Kontes Poto Abal-abal

“Wah, bayinya menang kontes poto ya. Wah dapat piala. Hebat ya.. Kecil-kecil sudah juara.” Barangkali itulah salah satu komen di medsos melihat anak teman juara kontes poto. Kalau kontes diadakan lembaga yang jelas ya tak masalah. Tapi kalau abal-abal, gimana rasanya? Dan kontes poto abal-abal ini sedang marak.

Seberapa sering mengunggah poto di medsos terutama di instagram? Jenis poto apa yang diunggah? Salah satu yang dilirik kaum penipu adalah poto bayi yang lucu-lucu, atau poto hijabers yang manis dan poto lainnya.  Kira-kira kronologisnya begini,

1. Pengguna medsos misal mengunggah poto anak ke akun instagram, lalu menggunakan hastag (#) bayi lucu, bayi gendut, babyboy dll.

2. Nah si penipu abal-abal akan trace pemilik akun dari hastag tersebut. Tentu saja kan menggunakan nama akun b

erkaitan dngan kontes-kontesan. Misalnya Kontes Bayi Lucu, Bintang Bayi Kontes dll.

3. Selanjutnya si penipu akan memberi komen di poto. Seperti “bunda poto anaknya lucu. Ikutan kontes yuk.”

4. Ibu mulai akan melihat akun si penipu berisi ratusan poto bayi lucu lengkap dengan para pemenang yang sedang pose dengan piala dan hadiah masing-masing. Terlihat sangat meyakinkan. Kemungkinan si Ibu akan tertarik dan pengen juga anaknya seperti itu.

5. Lalu akan ada pesan dari si penipu, “bayar BP dibelakang bunda kalau menang mulai dari …. Rupiah.”

Mulai dari sini si ibu mulai terpengaruh, wah enak juga nieh bayar di akhir kalau menang tidak seperti kontes lain bayarnya per poto dan bayar lagi nanti kalau menang.” Mulailah si ibu mengirim poto anak yang terlucu. Biasanya diperbolehkan mengirim 2 poto atau lebih.

Pada umumnya kontes itu seperti ini:

  1. Komersil.  Biasanya kontes diakan oleh perusahaan atau lembaga yang terkait. Misalnya, untuk memasarkan susu, diapers, atau produk-produk lainnya sehingga oarang lain mau menggunakan atau sekedar membeli hanya untuk kepentingan kontes. Initinya meningkatkan penjualan bagi perusahaan.
  2. Kampanye nilai. Seperti yang diadakan departemen pariwisata misalnya, mengirim poto wisata di daerah. Ada juga kontes poto batik, olahraga, bikers dan sebagainya. Jadi ada nilai yang sedang dikampanyekan. Agar turis lebih banyak datang ke Indonesia, menaikkan nilai batik di mata dunia dll.
  3. Durasi waktu relatif lama bisa dalam hitungan bulan.
  4. Biasanya kan bebas biaya, kalau pun ada tak jarang adalah struk bukti pembelian barang bersangkutan.

Namun untuk kontes abal-abal akan kita dapati kejanggalan kira-kira seperti ini:

  1. yang mengadakan kontes tidak jelas siapa oknumnya, tidak ada alamat.
  2. tujuan kontes tidak ada, juri tidak jelas, kriteria pun tak jelas. Siapa saja bisa menang.
  3. membayar BP (Biaya Pendaftaran) di akhir yang jumlahnya fantastis. Misalnya mulai dari 110 ribu belum ongkos kirim hadiah-hadiahnya dan ini bisa mencapai 200 atau lebih. Yang benar saja bayar di akhir setelah menang dengana jumlah besar. Intinya siapa yang mau bayar dialah yang menang
  4. hadiahnya banyak. Tapi printilan seperti boneka, poto si anak si mug dan piala. Tapi bisa dipastikan nilai itu pasti dibawah nilai dari yang ditransfer.
  5. durasi cepat. Ada yang kontes harian dan mingguan. Semakin cepat durasi berarti semakin cepat terima uang kan ya.
  6. yang tidak mau bayar akan diblacklist. Loh ini kontes apa pemerasan. Yang benar saja.
  7. untuk meyakinkan peserta lomba akan diunggah poto bayi dan hadiahnya dan tak lupa mereka memberi caption “selamat ya bunda dan bayinya cantik. Jadi pemenang dapat hadiah. Besok ikut lagi ya. Makasi ya bunda yang sportif.” Apa coba bunda sportif, karena mau ditipu kali ya.
  8. HATI-HATI!!! pemenang akan diminta alamat lengkap-lengkip jadi hati- hati bisa jadi sasaran penculikan. Apalgi ada potonya lengkap.

Saya salah satu pengguna instagram barangkali poto di ig saya 80% adalah poto anak, yang jadi sasaran empuk. Awalnya bagi saya menarik tapi setelah saya kaji rasanya ini sangat janggal. Saya bertanya ke pemilik akun kriteria, batas umur, tema. Mereka bilang bebas. Sorenya saya lihat ko sudah ada pemenang trus potonya itu biasa saja. Tapi poto penjuarian seperti ini memang sangat subjektif, metode like and dislike juri. Jadi poto mana pun yang menang sah-sah saja sebenarnya. Saya tanya lagi ko sudah ada pemenang? Dijawab sama mereka “iya bunda. Tiap hari ada.” Wah saya makin curiga. Lalu saya tanya lagi nilai yang sedang diangkat apa? Mereka bilang kalau saya tidak paham tidak usah ikut. Ya sudah, tidak bisa memberi penjelsan saya anggap dia penipu berkedok poto kontes. Satu lagi yang membuat saya tercengang saat membaca pengalaman orang. Peserta kontes (hijab) mau ga masuk 10 besar. Kalau mau transfer sejumlah sekian-sekian. Astaga….

Saran,

  1. Tak perlu ikut yang begituan hanya untuk ajang pamer-pamer. Si anak juga belum mengerti. Kalau pun mau ikut, ya ikutlah yang jelas siapa penyelengaranya.
  2. Kita seperti sedang membeli piala buat anak. Untuk apa, agar kita sebagai orangtua dianggap hebat? Masa depan anak bukan ditentukan berapa jumlah piala yang dia dapat saat masih kanak-kanak.
  3. Lebih jeli dan cermat kalau sudah terjun di dunia maya yang hiruk pikuk dan samar mana yang baik mana yang penipu. Karena tak sedikit yang jadi korban penculikan.

Mungkin saja ini komplotan ada beberapa akun yang dikelola oleh sekelompok orang. Semakin banyak akun semakin banyak korban terjaring bukan. Poto-poto yang diunggah bisa saja itu buatan sendiri. Anak sendiri, tetangga, keponakan. Siapa yang tahu, maka itu pengguna medsos harus lebih cerdas.

Semoga bermanfaat. (Fin/rs;03102015)

Liat pic ini ibu-ibu pasti tertarik anak juga mejeng dengan piala ini.

Advertisements

Published by

rosegevari

Menulis apa aja yang pengen ditulis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s