Di Tepi Danau Perak (By the Shores of Silver Lake)

Judul: Di Tepi Danau Perak

Judul Asli: By the Shores of Silver Lake

Penerbit BPK Gunung Mulia, 366 halaman ; 18 cm

Buku ini lanjutan dari buku Seri Laura “Di Tepi Sungai Plum”. Mereka pindah ke danau Perak meninggalkan sungai Plum. Banyak kisah diceritakan yang tak terduga.

Saat di sungai Plum, Mary, Carrie, si Bayi Grace dan Ma semua terkena jengkering (scarlet fever), sejenis penyakit yang disebabkan bakteri bisa mengakibatkan radang dan infeksi di tenggorokan dan kulit. Dahulu ini termasuk penyakit yang menular dan mematikan, namun kini antibiotik bisa membantu. Keluarga Nelson di seberang sungai juga terkena sehingga tidak ada yang membantu Laura dan Pa. Pa sudah tidak tahu bagaimana membayar ongkos dokter. Yang lebih menyedihkan lagi, demam telah mengenai mata Mary dan kini Mary buta.

Seorang wanita tak dikenal datang bertamu sepagi ini. Semua menduga-duga siapakah yang datang sepagi ini. Ternyata itu Bibi Docia. Terakhir bertemu saat pesta dansa panen gula di rumah kakek di Rimba Besar, Wisconsin. Bibi Docia menawarkan pekerjaan kepada Pa untuk membantu suaminya Paman Hi mengurus pertokosn dan administrasi, pembukuan dan kepegawaian. Gajinya 50 dolar sebulan. Pa sangat tertarik dengan tawaran Bibi Docia. Sedangkan Ma tak ingin pergi ke daerah barat. Ma merasa sudah mantap tinggal di tepi sungai plum, mereka sudah memiliki sebidang tanah. Setelah berdiskusi dan meyakinkan Ma, akhirnya Ma setuju dengan keputusan Pa. Pa akan berangkat terlebih dahulu bersama Bibi Docia kemudian Ma dan yang lainnya akan menyusul naik kereta api.

Waktu untuk berangkat tiba. Semua bersiap-siap, mengenakan pakaian terbaik, berbaris duduk di bangku ruang tunggu sementara Ma membeli karcis. Laura mengawasi tas mereka, juga Grace seperti yang disuruh Ma. Ini pengalaman pertama mereka bepergian dengan kereta api. Biasanya mereka menggunakan gerobak yang ditarik kuda. Semua terasa asing bagi mereka. Kereta yang ditunggu pun datang, mengeluarkan suara gemuruh hiruk pikuk, makin lama makin besar dan akhirnya berhenti mereka pun harus naik. Laura menuntun Mary dengan sangat hati-hati. Dengan bantusn petugas rem mereka kini bisa duduk. Mary meraba tempat mereka duduk dan mulai mendeskrpsikan. Laura yang menjadi mata bagi Mary juga menceritakan dengan detail sepeti apa di dalam kereta. Sseorang pria bertubuh jangkung masuk dengan jas biru dan petnya bertuliskan KONDEKTUR. Ia bertugas memeriksa karcis setiap penumpang dan melubanginya. Laura mencoba menjelaskan kepada Mary sosok pria itu dan apa yang dilakukannya. Laura mengamati seorang pria berkumis memutar sebuah putaran di dinding bertempat di ujung gerbong. Dan air pun mengucur ke dalam sebuah mangkuk seng. Laura bertanya krpada Ma apakah dia diijinkan mengambil air. Ma menginjinkan. Ia berhadil membawa air dan memberi minum Carrie dan Grace.

Tiba di stasiun namun Pa tak tampak. Petugas rem yang tadi menolong merak naik menolong mereka juga turun. Lokomotif tadi berputar sehingga berada diujung satunya. Laura terpesona sehingga tak sanggup menceritakannya kepada Mary. Mereka berjalan tanpa berkata sepatan katapun. Mereka harus segera ke hotel sebab lonceng waktu makan telah berbunyi. Suara yang berisik dari lonceng dan lalu lalang pengunjung membuat Mary merasa takut. Si tukang rem membantu mereka masuk menaruh tasnya. Semua bergegas masuk ke dalam sebuah ruang besar. Ma mendapat kamar mereka bisa membersihkan diri sebelum makan. Di ruang makan yang penuh dengan orang asing membuat mereka tegang dan tidak nyaman. Sepanjang meja banyak sekali makanan yang ditutup tudung. Namun karena perasaan mereka tegang mereka tak bisa makan banyak. Matahari hampir terbenam saat sepasang kuda menarik sebuah gerobak. Itu adalah Pa. Di pagi harinya mereka berangkat dengan gerobak. Hari mulai malam tampak lampu dari perkampungan. Mereka akhirnya tiba di rumah bibi Docia. Lena telah terbiasa menunggangi kuda bahkan mengendalikan kekang saat membawa gerobak, Laura belum pernah sehingga ia sangat ingin melakukannya. Lena memberi Laura kesempatan yang hampir saja membuat mereka terluka. Pagi harinya mereka berangkat menuju pondok yang akan mereka tempati. Laura sangat ingin melihat bagaimana pekerja kereta api, Lena juga ingin tapi Ma tidak menginjinkan. Laura emohon kepada Pa, dan Pa mengajaknya ke perkampungan pekerja tapi dengan syarat dia tidak boleh menceritakannya kepada Lena. Laura bisa melihat dengan jelas apa yang dikerjakan bleh para pekerja. Mereka tidak langsung menyelesaikannya namun secara perlahan membuat jalur terlebih dahulu. Laura menceritakannya ke pada Mary.

Hari gajian untuk para pekerja. Pa harus bekerja terus menerus untuk menghitung berapa gaji yang harus dibayar kepada pekerja. Beberapa pekerja tidak mengerti mengaoa mereka hanya dibayar sampai tanggal 15. Pa menjelaskan mengapa demikian. Namun para pekerja ingin dibayar penuh sehingga terjadilah keributan. Untung Big Jerry segera datang dan membawa gerombolan pekerja itu ke tempat lain. Big Jerry yang dulu menyelamatkan mereka dari perampok di perjalanan menuju barat. Rupanya keributan sama terjadi di perkampungan pekerja di Stebbins mereka menuntut dibayar penuh. Juru bayar tidak mau keluar akhirnya gerombolan menerobos masuk, juru bayar tak berdaya ia memenuhi tuntutan pekerja bahkan yang tidak bekerja pun mendapat bayaran. Ia melakukanna karena nyawanya terancam. Perkampungan pekerja bubar, musim dingin akan segera datang, namun Pa belum menentukan tanah untuk didaftarkan. Pondok mereka juga terlalu tipis untuk menahan musim dingin. Mereka berniat melakukan perjalanan ke timur selama musim dingin. Ternyata ada tawaran untuk Pa agar menempati rumah juru ukur selama musim dingin. Di sana sudah tersedia persediaan makanan yang cukup untuk musim dingin, rumahnya juga luas dan hangat. Musim dingin dimulai, namun Pa sudah memiliki tempat tingal yang cukup hangat. Di malam hari Laura terkadang bermain di salju bersama Carrie dibawah cahaya bulan. suatu malam tanpa sadar mereka bermain terlalu jauh dan seekor serigala sedang menatap mereka namun tak menganggu. Saat menyadarinya Laura dan Carrie berlari sekencang-kencang ke rumah. Mungkin serigala sedang berlindung di liang sebelum melanjutkan perjalanan, Pa menjelaskan. Malam menjelang Natal mereka kedatangan tamu. Trnyata Pak Boast dan istrinya. Mereka makan malam bersama dan saling memberi hadiah. Ma tidak tahu kalau Pak Boast dan istrinya datang sehingga tidak mempersiapkan hadiah sama sekali. Tapi Ma selalu punya akal Ma bisa memberikan mereka hadiah dari apa yang ada. Pak Boast dan isrtinya memiliki rumah sendiri namun di saat musim dingin Bu Boast selalu berkunjung ke rumah Ma, mengerjakan apa saja atau sekedar belajar membuat hidangan lezat maupun menjahit.

Di Hari Mingu biola Pa menyanyikan lagu rohani, yang tiba-tiba berhenti karena dari luar suara kencang turut bernyanyi.Mereka keheranan ternyata itu adalah Pendeta Alden yang dulu di sungai Plum. Ia bersama Pendeta Stuart mereka diutus Pekabaran Injil untuk meninjau daerah yang baru dibuka. Penderta Alden terkejut dengan keadaan Mary, dan ia menyampaikan ada sekolah khusus bagi yang buta di Iowa. Pa sepertinya belum mampu untuk membiayI Mary bersekolah di sana. Laura begitu tersontak mendengarnya, ia merasa turut menanggung, biarpun Mary butatapi Pa dan Ma mengingunkan Mary sekolah yang tinggi.

Orang-orang muali berdatangan banyak sekali gerobak yang baru membawa kayu-kayu. Pembangunan terdengar dimana-mana. Karena belum ada penginapan mereka makan dan menginap di rumah Ma, makin hari makin banyak terpaksa Ma memasang tarif setiap hari terasa kelah dsn tak habis-habisnya pekerjaan. Namun lumayan uang yang dihasilkan. Saat itu pa sedang pergi mendaftarkan tanah yang sudah dipilihnya. Bahkan Pa harus tidur di depan kantor agar tidak terlambat sebab desas desus yang beredar hanya tinggal satu bodang tanah lagi yang belum didaftarkan dan itu tanah yang sudah dipilih Pa. Ternyata banyak orang yang juga sudah menanti di depan knator. Untunglah di sana Pak Edwards menolong Pa sehingga Pa bisa cepat-cepat masuk ke kantor dan akhirnya mereka mendapatkan tanah itu. Pa juga membangun rumah di kota yang kelak bisa disewakan. Sementara ini mereka bisa menempatinya namun tidak lama. Sebab mereka harus segera menempati tanah yang sudah didaftarkan agar tak diserobot orang seperti yang dialami Hunter harus terbunuh oleh penyerobot tanah. Pa segera mendirikan pondok untuk mereka diami agar bisa pindah dan tinggal di tanah milik mereka sendiri. (Fin/rs11092015)

Advertisements

Published by

rosegevari

Menulis apa aja yang pengen ditulis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s