakar oleh hempasan auramu. Baru kali ini hidupku terasa hidup sehidup-hidupnya. Walau diriku takkan mampu memberi materi berkelimpahan. Tapi kesederhanaamu sungguh diluar dugaan yang tak tergantikan oleh kilauan permata.

Masih segar diingatan kali pertama aku berkunjung ke rumahmu aku rasanya akan mati berdiri saja. Aku mengecil dan tak kuat berdiri, kaki bergetar dan mematung. Berkecamuk dalam benakku segala macam teror yang mungkin menghadang. Sekuat tenaga kukumpulkan keberanian, ah…. Kejutan sambutan dari keluargamu yang hangat pun menyemangati. Lega rasanya…. Kesulitan-kesulitan yang tak mudah pun silih berganti mengasah hubungan kita, menajamkan jiwa akan keistimewaan satu sama lain.

Norahku sayang…. Apakah kamu bosan membaca suratku? Apakah aku terlalu berlebihan? Aku bahkan ingin menulis setiap inci keindahan yang Tuhan torehkan padamu. Tak akan cukup semua kertas untuk menggambarkannya. Tak akan cukup tinta untuk menggoreskannya. Terlalu sedikit kosakata yang diciptakan pujangga, terlalu sempit samudera menampung irama moleknya dirimu dan semua yang ada padamu. Tak akan ada habisnya waktu menuangkan betapa engkau amat mengagumkan, betapa hati ini tak akan hidup tanpamu. Betapa tak bisa kubayangkan jika wanita itu bukanlah dirimu. Ada banyak hal yang ingin kuceritakan saat kita bertemu.

Anugerah-Nya sempurna bagiku dengan hadirnya dirimu. Tidurlah, jangan menangis…. Jarak ini memang kejam, tapi tidak akan mengusangkan rinduku dan kesetiaanku padamu. Cinta dan kepedihan hati oleh rindu ini akan tumpah di hari pertemuan kita. Tunggulah dan doakan aku.

Salam penuh rindu, cinta dan kasih sayang untuk Norahku tersayang
Teriring salam dan doa hanya untukmu kekasih jiwaku.

Suamimu,

Harry

Note: sepucuk surat untuk Norah, dari sang suami yang berlayar. Mengaharuskannya meninggalkan istri demi pekerjaan. Hari demi hari tak pernah lewat tanpa dia mengingat Norah dan semua tentang Norah. (Fin/rs120615)

 

 

Tangan Mungil Baby Boy

Pagi yang sibuk, karena pembokat yang satu keluar. Jadi saya memutuskan akan mengerjakan beberapa hal untuk meringankan kerjaan mboke. Di atas tempat tidur terlihat dia yang tidur lelap. Saya membenahi kamar dengan sangat pelan dan hati- hati agar tidak membangunkannya. Tak lama kemudian terdengar suara isak tangisnya, saya mencoba menidurkannya tapi tak mampu, akhirnya dia terbangun dan mulai berkeliaran di kamar.

“Eeeng…. Eeeeng….” Terdengar suaranya sambil mengulurkan tangannya hendak meraih sesuatu dari atas rak. Saya tidak tahu persis apa itu jadi saya putuskan untuk membawa dia lebih dekat ke atas rak. Dan ternyata benda yang diambilnya adalah uang koin senilai 500 rupiah. Dia mulai melihat koin dengan seksama, tak lama kemudian memutarbalikkan badannya rengekan pun terdengar lagi. Tangan yang mungil kembali terulur sambil menggerakkan seluruh badan hendak meraih benda lain di meja rias. Jaraknya kira-kira empat meter dari rak dimana dia mengambil koin. Sayapun melangkahkan kaki ke arah meja rias dan mulai menebak benda apa yang dimaksud. Saya tidak tau, akhirnya saya mendekatkan dia ke meja rias dan membiarkan dia mengambil benda yang diinginkan hatinya. Dan ternyata yang diambilnya adalah benda berbentuk drum berwarna merah dengan lubang segaris berisi koin. Ya benar sekali itu celengan. Saya bantu dia memegang celengan serta merta dia mulai memasukkan si koin ke celengan. Percobaan pertama gagal, kedua pun gagal, saya memberi contoh bagaimana memasukkan si koin, baru masuk setengah, dia tarik dan mulai mencoba sendiri. Asyik sekali dia mencobanya walaupun selalu gagal. Saya terharu melihatnya dan tak kuasa menahan senyum.

Di sisilain saya membersihkan rak berisi barang- barang pribadi saya termasuk kosmetik. Saya keluarkan keranjangnya agar bisa saya bersihkan satu persatu. Melihat saya dia segera bergabung dan mengobrak abrik barang saya terlihat jelas sedang mencari sesuatu yang tepat. Dia mengambil lotion sebentar lalu dilepas, deodoran ambil lepas lagi, parfum pun begitu, lepas, dan akhirnya dia melihat pelembab wajah yang hampir setiap hari dia lihat saya gunakan di wajah. Menemukan pelembab saya seperti pucuk dicinta ulam pun tiba. Dia senang dan bersorak. Pelembab wajah saya diambil dan mulai melihat, memutar, mengamati dengan seksama dan menoleh ke arah saya. Sambil memegangnya mengulurkan tangannya pada saya, saya kira dia akan memberikannya, tentu saja saya membalas dengan menengadahkan tangan saya, ternyata tidak, dan kembali dia bersuara khasnya, mengarahkan pelembab ke saya sambil dia memegangnya. Saya inisiatif mendekatkan wajah saya, dan ternyata benar, dia mau mememakaikan nya ke wajah saya. Astaga…. Saat saya mendekatkan wajah saya, tangannya menggores-goreskan si pelembab ke wajah saya. Sugguh kejadian yang sangat mengharukan.

Namanya Gevariel, usianya baru setahun. Tapi dia tak henti membuat diri ini kagum, terharu dan menangis bahagia. Teruslah bertumbuh anakku sayang. Banyak cinta dan doa untukmu…

Tuhan yang memberi kekuatan untuk terus bertumbuh sesuai dengan usiamu. Kelak jadilah berkat bagi banyak bangsa, milikilah hati seluas samudera, banggakanlah orangtuamu dan jadilah pria yang menghangatkan bagi keluargamu kelak.

Papa dan Mama sayang padamu…

He likes orange so much
He likes orange so much

 

Sometimes he sleeps with this pose
Sometimes he sleeps with this pose