MUSIM DINGIN YANG PANJANG (THE LONG WINTER)

Judul buku: Musim Dingin yang Panjang

Penulis: Laura Ingallsa Wilder

Judul asli : The Long Winter

Penerbit BPK Gunung Mulia,

426 halaman, 18 cm

Di buku inilah Laura pertama kali bertemu dengan Almanzo Wilder yang kelak menjadi suaminya. Cerita yang begitu meluluhkan hati  musim dingin seolah tak akan berakhir, sementara persediaan makanan habis, kereta api tak datang karena jalur tertutup salju. Pembaca akan dibawa ke situasi musim dingin yang mengerikan hingga merasa beruntung di Indonesia tidak ada musim dingin.

Keluarga Ingalls sudah menempati tanah milik mereka sendiri, saat ini Pa terus bekerja tanpa henti membuat jerami. Cuaca sedang bagus sehingga tak ada waktu. Laura diperbolehkan membantu untuk persediaan maknana ternak di musim dingin yang akan segera datang. Saat melihat tikus kesturi, yang sarangnya tebal dan tinggi, Pa sudah menaruh curiga akan mendapat musim dingin yang buruk. Sebab binatang lebih tahu menghadapi perubahan musim. Beberpa kali Pa menceritakan kegelisahannya kepada Ma akan musim dingin yang mungkin buruk. Ma menanggapi kalau otu hanya perasaan Pa saja sebab saat itu sungguh panas dan terik yang membakar.

Mata bajak Pa patah, Laura disuruhnya membeli ke kota karena kalau Pa yang pergi itu akan memperlambat pekerjaan. Akhirnya Laura dan Carrie yang pergi. Perjalanan pulang Carrie mengusilkan agar mereka langsung mengantar ke ladang tidak perlu ke rumah agar le ih cepat. Mereka beranggapan kalau sedang menuju arah yang benar di mana Pa berada. Lama sekali mereka kehilangan arah. Untung Wilder bersaudara yang juga sedang membuat jerami melihat mereka dan menunjukkan arah dimana Pa berada. Itulah kali pertama Laura bertemu dengan Almanzo. Laura menatap lelaki itu lekat-lekat seolah-olah mereka telah lama saling mengenal.

Kecurigaan Pa semakin kuat sebab itik dan angsa tidak ada yang bisa diburu semua terbang seprti sedang terburu-buru ke arah utara. Ditambah lagi orang indian yang datang ke kota mengingatkan warga kulit putih akan musim yang akan datang sangat panjang dan mengerikan. Ia mengangkat tujuh jarinya, bisa berarti musim dingin akan berlangsung selama 7 bulan. Beberapa percaya beberapa tidak namun semua warga bersiap menghadapi musim dingin.

Keluarga Ingalls memutuskan akan tinggal di kota selama musim dingin Sehingga lebih mudah memperoleh apa yang mereka butuhkan. Lagipula rumah di pertanian mereka tidak akan cukup kuat menahan badai musim dingin. Laura dan Carrie tidak terlalu suka tinggal di kota sebab banyak orang asing dan terlalu berisik. Mereka pun diharuskan Ma pergi ke sekolah. Awalnya sulit namun mereka jadi suka karena ada teman baru. Musim dingin dimulai sekitar bulan Oktober mereka bersekolah saat awan gelap menyelimuti langit Nona Garland guru merka terlihat cemas namun belum memutuskan apakah akan membubarkan sekolah. Sampai Pak Fuller datang menjemput mereka. Badai sudah mengamuk di luar. Tidak bisa melihat yang ada di hadapan. Mereka saling berpegangan tangan agar tidak terpisah dan bisa pulang satu per satu dengan selamat. Cap Garland memisahkan diri dan mengambil jalur lain. Laura merasa Cap mengambil jalur yang benar namun ia tak berani mengikuti sebab pesan huru dan Pak Fuller selalu bersama. Syukurlah mereka tiba di rumah dengan selamat. Dan musim dingin yang panjang pun dimulai.

Kereta api tak bisa datang dan memutuskan akan datang dimusim berikutnya. Persediaan batu bara habis, Pa keluar mengumpulkan jerami lebih banyak lalu memilinnya sebagai pengganti batu barra untuk menghangatkan seisi rumah. Walaupun tidak sehangat batu bara namun sangat menolong. Saat persediaan makanan habis Pa berkunjung ke toko makanan ternak milik Wilder. Mereka sedang menikmati panekuk yang hangat, dengan irisan daging babi goreng. Sungguh hidangan yang amat mewah bila dibandingkan dengan keadaan di rumah Pa. Tanpa pikir panjang pa langsung mengisi embernya dengan benih gandum milik Almanzo yang sebenarnya dia simpan dengan rapi agar tidak ketahuan oleh siapapun karena persediaan di toko susah habis. Tapi Pa tak bisa diakali ia jeli sekali melihatnya. Almanzo tidak mau sebab itu adalah bibit terakhir miliknya untuk ditanam musim depan. Tapi Pa memohon sebab mereka sudah tak lagi memiliki apapun untk dimakan. Akhirnya Almanzo memberikan.

Almanzo berpikir untuk mencari gandum yang dikabarkan ada dimiliki seseorang dalam jumlah besar. Royal tidak mengijinkan kalaupun dia pergi ia juga harus ikut tapi sudah disepakati salah seorang dari mereka harus tinggal sekiranya terjadi apa-apa dalam perjalanan. Berangkatlah Almanzo dan Cap dengan arah yang sulit diperkirakan sebab salju menutupi seluruh permukaan. Si pohon tunggallah satu-satunya petunjuk arah bagi mereka. Setelah lama berputar-putar akhirnya mereka menemukan rumah. Namanya Anderson ia memiliki banyak gandum namun tak ingin menjual karena akan dijadikan benih tahun depan. Almanzo dan Cap terus berunding agar ia mau menjualnya. Harga terakhir yang ditawarkan Almanzo 1 dolar 25 sen per bushel (satuan ukuran terutama hasil pertanian). Mereka berhasil memperoleh enam puluh bushel. Perjalanan pulang terasa lebih berat bagi mereka, kuda lebih sering terperosok dan mereka terjebak badai bahkan hingga 3 hari. Namun pejuangan mereka demi menyambung hidup seisi kota tidak goyah. Setiba di kota di toko Pak Loftus mereka melapor. Mereka pun tak perlu dibayar untuk mengangkut semua gandum. Pak Loftus ternyata menjual dengan sangat mahal 3 dolar setiap bushel. Orang-orang marah dan hampir menghabisi Pak Loftus. Melalui perundingan yang sengit akhirnya Pak Loftus menjual dengan harga pokok saja. Persediaan sangat banyak bagi setiap rumah sehingga masih sangat cukup bahkan hingga musim semi mendatang.

Malam itu  Laura merasa ada yang berbeda hawa dingin tidak menusuk dan aliran air terdengar olehnya. Ya musim semi telah tiba itu adalah Angin Chinook (angin hangat, dan kelmbapan rendah, bertiup sebentar saja suhu langsung naik hingga  20 derajat). Mereka telah melewati musim dingin dan masih baik-baik saja. Semua bergembira.

Suara peluit terdengar, namun itu bukan kereta yang mereka nantikan. Di hari semua orag berharap kereta datang ternyata yang datang adalah kereta lain yang , membawa barang dan persediaan pendudk yang pindah. Orang-orang kecewa hingga membuka paksa gerbong yang berisi bahan makanan sebab di kota sudah tak ada lagi bahan makanan.

Ada yang berbeda, Pa pulang bersama Pak Boas dan meggotong tong besar hadiah dari Pendeta Alden. Rupanya kereta api sudah datang dan membawa sejumlah besar persediaan makanan untuk seisi kota. Kini mereka bisa menjalani hari yang menyenangkan dan telah memenangkan pertarungan dengan musim dingin yang panjang. Bahkan seperti merayakan natal di bulan Mei. (Fin/rs30092015)

Musim Dingin yang Panjang
Membersihkan jalur kereta dari tumpukan salju namun tetap tak berhasil larrna badai akan kemabli menutup jalur yang telah dibersihkan
Royal membantu menggosok kaki Almanzo sepulang dari membeli gandum
Royal membantu menggosok kaki Almanzo sepulang dari membeli gandum

NB: karakter pekerja keras bagi petani Amerika di masa itu dan saling membantu. Tidak ada yang berpangku tangan. Namun ada saja orang yang berupaya mengambil keuntungan seperti Pak Loftus. Cerita yang mengharukan dengan musim dingin yang mengerikan.

Mestinya Kuiyakan Saja

Latisha sedang bersiap-siap akan berangkat kerja, sebelum berangkat tak lupa ia berpamitan pada adiknya. “Bro, kakak mau pergi kerja ya. Meraih tas dan jaket melewati adiknya sambil mencolek pipinya “dan jangan lupa dating kita di hari Minggu.” tukasnya sambil berlalu. Marvel hanya mengangkat kedua alisnya antara setuju dan tidak seraya menyeruput teh hangat.

Marvel menatap seisi rumah terasa hampa. Kenangan bersama ayah dan ibunya menari-nari di hadapannya. “Ibu, kaos kakiku dimana?” teriaknya pada wanita yang melahirkannya. Hampir setiap pagi ada-ada saja yang tak bisa dia persiapkan sendiri sehingga wanita paruh baya itu pun harus turun tangan menyiapkan segala keperluannya jika akan berangkat ke sekolah.

“Aduh Marvel, kapan sih kamu bisa sendiri. Periksa di lemarimu dimana baju, kaos kaki, dasi. Kalau ibu mati bagaimana? Siapa yang akan mencarikan untukmu?” Percakapan yang tak terlupakan oleh Marvel. Dan kini memang sang bunda benar-benar telah tiada, kecelakaan maut merenggut kedua orangtuanya.

Latisha dan Marvel duduk di emperan toko bersama pelanggan lainnya sambil menikmati hidangan nasi kuncing ala angkringan Jogja. Suasana remang-remang suara pembeli dan penjual sahut-menyahut pun turut meramaikan. Tradisi dari kedua mendiang orangtuanya yang selalu mengajak keluarga makan di pinggir jalan bahkan di hari istimewa sekali pun. Marvel enggan turut tapi mau bagaimana lagi. Terlalu pahit baginya mengenang semua keindahan di masa lalu.

Pernah suatu kali di ulang tahun pernikahan kedua orangtuanya, ayah mengajak semua anggota keluarga makan di luar. Bukan itu saja Latisha dan Marvel diperbolehkan mengajak dua orang teman. Latisha kala itu berusia 18 tahun dan Marvel 11 tahun. Ayah memarkir mobil di depan restoran mewah, sejenak kedua bersaudara itu saling memandang dan menebar senyum. Semua turun dan berjalan masuk ke arah restoran. “Eh.. Kalian mau ke mana?” seru ayah memandang heran, “kita di sebelah sini.” sambil menunjuk akringan persis di sebelah restoran. Itu salah satu kejadian yang menggelikan bagi Latisha dan Marvel apalagi disaat mereka mengajak serta teman. Tapi entah kenapa dari kejadian itu teman-temannya tidak marah saat menceritakan ke orangtua masing-masing malah dibilang seru dan tak lama juga diikuti.

“Minggu depan kakak ada pertunjukan di Makasar. Ikut yuk!” ajak Latisha kepada adiknya sambil menggigit tempe goreng dan cabe rawit.

“Memangnya itu tanggal merah ya Kak?” balasnya menatap wajah Latisha.

“Tidak sih, tapi kali ini kakak inign kamu ikut serta ya.” mengangkat gelas berisi es jeruk karena kepedasan.

“Lain kali aja ya Kak. Banyak urusan nieh.” Marvel menimpali.

“Vel, belum tentu ada lain kali. Siapa tahu ini yang terakhir. Tapi ya sudah, baik-baik ya nanti kalau Kakak tinggal.”

“Tentulah kakakku sayang.” sahut sang adik dengan senyum ringan.

Kesibukan yang tak biasa bagi Marvel, terlihat dsedang membungkus bingkisan mungil. Diberinya kartu ucapan yang sederhana, berbalut pita merah jambu yang manis. Marvel tersenyum memandang kado kecilnya. Ada rasa puasa dan bangga yang tergambarkan.

Hari telah lewat tengah malam, saat Marvel terbangun mendengar dering telepon genggamnya. Tidak ada percakapan panjang, namun di raut wajah pemuda berusia 23 tahun itu jelas tersirat itu adalah kabar buruk sepanjang hidupnya. Seraya meremukkan hatinya kerkeping-keping dan berceceran di tengah api. Hangus tak bersisa.

Ia bangun seperti halnya orang kehilangan akal duduk termenung membawa angannya melewati ruang dan waktu. Tak satupun yang dia terima saat telepon genggamnya berulang kali mengeluarkan nada panggilan. Si anak bungsu itu mengambil bingkisannya membuka dan membaca lagi kartu ucapan yang diselipkan.

Kak, terima kasih untuk segalanya. Aku bahagia kalau kakak juga bahagia. Selamat ulang tahun. Salam sayang, Marvel.

Tak lagi terbendung air matanya, tersedu-sedu suara tangisnya. Ia mengelus jepit rambut berwarna perak, bertahtahkan batu hitam yang dipilihnya sendiri sebagai kejutan khusus. Siapa sangka, sekali lagi kecelakaan mobil kembali merenggut orang yang paling dikasihinya. Mestinya kuiyakan saja ajakannya gumamnya dalam hati. (Fin/rs:29092015)

Sumber: nemacraft

Sungkyunkwan Scandal 1 dan 2

Kisah persahabatan empat pelajar Sungkyunkwan. Kim Yoon-hee (Daemul) di jaman Dinasti Joseon abad  ke-18 yang menyamar menjadi pria dengan memakai identitas adiknya, Kim Yoon-sik agar bisa bekerja sebagai satrawan/pujangga. Sebab kala itu hanya terbuka unutk pria saja. Ia tinggal bersama Ibunya dan adiknya. Sedangkan ayahnya telah lama tiada. Lee Seon-joon dijuliki Garang putera dari Menteri Negara eengan partai Noron. Namun ia baik hati dan tidak sombong sama seklai. Dan pastinya Lee Seon-joon pintar dalam pekajaran. Moon Jae-shin yang juluki Geol-oh juga seorang anak pejabat. Ayahnya Menteri Kehakiman. Geol-oh sering membuat onar dan menyamar menjadi Hong Byukseo yang menyebarkan tulisan maupun puisi pemberontakan terhadap pemerintah. Sehingga ia dianggap buronan. Goo Yong-ha atau Yeorim anak pejabat kaya raya namun sangat playboy dan yang utama baginya adalah penampilan parlente. Ia sangat mengagumi karya Hong Byukseo karena menurutnya itu memiliki arti yang dalam.

Yoon-hee awalnya bekerja sebagai penulis (mungkin semacam replika) agar bisa dibeli orang lain. Iseng-iseng ia mengikuti ujian negara untuk masuk ke Sungkyunkwan (Akademi Kerajaan) yang mana kelak lulusannya akan menjadi pejabat negara. Benarlah Yoon-hee lulus dan diterima. Sehingga penyaamarannya harus diperpanjang lagi selama menjadi “Tuan Pelajar Sungkwunkan”. Yoon-hee berupaya keras menutupi identitas aslinya, namun beberapa teman dekatnya mencurigai dia sebagai wanita karena postur tubuhnya yang lebih mirip wanita, kakinya kecil, ramping, tidak ada bekas tumbuh kumis dan jenggot, dan kulitnya pun halus serta gerakannya gemulai dan wajahnya cantik. Lee Seon-joon awalnya kasihan padanya karena dia kira  si Yoon-sik yang ternyata adalah Yoon-hee sakit-sakitan sebab tubuhnya lemah. Lee Seon-joon yang mendapat julukan ingin melindunginya.

Moon Jae-shin orang pertama yang mengetahui kalau Yoon-hee ternyata wanita. Berawal dari perayaan kemenangan pertandingan yang diadakan di Sungkyunkwan, Yoon-hee mabuk dan tidak sadarkan diri. Geol-oh membantu Yoon-hee ke kamar. Ia pun mulai mengganti pakaian Yoon-hee yang penuh lumpur. Satu per satu ditanggalkan dan Geol-oh merasa curiga sebab kulitnya begitu halus dan putih. Hingga tiba dipenutup dada yang diikat erat-erat. Geol-oh seperti tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Saat itu juga ia kabur dari kamar. Dan Geol-oh tidak membuka rahasia Yooh-hee kepada siapa pun.

Seon-joon sangat menyukai Yoon-hee. Namun perasaan itu ditutupi dengan rapi. Begitu juga Yoon-hee menyukai Seon-joon. Yoon-hee pernah berniat membuka indentitasnya kepada Seon-joon agar pria itu menyukainya. Beberapa pandangan orang yang terarah kepada mereka juga beranggapan kalau mereka tidak seperti kakak-adik. Bahkan mereka pernah dibawa ke sidang mahasiswa karena dituduh sebagai homo dan sederet kejadian janggal yang menimpa Yoon-hee, Seon-joon dan Geol-oh. Beruntung mereka bisa melaluinya itu juga berkat kecerdikan Yong-ha.

Seorang gisaeng yang pernah menolong Yoon-hee pun jatuh cinta padanya karena parasnya yang cantik. Itu menimbulkan api cemburu bagi Seon-joon. Sedangkan Seon-joon diketahui beberapa kali bertemu dan berkirim surat kepada Putri Menteri Perang yang bernama Hyo-eun dan mereka hampir menjalin hubungan serius membuat Yoon-hee tak tahan.

Seon-joon menganggap dirinya gila sebab ia sangat menyukai Yoon-hee yang jelas-jelas adalah pria. Ia mencium Yoon-he di acara piknik kampus ke air terjun, karena sudah tidak tahan lagi dengan Yoon-hee. Saat itulah Yoon-hee menyatakan siapa dirinya sebenarnya. Awalnya Seon-joon tidak percaya hingga dilihatnya tubuh Yoon-hee seutuhnya. Mereka masih harus menyimpan rapat-rapat rahasia ini dan menjalani aktivitas seperti biasa.

Menjelang kelulusan Seon-joon mengirim surat kepada Hyo-eun Mengatakan banwa mereka tidak bisa bertemu lagi. Sang Putri Menteri Perang tidak terima ia malah meminta ayahnya melamar Seon-joon. Pengawal pribadi Seon-joon melaporkannya dan membuat Seon-joon panik. Mengambil langkah seribu menghadap ayah agar tak menerima lamaran itu. Di jaman itu jika tidak diterima itu dianggap sebagai penghinaan. Apalagi jabatan Menteri Negara -ayahnya Seon-joon- berada di bawah Menteri Perang.  Seon-joon pun akhirnya menceritakan keadaan sebenranya kepada pengawal pribadinya agar mendapat dukungan. Selama persiapan ujian Seon-joon belajar mati-matian. Ia bahkan tak menghiraukan Yoon-hee sedikitpun sekedar menyapa pun tidak. Sementara Yoon-hee diperlakukan demikian merasa tersiksa dan sering menagis. Ia pun harus pintar-pintar menutupinya sebab tak pantas bagi seorang pria menangis.

Yoon-hee, Seon-joon, Jae-shin dan Yong-ha dikenal dengan empat sekawan di kampus Sungkyunkwan, mereka selalu bersama. Belajar, bermain dan kini di hari kelulusan pun mereka semua lulus. Dan tak disangka Seon-joon adalah idola mereka semua. Sebab Seon-joon membawa angin perubahan bagi mereka. Sekalipun ia dari partai Noron yang notabene harusnya ada di asarama barat, Seon-joon lebih memilih di asarama timur. Jelas sekali ia tidak inign mencampur adukkan politik dalam pendidikannya. Moon Jae-shin mengagumi Seon-joon sebab sebelumnya ia selalu kabur dari asrama menyebarkan tulisan propoganda di sudut-sudut kota. Ia juga sering tidak lulus ujian sehingga ia sangat senior di kampus. Walau sebenarnya Geol-oh sangat mahir di bagian sastra dan ia adalah putra pejabat Menteri Kehakiman. Melihat Seon-joon ia jadi lebih memahami mengapa ia harus belajar dan lulus. Goo Yong-ha kesukaanya ialah menghabiskan waktu dan uang di tempat para gisaeng. Tidak peduli dengan pelajaran appun sekalipun sebenarnya ia pintar dan cerdas. Yang dia akui sekarang belajar apapun dengan hati, kelak ia pun akan jadi pejabat bekerja dengan hati. Yoon-hee sejak awal sangat terpesona oleh Seon-joon. Wajahnya tampan, rendah hati dan pintar. Dari hasil kelulusan Seon-joon bahkan menduduki peringkat pertama. Kepada mereka berempat pun kaisar menaruh perhatian khusus bahkan pernah menyempatkan diri mampir ke Sungkyunkwan hanya untuk berbincang dengan mereka berempat.

Pada akhirnya Yoon-hee dan Seon-joon menikah dengan taruhan Seon-joon kepada ayahnya kalau ia menjadi peringkat pertama di Sungkwunkwan.

nb: buku ini membuat penasaran dan ingin terus membacanya sampai akhir. Di buku Sungkyunkwan Scandal 1 tidak menjawab rasa penasaran sehingga pembaca “dipaksa” membaca buku kedua. Sajian yang menarik konflik yang membuat pembaca greget sebab hampir saja terungkap siapa Yoon-hee. Menurut saya di bagian endingnya masih kurang tajam, sebab pernikahan Seon-joon dan Yoon-hee terkesan sanga tlancar dengan kondisi dua keluarga yang totally bertolak belakang. Yoon-hee orang jelata dan Partai Nirim sedangkan Seon-joon anak pejabat dan partai Noron. Itu bukan hal lumrah saat itu dan tidak mudah beda partai menikah seperti yang dialami kedua orang tua Yoon-hee. Jangan-jangan yang menikah bukan Seon-joon dan Yoon-hee. Akan adakah buku ke-3? Kita lihat saja. Yang sudah nonton serialnya bagusan mana? Tapi pengalaman mengatakan buku selalu lebih menarik dibanding layar lebarnya. (Fin/rs:28092915)

Buku Versi Bahasa Indonesia

Keindahan Lelakiku

Sekujur tubuh laki-laki yang telentang dalam lelapnya tidur kupandang dalam-dalam tanpa berkedip. Tak terasa butiran bening mengalir membasahi pipiku. Ini bukan kali pertama, sudah kesekian kali sejak kumengenalnya.

Sebenarnya ada rasa amarah yang ingin kuluapkan di saat saat dia terjaga. Tapi sayang tak mampu kulakukan.

Bagaimana tidak, seisi kulkas porak-poranda, barang-barang penghuni dapur dalam sekejap berubah tempat. Belum lagi, telur masuk ke dalam galon air, gunting kuku tiba-tiba ada di kulkas, beberapa kali kedapatan sedang mengunyah benda-benda yang tak semestinya, bak kertas, plastik, penjepit kertas hingga kancing peniti. Dan sederet tingkahnya terus terang saja yang membuat berantakan dan mengkwatirkan. Wah… Apa ini? Saya mendesah, menarik nafas panjang. Apapun itu kutata dan kurapikan kembali.

Kerap saya membiarkan dia mengobrak-abrik pasir di halaman, agar ada keleluasaan menyelesaikan tugas rumah sekaligus kesempatan baginya melepas energi. Tapi kadang yang terjadi sang lelaki ‘ngacir’ langsung bermain di teras yang berdebu sedetik sehabis mandi, rasanya pegal hati ini. Ya sudahlah lelaki itu tidak paham, gairah yang menggebu-gebu menggerakkan dirinya bergumul dengan semua itu.

Saya akui kadang tanpa sadar telah membentaknya. Dan matanya yang bening pun seolah meneriakkan kekecewaannya yang tak terima dengan perlakuan saya. Penyesalan terasa menusuk sukma serta merta raga ini memeluknya dan meminta maaf atas kekhilafan ini.

Meruah barangkali kedongkolan yang ditimbulkannya saban hari, sungguh itu adalah bagian dari suguhan teristimewa ala dirinya. Dia telah merenggut hati saya, terpikat oleh pesona kemolekan parasnya. Saya jatuh cinta padanya bahkan jauh sebelum perjumpaan kami yang pertama. Sosok terbaik dalam hidupku sampai kapan pun tak akan tergantikan. Setiap hal dalam dirinya adalah berkah dan keajaiban dari Sang Khalik. Namanya Gevariel. Diperjumpaan kami yang pertama, air mata terbahagia menetes, sekitar dua tahun dua bulan dua minggu yang lalu di kamar bersalin. Memandanginya saat tidur mengingkanku akan keajaiban Tuhan bagi keluarga kami. (Fin/rs:27092015)

Di Tepi Danau Perak (By the Shores of Silver Lake)

Judul: Di Tepi Danau Perak

Judul Asli: By the Shores of Silver Lake

Penerbit BPK Gunung Mulia, 366 halaman ; 18 cm

Buku ini lanjutan dari buku Seri Laura “Di Tepi Sungai Plum”. Mereka pindah ke danau Perak meninggalkan sungai Plum. Banyak kisah diceritakan yang tak terduga.

Saat di sungai Plum, Mary, Carrie, si Bayi Grace dan Ma semua terkena jengkering (scarlet fever), sejenis penyakit yang disebabkan bakteri bisa mengakibatkan radang dan infeksi di tenggorokan dan kulit. Dahulu ini termasuk penyakit yang menular dan mematikan, namun kini antibiotik bisa membantu. Keluarga Nelson di seberang sungai juga terkena sehingga tidak ada yang membantu Laura dan Pa. Pa sudah tidak tahu bagaimana membayar ongkos dokter. Yang lebih menyedihkan lagi, demam telah mengenai mata Mary dan kini Mary buta.

Seorang wanita tak dikenal datang bertamu sepagi ini. Semua menduga-duga siapakah yang datang sepagi ini. Ternyata itu Bibi Docia. Terakhir bertemu saat pesta dansa panen gula di rumah kakek di Rimba Besar, Wisconsin. Bibi Docia menawarkan pekerjaan kepada Pa untuk membantu suaminya Paman Hi mengurus pertokosn dan administrasi, pembukuan dan kepegawaian. Gajinya 50 dolar sebulan. Pa sangat tertarik dengan tawaran Bibi Docia. Sedangkan Ma tak ingin pergi ke daerah barat. Ma merasa sudah mantap tinggal di tepi sungai plum, mereka sudah memiliki sebidang tanah. Setelah berdiskusi dan meyakinkan Ma, akhirnya Ma setuju dengan keputusan Pa. Pa akan berangkat terlebih dahulu bersama Bibi Docia kemudian Ma dan yang lainnya akan menyusul naik kereta api.

Waktu untuk berangkat tiba. Semua bersiap-siap, mengenakan pakaian terbaik, berbaris duduk di bangku ruang tunggu sementara Ma membeli karcis. Laura mengawasi tas mereka, juga Grace seperti yang disuruh Ma. Ini pengalaman pertama mereka bepergian dengan kereta api. Biasanya mereka menggunakan gerobak yang ditarik kuda. Semua terasa asing bagi mereka. Kereta yang ditunggu pun datang, mengeluarkan suara gemuruh hiruk pikuk, makin lama makin besar dan akhirnya berhenti mereka pun harus naik. Laura menuntun Mary dengan sangat hati-hati. Dengan bantusn petugas rem mereka kini bisa duduk. Mary meraba tempat mereka duduk dan mulai mendeskrpsikan. Laura yang menjadi mata bagi Mary juga menceritakan dengan detail sepeti apa di dalam kereta. Sseorang pria bertubuh jangkung masuk dengan jas biru dan petnya bertuliskan KONDEKTUR. Ia bertugas memeriksa karcis setiap penumpang dan melubanginya. Laura mencoba menjelaskan kepada Mary sosok pria itu dan apa yang dilakukannya. Laura mengamati seorang pria berkumis memutar sebuah putaran di dinding bertempat di ujung gerbong. Dan air pun mengucur ke dalam sebuah mangkuk seng. Laura bertanya krpada Ma apakah dia diijinkan mengambil air. Ma menginjinkan. Ia berhadil membawa air dan memberi minum Carrie dan Grace.

Tiba di stasiun namun Pa tak tampak. Petugas rem yang tadi menolong merak naik menolong mereka juga turun. Lokomotif tadi berputar sehingga berada diujung satunya. Laura terpesona sehingga tak sanggup menceritakannya kepada Mary. Mereka berjalan tanpa berkata sepatan katapun. Mereka harus segera ke hotel sebab lonceng waktu makan telah berbunyi. Suara yang berisik dari lonceng dan lalu lalang pengunjung membuat Mary merasa takut. Si tukang rem membantu mereka masuk menaruh tasnya. Semua bergegas masuk ke dalam sebuah ruang besar. Ma mendapat kamar mereka bisa membersihkan diri sebelum makan. Di ruang makan yang penuh dengan orang asing membuat mereka tegang dan tidak nyaman. Sepanjang meja banyak sekali makanan yang ditutup tudung. Namun karena perasaan mereka tegang mereka tak bisa makan banyak. Matahari hampir terbenam saat sepasang kuda menarik sebuah gerobak. Itu adalah Pa. Di pagi harinya mereka berangkat dengan gerobak. Hari mulai malam tampak lampu dari perkampungan. Mereka akhirnya tiba di rumah bibi Docia. Lena telah terbiasa menunggangi kuda bahkan mengendalikan kekang saat membawa gerobak, Laura belum pernah sehingga ia sangat ingin melakukannya. Lena memberi Laura kesempatan yang hampir saja membuat mereka terluka. Pagi harinya mereka berangkat menuju pondok yang akan mereka tempati. Laura sangat ingin melihat bagaimana pekerja kereta api, Lena juga ingin tapi Ma tidak menginjinkan. Laura emohon kepada Pa, dan Pa mengajaknya ke perkampungan pekerja tapi dengan syarat dia tidak boleh menceritakannya kepada Lena. Laura bisa melihat dengan jelas apa yang dikerjakan bleh para pekerja. Mereka tidak langsung menyelesaikannya namun secara perlahan membuat jalur terlebih dahulu. Laura menceritakannya ke pada Mary.

Hari gajian untuk para pekerja. Pa harus bekerja terus menerus untuk menghitung berapa gaji yang harus dibayar kepada pekerja. Beberapa pekerja tidak mengerti mengaoa mereka hanya dibayar sampai tanggal 15. Pa menjelaskan mengapa demikian. Namun para pekerja ingin dibayar penuh sehingga terjadilah keributan. Untung Big Jerry segera datang dan membawa gerombolan pekerja itu ke tempat lain. Big Jerry yang dulu menyelamatkan mereka dari perampok di perjalanan menuju barat. Rupanya keributan sama terjadi di perkampungan pekerja di Stebbins mereka menuntut dibayar penuh. Juru bayar tidak mau keluar akhirnya gerombolan menerobos masuk, juru bayar tak berdaya ia memenuhi tuntutan pekerja bahkan yang tidak bekerja pun mendapat bayaran. Ia melakukanna karena nyawanya terancam. Perkampungan pekerja bubar, musim dingin akan segera datang, namun Pa belum menentukan tanah untuk didaftarkan. Pondok mereka juga terlalu tipis untuk menahan musim dingin. Mereka berniat melakukan perjalanan ke timur selama musim dingin. Ternyata ada tawaran untuk Pa agar menempati rumah juru ukur selama musim dingin. Di sana sudah tersedia persediaan makanan yang cukup untuk musim dingin, rumahnya juga luas dan hangat. Musim dingin dimulai, namun Pa sudah memiliki tempat tingal yang cukup hangat. Di malam hari Laura terkadang bermain di salju bersama Carrie dibawah cahaya bulan. suatu malam tanpa sadar mereka bermain terlalu jauh dan seekor serigala sedang menatap mereka namun tak menganggu. Saat menyadarinya Laura dan Carrie berlari sekencang-kencang ke rumah. Mungkin serigala sedang berlindung di liang sebelum melanjutkan perjalanan, Pa menjelaskan. Malam menjelang Natal mereka kedatangan tamu. Trnyata Pak Boast dan istrinya. Mereka makan malam bersama dan saling memberi hadiah. Ma tidak tahu kalau Pak Boast dan istrinya datang sehingga tidak mempersiapkan hadiah sama sekali. Tapi Ma selalu punya akal Ma bisa memberikan mereka hadiah dari apa yang ada. Pak Boast dan isrtinya memiliki rumah sendiri namun di saat musim dingin Bu Boast selalu berkunjung ke rumah Ma, mengerjakan apa saja atau sekedar belajar membuat hidangan lezat maupun menjahit.

Di Hari Mingu biola Pa menyanyikan lagu rohani, yang tiba-tiba berhenti karena dari luar suara kencang turut bernyanyi.Mereka keheranan ternyata itu adalah Pendeta Alden yang dulu di sungai Plum. Ia bersama Pendeta Stuart mereka diutus Pekabaran Injil untuk meninjau daerah yang baru dibuka. Penderta Alden terkejut dengan keadaan Mary, dan ia menyampaikan ada sekolah khusus bagi yang buta di Iowa. Pa sepertinya belum mampu untuk membiayI Mary bersekolah di sana. Laura begitu tersontak mendengarnya, ia merasa turut menanggung, biarpun Mary butatapi Pa dan Ma mengingunkan Mary sekolah yang tinggi.

Orang-orang muali berdatangan banyak sekali gerobak yang baru membawa kayu-kayu. Pembangunan terdengar dimana-mana. Karena belum ada penginapan mereka makan dan menginap di rumah Ma, makin hari makin banyak terpaksa Ma memasang tarif setiap hari terasa kelah dsn tak habis-habisnya pekerjaan. Namun lumayan uang yang dihasilkan. Saat itu pa sedang pergi mendaftarkan tanah yang sudah dipilihnya. Bahkan Pa harus tidur di depan kantor agar tidak terlambat sebab desas desus yang beredar hanya tinggal satu bodang tanah lagi yang belum didaftarkan dan itu tanah yang sudah dipilih Pa. Ternyata banyak orang yang juga sudah menanti di depan knator. Untunglah di sana Pak Edwards menolong Pa sehingga Pa bisa cepat-cepat masuk ke kantor dan akhirnya mereka mendapatkan tanah itu. Pa juga membangun rumah di kota yang kelak bisa disewakan. Sementara ini mereka bisa menempatinya namun tidak lama. Sebab mereka harus segera menempati tanah yang sudah didaftarkan agar tak diserobot orang seperti yang dialami Hunter harus terbunuh oleh penyerobot tanah. Pa segera mendirikan pondok untuk mereka diami agar bisa pindah dan tinggal di tanah milik mereka sendiri. (Fin/rs11092015)