Aramo dan Barunas (Part 4)

Pernikahan Pangeran Barunas dan Putri Dahira sedang dipersiapkan. Pesta akan dimulai di bulan purnama pertama bulan depan hingga 3 hari lamanya. Pangeran Barunas bertemu beberapa kali dengan Putri Dahira, wajahnya amat cantik. Siapapun pria yang memandangnya pasti tertarik. Namun tidak demikian dengan Pangeran Barunas. Wajah Mahira selalu menari-nari dikepalanya. Semakin dia mengusir semakin sering pula bayangan itu datang. Tapi apa mau dikata pernikahan pun berlangsung, janji Pangeran Barunas kepada Mahira untuk kembali padanya tinggal kenangan saja. Pangeran Aramo pun turut berbahagia atas pernikahan kakaknya hingga ia rela pergi jauh ke pelosok negeri mencari batu mulia untuk dihadiahkan kepada Pangeran Barunas. Naas tak dapat ditolak Pangeran Aramo terserang penyakit langka, sehingga tidak bisa kembali ke istana segera. Pangeran  Barunas segera bertolak menjemput adiknya bersama pengawal kerajaan. Namun menurut tabib yang merawat Pangeran Aramo harus tinggal sesaat hingga tubuhnya kuat. Pernikahan tinggal 5 hari, mestinya mereka sudah harus bergegas kembali ke istana. Pangeran Barunas tak bisa meninggalkan Pangeran Aramo sendiri maka diputuskannya akan merawat Pangeran Aramo hingga bisa dibawa pulang ke istana.

“Kita harus bergegas ke istana Pangeran Aramo.”

“Tapi saya harus berpamitan kepada seorang perempuan jelita rupawan, yang sepertinya saya jatuh hati padanya. Dialah yang menolong saya, membawa saya ke tabib. Kalau bukan karena dia mungkin saya sudah mati” Sambil Pangeran Aramo membenahi bawaanya “dan sepertinya hatiku tertawan olehnya Ka.” Dengan simpul senyum di wajahnya.

“Maafkan kakakmu ini Pangeran Aramo. Tapi Saya harus segera ke istana. Kamu menyusul saja dengan beberapa pengawal. Jangan lupa undang wanita itu ke hari pernikahanku.”

“Baiklah Ka. Sampai jumpa.”

Kesibukan terlihat dimana-dimana menghiasi istana, pernikahan Pangeran Barunas akan dimulai. Hiasan istana yang indah, makanan yang lezat, pakaian yang menawan semua tumpah di istana. Nampak Pangeran Barunas terlihat sangat tampan dengan jubah berwarna emas, penutup kepala yang kemilau sungguh paduan yang sempurna untuk wajahnya yang rupawan. Namun wajah itu tidak bisa menyembunyikan kesedihan hatinya oleh yang senantiasa memikirkan Mahira. Diaman Dia? Apakah dia baik-baik saja? Apa dia sudah bertemu pria baik-baik dan menikah? Atau malah bertemu pria brengsek sehingga ia disiksa?

“Pangeran Barunas ijinkan saya masuk. Saya hendak melihat calon pengantin kerajaan.” Teriak Pangeran Aramo dari balik pintu mengagetkan Pangeran Barunas yang sedang termenung.

“Masuklah.”

“Wah, Pangeran Barunas sangat cocok dengan pakaian ini, terlihat gagah dan sangat tampan.”

“Terima kasih Pangeran Aramo. Apakah kau mengundang pujaan hatimu itu?”

“Tentu saja, awalnya dia menolak tapi aku paksa saja. Aku akan mengenalkan padamu secara khusus. Makanya aku kemari. Tunggulah sebentar disini.” Pangeran Aramo bergegas keluar memanggil kekasihnya tanpa sempat Pangeran Barunas menjawabnya.Persiapan menyambut pengantin wanita tiba, Pangeran Barunas bersiap-siap di pintu halaman bersama Raja, Permaisuri dan rombongan Kerajaan Gunirud. Pikiran Pangeran Barunas yang dipenuhi oleh Mahira membuat wajahnya jauh dari bahagia, tapi siku pendampingnya memaksanya untuk tersenyum. Putri Dahira yang jelita, mengenakan pakaian sutera yang indah, perhiasan yang mahal dan tersirat keanggunan serta keangkuhan seorang putri.

Mata itu masih seperti dulu, rambutnya masih indah, wajahnya masih masin dan menawan. Tiba-tiba Pangeran Barunas menangkap sosok yang tak asing baginya. Saat mata mereka bertemu membawa kembali ke waktu lampau di saat keduanya memiliki rasa yang sama , rasa yang menggebu-gebu antara pria dan wanita. Wanita yang dulu dia jatuh hati padanya dan harus meninggalkannya, bahkan tak punya nyali membawa ke istana malah memilih menyamar menjadi rakyat jelata. Ada rasa penyesalan dalam hati Pangeran Barunas. Airmata Pangeran Barunas hampir jatuh ingin dia memeluk Mahira, ingin dia berlari dan membawanya pergi jauh dari dunia kerajaan. Pria gagah yang berdiri di sebelah Mahira menyadarkannya, wajah bahagia yang dulu pernah ia rasakan. Sungguh ia tak ingin mengecewakan adiknya Pangeran Aramo. Biarlah ini berlalu, barangkali Mahira juga sudah melupakanku dan Mahira setidaknya bersama dengan orang yang tepat. Pangeran Barunas melangkah lunglai ditengah dentuman meriahnya musik menghampiri rombongan pengantin wanita melewati Mahira, menolehnya seolah-olah berkata, Pangeran Aramo adalah yang terbaik untukmu. (Fin/rs30615)

image

 

Advertisements

Published by

rosegevari

Menulis apa aja yang pengen ditulis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s