Mestinya Kuiyakan Saja

Latisha sedang bersiap-siap akan berangkat kerja, sebelum berangkat tak lupa ia berpamitan pada adiknya. “Bro, kakak mau pergi kerja ya. Meraih tas dan jaket melewati adiknya sambil mencolek pipinya “dan jangan lupa dating kita di hari Minggu.” tukasnya sambil berlalu. Marvel hanya mengangkat kedua alisnya antara setuju dan tidak seraya menyeruput teh hangat.

Marvel menatap seisi rumah terasa hampa. Kenangan bersama ayah dan ibunya menari-nari di hadapannya. “Ibu, kaos kakiku dimana?” teriaknya pada wanita yang melahirkannya. Hampir setiap pagi ada-ada saja yang tak bisa dia persiapkan sendiri sehingga wanita paruh baya itu pun harus turun tangan menyiapkan segala keperluannya jika akan berangkat ke sekolah.

“Aduh Marvel, kapan sih kamu bisa sendiri. Periksa di lemarimu dimana baju, kaos kaki, dasi. Kalau ibu mati bagaimana? Siapa yang akan mencarikan untukmu?” Percakapan yang tak terlupakan oleh Marvel. Dan kini memang sang bunda benar-benar telah tiada, kecelakaan maut merenggut kedua orangtuanya.

Latisha dan Marvel duduk di emperan toko bersama pelanggan lainnya sambil menikmati hidangan nasi kuncing ala angkringan Jogja. Suasana remang-remang suara pembeli dan penjual sahut-menyahut pun turut meramaikan. Tradisi dari kedua mendiang orangtuanya yang selalu mengajak keluarga makan di pinggir jalan bahkan di hari istimewa sekali pun. Marvel enggan turut tapi mau bagaimana lagi. Terlalu pahit baginya mengenang semua keindahan di masa lalu.

Pernah suatu kali di ulang tahun pernikahan kedua orangtuanya, ayah mengajak semua anggota keluarga makan di luar. Bukan itu saja Latisha dan Marvel diperbolehkan mengajak dua orang teman. Latisha kala itu berusia 18 tahun dan Marvel 11 tahun. Ayah memarkir mobil di depan restoran mewah, sejenak kedua bersaudara itu saling memandang dan menebar senyum. Semua turun dan berjalan masuk ke arah restoran. “Eh.. Kalian mau ke mana?” seru ayah memandang heran, “kita di sebelah sini.” sambil menunjuk akringan persis di sebelah restoran. Itu salah satu kejadian yang menggelikan bagi Latisha dan Marvel apalagi disaat mereka mengajak serta teman. Tapi entah kenapa dari kejadian itu teman-temannya tidak marah saat menceritakan ke orangtua masing-masing malah dibilang seru dan tak lama juga diikuti.

“Minggu depan kakak ada pertunjukan di Makasar. Ikut yuk!” ajak Latisha kepada adiknya sambil menggigit tempe goreng dan cabe rawit.

“Memangnya itu tanggal merah ya Kak?” balasnya menatap wajah Latisha.

“Tidak sih, tapi kali ini kakak inign kamu ikut serta ya.” mengangkat gelas berisi es jeruk karena kepedasan.

“Lain kali aja ya Kak. Banyak urusan nieh.” Marvel menimpali.

“Vel, belum tentu ada lain kali. Siapa tahu ini yang terakhir. Tapi ya sudah, baik-baik ya nanti kalau Kakak tinggal.”

“Tentulah kakakku sayang.” sahut sang adik dengan senyum ringan.

Kesibukan yang tak biasa bagi Marvel, terlihat dsedang membungkus bingkisan mungil. Diberinya kartu ucapan yang sederhana, berbalut pita merah jambu yang manis. Marvel tersenyum memandang kado kecilnya. Ada rasa puasa dan bangga yang tergambarkan.

Hari telah lewat tengah malam, saat Marvel terbangun mendengar dering telepon genggamnya. Tidak ada percakapan panjang, namun di raut wajah pemuda berusia 23 tahun itu jelas tersirat itu adalah kabar buruk sepanjang hidupnya. Seraya meremukkan hatinya kerkeping-keping dan berceceran di tengah api. Hangus tak bersisa.

Ia bangun seperti halnya orang kehilangan akal duduk termenung membawa angannya melewati ruang dan waktu. Tak satupun yang dia terima saat telepon genggamnya berulang kali mengeluarkan nada panggilan. Si anak bungsu itu mengambil bingkisannya membuka dan membaca lagi kartu ucapan yang diselipkan.

Kak, terima kasih untuk segalanya. Aku bahagia kalau kakak juga bahagia. Selamat ulang tahun. Salam sayang, Marvel.

Tak lagi terbendung air matanya, tersedu-sedu suara tangisnya. Ia mengelus jepit rambut berwarna perak, bertahtahkan batu hitam yang dipilihnya sendiri sebagai kejutan khusus. Siapa sangka, sekali lagi kecelakaan mobil kembali merenggut orang yang paling dikasihinya. Mestinya kuiyakan saja ajakannya gumamnya dalam hati. (Fin/rs:29092015)

Sumber: nemacraft

Advertisements

Published by

rosegevari

Menulis apa aja yang pengen ditulis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s