Ke Pohon Tua

Tia melangkahkan kakinya menyusuri jalan hutan di tepi sungai. Desiran aliran air menemaninya hingga di persimpangan . Tak terasa semakin jauh dari tepi sungai kini yang kedengaran bukan lagi aliran sungai tapi suara burung, atau hewan lainnya yang mewarnai hutan. Tia tidak mengurungkan niatnya untuk terus mengayunkan kaki ke desa Pejatiasih. Tia sangat penasaran dengan pohon tua yang yang gaib yang belakangan banyak dibicarakan orang. Tia sudah mencoba mengajak Tuti teman karibnya di sekolah tapi gadis berusia 10 tahun itu menolak ajakan Tia. Sebab Tuti takut dan tentu saja izin dari orangtua tidak akan pernah didapatnya. Salah satu paman Tuti mninggal, orang sekampung bilang itu karena pamannya, -Sutono- menyentuh pohon keramat. Para pria di kampung Larasati memang sering memasuki hutan untuk mencari kayu atau mengumpulkan hasil hutan. Sesekali mereka ke Kampung Pejatiasih karena di sana lebih ramai. Gadis-gadis lebih cantik, tak heran pemuda Kampung Larasati sering bertandang ke sana. Terkadang mereka usil mendekati pohon tua, berpura-pura seperti dukun yang sedang mengadakan ritual, atau mereka berbicara dengan pohon tua tak jarang juga ada yang buang air sekalipun sudah ada larangan agar tidak menyentuhpohon.

Sekelompok pemuda berjalan pulang seusai bercengkrama dengan si pohon tua tak ada yang aneh semua berjalan seperti biasa menuju Kampung Larasati. Setengah jalan mereka tempuh di hari yang senja tanpa obor ataupun senter, berdua berdua jalan beriringan. Sutono paling belakang dengan Eman tiba-tiba terjatuh dan berteriak kencang mengagetkan rombongan. Pemuda-pemida itu segera berkerumun melihat apa yang terjadi pada Sutono. Darah mengucur deras dari kepalanya, kepanikan semakin menjadi-jadi Sutono tidaksadarkan diri. Kampung Larasati sudah dekat, mereka menggotong Sutono langsung ke rumah. Mereka tidak mempercayai apa yang sedang terjadi, saat teman-teman Sutono menceritakan kejadiannya mereka percaya bahwa itu adalah ulah si Pohon tua. Tuti yang melihat pamannya tergeletak tak berdaya menangis dan tak bisa berbuat apa-apa.

Tia tidak percaya dan ingin melihat sendiri si pohon tua itu. Jangan-jangan pohon itu juga yang memakan kakaknya 3 tahun silam. Kakanya hilang saat mencari kayu di hutan. Tak pernah kembali hingga sekarang. Penat menghampiri Tia, dia menemukan pohon besar yang rindang sepertinya bekas orang melepas letih karena tanahnya nampak bersih. Duduk dibawah pohon sambil terkantuk-kantuk ditambah semilirnya angin di tengah hari terasa sangat nikmat. Tia terdur pulas memasuki alam bawah sadara.

Dari kejauhan terdengar teriakan orang sekampung memanggil-manggil Tia sambil membawa obor, senter dan peralatan lainnya. Tia tidak pulang seharian dan tidak ada yang tau dimana dia. Tuti menceritkan bagaimana Tia mencoba mengajaknya ke Kampung Pejatiasih untuk melihat pohon tua tapi menolak. Orang-orang mulai mencari ke arah kampung Pejatiasih. Pencarian terus berlanjut Tia tak ditemukan. Pohon besar tempat berteduh Tia itu pun hilang tak berbekas. Jeritan sang ibu yang kehilangan dua anaknya terasa menyayat hati, memilukan sukma. Kemana perginya Tia apakah si Pohon juga mengambil lalu memakannya? Kini pohon itu semakin keramat. Tak satu pun lagi penduduk yang berani mendekat. Penduduk kampung Pejatiasih pun tak berani dan takut kalau-kalau apa yang dialamai Orang Kampung Larasati terjadi pada mereka. (Fin/rs020615)

2015/06/img_1487.jpg

Advertisements

Published by

rosegevari

Menulis apa aja yang pengen ditulis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s