Rahasia Putri Delima

“Ayah, minggu depan di sekolah ada bazar dan pertunjukan panggung boneka. Kata Bu Ita untuk memeriahkan hari kemerdekan negara kita. Orangtua juga diundang. Apakah ayah akan datang?” Tanya Delima kepada ayahnya yang sedang sibuk dengan laptopnya. “Jam berapa acaranya sayang?” Ayahnya bertanya balik. Dengan wajah berbinar-binar sambil menebarkan senyum termanisnya Delima beranjak dari kursi belajarnya langsung menghampiri ayahnya “Jam 9 sampai jam 12 siang ayah”. Mendekatkan wajahnya ke pipi ayahnya seraya menunjukkan senyum dan mengangkat alisnya tinggi-tinggi.

“Sebelum ayah menjawab, bisakah putri ayah yang cantik jelita ini menolong ayah sebentar?”

“Tentu saja Ayah. Apakah ayah ingin secangkir kopi? Atau ayah ingin dibuatkan nasi goreng atau mungkin ayah ingin Delima buatkan donat coklat kesukaan Ayah?” Tukas Delima kepada ayahnya tanpa melepas simpul senyum sedetik pun dari bibirnya. Ya benar semua itu bisa dilakukan Delima gadis berusia 10 tahun itu. Bahkan seluruh pekerjaan rumah. Sejak ditinggal ibunya 3 tahun silam Delima dan ayahnyalah yang bersama-sama mengerjakan pekerjaan rumah.

“Mmmm… Yang terakhir itu boleh juga.” Ayah Delima menimpali tanpa memalingkan wajahnya. Seketika senyum di bibir Delima sirna. Padahal tawaran membuat donat itu sungguh tidak serius. Suasana hening sejenak Delima masih tak mengira respon ayahnya. Delima membalikkan badan menuju kursinya namun belum genap dua langkah dua tangan sudah mendarat di badannya memeluknya dengan erat dan mengangkat tinggi ke langit langit rumah seraya terdengar “Tentu saja ayah akan datang!”Keduanya tertawa bahagia dalam hangat pelukan. “Nah, sekarang tolong garuk punggung ayah ya dari tadi amat gatal rasanya.

Delima selalu bermimpi ingin seperti Putri yang sering ia baca di buku-buku ceritanya. Mengenakan gaun yang cantik sepanjang hari, tinggal di istana yang megah, bertemu dengan banyak orang yang juga bergaun cantik, menarik dan tertawa penuh bahagia. Delima membaca lagi buku “Putri Kejora” untuk kesekian kalinya. Putri kejora putri yang sangat cantik dan baik hati mempunyai tongkat ajaib. Meskipun ayahnya seorang raja namun Putri Kejora sekalipun tidak pernah sombong atau congkak, dia selalu tampak bahagia dan beteman dengan semua rakyat di kerajaan ayahnya. Semua penduduk di sana sangat menyukai Putri Kejora . Kecuali si penyihir jahat yang ingin mencelakalan Putri Kejora. Putri Kejora ditangkap penyihir jahat dan disihir menjadi seekor tupai, dikurung dalam kandang di rumah si penyihir jahat. Seluruh istana mencari putri tapi mereka tak jua menemukan.

Delima sedang berbaring menikmati angin sepoi-sepoi di tepi Danau Seroja, karena hampir seluruh permukaannya tertutup bunga seroja. Mekar berwarna warni memikat hati Delima bersama Lupi anjing kecilnya. Delima tertidur sedangkan Lupi mengawasi sekitar sambil menyandarkan kepalanya ke tubuh Delima sesekali menutup mata yang mungkin juga diserang kantuk hebat.”

Delima terperanjat seketika menghampiri Lupi yang sedang menggonggong ke arah semak. Seekor tupai terluka, bercak darah menyelimuti sekujur tubuh. Jelas wajahnya menunjukkan betapa kesakitannya dia. Melihat rintihan sang tupai Delima merasa iba, dengan sangat perlahan didekatinya tupai berbulu putih dengan mata merah. Diusapnya dengan lembut diangkatnya dan dipelihara dengan penuh kasih sayang. Di pondoknya yang sempit Delima, Lupi dan si tupai hidup bersama. Delima sedang sibuk di dapur membuat makan malam. “Delima maukah engkau menolongku sekali lagi?” Betapa kagetnya Delima mendengar suara itu. Dia mencoba mencari dari suara itu berasal tapi tidak ada siapa-siapa di sana. “Delima tolonglah saya!” Kembali suara itu terdengar.

“Kamu siapa? Perlihatkan dirimu!” Seru Delima panik bercampur takut.
“Ini saya. Saya tupai putih saya sedang duduk di bawah kaki nona”.
“Hahh.. Pergi kamu. Kamu pasti hantu!” tangan Delima menepis disertai gonggongan Lupi membuat suasan makin gaduh. Delima berlari kencang menuju hutan meninggalkan Putri Kejora yang berubah wujud menjadi tupai putih. Berjarak beberapa meter dari pondok Delima mencoba mengawasi kalau kalau tupai itu sudah pergi.
“Kamu tidak perlu takut. Saya tidak akan menyakitimu.” Suara tupai kembali terdengar. Delima melihat kalau sang tupai sudah ada di belakangnya. “Saya sangat berterima kaih atas pertolonganmu. Mungkin aku sudah mati jikalau bukan karenamu. Karena itu izinkan saya menceritakan kisah saya.”

Ketulusan dan kesungguhan tupai membuat Delima luluh juga. Kini Delima mengerti Penyihir jahat telah menculik Putri Kejora mengubahnya menjadi tupai putih dengan mata yang sangat merah. Putri Kejora berhasil kabur dari kandang dan hampir diterkam binatang buas.

“Saya akan mengantarmu ke istana. Tunjukkan jalannya..” Delima menimpali.

“Saya tidak tahu persis mana arah jalan yang benar. Tapi kalau Delima pernah mendengar Kota Sejuta Bunga. Setiba di sana kita akan pergi ke arah barat sampai bertemu pohon jati yang sangat besar dan tua. Itu adalah pentunjuk menuju istana. Kita harus bergegas sebab penyihir jahat menguasai seluruh kota.”

“Baiklah saya tahu tempat itu. Kita akan menyusuri bukit mungkin satu hari satu malam kita bisa tiba di Kota Sejuta Bunga. Jadi malam ini saya akan persiapkan bekal kita untuk mulai perjalanan esok sebelum fajar.”

Pagi-pagi saat subuh ketiganya meninggalkan pondok melewati jalan setapak, menyusuri hutan lebat dan sungai. Tak terasa malam pun tiba, mereka tidur di tepi sungai seusai menyantapp bekal. Lupi yang pertama bangun menjilati wajah majikannya dan mereka pun segera bersiap menuju Kota Sejuta Bunga. Dalam perjalanan mereka melintasi kebun bunga yang amat luas seperti lautan dengan aneka warna. Terasa membahagiakan hati. Itu adalah Kerajaan Sejuta Bunga, yang sangat terkenal dengan bunganya. Delima, Lupi dan Putri Kejora meninggalkan Kota Sejuta Bunga ke arah barat dimana pohon jati tua dan besar berada. Tidak sulit menemukan pohon jati jaraknya sekitar setengah hari perjalanan dari Kota Sejuta Bunga.

Istana menunjukkan dirinya dari kejauhan menggirangkan hati mereka meluapkan semangat berlari hingga nafas tersenggal-senggal. Kebahagiaan tak kuasa mereka sembunyikan karena apa yang mereka cari sudah di depan mata. Ketiganya berjalan hampir berlari dengan riang. Seolah-olah akan mendapati hadiah istimewa. Putri Kejora Si Tupai Putih seketika berubah menjadi Putri Kejora yang sebenarnya putri yang sudah lama hilang begitu tiba di istana. Delima tercengang tak percaya dengan yang dilihatnya. Putri yang sangat cantik bak bidadari di buku dongeng yang sering dibacanya.

Putri Kejora dengan lihai melawan penyihir jahat dan mengusirnya dari istana dengan bantuan tongkat ajaibnya. Penyihir jahat pun pergi dari istana. Raja dan Permaisuri sangat berterimakasih kepada Delima dan Lupi. Mereka diijinkan tinggal di istana dan Delima diangkat menjadi saudara angkat Putri Kejora. Putri Delima demikian ia dipanggil seluruh penghuni istana. Kini Putri Delima menggunakna gaun indah, tinggal di istana, memiliki kakak yag sangat baik dan cantik.

Delima mengabiskan waktunya di taman istana berbaring di hijaunya rumput di bawah pohon bunga flamboyan yang sedang mekar.
“Delima, bangun sayang. Kita harus bergegas ke acara sekolahkan!” Suara ayahnya terdengar melintas dari depan kamar Delima. Delima tersadar dan mencoba mengingat apa yang dialaminya.
image
“Ayah, aku bermimpi jadi putri. Aku punya seorang kakak bernama Putri Kejora dan aku Putri Delima.” Tukas Delima sambil berputar menengadahkan kepala ke atas mengibaskan roknya seperti penari.
“Itu kan Tokoh yang ada di buku ceritamu.” Jawab ayahnya seraya menyantap sarapannya.
“Iya aku bermimpi bertualang bersama Putri Kejora mengalahkan penyihir jahat.” Delima melanjutkan cerita lebih bersemangat.
“Tentu saja anak ayah ini seorang putri. Putri yang cantik jelita dan baik hati seperti Putri Kejora. Tapi lebih cantik lagi kalau sarapannya dihabiskan segera.” Ayahnya berdiri dan mencubit lembut cuping hidung Delima. Tiba di sekolah sudah banyak murid dan orangtua yang tiba. Beberapa menyantap makanan, memilah-milah baju dan musik pertanda pertunjukkan menyaksikan panggung boneka pun terdengar. Anak-anak berkerumun mengambil tempat duduk paling depan. Tak terkecuali Delima dan ayahnya, mereka duduk bersebelahan dengan Mitha teman baik Delima di sekolah. Delima membuka tasnya hendak mengabadikan kebersamannya dengan sang ayah, Delima terperanjat karena di dalam tasnya ada bunga flamboyan. Delima memandang ke arah ayahnya yang dengan serius menyaksikan Kisah Bawang Merah dan Bawang Putih sambil memeluknya erat.”Jangan lupa hutang donat coklat ya Tuan Putri Delima!” Bisik ayahnya kepada Delima. (Fin/rt23052015)

Advertisements

Published by

rosegevari

Menulis apa aja yang pengen ditulis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s