Penyapa Misterius

“Sudah beberapa hari ini ada orang setiap lewat depan rumah selalu berhenti melihat rumah dalam-dalam dan menyapa Bu. ‘Mari Neng’ gitu Bu katanya.” Kata Minah sambil menirukan.
“Ciri-cirinya seperti apa?” Tanya Bu Maria majikannya ingin tahu. Minah menyebut beberapa ciri orang tersebut. “Kamu yakin Nah? Tidak salah sebut kamu?” Dengan wajah tak percaya kembali Bu Maria bertanya kepada Minah. “Iya Bu, kan saya menyapu halaman setiap pagi. Saya liat dengan jelas.” Wajah Minah nampak serius dan meyakinkan majikannya. “Minah, duduk sini. Itu tadi orang yang kamu sebut persis seperti Bi Ijah. Yang dulu ngasuh Mas Bram.”
“Oh iya? Besok Minah suruh mampir ya Bu.” Sahut Minah.
” Bi Ijah itu sudah meninggal 10 tahun yang lalu Minah.” Papar Bu Maria kepada Minah. Sontak saja Minah kaget setengah mati.

Matahari Hari Ketujuh

Di sudut ruangan Aga diam menyendiri. Dirinya sedang tak ingin bergabung dengan siapapun. Aga menangis, air matanya tak terbendung. Diambilnya handuk ukuran kecil dari tas hitamnya yang diselempangkan di badan. Disekanya wajahnya mencoba tegar. Sambil menatap matahari pagi dari jendela rumah sakit lantai 5.

Cuaca pagi itu mendung, perawat masih sibuk memandikan para pasien, dan tak sedikit dari para penunggu pasien yang selorong dengan Ibu Aga di Paviliun Anggrek, Cathaleya, menunggu di serambi belakang sambil sarapan, minum kopi ataupun membaca koran. Ibunya Aga sudah sepekan ini minta di bawa ke taman rumah sakit setiap pagi. Beliau ingin menikmati sinar matahari pagi. “Matahari pagi itu baik untuk kesehatan. Makanya bayi-bayi itu dijemur pagi-pagi. Bukan siang hari atau sore. Biarpun tidak terang bersinar, asal ada cahaya mengenai tubuh di pagi hari, itu sudah cukup.” Celoteh Ibu Aga di hari pertama dia ingin menikmati matahari pagi. “Ah, kata siapa?” Bantah Aga. “Tentulah dokter dan perawat yang membantu kelahiranmu.” Sahut Ibunya. Semua itu masih jelas terngiang di benak Aga, bahkan di hari ketujuh saat akan membawa ibunya ke taman tak akan pernah bisa dilupakan oleh Aga, “Ma, aku panggil suster ya bantuin biar Mama duduk di kursi roda. Kalau aku sendiri yang angkat mama, ntar aku berotot ma, mana ada cowok yang mau sama anak gadismu yang cantik ini.” Goda Aga sambil menyiapkan kursi roda dekat tempat tidur.
“Ma, di luar mendung. Apa tidak sebaiknya kita di sini saja.”
“Tak mengapa, kalau hujan tak tak ada salahnya keliling rumah sakit. Hitung jalan-jalan.”
“Oke deh… Semangat ya Ma!”

Aga mendorong kursi roda ibunya keluar dari kamar. Mencoba tetap tabah dan semangat walau raganya terasa remuk. Ibunya sudah hampir 2 bulan ini dirawat di rumah sakit. Kanker leher rahim yang dideritanya sudah stadium akhir. Aga tidak bisa berbuat banyak selain menunggu di rumah sakit dan menyemangati ibunya. Tentu saja berharap ibunya sembuh. “Mungkin saja ini hari terakhir Mama merasakan nikmatnya matahari pagi. Jadi biarpun mendung harus diterjang. Mama tidak tahu, apakah Mama akan merindukan sinar matahari pagi kalau semua ini berlalu. Mama selalu kagum pada matahari pagi, memberi keceriaan diawal hari, memberi kehangatan dan disukai semua orang. Karena dia tidak akan menyakiti.” Ujar Ibunya sambil menutup mata merasakan sinar matahari yang tertutupi awan mendung.

Keesokan paginya Ibunya Aga sudah di ICU, kondisinya kritis dan terus menurun. Hari kedua Sang Ibu amat lemah, detak jantung naik turun drastis, suaranya mulai terdengar tidak jelas. Kini hari ketiga oleh dokter menganjurkan agar alat dilepas dan keluarga pasrah. Melihat kondisi ibunya, sudah tak sadarkan diri, semua keluarga pasrah dan berdoa. Aga yang 2 bulan ini setiap hari bersama sang Ibu masih belum bisa menerima. Ditengah kesendiriannya Aga menatap matahari pagi. Mengenang masa-masa bersama ibunya. Matahari pagi, terima kasih sudah memberi kehangatan untuk mama. Mama akan sangat merindukanmu. Tapi bisakah kamu memberi kesembuhan untuk Mama? Dia sangat mengagumimu. Gumam Aga sambil berurai air mata.

Ide Cemerlang

Sore hari tanah terlihat jelas bekas air hujan. Sekian lama terik matahari menyengat hujan ini terasa menyejukkan. Saya dan Geva bermain sesaat sebelum jam makan sore. Bermain di sekitar halaman. Mengejar kucing, mengamati daun jatuh, merasakan basahnya aspal oleh hujan.

Jam makan tiba. Mungkin Gevariel sudah kelaparan. Saya cuci tangannya, lalu saya dudukkan dia di kursi makannya. Saya hidangkan makanannya. Gevariel merengek menunjuk makanannya yang di atas meja. Itu artinya dia mau makan itu. Saya beri dia laternatif lain. Kotak kecil berisi nasi dan air. Tak lupa sendok kecil sebagai ajang berlatih memegang dan memakai sendok.

Pertama dia menggunakan tangannya utuk mengambil butiran nasi. Dapat sebutir, masukkan ke mulut. Selanjutnya sudah tidak bisa. Geva mencoba memakai sendok, tentu saja Geva belum mahir. Cara ini juga tidak membantu. Lalu apa yang terjadi…? Ada yang tahu?

Tak kan terpikir oleh siapapun untuk bayi berumur 14 bulan jelang 15 bulan. Geva mengambil kotak itu membuang airnya sehingga tersisa hanya nasi meskipun satu dua butir nasi ikut terbawa air. Dan airnya itu juga membasahi celananya. Namun usaha ini amat sangat patut diacungi jempol. Kini Geva lebih mudah mengambil butiran nasi itu dengan tangannya dan memasukkan ya ke mulut. Woww.. Ide yang sangat cemerlang. Siapa yang akan menyangka bayi, batita melakukan hal- hal hebat yang tak terpikirkan oleh orang dewasa sekalipun. Keajaiban Tuhan menciptakan manusia dengan segala yang dimilikinya. Saya terkagum-kagum dengan kejadian ini.

Bayangkan, bayi 14 bulan memiliki ide secemerlang itu…

Kotak kecil berisi sedikit nasi dan air serta sendok untuk berlatih
Kotak kecil berisi sedikit nasi dan air serta sendok untuk berlatih

Bahagiamu Bahagiaku

Dia ada dibelakangku sedang bersantap siang bersama teman-temannya. Aku tidak berani sedikitpun bergerak, tubuhku kaku dan detak jantungku semakin kencang.Namanya Meilani, sudah hampir 4 bulan ini aku mengaguminya.

Melalui Davine yang sedivisi dengannya akhirnya kami berkenalan. Kini aku tahu kalau Meilani berasal dari Samarinda, dan ulang tahunnya bukanlah di bulan Mei. Namanya diambil karena kedua orangtuanya berulang tahun di bulan Mei dan menikah di bulan Mei. Kuberanikan diriku mengajak Meilani berkencan. Dia tidak menolak. Bahkan di kantor terkadang kami makan bersama. Aku berpikir mungkin Meilani juga memiliki perasaan yang sama denganku.

Di kamar kostku kuputar lagu kesukaanku Grace of My Life, kelak di hari pernikahanku lagu ini berkumandang. Suara Brian Littrel mengalun merdu.

I lie awake so often at night
With something to read or something to write
In the silence my mind is free
To think of the ways that God has blessed me…

Aku terhanyut dan terbuai membayangkan ini nyata bersama Meilani. Oh alangkah indah hidup ini.
Dua bulan berlalu dari perkenalan kami tidak ada perkembangan signifikan. Masuk bulan ketiga, juga tak ada jawaban, Meilanipun tak muncul lagi di kantor. Alat komunikasi tak berfungsi. Pertengahan bulan kelima Meilani mengirimku surat. Dalam suratnya tertuang bahwa Meilani sudah naksir padaku jauh sebelum aku benar-benar menaruh hati padanya, setiap hari dia memperhatikanku dan curi-curi pandang padaku. Kini Meilani kembali ke Samarinda dan akan menikah. Karena wasiat orang tua agar kelak puterinya menikah dengan pria yang sudah ditentukan. Orang tua Meilani dan pria itu sudah sepakat dan pernikahan juga akan dilangsungkan di bulan Mei. Itulah mengapa Meilani tak bisa menerimaku. Meilani sudah terikat dengan orang lain.

You are the grace of my life
So tender, so undeserved
Hard to believe you’re my wife
Even harder to put what I feel into words
If I need evidence God is good
Just looking at you is enough
You are the grace of my life
For you grace my life with your love…

Kini lagu ini begitu menyayat hati.
Meilani hati ini tak mampu meraihmu. Berbahagialah.. Bahagiamu bahagiaku. Doakan aku segera lepas dari rasa perih ini.

***

Lagu “Grace Of My Life”

Cinta dari Ruang Sebelah

“Terlambat lagi ya Ran. Saya sudah tidak bisa menolong kamu kalau terus terusan begini. Kost saja dekat sini emangnya kenapa?” Tukas bosnya Rani.
“Napak kan tau sendiri saya ga bisa.”
“Kalau begituerlu kamu pertimbangkan mencari pekerjaan yang dekat denga rumahmu.” Sahut bos sambil berlau.

Rani duduk di kursinya lemas dan menghela nafas panjang. Mama,aku akan berusaha sekuat tenanga supaya kita tetap bersama dan aku tetap bisa bekerja. Iya, ibunya Rani sedang sakit dan tak ada yang merawat, Rani satu-satunya yang dimiliki inunya sejak ayahnya meninggal. Meninggalkan ibunya di rumah adalah hal mustahil.

“Rani, gue mau kasi tahu sesuatu sama lo.” Tiba-tiba sosok Agung muncul di pintu ruangannya.
“Kenapa Gung?” Tanya Rani, jantungnya berdetak kencang sebab pria idamannya tiba-tiba menghampirinya.
“Ntar pas makan siang, tunghu gue ya.”
“Ok.”

Saat jam makan siang Rani yang masih suntuk dengan pikirannya menghampiri Agung di ruangannya persis sebrlah ruangan Rani. Agung tidak di ruangan, Rani bingung dan sesaat terdengar lagu Back At One milik Brian Mcknigt, yang jelas-jelas adalah lagu favoritnya Rani. Ternyata Agung mau menyatakan cinta kepada Rani. Agung sudah bertemu ibunya Rani dan Agung mau Rani jadi pacarnya. Memerah wajah Rani seketika dan dia pun menerima Agung jadi pacarnya.