Asmara Sang Janda

Tangan saya sibuk mencuci piring dan mengerjakan pekerjaan lainnya, sambil mendengar sekilas Mbok Yati bercerita kepada Mbok Yani perihal perangai suaminya. “Trus ko bisa kawin sama Mas Giono Mbok Yati?” Tanya saya.
“Dulu kan Bu, kami kerja bareng di restoran, lah ibunya dia meninggal ga punya uang mau pulang kampung. Saya tanya dong selaku teman kerja. Perlunya berapa? 300 ribu. Ya sudah saya kasi pinjam. Jadilah dia pulang kampung.”
Tanpa menoleh ke Mbok Yati saya terus mendengar ceritanya yang berapi-api. “Udah pulang dari kampung gajinya dititp ke saya Bu. Dia tanya pas kira-kira sudah banyak. Sudah berapa tabungan saya? Saya jawab 22 juta.”
“Wah banyak sekali itu. Kaya dong?”
Tanpa menghiraukan respon saya Mbok Yati terus bercerita. “Sesudah itu saya diajak pulang kampung Bu. Katanya gini, ya sudah kita pulang kampung. Tapi kan saya masih bingung. Pulang kampung bagaimana? Lah dianya jawab kita kawin. Belum sampai di situ Bu, saya bilang saya itu janda. Ehh… Dianya malah jawab apa Bu, saya tahu kamu janda, punya anak satu kan? Yang penting kita pulang kampung lalu kawin.” (Fin/rs150615)

Advertisements

Published by

rosegevari

Menulis apa aja yang pengen ditulis

2 thoughts on “Asmara Sang Janda”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s