Aramo dan Barunas (Part 3)

Banyak pasukan kerajaan yang menerobos masuk ke rumah Jamido. Mereka membawa Pangeran Barunas, Jamido dan Mahira. Pangeran Barunas yang terbuka indetitasnya memerintahkan agar Jamido dan Mahira tidak diganggu. Tanpa perlawanan Pangeran Barunas berpamitan kepada Jamido dan Mahira. “Aku akan kembali untukmu.” Bisiknya kepada Mahira. 

Kedatangan Pangeran Barunas sudah tersiar ke seluruh penjuru kerajaan. Rakyat berduyun-duyun datang sekedar melihat Pangeran Barunas. Pangeran Aramo langsung memeluk kakaknya itu dan melampiaskan rasa rindunya yang terpendam. Raja Sahilas menanti di singgasananya kedatangan Pangeran Barunas. Setelah berpakaian layak Pangeran Barunas menghadap raja. “Ampun Baginda karena membuat kerajaan cemas.” Pangeran Barunas berlutut di hadapan Raja Sahilas.

“Apakah kamu menyukai perempuan itu?” Raja bertanya tanpa kepada Pangeran Barunas.

“Benar yang mulia.” Jawab Pangeran Barunas tertunduk.

“Bukankah kamu akan menikah dengan Putri Dahira dari Kerajaan Kanoi?”

Terdiam sejenak, “Hamba mohon ampun Baginda. Hamba tidak tertarik dengannya.”

“Bagaimana mungkin kami seorang Putera Mahkota melakukan hal sebodoh itu. Kalau Kamu menolak menikah dengan Putri Dahira. Itu sama saja dengan Perang.” Raja tampak marah memanggil pengawal istana “pengawal bawa Pangeran Barunas ke kamarnya. Dia tidak diperbolehkan keluar.

Pangeran Aramo sedih melihat kakaknya dihukum raja. Dia pun mengunjungi kakaknya namun tak diperbolehkan oleh pengawal karena perintah raja. Pangeran Aramo diam-diam masuk ke kamar Pangeran Barunas. Terlihat perbincangan yang serius dan raut wajah yang sedih. Pangeran Barunas minta bantuan kepada adiknya agar menolongnya melarikan diri dari istana. Tapi itu sangat mustahil, sebab pengawal istana ada dimana-mana. Kemana pun Pangeran Barunas pergi pasti akan ditemukan.

Jamido dan Mahira diperintahkan raja agar pergi ke tempat yang jauh. Sedikit uang diberikan sebagai modal mereka kelak di tempat baru. Betapa tersayat hati Mahira tak akan lagi bertemu dengan Pangeran Barunas. Tapi siapakah saya bermimpi menjadi menantu Raja Sahilas? Itu tidak akan mungkin. Saya harus melupakan Pangeran Barunas.

Kabar kepergian Jamido dan Mahira sampai juga di telinga Pangeran Barunas. Pangeran Barunas sedih luar biasa. Bahkan air matanya menetes tak henti. Wajahnya pucat, tubuhnya kurus tak terurus. Tak sedikitpun makanan yang bisa ditelan. Tuhuhnya terkulai lemas tak berdaya nyaris kehilangan nyawa. Pangeran Aramo bersikeras merawat sang kakak. Raja tidak bisa berbuat apa-apa selain mengijinkannya. Pangeran Aramo mendatangkan tabib terbaik istana untuk mengobati Pangeran Barunas. Ia pun menyuapi dengan sabar walau terkadang kakaknya menolak. Ketelatenan Pangeran Aramo membuahkan hasil. Pangeran Barunas kembali sehat seperti sedia kala, raja pun tak lagi menghukumnya. 

Pangeran Barunas tidak ingin larut dalam kesedihan meski dalam hatinya ia tetap berharap bertemu Mahira dan menikah dengannya. (To be continued…/rs280615 u/NR15D19)

Advertisements

Published by

rosegevari

Menulis apa aja yang pengen ditulis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s