Usia 15 Bulan yang Menyenangkan

Waktu terus bergulir membawa Geva diusia 15 bulan. Woww… Sebentar lagi dia akan sekolah. Hmmm….. Saat aku melihat baju-bajunya yang size newborn betapa jauh lebih besar dia sekarang. Kemampuannya, kepintarannya terus bertambah dari hari ke hari. Sebenarnya saat ini usianya sudah memasuki 16 bulan. Ini hanya kilasan saat usianya 15 bulan

Memanggil Orang-orang di Sekitar
Siapa sangka Geva memanggil Papanya dengan amat sangat lembut. Setiap kali mendengarnya rasanya meleleh hati ini. Saban hari dia akan memanggil papanya dengan suara yang menggemaskan itu. Bahkan saat mengigau pun papanya yang dipanggil. Sungguh hebat anakku ini. Tentu saja papanya senang mendengar dipanggil oleh anaknya dengan cara manis seperti itu.

Memanggil “mbok” sudah mahir bahkan saat umurnya masih kurang setahun. Memanggil “mbak”, memanggil “kakak” anak tetangga yang sering bermain dengan Geva usianya 5 tahun amat lihai. Saya mengajarinya ya haruslah ya. Oke, saya coba test Geva bagaimana dia memanggil orang-orang terdekat. Mulai dari “papa”, bagus sekali dia mengulangnya, “mbok” yang ini juga dia mengulang dengan mantap, selanjutnya “oppung”, lagi-lagi diulang walaupun belum utuh sebab yang terdengar adalah “pum”. Tak mengapa namanya belajar. Kali ini “kakak”, Geva pun mengulangnya dengan mantap disertai suara tegas. Lalu saya coba kata “mama”, dan apa yang terjadi Geva hanya diam saja, sepertinya lidahnya menjadi kelu. Saya mencoba mengacak urutan dengan kata “mama” yang kedua, masih diam juga. Tapi menyebut yang lainnya sangat antusias. Hahaha… Dinikmati saja proses ini. Masih tahap belajar, kalau memanggil papanya dengan manis kedengaran setiap hari, saya sangat bangga dan senang. Yeay…. Geva makin pintar.

Menikmati Lagu-Lagu
Kini Geva sudah mulai akrab dan suka dengan lagu anak-anak. Seperti lagu “Balonku” pada bagian ‘doorr’ Geva pasti mengikuti sekalipun Papanya menyanyikan lagu itu dengan berbagai cara, bergumam, nananana, atau yang lainnya. Bahkan saat Geva sedang sibuk dengan mainannya, buku atau sedang netek pasti dia bisa tanggap dengan lagu itu. Lagu lagu lain seperti cicak-cicak, butung kakak tua juga lainnya. Juga semakin gemar menggoyang-goyangkan badannya mangikuti irama lagu. Apalagi saat papanya memainkan gitar sambil bernyanyi. Geva akan langsung mendekati papanya, memegang gitar, lalu menggerak-gerakkan badan mengikuti lagu. Aih… Alangkah lucunya dirimu Nak.

Minum Dari Gelas
Memang Geva selalu minum dari gelas, tapi kali ini Geva meraih gelasnya sendiri. Saat saya memegangi agar tidak tumpah dengan sekiat tenaga dia meraih. Saya melepas dengan pelan-pelan agar air di dalamnya tetap utuh kalaupun tumpah ya sedikit saja. Saat gelas sudah ditangannya ternyata dia minum sendiri tanpa bantuan, biasanya kan dipegangin atau pakai trainning cup, dan tanpa tersedak lagi. Sudah mampu mengontrol jumlah air yang diminum. Walaupun hal ini terjadi juga dengan mangkok kecilnya. Aih…. Padahal mamanya mengajari minum dari gelas tapi kemampuannya melebar hingga ke mangkok.jiahhh…..

Berbisik
Kondisi lawan bicara Geva berbisik kepada Geva, otomatis Geva juga akan berbisik. Biarpun yang dibisikkan Geva itu bahasa bayi. Haha.. Kejadian awalnya Geva mau bermain ke ruang kerja Opung, ternyata opungnya sedang tidur, lalu mbok menjelaskan kepada Geva dengan berbisik keadaannya belum bisa bermain bersama Opung karena sedang tidur, eh tau tau Geva juga balas dengan berbisik. Spontan saat itu kami tertawa terpingkal pingkal. Betapa mengagumkannya dirimu Gevariel…

Masih banyak lagi kelucuan tingkah laku Geva serta kemampuan lainnya yang terus bertambah, seperti memakai sendok, memainkan sapu lantai dan sapu lidi, amat menyukai minum yogurt, tertawa saat ada tamu walaupun itu palsu belaka, bermain kapal di kasur dan yang menjadi favoritnya masih membaca dan musik harus tetap menyala setiap saat. Yang paling mantap adalah saat papa memijatmu seperti sudah hukum alam, Geva akan langsung terbuai dan mengambil posisi walau apapun yang terjadi sebelumnya, entah dia menangis, bermain tapi begitu papanya menyentuh dan menijat dengan lagu khas semua itu seolah-olah tak pernah ada. Sepertinya pijatan papanya memiliki keluatan sihir. Hahaha…

image
Amat piawai menunjuk papanya di poto

 

 

image
Kegemarannya membaca dan membaca

 

image
Entah mengapa sapu diuber ubernya

 

 

image
Sedang menunjuk papanya di poto

Teruslah bertumbuh…. Tuhan memberkatimu senantiasa…
Banyak cinta dan doa untukmu anakku Gevariel

Advertisements

Kemelut Membawaku ke Berlin (Part 3, End)

Tampak semua anggota keluarga bersiap-siap hendak beribadah ke gereja. Tak terkecuali Sutinah. Gaun berwarna ungu muda, rambut sebahu terurai dan sedikit pernak pernik melengkapi penampilannya sungguh amat menawan. Tidak akan ada yang menyangka kalau dia Sutinah yang dulu tinggal di kampung, bekerja sebagai pembantu. Kini Sutinah sudah menjadi bagian dari keluarga Mutia, Sutinah bukan lagi sekedar perawat. Tak terasa waktu berlari dengan kencang bukan hanya bergulir lagi. Setahun sudah Sutinah tinggal di Berlin dan Ibu Mutia pun semakin membaik. Meski tak mungkin seperti sedia kala seratus persen.

Kedekatan Sutinah dengan Edbert semakin nyata, tatapan Sutinah akan pria bule itu tak bisa berbohong. Walaupun sebenarnya Sutinah tidak ingin terlalu dekat dengan siapaun di luar keluarga Ibu Mutia. Tiap kali Edbert bertatap muka denan Sutinah Edbert selalu menunjukkan kebaikannya, bertanya perihal Sutinah maupun Ibu Mutia. Keadaan yang tercipta terasa sulit dihindari oleh Sutinah karena memang mau tidak mau untuk urusan Ibu Mutia.

Kerap bergaul dengan dokter dan perawat, penggunaan bahasa untuk cara pakai berbagai barang mau tidak mau Sutinah oleh keluarga Mutia mendapat kesempatan kursus Bahasa Jerman dan Bahasa Inggris. Karena tidak setiap saat ada orang yang bisa dimintai tolong untuk menjelaskan berbagai hal kepadanya. Sutinah pun mengikuti kursus di sela-sela kesibukannya merawat Ibu Mutia. Dan ternyata Edbert pun ingin belajar Bahasa Indonesia dengan Sutinah. Niat ini diutarakan ke keluarga Ibu Mutia dan sedikitpun Tidak ada kebertan, sembari Sutinah belajar Bahasa Jerman, dan mengajari Edbert Bahasa Indonesia tentu saja akan mempercepat proses belajar Sutinah.

Edbert dan Sutinah makin akrab, kini Sutinah layaknya putri bangsawan. Hatinya tulus, perangainya hormat, tidak pernah membuat malu keluarga Mutia. Keuletannya merawat Ibu Mutia tidak sia-sia, kesehatan beliau berangsur pulih dan semakin membaik. Ibu Mutia amat menyayangi Sutinah selama ini dia sudah mempercayakan kehidupannya kepada Sutinah, sedikitpun Sutinah tidak pernah melakukan apa yang tidak baik. Karena itu Bu Mutia bermaksud meresmikan hubungan Sutinah dengan Edbert karena keduanya terlihat saling menyayangi. Sutinah kaget dan tidak menyangka kalau itu akan tercetus oleh majikannya sendiri. Sutinah pun tidak menolak karena memang itulah yang direncanakan olehnya dan Edbert. Menyandang gelar Nyonya Edbert bukan perkara mudah bagi Sutinah, dia harus belajar lebih banyak akan keluarga Edbert, belajar bahasa Jerman dan Inggris lebih giat, dan belajar budaya negara dimana ia tinggal kini. Semua dilakoninya dengan tulus dan sungguh-sungguh dan ikhlas. Kebaikan hati Edbert juga menolong perkembangan Sutinah, sehingga Sutinah lebih cepat belajar.

Musim dingin menghiasi suasana Natal di Berlin. Rumah kediaman Edbert dan Sutinah juga tak kalah betapa Natal begitu terbentuk di sana. Bayi perempuan mungil tertidur di keranjangnya, sang ibu dengan jarinya yang lihai memainkan tuts piano lagu-lagu natal yang begitu merdu di telinga menambah kesyahduan natal. Bel berbunyi mereka kedatangan tamu yang tak diduga. Seketika alunan piano berhenti sang pianis terperangah melihat siapa yang datang. Sepasang suami istri paruh baya yang sudah tak asing lagi bagi Sutinah. Sutinah langsung memeluk mereka dengan berurai air mata. Tak hanya sampai disitu, Pak Wijaya tiba-tiba keluar dan masuk bersama seorang bocah berusia kurang lebih 7 tahun. Sutinah terperanjat dan kaku sejenak, hingga isak tangisnya tak lagi tertahankan Sutinah memeluk dan menciumi si bocah yang adalah puteranya. Suasana haru menyelimuti seisi ruangan, ditambah lagi kedatangan Ibu Mutia dan keluarganya. Hari yang takkan akan pernah terlupakan oleh Sutinah. Hari Natal, dimana hidupnya telah berubah lebih hidup. Orang-orang yang tidak memiliki hubungan darah dengannya lebih banyak menolongnya, mengubah hidupnya dan memberi makna yang jauh akan sebuah kebaikan. Kejutan yang tak terhingga ini telah diatur oleh Edbert, Keluarga Ibu Mutia dan Keluarga Wijaya.

Betapa kebaikan Tuhan tak berkesudahan bagiku, pikir Sutinah. Siapa aku dulu dan siapa aku kini. Di benak Sutinah seperti diputar kembali, dia seorang gadis ternoda, asisten rumah tangga kehidupan yang sulit dan berat di masa lalu. Tidak ada yang menyangka kini Sutinah masuk jajaran keluarga bangsawan, fasih berbahasa Jerman dan Inggris, bahkan jemarinya amat lincah memainkan tuts piano. Bahkan Sutinah bisa berkumpul dan hidup bersama putera sulungnya Sudirgo. Kehidupan kelam dimasa lalu membawa Sutinah ke sisi lain kehidupannya dengan orang-orang hebat yang memberi kesempatan baginya.

image

Tangan Ketumpahan Lem Alteco

Hari Kamis lalu tepatnya 30 Oktober 2014, Geva bermain seperti biasa. Saat itu dia bermain di sekitar cermin meja rias, menarik beberapa benda yang biasa ditarik. Saya membiarkanya karena memang itu sudah “biasa”. Sedikitpun daya tidak menaruh curiga akan ada insiden ini. Tiba-tiba Geva merintih sambil menggoyang-goyangkan tangannya, saya secepat kilat menghampirinya. Masih basah dan bau lem alteco menyebar. Langsung saya basahi dengan air, namun suara tangisnya terus menggelegar. Mungkin karena panas dan lengket yang ditimbulkan si lem Geva mencoba menggigit tangannya. Saya membaui mulutnya apakah ada lem yang tertelatidak ada bau lem di mulutnya. Ayahnya sedih dan takut kalau-kalau Geva menelan si lem alteco.

Seluruh telapak tangan kanannya berlumuran lem, saya bingung bagaimana mengelupasnya, mengingat Geva kalau makan bisa turut tetelan. Pertama yang saya lakukan adalah mengolesi tangannya dengan minyak, karena minyak licin dan memberi kesejukan kalau-kalau tangannya kepanasan akibat reaksi lem. Saya diamkan sambil saya susuin agar Geva lebih tenang dan berhenti menangis. Tak lama kemudian Geva tertidur. Saya meraba-raba telapak tangannya yang ketumpahan lem mengapa ini luput dari pengawasan saya. Ada perasaan bersalah dan sedih yang amat sangat. Hiks..hiks… Saya mulai melihat-lihat barang apa saja yang bisa membantu mengelupaskan itu. Pilihan saya, Lotion baby, untuk melembabkan. Mungkin akan jadi lembek lem yang sudah mengerak pikir saya. Saya olesi telapak tangannya lalu perhatian saya teralih mencoba mencari di internet. Informasi yang saya peroleh adalah dengan air hangat dan asetone alias pembersih kutex. Setelah beberapa saat saya meraba telapak tangannya dan kerak lem tadi sudah mulai retak-retak, lebih mudah untuk dilepas. Saya mulai melepas si kerak lem sedikit demi sedikit. Terkadang saya juga meraba-raba sekitarmulut dan bibirnya apakah ada kerak lem yang mengering, berkali-kalai saya raba dan memastikannya.

Kali saya mencoba tips dari nternet dengan asetone tapi tanpa air hangat saya tidak ingin membangunkannya. Saya olesi dengan asetone dan mulai menantikan hasilnya, ternyata tidak memberi hasil apa-apa. Mungkin karena tidak direndam di air hangat. Kembali saya mengolsi dengan baby lotion, kerakpun semakin mudah terkelupas. Pada bagian ujung jari karena lebih keras, sedikit lebih sulit terkelupas. Namun malam itu 90% kerak lem sudah terkelupas. Jika ada yang mengalami hal yang sama, pertama jangan panik, tenangkan anak, dan lakukan pengelupasan secara perlahan. Dan ini kejadian ini membuat sayalebih berhati-hati meletakkan barang yang berpeluang menimbulkan insiden berbahaya, lebih ketat mengawasi anak apalagi yang baru bisa jalan seprti baby boy kami #gevariel.

Telapak tangan dengan lem yang sudah mengeras
Telapak tangan dengan lem yang sudah mengeras
IMG_1192
Setelah tangan dicuci sabu terus diolesi baby lotion, tunggu sesaat kerak lem mulai retak-retak. Lebih mudah dikelupas
Lem yang ngelotok dari telapak tangan
Lem yang ngelotok dari telapak tangan

Simpelnya langkah yang saya lakukan adalah:
1. Cuci tangan dengan air dan sabun lalu keringkan
2. Olesi dengan minyak goreng
3. Cuci kembali dengan sabun lalu keringkan
3. Olesi dengan baby lotion dianmakn sejenak, akan muncul retakan yang lebih mudah diklotok. Bila lotion sudah mengering olesi kembali agar telapak tangan lembab. Dengan kejadian ini mengingatkan saya agar lebih waspada menaruh barang-barang yang berpotensi membahayakan si kecil dan senantiasa si kecil dalam pengawasan penuh.