Kemelut Membawaku ke Berlin (Part 3, End)

Tampak semua anggota keluarga bersiap-siap hendak beribadah ke gereja. Tak terkecuali Sutinah. Gaun berwarna ungu muda, rambut sebahu terurai dan sedikit pernak pernik melengkapi penampilannya sungguh amat menawan. Tidak akan ada yang menyangka kalau dia Sutinah yang dulu tinggal di kampung, bekerja sebagai pembantu. Kini Sutinah sudah menjadi bagian dari keluarga Mutia, Sutinah bukan lagi sekedar perawat. Tak terasa waktu berlari dengan kencang bukan hanya bergulir lagi. Setahun sudah Sutinah tinggal di Berlin dan Ibu Mutia pun semakin membaik. Meski tak mungkin seperti sedia kala seratus persen.

Kedekatan Sutinah dengan Edbert semakin nyata, tatapan Sutinah akan pria bule itu tak bisa berbohong. Walaupun sebenarnya Sutinah tidak ingin terlalu dekat dengan siapaun di luar keluarga Ibu Mutia. Tiap kali Edbert bertatap muka denan Sutinah Edbert selalu menunjukkan kebaikannya, bertanya perihal Sutinah maupun Ibu Mutia. Keadaan yang tercipta terasa sulit dihindari oleh Sutinah karena memang mau tidak mau untuk urusan Ibu Mutia.

Kerap bergaul dengan dokter dan perawat, penggunaan bahasa untuk cara pakai berbagai barang mau tidak mau Sutinah oleh keluarga Mutia mendapat kesempatan kursus Bahasa Jerman dan Bahasa Inggris. Karena tidak setiap saat ada orang yang bisa dimintai tolong untuk menjelaskan berbagai hal kepadanya. Sutinah pun mengikuti kursus di sela-sela kesibukannya merawat Ibu Mutia. Dan ternyata Edbert pun ingin belajar Bahasa Indonesia dengan Sutinah. Niat ini diutarakan ke keluarga Ibu Mutia dan sedikitpun Tidak ada kebertan, sembari Sutinah belajar Bahasa Jerman, dan mengajari Edbert Bahasa Indonesia tentu saja akan mempercepat proses belajar Sutinah.

Edbert dan Sutinah makin akrab, kini Sutinah layaknya putri bangsawan. Hatinya tulus, perangainya hormat, tidak pernah membuat malu keluarga Mutia. Keuletannya merawat Ibu Mutia tidak sia-sia, kesehatan beliau berangsur pulih dan semakin membaik. Ibu Mutia amat menyayangi Sutinah selama ini dia sudah mempercayakan kehidupannya kepada Sutinah, sedikitpun Sutinah tidak pernah melakukan apa yang tidak baik. Karena itu Bu Mutia bermaksud meresmikan hubungan Sutinah dengan Edbert karena keduanya terlihat saling menyayangi. Sutinah kaget dan tidak menyangka kalau itu akan tercetus oleh majikannya sendiri. Sutinah pun tidak menolak karena memang itulah yang direncanakan olehnya dan Edbert. Menyandang gelar Nyonya Edbert bukan perkara mudah bagi Sutinah, dia harus belajar lebih banyak akan keluarga Edbert, belajar bahasa Jerman dan Inggris lebih giat, dan belajar budaya negara dimana ia tinggal kini. Semua dilakoninya dengan tulus dan sungguh-sungguh dan ikhlas. Kebaikan hati Edbert juga menolong perkembangan Sutinah, sehingga Sutinah lebih cepat belajar.

Musim dingin menghiasi suasana Natal di Berlin. Rumah kediaman Edbert dan Sutinah juga tak kalah betapa Natal begitu terbentuk di sana. Bayi perempuan mungil tertidur di keranjangnya, sang ibu dengan jarinya yang lihai memainkan tuts piano lagu-lagu natal yang begitu merdu di telinga menambah kesyahduan natal. Bel berbunyi mereka kedatangan tamu yang tak diduga. Seketika alunan piano berhenti sang pianis terperangah melihat siapa yang datang. Sepasang suami istri paruh baya yang sudah tak asing lagi bagi Sutinah. Sutinah langsung memeluk mereka dengan berurai air mata. Tak hanya sampai disitu, Pak Wijaya tiba-tiba keluar dan masuk bersama seorang bocah berusia kurang lebih 7 tahun. Sutinah terperanjat dan kaku sejenak, hingga isak tangisnya tak lagi tertahankan Sutinah memeluk dan menciumi si bocah yang adalah puteranya. Suasana haru menyelimuti seisi ruangan, ditambah lagi kedatangan Ibu Mutia dan keluarganya. Hari yang takkan akan pernah terlupakan oleh Sutinah. Hari Natal, dimana hidupnya telah berubah lebih hidup. Orang-orang yang tidak memiliki hubungan darah dengannya lebih banyak menolongnya, mengubah hidupnya dan memberi makna yang jauh akan sebuah kebaikan. Kejutan yang tak terhingga ini telah diatur oleh Edbert, Keluarga Ibu Mutia dan Keluarga Wijaya.

Betapa kebaikan Tuhan tak berkesudahan bagiku, pikir Sutinah. Siapa aku dulu dan siapa aku kini. Di benak Sutinah seperti diputar kembali, dia seorang gadis ternoda, asisten rumah tangga kehidupan yang sulit dan berat di masa lalu. Tidak ada yang menyangka kini Sutinah masuk jajaran keluarga bangsawan, fasih berbahasa Jerman dan Inggris, bahkan jemarinya amat lincah memainkan tuts piano. Bahkan Sutinah bisa berkumpul dan hidup bersama putera sulungnya Sudirgo. Kehidupan kelam dimasa lalu membawa Sutinah ke sisi lain kehidupannya dengan orang-orang hebat yang memberi kesempatan baginya.

image

Advertisements

Published by

rosegevari

Menulis apa aja yang pengen ditulis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s