Konsumen Cerdas Memilih Produk Cerdas

Berapa kali Anda terkecoh oleh produk yang ditawarkan? Merasa tertipu? Rugi? Ya itulah salah satu keluhan menjadi konsumen kala barang atau jasa yang diperoleh tidak sesuai dengan yang ditawarkan. Lalu apakah Anda melaporkan kasus ini? Banyak konsumen lebih memilih diam dan tidak bertransaksi lagi dengan oknum yang sama ketimbang melaporkannya kepada pihak yang bewenang. Alasannya beragam, mungkin ribet, bertele-tele, tidak sempat, tidak percaya akan ditindaklanjuti dan sebagainya. Tutup mata pun kita tahu kasus-kasus demikian bertebaran. Sudah rahasia umum kalau pelaku usaha pada dasarnya menganut prinsip mendapatkan keuntungan maksimal dengan biaya minimal sehingga berpotensi merugikan konsumen, baik langsung maupun tidak langsung. Negara berperan penting dalam hal pemberdayaan konsumen karena pihak konsumen sering menjadi pihak yang dirugikan karena ketidakmampuan untuk memperjuangkan kepentingannya dan minimnya kepercayaan publik pada kekuatan pemerintah. Ini membuktikan perlindungan konsumen di Indonesia masih belum efektif.

Jumlah penduduk Indonesia mencapai 255 juta jiwa, dan setiap individu ini memerlukan barang dan jasa untuk melangsungkan hidup. Besarnya penduduk Indonesia adalah potensi pasar menggiurkan baik produk dalam negeri maupun impor.

Menurut Undang Undang Perlindungan Konsumen (UUPK) Pasal 1 ayat 2 “Konsumen adalah setiap orang pemakai barang dan/atau jasa yang tersedia dalam masyarakat, baik bagi kepentingan diri sendiri, keluarga, orang lain, maupun makhluk hidup lain dan tidak untuk diperdagangkan.”

Saat hendak membeli barang bagaimana habit konsumen pada umumnya? Apakah sudah mengecek kemasan dengan teliti? Tanggal kadaluarsa? Tapi apakah itu cukup? Sebagai konsumen cerdas semestinya paham apa yang menjadi hak konsumen dan perlindungan konsumen. Tentunya tak asing bagi kita betapa banyak produk yang beredar menggunakan bahan berbahaya dan tak layak pangan. Sebagai contoh tahu, bakso hingga sayuran segar yang menggunakan pengawet seperti formalin, borax, makanan berpewarna tekstil, yang jelas-jelas tak boleh ada dalam bahan makanan. Mengapa perlu mejadi konsumen cerdas? Sekilas memang terlihat sepele, tapi jika ditinjau lebih jauh efek globalnya sangat luas. Jelas penting karena ini akan menyangkut Sumber Daya Manusia (SDM) Indonesia secara tidak langsung akan berpengaruh pada ketahanan nasional, keberlangsungan pergerakan ekonomi makro dan mikro, persaingan usaha, tenaga kerja dan produktivitas individu Indonesia.

cek label
Teliti sebelum membeli

Contoh kasus, banyak akibat buruk yang ditimbulkan apabila mengkonsumsi pewarna tekstil Rhodamin B dalam jangka panjang. Rhodamin B merupakan pewarna sintetis berbentuk serbuk kristal, berwarna hijau atau ungu kemerahan, tidak berbau, dan dalam larutan akan berwarna merah terang berpendar/berfluorosensi. Termasuk golongan xanthenes dyes yang digunakan pada industri tekstil dan kertas, sebagai pewarna kain, kosmetika, produk pembersih mulut, dan sabun dilarang digunakan dalam pembuatan makanan. Termasuk zat karsinogen (penyebab kanker) dan zak aktif sehingga bisa berikatan dengan protein bahkan ke DNA. Bila terserang penyakit kronis akibat Rhodamin B, tentu harus mengeluarkan dana berobat, kehilangan waktu, bahkan kehilangan nyawa. Bayangkan beapa banyak kerugian yang harus ditanggung baik negara maupun diri sendiri? Sebenarnya hal itu tak perlu terjadi jika dari awal konsumen lebih teliti. Karena itu edukasi sebagai konsumen cerdas berada di posisi krusial. Ditambah pelaku usaha yang tidak bertanggung jawab sulit diberantas.

Mengenai bahaya Rhodamin B dan bahan-bahan berbahaya lainnya yang berpotensi ada dalam bahan makanan telah dipublikasikan BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan) untuk publik. Terkadang pengetahuan yang minim dari pelaku usaha juga bisa mejadi penyebab Rhodamin B masuk dalam bahan pangan, tapi tak sedikit yang melakukannya dengan sengaja karena harga murah, demi menekan biaya produksi. BPOM selaku lembaga yang berwenang dalam pengawasan peredaran makanan, minuman, obat temasuk kosmetik terus berusaha membersihkan produk tak layak dipasaran. Baru-baru ini BPOM Banjarmasin melakukan pemusnahan terhadap obat maupun kosmetik illegal, merupakan salah satu langkah riil agar terhindar dari produk berbahaya. Barang illegal tidak memiliki dokumen, jadi tidak jelas asal muasalnya tidak ada jaminan keamanan.

tidak sni

Berapa persen barang yang digunakan sehari-hari adalah buatan dalam negeri? Coba perhatikan. Hampir bisa dipastikan dominan buatan luar bukan? Bukan hal baru lagi Indonesia kebanjiran produk impor terutama dari Cina, bahkan yang terkesan seperti ‘rongsokan’ pun berduyun-duyun mendapat tempat di Indonesia. Karena itu menjadi konsumen cerdas mutlak dimiliki. Salah satu cara mudah adalah mengenal label SNI (Standar Nasional Indonesia). Produk bertanda SNI lebih memberikan jaminan kepastian atas kesehatan, kemanan dan keselamatan konsumen, bahkan lingkungannya (K3L). Standar Nasional Indonesia (SNI) dan label bahasa Indonesia pada barang menjadi instrumen penting yang bisa menjadi patokan konsumen dalam memilih produk. Pengetahuan mengenai dua hal tersebut harus ditularkan secara luas bagi konsumen di antara ‘glondongan’ produk luar yang masuk ke Indonesia.

SNI
Logo SNI yang semestinya ada di barang yang diperdagangkan terutama yang impor

Tak jarang konsumen lebih memilih produk impor karena harga yang jauh lebih murah, dan jumlahnya sangat banyak. Ambil saja contoh barang elektronik seperti ponsel. Dengan spesifikasi sama sebut saja buatan Korea jatuh di harga 5 juta, produk Cina hanya di harga 2-3 juta. Bagaimana orang tidak beralih. Apalagi produk dalam negeri, terkesan ‘sudah jelek mahal pula’. Itu baru satu produk, masih ada ratusan produk lain dengan kasus sama atau hampir sama. Ibarat kata ‘kehilangan muka’ di rumah sendiri. Diharapkan upaya nyata dari pemerintah agar produk Indonesia lebih dilirik, pelaku usaha dengan produk berkualitas tinggi dan terjangkau. Kokohnya produk dalam negeri akan mendobrak laju gerak ekonomi, dampaknya adalah peningkatan taraf hidup, menguatnya nilai rupiah terhadap mata uang asing.

Kami menderegulasi kebijakan supaya semua produk sesuai SNI,” ujar Direktur Jenderal Standardisasi dan Perlindungan Konsumen Kementerian Perdagangan Widodo, Senin, 1 November 2015.

Salah satu informasi penting yang ditebitkan Kemendag adalah “Cerdas Memilih Produk Telematika dan Elektronik” agar tidak salah pilih. Membangkitkan industri dalam negeri, dengan cara mencintai produk nasional berarti turut juga menggerakkan ekonomi bangsa. Mungkin pernah mendengar slogan “APA YANG KAMU BELI ADALAH APA YANG KAMU DUKUNG”, sangat menggelitik dan mendorong konsumen berpikir mau membeli barang yang mana.

Neraca-1806-Mainan Berlabel SNI Akan Lindungi Anak Indonesia (men)
Kebijakan yang tepat dari Kemenperin

Pemerintah harus terus menerus menggalakkan dan mensosialisasikan konsumen cerdas dan perlindungan konsumen di seluruh lapisan masyarakat melalui berbagai media, menggandeng lembaga-lembaga, pendekatan personal, seluruh cara harus ditempuh. Sekalipun internet telah meluas namun tak sedikit juga belum bisa mencapai informasi. Mungkin tidak akan terwujud dalam waktu singkat tapi dengan usaha tiada henti pasti didapat progress. Gerakan Konsumen Cerdas dan perlindungan konsumen memberi dampak yang luar biasa secara untuk ketahanan ekonomi bangsa.

neraca 2011-2015
Sekilas nilai ekspor dan impor Indonesia. Sekalipun nilai ekspor lebih tinggi namun kebanyakan meupakan bahan mentah

 

Terlihat dari visi misi Ditjen PKTN (Direktorat Jenderal Perlindungan Konsumen dan Tertib Niaga) yang secara nyata telah memberi hawa segar bagi konsumen. Dibutuhkan langkah yang semakin gesit untuk meningkatkan jumlah konsumen cerdas. Tidak sampai di situ, agar menjadi konsumen cerdas salah satu alat bantu penting adalah ‘Layanan Pengaduan yang mudah, cepat dan dekat dengan masyarakat. Undang-undang No 8 tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen tertera dengan jelas bagaimana mestinya konsumen dengan hak dan kewajibannya begitu juga pelaku usaha. Perlindungan konsumen merupakan prasyarat mutlak dalam mewujudkan perekonomian yang sehat keseimbangan antara perlindungan kepentingan konsumen dan pelaku usaha.

Picture2
Panduan singkat menjadi konsumen cerdas

Apalagi di era MEA yang memberi ruang bagi produk-produk baik barang maupun jasa dari negara-negara ASEAN bersaing secara sehat dan bebas, bisa menjadi kesempatan bagi Indonesia ‘unjuk gigi’, namun bisa menjadi ‘bumerang’ tajam kala itu tidak disikapi dengan tepat dan sigap. Tak lupa regulasi terhadap masuknya barang impor diawasi, ruang yang cukup untuk  produk dalam negeri, untuk meraih konsumen Indonesia cerdas dan produk dalam negeri yang bersinar untuk Indonesia lebih maju.

Agar semakin popular di telinga masyarakat umum Konsumen Cerdas dan Perlindungan Konsumen, pemerintah menetapkan 20 April sebagai Hari Konsumen Nasional. Tema yang diangkat tahun ini masih sama dengan tahun sebelumnya, yaitu “Gerakan Konsumen Cerdas, Mandiri dan Cinta Produk Dalam Negeri” dengan sub tema “Konsumen Cerdas Dengan Nasionalisme Tinggi Menggunakan Produk Dalam Negeri”. Beberapa rangkaian kegiatan peringatan Harkonas 2016 antara lain Bulan Pengaduan Konsumen selama Februari – April 2016, seminar, lomba karya tulis untuk mahasiswa, wartawan dan blogger serta jalan sehat dan sepeda santai. Diharapkan dengan kegiatan lomba menulis ini pesan pemerintah tersampaikan dengan jangkauan lebih luas menuju konsumen Indonesia cerdas.*** (Fin/rs:13041016)

 

 

 

si koncer
Maskot (Koncer) Konsumen Cerdas Hewan kancil yang dianalogikan mempunyai sikap cerdik dan hati-hati dibandingkan hewan lain. Kancil selalu memiliki banyak akal dalam menjalani kehidupannya sehingga selalu terhindar dari marabahaya. Diharapkan perilaku konsumen bisa seperti kancil cerdik, pintar dan bersikap berhati-hati ketika hendak mengkonsumsi barang dan atau jasa

 

 

 

*Ditulis untuk mengikuti Lomba Menulis yang diadakan Kemendag dalam rangka memperingati HARKONAS 2016

LOMBA BLOGGER

 

Advertisements

Published by

rosegevari

Menulis apa aja yang pengen ditulis

One thought on “Konsumen Cerdas Memilih Produk Cerdas”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s