Awal Tahun Bersama Gevariel

Yeayyy… Akhirnya menulis juga setelah sekian lama. Ini tulisan perdana di tahun 2015, tahun yang penuh harapan dan cita-cita. Tahun yang akan kita lalui dengan penuh semangat dan sukacita. Walaupun pada kenyatannya tidak semudah itu tapi tidak ada salahnya menyemangati diri sendiri. Januari 2015 lalu tepatnya tanggal 2 Geva demam. Seperti pengalaman sebelumnya kalau Geva nangis amat menyita emosi. Karena intensitas menangis meningkat tajam, nafsu makan turun drastis dan maunya digendong terus, all the time. Makannya relatif sangat sedikit maka Geva mengandalkan ASI alhasil, emaknya sering haus dan lapar dan lebih banyak makan. Tapi kesulitan melakukan hal-hal lain lantaran tak mau lepas dari gendongan. Bahkan saat tidur pun maunya menempel di payudara. Kalau dilepas, suara tangisnya yang menggelegar itu akan pecah memenuhi seisi rumah dan tetangga. Akhirnya hari ketiga suhu normal, Geva kembali lebih ceria namun masih lemas. Hal tak terduga pun terjadi hari keempat panas lagi. Kamai observasi dari semua tanda yang dimiliki Geva dan membandingkannya dengan artikel di internet. Akhirnya saya dan suami memtuskan akan terus mengobservasi sambil terus memberi paracetamol jika diperlukan, asupan cairan yang lebih banyak termasuk ASI dan sedapat yang dia makan makanan padat. Akhirnya tanggal 8 Januari Geva sudah sembuh namun masih harus pemulihan karena tubuhnya masih lemas. Saya ingat saat Geva berjalan pertama kali pasca sakit tubuhnya gontai dan tejatuh. Karena sudah beberapa hari tidak menggunakan kakinya untuk berjalan mungkin otot-ototnya kaku. Saya papah dia saat berjalan, lama-kelamaan mahir juga. Suami kembali mencari referensi di internet tentang demam pada anak hingga 7 hari dan pemulihannya. Ada beberapa yang mendukung kuat, yaitu demam dengan tingkat yang tinggi sehingga pulihnya juga lebih lama, sebab energi terkiras saat sakit karena itu saat nafsu makannya muncul akan didapati porsi yang dapat dia makan mencengangkan. Dari pengalaman ini bisa kami mengamati demam yang dialamai Geva lebih berat dari yang sebelum-sebelumnya namun masih dalam tahap biasa. Jika bayi hanya tidur saja tidak mau melakukan aktivitas, itu pertanda buruk. Sedangkan Geva beberapa lelucon masih bisa membuatnya tertawa, masih mau bercanda hanya saja berlangsung sekejap.

Melihat anak sakit perihnya itu setengah mati. Rasanya tidak tega, mending saya saja yang sakit. Tapi apa mau di kata. Kejadiannya tanggal 7 Pebruari, Geva badannya lebih hangat dari biasanya. Kembali saya tidak menggubrisnya dan mengira itu biasa. Hingga sore menjelang malam suhu meningkat dan rewelnya menyala. Malam hari tidak bisa tidur, padahal keesokan harinya adalah hari pembatisan untuk Geva. Kami terus berdoa sambil memberinya obat penurun panas. Saat suhu turun ke batas normal Geva tidur namun hanya sebentar, suara tangisnya yang super kencang kembali diperdengarkan. Padahal saya sudah memesan salon mau merias wajah dan menata rambut jam 5 pagi. Saat itu saya masih ada opsi, jika Geva membaik mungkin saya bisa ke salon jika tidak tidak perlu ke salon. Jam 5 pagi Geva sudah benar-benar lelap suhu badannya normal tapi tidak lagi memungkinkan bagi saya ke salon. Salon saya cancel dan tukang salon pun terdengar kesal, akhirnya setuju setelah sepakat saya tetap membayar sejumlah yang disepekati. Walaupun saat pembayaran yang punya salon tidak mau namun saaya bersikeras membayarnya, dan dia pun menerima 63.3%. Saya bingung bagaimana saya akan merias wajah saya sendiri, secara ga pernah make up amat jarang apalagi rambut. Saya mulai mengeluarkan apa saja yang saya punya untuk wajah. Untung masih ada, mulai memakai satu persatu. Merias wajah ala kadarnya selesai sekarang yang paling menantang menata rambut. Ada beberapa style yang saya coba namun tak berhasil karena tidak punya alat dan kurang terampil. Berpikir sejenak, bongkar lemari mertua almarhumah ada sangagul kepang panjang kecil, saya coba sulit rasanya mengaplikasikan. Cari lagi dan lagi dan ada sanggul kecil dengan model pendek2 sehingga kalau dilihat dari jauh akan seperti rambut keriting. Alhasil…. Tidak jelek-jelek amat dan suami saya pun tidak menyangka saya bisa tampil begitu dengan riasan sendiri. Selama pengerjaan itu semua Geva tidur lelap. Wah betapa saya tidak bersyukur untuk itu. Pertolongan Tuhan yang luar biasa. Berangkat ke gereja selama ibadah Geva relatif aman tidak terlalu rewel hanya di akhir ibadah dan ssaat penerimaan air baptisan Geva menangis dengan kerasnya. Wowww…. Semua itu tidak saya sangka sebelumnya. Bagaimana Allah membiarkan itu baik adanya. Sepulag dari gereja suhunya pun naik dan saya harus terus menggendongnya.

Saya dan suami sungguh bersyukur atas pertolongan Tuhana yang tepat pada waktunya. Menjadikan baik adanya. Geva yang tak tidur semalaman di jam 5 pagi tidur lelalap dengan suhu yang normal agar mamanya memiliki waktu untuk persiapan karena tidak jadi ke salon. Saya juga menemukan cara praktis menata rambut saya biar rapi tanpa ke salon, Geva juga baik adanya hingga acara ibadah selesai. Sungguh tak disangka bagaimana Allah bekerja dengan luar biasa. Semua itu diluar akal saya. Tadinya saya pikir ya udahlah tampil gitu aja, namanya juga anak sakit. Orang lain akan maklum. Begitu pikiran saya. Namun Tuhan tidak membiarkan itu terjadi begitu saja, Tuhan mengaturnya dengan luar biasanya. Terima kasih Tuhan pertolonganmu yang tepat pada waktunya. Tak henti-hentinya mengucap syukur akan kebaikan Tuhan. Demam Geva juga tidak berlangsung lama. Dari malam sudah tidak lagi demam sudah seeprti biasa bermain ke sana kemari. Mungkin ada faktor pijat dari kerabat kali ya. Sehingga peredaran darah lancar, tubuh tersa lebih ringan dan angin pada keluar. Mungkin juga, tapi yang saya yakini Tuhan menolong kami dengan sempurna.

Bersama opung, mamatua dan abang Yori
Bersama opung, mamatua dan abang Yori
image
Bersama Pendeta Hutapea

 

image
Selfie dalam perjalanan pulang