Anak Tani (Farmer Boy), Seri Laura

Buku ini mengisahkan masa kecil Almanzo James Wilder yang kelak menjadi suami Laura Ingalls. Bagian dari buku seri Laura Rumah Kecil, diera 1860-an di Amerika. Almanzo termasuk dari keluarga mampu, ayahnya seorang petani ulung memiliki banyak sekali hasil pertanian dan ternak. Pekerja keras adalah ciri utama petani di masa itu. Bertarung dengan musim yang terus berganti, kadang akan mematikan yang ada di ladang dan itu bisa sangat menakutkan bagi petani yang bergantung pada musim.

Almanzo anak keempat dari empat bersaudara, usianya 9 tahun. Kakaknya yang pertama laki-laki bernama Royal usia 13 tahun, yang kedua Elisa Jane usianya 12 tahun dan yang ketiga Alice usianya 10 tahun.

Hari pertama Almanzo ke sekolah saat usianya belum genap 9 tahun berangkat bersama ketiga kakaknya. Almanzo harus melangkah lebih cepat untuk mengimbangi langkah kakak-kakaknya sambil membawa kotak makan sedikit tidak nyaman bagi Manzo sebab ia yang terkecil diharuskan membawa kotak makan, ia merasa bahwa yang paling besarlah yang harusnya membawa kotak makan, tapi kakak-kakaknya berpikiran sebaliknya jadilah Almanzo membawa kotak makan.
Manzo serta anak baru seusianya yang baru pertama kali ke sekolah duduk paling depan dengan tempat duduk yang tidak sesuai untuk ukuran badan bagi mereka sebab didesain untuk anak yang lebih besar. Almanzo bertemu dengan anak-anak bertubuh besar lainnya yang sudah lebih dulu bersekolah dan Almanzo merasa ketakutan mereka berumur 16 tahun. Itu adalah Big Bill Ritchie dan teman-temannya. Sudah sering mereka melukai guru yang sebelumnya hingga bertahan hanya beberapa minggu atau bulan saja. Alamanzo kwatir mereka akan melukai Pak Corse ternyata tidak. Pak Corse mencambuk mereka dengan cambuk ular hitam yang biasa digunakan ayah ke sapi atau kuda. Dan betul, Big Bill dan teman-temannya tidak berkutik.

Ulang tahun Almanzo ke-9 ia boleh tidak ke sekolah. Ayah dan Ibu sudah menyediakan hadiah istimewa untuknya. Manzo berlari ke kandang dan ayah menginjinkannya menjinakkan Star dan bright. Bahkan ayah sudah menyediakan kuk kecil. Manzo dengan seksama mempehatikan ayahnya bagaimana melatih anak-anak sapi dan ia pun mulai melatih sapi-sapi kecil itu seperti yang dilakukan ayahnya. Itu artinya Manzo sudah bertambah besar sudah dipercaya mengendalikan sapi tapi belum untuk kuda. Bukan hanya itu ayah juga memberikannya kereta luncur salju, dan Manzo diijinkan bermain seluncur di bukit. Makanan yang enak dan banyak juga disediakan ibu di hari hulang tahun Almanzo yang ke-9.

Tradisi rumah es, dimana saat musim dingin sungai akan membeku dan keluarga Wilder memotong es mengangkutnya ke rumah es untuk disimpan. Dan hebatnya es ini bisa mereka nikmati nanti di musim panas atau musim semi selanjutnya. Sungguh menakjubkan. Teknologi yang begitu sederhana di era 1860-an.

Mereka mandi hanya sekali seminggu pada Sabtu malam, dengan mencairkan salju yang bersih dan menghangatkannya dekat tungku, jadi di hari Minggu mereka akan bersih saat akan berangkat ke gereja. Di gereja mereka harus duduk diam selama 2 jam, tidak boleh terrwa hanya berbicara dengan berbisik atau bersuara pelan.

Keluarga Wilder juga membuat gula saat cuaca mulai panas, es mulai mencair jatuh dari ponon, getah  mulai naik  dipohon-pohon. Almanzo dan ayah akan ke hutan pohon mapel membawa kuk kayu besar, getah pohon mapel dikumpulkan di bejana besar yang dipanaskan dengan kayu. Ini nanti akan menjadi sirop mapel dan gula mapel.

Ayah Wilder memiliki kuda terbaik yang sangat cantik. Dari penjual panci Ayah tahu kalau kuda seperti miliknya bisa dihargai 200 dolar. Seseorang dari kota datang menemui ayah untuk menawar harga kuda, terjadi tawar-menawar dan ayah tetap tidak mau bergerak dari harga 200 dolar. Mereka sepakat uang 200 dolar pun diberikan kepada ayah. Masalahnya adalah itu uang yang sangat banyak dan ibu kwatir menyimpan di rumah, bagaimana kalau ada orang yang mnegincarnya. Ibu tak bisa tidur semalaman. Tapi di luar anjing gelandangan yang Elisa Jane beri makan berjaga-jaga terlihat mengeram dan mengangkat telinganya tingi-tinggi. Benarlah di pagi hari terlihat jejak kaki orang di sekitar rumah. Ayah juga mendapat kabar keluarga lain diperlakukan demikan mereka berpura-pura membeli kuda menyerahkan uang di sore hari sebab bank sudah tutup dan merampoknya di malam hari.

Musim dingin belum tiba namun hawa dingin sedang menyerang. Jagung yang mereka tanam tumbuh lambat. Di tengah malam Almanzo mendengar ibu memnanggil Royal dan dirinya. Secepat yang mereka bisa menyiram jagung yang baru tumbuh sebanyak mungkin yang tertutup salju. Begitu matahari muncul menyinari si jagung maka tak ada lagi harapan untuk hidup. Mereka tidak bisa menyelesaikanhya namun sudah banyak yang terselamatkan.

Perayaan hari kemerdekaan di kota Malone seluruh keluarga berangkat. Kota sangat semarak, banyak, pedagang dan berbagai perayaan. Sepupu Almanzo -Frank- yang tingal di kota juga di sana dan sedang membeli limun seharga 5 sen. Frank dan beberapa anak-anak lainnya menantang Almanzo meminta uang gkepada ayahnya untuk membeli limun. Almanzo tentu saja mencoba namun dengan bijak ayahnya menjelaskan kepada Almanzo. Ayah mengeluarkan uang perak senilai setengah dolar. Setiap sen yang mereka miliki adalah kerja keras seperti proses menanam kentang hingga panen butuh waktu yang lama dan tenaga yang tak sedikit. Jika dijual dengan harga baik setengah keranjang berharga setengah dolar. Almanzo mendengar dengan baik dan memahami betapa berharganya setiap sen uang yang mereka miliki. Lalau ayah memberi Almanzo uang setengah dolar dan menyarankan membeli anak babi yang kelak bisa beranak dan ia kan memiliki lebih banyak babi. Juka dijual Alamnzo akan memiliki uang lebih banyak. Alamanzo menuruti ayahnya ia juga sempat memamerkan uang setengah dolarnya kepada Frank dan teman-temannya, mereka seperti tak percaya dengan apa yang mereka lihat.

Alamanzo sangat ingin cepat besar agar ia diijinkan ayah menjinakkan kuda. Bahkan Almanzo makan banyak-banyak agar badanya lebih cepat besar. Almanzo sudah tidak sabar ingin memiliki kuda sendiri. Almanzo kurang suka pergi bersekolah ia ingin bekerja di rumah membantu ayah di ladang, mengurus kuda, menjinakkan sapi dan sebagainya. Semua pekerjaan petani amat sangat disukainya. Beberapa kali Almanzo membuat alasan akan mengerjakan ini itu agar ibu tak menyuruhnya ke sekolah. Saat terkabul, Almanzo sangat senang. Ia akan mengerjakan banyak pekerjaan.

Ayah dan Ibu menginap seminggu di rumah Paman Andrew sejauh 17 kilometer dari rumah. Ibu menyerahkan semua kendali rumah kepada Elisa Jane. Mereka selama seminggu bersenang-senang, makan es krim, membuatu kue, membuat gula-gula gagal yang nyangkut di gigi Lusi babinya Almanzo. Mereka hampir menghabiskan gula. Elisa Jane marah namun tak satupun dari mereka yang medengarkannya. Tak terasa ayah dan ibu akan pulang, mereka buru-buru menyelesaikan semua pekerjaaan. Almanzo yang yang ogah-ogahan saat menyemir tungku beradu mulut dengan Elisa Jane tanpa sengaja semir terlempar ke dinding ruang tamu daan meninggalkan bekas noda hitam. Almanzo takut  lalu pergi keluar rumah menghampiri Royal seolah-olah tak ada yang terjadi. Ibu yang sangat berhari-hati menjaga keindahan ruang tamunya pasti akan sangat marah. Saat tamu datang ibu mempersilahkan masuk. Almanzo ketakutan saat dia melihat ke tembok ternyata noda itu sudah hilang. Almanzo tak sabar ingin bertanya kepada Elisa Jane begitu tamu pulang, Elisa Jane menempel kertas diniding sisa yang dia temukan di loteng. Alamnzo sangat berterima kasih kepada Elisa Jane. Sejak itu mereka tidak pernah membicarakannya lagi.

Saat panen tiba adalah saat tersibuk. Tak ada waktu untuk berleha-leha. Dari pagi hingga menjelang malam mereka tak berhenti bekerja. Insiden saat panen kentang, Almanzo merasa sangat kelaparan tapi panggilan makan siang tak kunjung terdengar. Ayah menginjinkan Almanzo dan Alice membakar kentang sambil menghangatkan badan. Letupan kentang terdengar hingga mengenai mata Alamnzo. Alice menyebut itu kentangnya, Almanzo menyebut itu kentangnya, akhirnya mereka berbagai kentang yang tersisa satu. Akhir panen adalah pekan raya. Keluarga wilder juga ke sana menikmati perayaan yang meriah. Labu milik Almanzo ikut diperlombakan, Almanzo terlihat was-was saat juri melakukan penilaian. Ternyata labu milik Almanzo adalah juara satu. Menurut juri rasanya sangat enak dan tidak ada tandingnanya. Almanzo menyebut kalau ia memberi susu ke labunya. Mungkin itu, melanggar peraturan, ternyata tidak dan ayah tahu akan hal itu sehingga tidak melarang Almanzo.

Saat musim dingin tiba waktunya untuk menggebuk gandum. Ayah tak ingin menggunakan mesin menurutnya itu untuk orang malas lagipula apa mereka harus berpangku tangan di musim digin. Bagi Almanzo sudah cukup berdiam diri dan berpangku tangan di hari minggu. Dan memang Almanzo sangat suka bekerja seperti ayahnya. Almanzo mengerjakan lebih banyak pekerjaan sebab Elisa Jane, Royal, dan Alice pergi akademi. Almanzo bekerja tanpa henti. Saat mengangkut kayu, ayah mengijinkannya membawa Star dan bright sendiri, dia dibantu Pierre dan Louis itu artinya Almanzo sudah besar dan sudah dipercaya membantu mengangkut kayu. Ternyata tidak mudah, beberapa kali terjatuh, jalanan bersalju, sapi dan gerobaknya terperosok namun ia tetap bangkit untuk membuktikan pada ayah kalau dia bisa sekalipun kakinya sakit Almanzo menahannya ayah menyuruh dia berhenti ia tidak mau.

Saat Ayah mengajaknya ke kota untuk menjual rumput di jalan mereka menemukan dompet berisis uang yang sangat banyak yang ternyata adalah milik Pak Thompson yang tidak percaya dengan bank sehingga ia membawa uangnya kemana-mana. Almanzo mengembalikannya atas perintah ayahnya namun Pak Thompson malah menuduh Almanzo mencurinya. Tidak diterima diperlakukan begitu Pak Paddock memaksa Pak Thompson memberikan 200 dolar untuk Almanzo, dengan berat hati Pak Thompson memberikannya. Ayah mengajak Almanzo ke bank agar ALmanzo menyimpannya di bank. Itu lebih aman dan ia bisa mengambilnya kapan saja ia mau. Pak Paddock menawarkan pada Ayah agar Almanzo kerja magang di tempatnya membuat roda gerobak karena itu adalah bisnis yang sedang maju dan penghasilannya pun lumyana. Ayah terlihat goyah namun ia akan membicarakan dengan ibu dan Almanzo. Ibu terlihat marah sekali dan sangat tidak senang akan ide ayah. Ia sudah cukup kehilangan Royal yang ingin menjadi pemilik toko. Ayah bertanya kepada Almanzo tentang tawaran Pak Paddock. Dengan bijak ayah menjelaskan baik buruknya menjadi seorang pembuat roda gerobak dan menjadi seorang petani. Ayah menyarankan dan memberi waktu kepada Almanzo agar memikirkannya dengan baik. Bagaimana pun ini adalah keputusan Almanzo. Almanzo bertanya kepada ayahya apakah ia boleh membeli seokor kuda dengan uang 200 dolarnya? Sebab ia ingin sekali melatih anak kuda. Itu adalah keinginannya terbesarnya selama ini. Kejutan pun didapat Almanzo, ia tidak perlu mengeluarkan uangnya ayah memberikan anak kuda Starlight kepada Almanzo. Ia dapat melatihnya dan merawatnya, bahkan nanti setelah anak kuda itu berusia empat tahun Almanzo boleh menjualnya dan menyimpan uangnya. Almanzo sangat senang, sebab memiliki kuda sendiri adalah impiannya. (fin/rs030815)

 

Cover Buku “Anak Tani” Seri Laura Rumah Kecil
Kentang yang dibakar Almanzo lemetup mengenai matanya
Kentang yang dibakar Almanzo lemetup mengenai matanya
Almanzo diajari ayahnya menghaluskan batang kayu, melihat ibu menenun
Almanzo diajari ayahnya menghaluskan batang kayu, melihat ibu menenun 

Catt:
Buku ini begitu menarik, seperti halnya buku seri Laura lainnya banyak yang diceritakan secara detail berbagai hal seperti membuat kereta luncur, menenun, membuat kue dan sebagainya. Penekanan Ayah sebagai kepala keluarga mengutamakan karakter yang baik bagi seluruh keluarga. Sangat menakjubkan betapa Almanzo begitu mengagumi ayah dan ibunya yang notabene dari keluarga petani. Kejujuran sangat dijunjung tinggi, keterbukaan dan ikatan yang kuat dalam keluarga. Tak ada yang berpangku tangan semua bekerja keras ditengah kerja keras mereka selalu tersedia makanan yang nikmat dan lezat. Semua mereka terima setimpal dengan apa yang dikerjakan.

Panjang ya ulasannya. Saking sukanya saya dengan buku ini. Jangan sampai tidak membaca bukunya ya.. 🙂

Advertisements

Published by

rosegevari

Menulis apa aja yang pengen ditulis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s