Hidup Must Go On “Hitam”

Hidup di jalanan, makan makanan sisa dari tempat sampah. Terkadang dia hanya duduk duduk saja di pinggiran tempat sampah menunggu kalau kalau ada orang yang mau membuang sampah. Begitu terlihat salah satu warga membawa bungkusan sampah sekilas nampak wajah itu berubah drastis berharap akan kebanjiran sisa makanan. Perutnya mulai bernyanyi nyaring tak bisa dikompromi. Makan terakhir tadi malam dengan diam-diam tanpa ada yang melihat. Kandas sudah harapannya untuk bisa makan siang itu. Si warga membawa tumpukan sampah berupa sisa-sisa kertas saja bukan sisa makanan. Tapi tunggu dulu ada lagi yang membawa bungkusan. Barangkali inilah rezekiku pikirnya. Begitu si warga kedua menaruh bungkusan sampah segera dia meluncur ke tempat sampah mengorek dan mengais. Ada aroma ikan dan dan bau daging. Dengan cakarnya yang tajam dia mencoba merobek bungkusan itu. Ya ada sedikit tapi sudah bercampur dengan air sabun. Tak bisa dia menelannya dia mencoba memasukkan ke mulut hanya selang satu detik saja si tulang ikan sudah tergeletak kembali di tanah. Perutnya semakin meronta karena lapar yang tak tertahan.

IMG_1504-0

“Hei anak baru! Sedang apa kau di situ?” Tiba-tiba terdengar suara beerteriak mengagetkan. “Kamu tidak tahu ini daerah saya?” Tambah sang suara lagi. “Kamu siapa?” Bertanya dengan rasa penasaran.
“Maaf Bang saya tidak tahu, saya sedang cari makan. Sudah dari semalaman saya tidak makan.”
“Namamu siapa?”
“Dulu majikan saya memanggil saya ‘manis.”
“Ooo… Punya majikan ya. Kamu saya panggil belang hitam saja. Manis? Manis apaan kamu. Bulumu kotor dan bau. Tidak pantas kamu dipanggil manis. Masih untung dipanggil Hitam.”

Sejak itu dia dipanggil Hitam. Tubuhnya kurus pun lusuh. Sewaktu bersama majikannya semua serba ada, sekali 2 minggu ke salon, makanan enak dan banyak, dielus-elus, disayang, dikasi vitamin, mandi pokoknya tak ada yang kurang. Kini semua itu sirna, berjuang seorang diri mempertahankan hidup. Hal yang tak pernah terbayangkan sebelumnya oleh Hitam. Hitam selama 2 tahun tak ada yang kurang dari hidupnya sampai majikannya meninggal dan tak ada seorangpun yang mau menampung Hitam. Sebagai pendatang baru yang kebetulan Hitam terdampar di kawasan kekuasaan Tarung. Hitam harus tunduk pada Tarung. Tarung sudah lama menghuni wilayah gang itu. Tarung badannya besar, berwarna abu dan tampak wajahnya garang. Pantas saja banyak yang takut padanya tak terkecuali Si Hitam. Terkadang saat di jalanan menemukan makanan tapi entah bagaimana Tarung selalu ada saat makanan ada. Begitu Tarung muncul yang lain dengan badan menunduk akan mundur secara perlahan. Membiarkan Tarung menikmati hasil jerih payah mereka. Tarung menyisakan sedikit makanan sontak yang yang lain berebutan hingga adu ketangguhan. Kadang dengan sedikit keberuntungan Hitam bisa mendapat makanan namun seringnya tidak.

Hitam makin kurus saja badannya. Dengan lemah lunglai mulai mencari-cari makanan ke sana kemari. Teman-temannya yang lain juga ada yang sibuk mencari makan, ada yang duduk bersantai di bawah pohon ada juga yang sedang mengejar lawan jenis untuk melampiaskan birahinya. Itu memang sudah menjadi pemandangan setiap hari. Mau tidak mau Hitam harus membiasakan diri. Kadang ada hasratnya ingin mencari lawan jenis namun selalu kalah oleh yang lebih senior. Kesempatannya sangat kecil bagi Hitam. Tapi Hitam tidak diam saja, Hitam lekas belajar selama hidup di jalanan. Diperlukan nyali dan akal licik agar ada kesempatan. Semakin lama Hitam semakin mahir mendapat makanan, dia juga semakin cerdik mencari kesempatan untuk bersenggama dengan lawan jenis. Wajahnya tidak lagi penuh sesal, ada seutas kegarangan dan keberanian. Teman-temannya pun semkin banyak yang mau bermain bersamanya.

Hitam dan beberapa kawannya menikmati siang hari dengan berteduh di bawah pohon. Iya, itu adalah salah satu kenikmatan Hitam dan rekan-rekannya. Cuaca yang sangat panas sangat tepat bila tidur di bawah pohon besar menikmati angin sepoi-sepoi dan sejuknya limpahan oksigen. Kemahiran Hitam sudah tak diragukan lagi. Pengaruhnya semakin meluas tapi tak akan pernah menggantikan Tarung selama nyawanya masih melekat di raganya. Hitam mengalahkan kejamnya hidup loar dijalanan. Melupakan tahun tahun bahagia bersama majikannya terdahulu melanjutkan hidup di gang sempit yang ternyata tak sesadis kelihatanya.

Nampak Hitam dan beberapa rekannya sedang menjilati bulunya yang lusuh sambil sesekali bercanda dengan taring dan cakarnya. Suara meong mewarnai candaan diantara mereka. (Fin/rs080615)

Si Hitam
Si Hitam
Advertisements

Published by

rosegevari

Menulis apa aja yang pengen ditulis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s