Waspadai Testis Tidak Turun Pada Bayi Laki-laki (Part 1)

Testis yang tidak turun ke kantong testis (skrotum) disebut kriptorkidisme pada bayi laki-laki yang hingga kini belum diketahui penyebabnya bisa terjadi pada bayi lahir prematur 30 persen dan 4 persen pada bayi lahir dengan waktu normal. Sebutan lain adalah undescended testicles (cryptorchidism). Pemeriksaan fisik akan dilakukan dengan cara meraba apakah terdeteksi testis ada atau tidak. Jika tidak ditemukan dokter akan menganjurkan pengobatan. Biasanya akan ditunggu hingga bayi usia 6 bulan dengan harapan akan turun secara alamai, lewat 6 bulan jika belum turun juga akan diterapi hormon hingga usia setahun. Usia diatas setahun beberapa sumber menyebut di atas 2 tahun harus operasi.

Kami tidak ada berpikiran sebelumnya akan terjadi pada anak kami Gevariel yang saat ini sudah berusia 22 bulan. Kami berpikir semua normal tidak ada yang salah dengan anak kami, karena memang tidak ada gejala sama sekali dan tak ada edukasi sama sekali dari pihak rumah sakit (hal ini yang paling saya sesalkan) padahal berkali kali bolak balik ke rs. SOP pemeriksaan bayi terutama laki-laki bagaimana sebenarnya.

Semua ini berawal saat jadwal vaksin tiba November 2014 (Gevariel berusia 16 bulan), namun vaksin di rumah sakit kosong sudah sebulan. Minggu berikutnya kami coba datang dan vaksin masih kosong. Bahkan sampai sekarangpun (Mei 2015) masih kosong malahan bertambah banyak item vaksin yang kosong. Jadi November kami tidak jadi vaksin, karena kami tidak ingin pulang dengan tangan kosong dua kali, akhirnya saya ke dokter anak iseng-iseng minta penisnya diperiksa. Sebab Gevariel sering pegang-pegang siapa tahu kotor atau luka. Ternyata penisnya baik-baik saja dan itu vase anal kalau sang anak suka memegang alat kelaminnya. Dokter dengan segera memeriksa testisnya dan benarlah yang kiri tidak ditempatnya namun di bagian atas di rongga abdomen. Dokter anak menyuruh ke bagian sub specialis Endokrin untuk memastikannya. Sabtu saat jadwal dokter endokrin tiba kami pun cek. Beliau sependapat dengan dokter anak. Dari beliau kami diberitahu kira-kira apa akibatnya. Secara kasat mata tidak tampak dan tidak mengganggu namun testis didesain Tuhan itu berada diluar tubuh dengan suhu lebih rendah 1-1,5 derajat dari suhu dalam tubuh. Normalnya laki-laki memiliki 2 testis, jika hanya ada satu yang berada di skrotum itu artinya abnormal yang bisa berdampak ke reproduksi. Artinya produksi sel sperma juga hanya setengah dari normalnya, peluang ini juga berlaku untuk pembuahan sel telur. Akibat lain adalah bisa menyebabkan keganasan. Karena itu harus segera ditangani. Dan untuk memastikan posisi testis dimana, ada atau tidak Dokter menganjurkan dilakukan USG. USG dijalanin dengan perjuangan yang keras sebab sang anak menangis meraung raung hingga munta-muntah. Kondisi yang sangat tidak nyaman bagi dia memang. Hasil USG pun keluar tidak lama kemudian dan secara awam bisa dilihat memang posisi testis tidak di dalam skrotum tapi ada.

 

Hasil USG
Hasil USG

Kembali konsultasi dengan dokter anak sub spesialis endokrin, jalan keluar kasus ini adalah operasi. Si Dokter juga bilang baru kemarin ada juga yang operasi kasus sama dengan ini, usianya pun sama satu tahun 4 bulan. Saya pribadi kaget mendengar dan tak tahu harus bagaimana. Membayangkan anakku dioperasi rasanya tidak menentu. Ingin saya saja yang menggantikan. Kami mulai mencari literatur di internet dan kerabat. Ternyata salah satu tetangga kakak saya punya anak laki-laki yang mengalami hal yang sama. Dari kejadian ini juga saya lebih paham sebenarnya ada standar dari rumah sakit untuk anaknyi laki-laki yang baru lahir. Penjelasan singkat dari pihak rumah sakit saat mau pulang:
-bayinya laki-laki ya bu
-ini penisnya dan testisnya
-bilirubinnya bla bla
-berat badan bla bla
-panjang bla bla
Dst

Dibeberapa poin RS tempat anak saya lahir tidak diberi penjelasan dan kambali saya sangat menyayangkan karena kakak saya bidan di Siloam sebelumnya dia menjelaskan apa yang harusnya dilakukan rumah sakit jika bayi laki-laki lahir dan mau pulang dari rs. Apa yang disebut kakak saya tidak dilakukan pihak rs sama sekali. Apalagi ini anak pertama, saya masih belum mengerti apa-apa. Tapi semua sudah terjadi, baik juga RS punya SOP terutama untuk bayi laki-laki. Saat hal ini kami sampaikan ke dokter anak dan dokter anak endokrin mereka hanya terdiam. Sudahlah…. Saya pikir selalu ada berkah dan Tuhan itu teramat baik. Mungkin ada hal yang harus lebih kami pahami dari karya Tuhan atas kejadian ini. Kembali ke topik, padahal kami berulang kali kembali untuk kontrol dan vaksin namun tak satupun kejadian yang melakukan pemeriksaan di bagian testis, bahkan kembali berkali-kali untuk vaksin tetap tidak ada. Mungkin karena bukan kasus umum. Saya sebagai ibu yang awam tidak menaruh curiga apapun dan tidak kepikiran sedikitpun untuk memeriksanya. Ditambah anak saya sehat, aktif, bobotya cukup, kecuali pupnya yang sering keras. Air lebih banyak serta buah dan sayur yang extra terkadang bisa mengatasinya. Tumbuh kembangnya berjalan seperti biasa.

Dari membaca literatur, artikel dan sharing pengalaman, kami sedkit banyak harus mempersiapkan diri menghadapi operasi. Secara finansial, emosi, mental dan waktu. Tidak bisa dilakukan saat itu juga walapun dari dokter menganjurkan secepatnya. Kami mencoba ke RS Siloam menanyakan second opinion, kurang lebih sama. Namun RS ini belum ada fasilitas operasi urologi sehingga kami tidak bisa mendapat perkiraan biaya. Sedang di RSPC petugas tidak bisa memperkirakan biaya tanpa ada kategori bedah apa dari dokter. Beberpa RS di internet menyatakan itu operasi kecil saja. Jadi di RSPC kami coba tanya bagaimana jika itu operasi kecil, mereka menyebut sejumlah nominal. Dari hasil tanya sana sini dan perkiraan biaya kami sepakat Gevariel akan dioperasi sekalian disunat tapi tidak dalam jangka waktu segera karena perlu waktu mengumpulkan dana. Namanya juga biaya pribadi bukan asuransi so ya begitulah. Dan hal tak terduga lainnya terjadi di bulan berikutnya saat saya harus masuk rumah sakit karena keguguran. Itu juga menyedot dana yang tak sedikit. Jadilah tertunda lagi operasinya selain itu ada hal yang harus dihadiri di luar kota jadi sekalian selesai tidak dikejar-kejar waktu menunggu masa semua tenang dan nyaman. Saat itu pikiran saya segera lakukan operas titik. Tapi keadaan tidak semudah itu ternyata. Kami terus berdoa untuk anak kami agar diberi kekuatan dan kesehatan saat menghadapi operasi. Kami berdoa agar mukjizat Tuhan terjadi bahwa tanpa operasi testisnya akan normal. Kami mengimani dan mempercayai Tuhan akan bekerja atas apa yang menimpa Gevariel. Tapi sekalipun harus menjalani operasi bukan kami kecewa kepada Tuhan karena tidak mengabulkan doa kami atau tidak memberi mujizat pada anak kami, tapi kami mengimani pekerjaan Allah itu tidak terbatas. Setiap hari berdoa dan membiarkan Allah bekerja dan bersandar pada kekuatan Tuhan saja.

Bulan April kami coba cek ke dokter bedah urologi Dr. Hendy Mirza SpU. Kesan saya, wah dokternya masih muda. Apa bisa dia?
Apa cari yang lain saja ya? Tapi dokter Mirza menceritakan pengalamannya sudah sering melihat dan operasi untuk kasus ini. Bawaannya sangat santai tenang dan praktis, padahal saya deg degan dan takut. Cek punya cek dokter langsung tanya mau operasi kapan? Jumat? Saat itu hari Senin, akhirnya kami sepakati hari senin minggu berikutnya yaitu 27 April 2015. Sebab dokter Mirza jadwal operasi Senin dan Jumat. Berkas-berkas dipenuhi dan kami langsung coba ke admission. Tada…. Jika semua dijabanin operasi testis dan sunat total biaya untuk operasi saja mencapai 34 juta belum obat dan kamar. Jauh sekali dari perkiraan sebelumnya yang hanya di kisaran belasan saja. Penyebab naiknya biaya secara fantastis adalah kategori bedah. Dokter Hendy mengkategorikannya di “kategori khusus”. Jadi untuk operasi itu ada kategori yang akan menentukan biaya. Kategori kecil, sedang, besar dan khusus. Yang paling mahal adalah kategori khusus melebihi kategori besar. Belum lagi kalau ada asisten, alat extra atau tambahan lainnya saat di ruang operasi. Biaya juga akan naik sesuai dengan kelas kamar. Kategori khusus untuk kelas satu dan VIP tentulah VIP lebih mahal. Ini tindakannya saja belum termasuk kamar, obat dan lain-lainnya. Mulai otak diputarrr…. Tapi Tuhan memang sangat baik. (Bersambung…..)

Advertisements

Published by

rosegevari

Menulis apa aja yang pengen ditulis

4 thoughts on “Waspadai Testis Tidak Turun Pada Bayi Laki-laki (Part 1)”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s