Lagu “Tukang Bakso”

Abang tukang bakso 
Mari-mari sini aku mau beli

Abang tukang bakso cepatlah kemari

Sudah tak tahan lagi

Satu mangkok saja lima ribu perak

Yang banyak baksonya..

Tidak pake saos tidak pakai sambal

Juga tidak pakai kol

     Bakso bulat seperti bola pingpong

     Kalau lewat membikin perut kosong

     Jadi anak janganlah suka bohong

     Kalau bohong digigit sapi ompong


Siapa yang tak akrab dengan lagu ini. Hampir semua orang tahu dan mungkin juga menyanyikannya sewaktu masih kanak-kanak. Tapi menurut saya lagu ini super duper aneh.

  1. Abang tukang bakso, cepatlah kemari sudah tak tahan lagi. Ya ampun jadi orang ko sabaran amat ya. Seperti menahan pipis saja tidak tahan. Emangnya tukang bakso toilet berjalan. Kan tidak..
  2. Satu mangkok lima ribu perak, yang banyak baksonya. bisa-bisa aja porsi anak-anak kali ya lima ribu perak tapi jangan bilang yang banyak baksonya dong. Sesuai dengan uang dong. Pelit atau ga punya uang?
  3. Tidak pake saos, boleh. Tidak pake sambal, boleh. Lha ini tidak pakai kol. Emang sejak kapan bakso pake kol. Itu soto kali. Itu pun ga semua soto pake kol. Biasanya soto dari Jawa.
  4. Kalau lewat membikin perut kosong. Yang benar saja, tukang bakso lewat ko tiba-tiba perut jadi kosong. Astaga..
  5. Jadi anak janganlah suka bohong, kalau bohong digigit sapi ompong. Gimana ceritanya. Bilang digigit sapi ompong saja sudah bohong. Lagi pula itu terlalu sadis dimana coba nyariin sapi ompong buat gigitin anak yang bohong. Asataga… Lebih mendidik dan realistis dong lagunya.

Tapi namanya juga kreativitas, tidak ada batasan. Apapun bisa jadi karya, darada saya buat begituan ga bisa tapi mengkritik bisa. Kan gawat. Buat pencipta lagu ini saya minta maaf ya. Jangan bosan berkarya, ada pesan moral buat kita semua. Terus berkarya… (Fin/rs290615-u-NR15D21)
image

image

Ada Apa Dengan Bulan Puasa

Bulan ini bulan puasa. Menurut KBBI defenisi puasa adalah: “pu·a·sa 1 v menghindari makan, minum, dsb dng sengaja (terutama bertalian dng keagamaan); 2 n Isl salah satu rukun Islam berupa ibadah menahan diri atau berpantang makan, minum, dan segala yg membatalkannya mulai terbit fajar sampai terbenam matahari; saum;”

Bulan Ramadhan dimana umat muslim seantero jagad raya berpuasa. Berarti ada jam makan yang bergeser dan cenderung berkurang. Kalau biasanya makan 3 kali sehari ditambah cemal cemil kalau di bulan puasa ini mungkin tetap 3 atau 2 namun hampir bisa dipastikan kuantitas berkurang karena di pagi hingga maghrib tidak memakan apapun. Tapi fenomena yang terus terjadi di Indonesia adalah kenapa justru di bulan puasa harga-harga bahan makanan naik tidak tanggung-tanggung, lalu omset restoran melonjak hingga 2-3 kali lipat dibanding hari biasa. Teori Ekonomi, harga naik jika permintaan tinggi. Artinya permintaan akan bahan makanan di bulan puasa lebih tinggi dari hari biasa itu sebabnya harga juga naik. Saya tidak tahu persisi apa penyebabnya apa sukacita jemaah yang berapi-api menikmati puasa sekali setahun ini jadi hidangannya setiap hari istimewa, atau lebih cenderung jajan dan berbuka bersama rekan, teman, sahabat maupun kerabat? Ini masih sulit saya terima. Bukankah harusnya secara alamiah di bulan puasa ini permintaan pasar akan bahan makanan menurun, omset rumah makan dan restoran turun. Tapi ternyata yang terjadi adalah sebaliknya, entah tradisi, entah habit, entahlah. Di Indonesia memang unik mengarah aneh. (Fin/rs290615/u-NR15D-20)

IMG_1703

IMG_1702

Aramo dan Barunas (Part 4)

Pernikahan Pangeran Barunas dan Putri Dahira sedang dipersiapkan. Pesta akan dimulai di bulan purnama pertama bulan depan hingga 3 hari lamanya. Pangeran Barunas bertemu beberapa kali dengan Putri Dahira, wajahnya amat cantik. Siapapun pria yang memandangnya pasti tertarik. Namun tidak demikian dengan Pangeran Barunas. Wajah Mahira selalu menari-nari dikepalanya. Semakin dia mengusir semakin sering pula bayangan itu datang. Tapi apa mau dikata pernikahan pun berlangsung, janji Pangeran Barunas kepada Mahira untuk kembali padanya tinggal kenangan saja. Pangeran Aramo pun turut berbahagia atas pernikahan kakaknya hingga ia rela pergi jauh ke pelosok negeri mencari batu mulia untuk dihadiahkan kepada Pangeran Barunas. Naas tak dapat ditolak Pangeran Aramo terserang penyakit langka, sehingga tidak bisa kembali ke istana segera. Pangeran  Barunas segera bertolak menjemput adiknya bersama pengawal kerajaan. Namun menurut tabib yang merawat Pangeran Aramo harus tinggal sesaat hingga tubuhnya kuat. Pernikahan tinggal 5 hari, mestinya mereka sudah harus bergegas kembali ke istana. Pangeran Barunas tak bisa meninggalkan Pangeran Aramo sendiri maka diputuskannya akan merawat Pangeran Aramo hingga bisa dibawa pulang ke istana.

“Kita harus bergegas ke istana Pangeran Aramo.”

“Tapi saya harus berpamitan kepada seorang perempuan jelita rupawan, yang sepertinya saya jatuh hati padanya. Dialah yang menolong saya, membawa saya ke tabib. Kalau bukan karena dia mungkin saya sudah mati” Sambil Pangeran Aramo membenahi bawaanya “dan sepertinya hatiku tertawan olehnya Ka.” Dengan simpul senyum di wajahnya.

“Maafkan kakakmu ini Pangeran Aramo. Tapi Saya harus segera ke istana. Kamu menyusul saja dengan beberapa pengawal. Jangan lupa undang wanita itu ke hari pernikahanku.”

“Baiklah Ka. Sampai jumpa.”

Kesibukan terlihat dimana-dimana menghiasi istana, pernikahan Pangeran Barunas akan dimulai. Hiasan istana yang indah, makanan yang lezat, pakaian yang menawan semua tumpah di istana. Nampak Pangeran Barunas terlihat sangat tampan dengan jubah berwarna emas, penutup kepala yang kemilau sungguh paduan yang sempurna untuk wajahnya yang rupawan. Namun wajah itu tidak bisa menyembunyikan kesedihan hatinya oleh yang senantiasa memikirkan Mahira. Diaman Dia? Apakah dia baik-baik saja? Apa dia sudah bertemu pria baik-baik dan menikah? Atau malah bertemu pria brengsek sehingga ia disiksa?

“Pangeran Barunas ijinkan saya masuk. Saya hendak melihat calon pengantin kerajaan.” Teriak Pangeran Aramo dari balik pintu mengagetkan Pangeran Barunas yang sedang termenung.

“Masuklah.”

“Wah, Pangeran Barunas sangat cocok dengan pakaian ini, terlihat gagah dan sangat tampan.”

“Terima kasih Pangeran Aramo. Apakah kau mengundang pujaan hatimu itu?”

“Tentu saja, awalnya dia menolak tapi aku paksa saja. Aku akan mengenalkan padamu secara khusus. Makanya aku kemari. Tunggulah sebentar disini.” Pangeran Aramo bergegas keluar memanggil kekasihnya tanpa sempat Pangeran Barunas menjawabnya.Persiapan menyambut pengantin wanita tiba, Pangeran Barunas bersiap-siap di pintu halaman bersama Raja, Permaisuri dan rombongan Kerajaan Gunirud. Pikiran Pangeran Barunas yang dipenuhi oleh Mahira membuat wajahnya jauh dari bahagia, tapi siku pendampingnya memaksanya untuk tersenyum. Putri Dahira yang jelita, mengenakan pakaian sutera yang indah, perhiasan yang mahal dan tersirat keanggunan serta keangkuhan seorang putri.

Mata itu masih seperti dulu, rambutnya masih indah, wajahnya masih masin dan menawan. Tiba-tiba Pangeran Barunas menangkap sosok yang tak asing baginya. Saat mata mereka bertemu membawa kembali ke waktu lampau di saat keduanya memiliki rasa yang sama , rasa yang menggebu-gebu antara pria dan wanita. Wanita yang dulu dia jatuh hati padanya dan harus meninggalkannya, bahkan tak punya nyali membawa ke istana malah memilih menyamar menjadi rakyat jelata. Ada rasa penyesalan dalam hati Pangeran Barunas. Airmata Pangeran Barunas hampir jatuh ingin dia memeluk Mahira, ingin dia berlari dan membawanya pergi jauh dari dunia kerajaan. Pria gagah yang berdiri di sebelah Mahira menyadarkannya, wajah bahagia yang dulu pernah ia rasakan. Sungguh ia tak ingin mengecewakan adiknya Pangeran Aramo. Biarlah ini berlalu, barangkali Mahira juga sudah melupakanku dan Mahira setidaknya bersama dengan orang yang tepat. Pangeran Barunas melangkah lunglai ditengah dentuman meriahnya musik menghampiri rombongan pengantin wanita melewati Mahira, menolehnya seolah-olah berkata, Pangeran Aramo adalah yang terbaik untukmu. (Fin/rs30615)

image

 

Aramo dan Barunas (Part 3)

Banyak pasukan kerajaan yang menerobos masuk ke rumah Jamido. Mereka membawa Pangeran Barunas, Jamido dan Mahira. Pangeran Barunas yang terbuka indetitasnya memerintahkan agar Jamido dan Mahira tidak diganggu. Tanpa perlawanan Pangeran Barunas berpamitan kepada Jamido dan Mahira. “Aku akan kembali untukmu.” Bisiknya kepada Mahira. 

Kedatangan Pangeran Barunas sudah tersiar ke seluruh penjuru kerajaan. Rakyat berduyun-duyun datang sekedar melihat Pangeran Barunas. Pangeran Aramo langsung memeluk kakaknya itu dan melampiaskan rasa rindunya yang terpendam. Raja Sahilas menanti di singgasananya kedatangan Pangeran Barunas. Setelah berpakaian layak Pangeran Barunas menghadap raja. “Ampun Baginda karena membuat kerajaan cemas.” Pangeran Barunas berlutut di hadapan Raja Sahilas.

“Apakah kamu menyukai perempuan itu?” Raja bertanya tanpa kepada Pangeran Barunas.

“Benar yang mulia.” Jawab Pangeran Barunas tertunduk.

“Bukankah kamu akan menikah dengan Putri Dahira dari Kerajaan Kanoi?”

Terdiam sejenak, “Hamba mohon ampun Baginda. Hamba tidak tertarik dengannya.”

“Bagaimana mungkin kami seorang Putera Mahkota melakukan hal sebodoh itu. Kalau Kamu menolak menikah dengan Putri Dahira. Itu sama saja dengan Perang.” Raja tampak marah memanggil pengawal istana “pengawal bawa Pangeran Barunas ke kamarnya. Dia tidak diperbolehkan keluar.

Pangeran Aramo sedih melihat kakaknya dihukum raja. Dia pun mengunjungi kakaknya namun tak diperbolehkan oleh pengawal karena perintah raja. Pangeran Aramo diam-diam masuk ke kamar Pangeran Barunas. Terlihat perbincangan yang serius dan raut wajah yang sedih. Pangeran Barunas minta bantuan kepada adiknya agar menolongnya melarikan diri dari istana. Tapi itu sangat mustahil, sebab pengawal istana ada dimana-mana. Kemana pun Pangeran Barunas pergi pasti akan ditemukan.

Jamido dan Mahira diperintahkan raja agar pergi ke tempat yang jauh. Sedikit uang diberikan sebagai modal mereka kelak di tempat baru. Betapa tersayat hati Mahira tak akan lagi bertemu dengan Pangeran Barunas. Tapi siapakah saya bermimpi menjadi menantu Raja Sahilas? Itu tidak akan mungkin. Saya harus melupakan Pangeran Barunas.

Kabar kepergian Jamido dan Mahira sampai juga di telinga Pangeran Barunas. Pangeran Barunas sedih luar biasa. Bahkan air matanya menetes tak henti. Wajahnya pucat, tubuhnya kurus tak terurus. Tak sedikitpun makanan yang bisa ditelan. Tuhuhnya terkulai lemas tak berdaya nyaris kehilangan nyawa. Pangeran Aramo bersikeras merawat sang kakak. Raja tidak bisa berbuat apa-apa selain mengijinkannya. Pangeran Aramo mendatangkan tabib terbaik istana untuk mengobati Pangeran Barunas. Ia pun menyuapi dengan sabar walau terkadang kakaknya menolak. Ketelatenan Pangeran Aramo membuahkan hasil. Pangeran Barunas kembali sehat seperti sedia kala, raja pun tak lagi menghukumnya. 

Pangeran Barunas tidak ingin larut dalam kesedihan meski dalam hatinya ia tetap berharap bertemu Mahira dan menikah dengannya. (To be continued…/rs280615 u/NR15D19)

Aramo dan Barunas (Part 2)

“Dimana Pangeran Barunas Pengawal?” Tanya raja kepada pengawal.

“Ampun Baginda, hamba tidak tahu.”

“Bukankan kamu bersama-sama dengan dia saat berburu di hutan.”

“Ampun yang mulia. Benar saya bersama dengan Pangeran Barunas. Lalu saya diajak katanya pangeran hendak buang air.” Dengan terus menundukkan kepalanya pengawal menceritakan kepada raja bagaimana mereka berpisah.

********

“Pengawal, kembalilah ke istana. Katakan kepada raja kalau saya baik-baik saja. Kita berpisah di sini.” 

“Jangan Pangeran, saya akan terus bersama Pangeran kemana pun Pangeran pergi?”

“Tidak perlu pulanglah. Ceritakanlah pada Raja yang sebenarnya terjadi jangan kurang jangan lebih.” Pangeran Barunas meyakinkan pengawal memegang pundaknya menatapnya dengan serius.

“Baiklah Pangeran. Berhati-hatilah.”

Pangeran Barunas menyuruh pengawalnya kembali sementara dia pergi ke arah lain menyusuri jalan hutan yang tak jelas arahnya. Pangeran Barunas menanggalkan jubah kerajaannya kini ia tampak seperti rakyat jelata melangkahkan kaki seorang diri. Matahari sudah kembali ke peraduan gelap gulita di tengah hutan, cahaya kunang-kunang bak bintang di langit menemani perjalanannya menuju setitik cahaya di kejauhan.

Pangeran Aramo menghadap Raja “Baginda apakah kakakku Pangeran Barunas akan kembali? Hamba sangat rindu padanya.”

“Mungkin dia perlu waktu untuk sendiri Pangeran Aramo. Tak perlu bersusah hati.”

“Pangeran Baranas adalah kakak terbaik yang pernah kumiliki. Sekalipun ibu kami berbeda, tapi Pangeran Baranas selalu mengajari saya banyak hal.”

Raja memerintahkan mencari Pangeran Barunas di hutan sampai ditemukan. “Panglima jangan sampai Pangeran Barunas terluka sedikitpun. Bawa dia kembali hidup-hidup.” Pasukan kerajaan pun berangkat ke hutan. Menyusuri setiap jengkal hutan tanpa henti. 

Pangeran Barunas begitu berbahagia kembali bertemu dengan temannya Jamido. Iya, Jamido adalah sahabat barunya. Mereka bertemu di hutan saat berburu bersama raja beberapa waktu lalu. Tak disangka bertemu secara diam-diam. Jamido tinggal dengan adik perempuannya bernama Mahira. Mereka bekerja mencari kayu dan hasil hutan lainnya untuk dijual. Tidak ada rumah lain di sana hanya mereka saja. Jamido dan adiknya memutuskan untuk tinggal di hutan jauh dari keramaian. Ayahnya adalah pedagang. Tapi saat ada serangan Ayah dan ibunya meninggal, tak menyisakan apapun karena telah dirampas oleh perampok.

Pangeran Barunas bergetar hatinya setiap kali menatap Mahira. Wajah ovalnya yang cantik, rambut hitamnya yang terurai membuatnya semakin bercahaya tak kala melintas menghangar teh dan kudapan untuk kakaknya dan Pangeran Barunas. Mahira mengintip dari balik tirai kepada Pangeran Barunas, dia menatap bibirnya yang merah, sinar matanya yang tajam tapi lembut, hidung mancungnya dan tubuhnya yang kekar. Mahira tak kuat  memikirkan itu semua, menggigit bibir bawahnya dan ada perasaan yang tak terjelaskan dalam hatinya. Kakinya bergetar tak tahan berdiri dan diapun terjatuh.

“Mahira suara apa itu?” Terdengar suara Jamido spontan yang terkejut. Pangeran Barunas juga kaget mendengar suara gedebuk. Seketika melihat ke arah datangnya suara dan mengentikan perbincangan dengan Jamido.

Mahira yang merasa malu meringis kesakitan “Bukan apa-apa Ka. Aku sedang membereskan kasur” sambil melongokkan kepalanya dari balik tirai dan memasang senyum. Kembali jantunganya seperti mau copot saat mata mereka bertemu pandang dengan Pangeran Barunas. Pangeran Barunas juga merasakan hal yang sama. Mata indah Mahira bertemu dengan matanya sesaat dan dunia serasa terbalik tubuhnya kaku darahnya mengalir deras. (To be continued…. /rs280615 u/NRD18)

Aramo dan Barunas (Part 1)

Pangeran Aramo berdiri tepat di samping Ayanya Raja Sahilas. Dia memainkan panah, mengangkat busur panah dan membidik sasaran di depannya. “Pangeran Barunas tiba…!” Teriak salah seorang penjaga yang serta merta seluruh penjaga berdiri memberi hormat.
“Salam Baginda.” Barunas memberi hormat kepada Raja.
“Mari kita mulai perburuan.” Sahut raja tanpa menoleh kepada Pangeran Barunas. Sepanjang perjalanan tampak Raja akrab dengan Aramo menceritakan kisahnya berburu bersama Ayah Sang Raja, Raja Dubara. Sedangkan Pangeran Barunas berjalanan beriringan dengan pengawal di belakang raja. Barunas merasa cemas dan gelisah sebab Ayahnya menatapnya pun tidak.

Para pengawal, Pangeran Barunas dan Pangeran Aramo menunduk menunggu mangsa rusa bertanduk bak ranting ganpa daun. Husppp…. Satu anak panah Pangeran Aramo melesat cepat ke arah target namun tak kena, rusa lari terbirit-birit begitu mencium ancaman. Ada kekecewaan di wajahnya. “Tidak apa-apa, ini adalah pengalaman pertamamu berburu . Lain kali mungkin akan berhasil” hibur raja kepada Pangeran Aramo. Sedangkan Pangeran Barunas lebih memilih pergi dengan pengawalnya ke tempat ke lain. Raja mengawasi dengan ekor matanya kalau-kalau putera mahkota merencanakan hal lain selain berburu. Sebab berburu bukanlah kegemarannya. Pangeran Barunas menghilang dari rombongan bersama salah satu pengawalnya. Raja mulai cemas dan menyuruh mencari ke segala tempat. Teriakan memanggil Pangeran Barunas bergema dimana-mana namun tak ada sahutan. ” Pangeran Aramo kemanakan Pangeran Barunas pergi?” tanya Raja kepada Aramo. “Saya cemas sesuatu terjadi padanya.”

“Mungkin Kakak sedang buang air Baginda.”

“Kenapa lama sekali? Hari akan gelap.”

“Jangan kuatir Baginda, Pangeran Barunas pasti kembali sebentar lagi.”

Senja bersiap-siap menyelubungi langit, namun Pangeran Barunas dan pengawalnya tak jua kembali. Rombongan Raja kembali ke istana tanpa Pangeran Barunas. (To be continued…./rs 280615 uNRD17)

Kicauan Nyamuk

Ahay… Terdengar pintu terbuka pertanda tuan rumah pulang. Si Nyamuk yang sedari tadi menanti terbang ke sana kemari mencari sesuap darah tak jua menemukan melonjak kegirangan. Sosok yang dinanti datang, meletakkan tas kerja, menyambar handuk dan bergegas mandi. Tak butuh waktu lama pria itu langsung merebahkan tubuhnya di kasur menggapai ponsel pintarnya dan mulai sibuk menggeser jari kesana kemari di atas layar. Si Nyamuk mulai beraksi mengendap-endap mendekati Si Pria Botak Licin. Kali ini nyamuk harus lebih berhati-hati kalau tak ingin berakhir di pembantaian.

Happ… Mendarat di licinnya kulit kepala si pria dan mulai mengendus pembuluh darah terdekat. Jarum penusuk diarahkan dan mulai menancapkan. Hush… Tangan Si Pria Botak Licin mengelus kepalanya membuat nyamuk menyingkir. Mencoba lagi di kulit kepala yang menegangkan jarum penusuk dan… Tara.. rombongan nyamuk lain datang menimbulkan bunyi yang tak nyaman bagi si botak licin. Dia mengibaskan tangannya ke sana kemari mengusir para nyamuk. Si Nyamuk mulai mencari celah dan kembali menemukan lokasi empuk untuk mengisap darah. Tepat betis kiri Si Nyamuk mulai beraksi mengeluarkan jarum penusuk dan booomm.. Dapat! Tak berlangsung lama si pria botak licin beranjak dari kasur menghampiri belakang pintu kamarnya. Tidakkk….!! Begitu pikir Si Nyamuk melihat Si Pria Botak Licin menggenggam sebuah benda yang sangat mengerikan bagi Si Nyamuk. Bagaimana tidak malam sebelumnya Si Nyamuk melihat dengan matanya sendiri salah satu temannya terpanggang persis saat mulai menghisap darah Si Pria Botak Licin. Mengeluarkan bau yang menyengat yang tak akan pernah dilupakan Si Nyamuk. Benda itu bagai penyiksaan lahir batin bagi Si Nyamuk, memiliki mata merah menyala saat pria botak licin menyentuh tombol serta mengeluarkan petir yang menghanguskan temannya Si Nyamuk atau mungkin saja Si Nyamuk adalah korban berikutnya. Tak mau kalah, Si Nyamuk memasang strategi jurus ‘Terbang Mengecoh’. Si Nyamuk mendekati pria botak licin menimbulkan suara gaduh telinganya sehingga Si Pria Botak Licin mulai mengarahkan raket nyamuk miliknya kesana kemari. Si Nyamuk menikmati mengecoh Si Pria Botak Licin dan melupakan setetes darah untuk sesaat. Tak puas mengecoh sekali, kembali Si Nyamuk berpura-pura hinggap dilengan si Pria Botak Licin. Tentu saja dengan gerakan hati-hati agar tak membuat Si Nyamuk beranjak. Raket diayunkan dan tebak… Si Nyamuk kabur sambil tertawa. Semakin menikmati tingkah si Pria Botak Licin, Si Nyamuk mengecoh kembali. Kali ini Si Nyamuk terus menerus terbang dekat telinga si Pria Botak Licin, raket kembali beraksi dan Si Nyamuk lolos lagi. Semakin kencang dia tertawa menganggap Si Pria Botak Licin sangat dungu. Tiba-tiba bau asap menyengat menyebar, tdengar pekikan petir mini dan goresan percikan listrik di senjata mematikan yang di pegang Si Pria Botak Licin. Si Nyamuk terpanggang menghitam bahkan tubuhnya tercerai berai. Tanpa disadari, Si Pria Botak Licin mengayunkan raket ke guling karena salah satu rekan Si Nyamuk sedang bertengger di sana. Si Nyamuk yang sedang tertawa terbahak-bahak turut serta dalam penyetruman. (Fin/rs260615 uNR15D16)