Finding Formerly

Time is flying like flash. It has been long time we are seperated, event just in jabodetabek. But it doesn’t mean we can be seeing each other anytime. Namanya juga Jakarta. Jarak tempuh 10 km waktu tempuh bisa sejam. See!

Sohib saya dari zaman bahela. Selepas masa SMA berpencar menuju tempat kuliah masing-masing. Dan sejak itu ko munikasi sangat jarang bahkan hampir nol. Apagi setelah lulus ada di sekitaran Jabodetabek, beughhh… Jangan harap bisa ketemu sering-sering sekalipun dekat. Maklumlah, dari hari masih belum terang penduduk Jakarta sudah berangkat kerja. Pulang kerja hari sudah gelap. Dan tentu saja macetnya tak akan tertembus terutama di jam sibuk. Okelah kalau week end bisa dong atur janji. Orang batak di Jakarta tidak semudah itu belum lagi bagi yang sudah berkeluarga, it’s quality time for family. Dan yang paling aduhai adalah jadwal arisan. Beughhh…. Minggu pertama arisan marga suami, minggu kedua arisan marga istri, minggu ketiga arisan komplek, minggu kekempat arisan marga satu oppung, minggu kelima arisan marga mertua, udah habis mingggu arisan lain belum masuk. Kurang ya jumlah minggu sebulan belum lagi banyaknya pesta yang harus dihadiri. Habislah weekend dan terasa masih kurang.

Cocok cocockin waktu deallah hari Sabtu 18 Juni visit ke rumahnya sekalian nengokin baby boy yang baru lahir. Awalnya sih pengen naik grab car aja atau go car tapi misua ternyata mau ngantarin. Asssekkk.

Saya deg degan mencoba menerka-nerka seperti apa dia sekarang? Karena tak bisa dipungkiri seiring berjalannya waktu saat kita dipertemukan dengan teman-teman lama tak jarang diantara mereka banyak yang berubah. Entah perubahan apapun itu. Karena saya mengalaminya terkadang bertemu teman lawas jadi tidak sehangat dulu, orientasi yang bergeser mungkin, atau bahan obrolan ga nyambung, dan sebagainya. Suami pun sangat setuju dengan hal ini. Maklum satu almamater jadi teman dia banyak juga teman saya. Waktu dan kehidupan membentuk manusia itu sedemikain rupa.

Oke kembali ke pertemuan dengan sobatku ini. Penasaran semakin tak tertahan membayangkan seperti apa dia sekarang. Maklumlah tak eksis di sosmed jadi ga ada gambaran matang akan dirinya. Cari-cari akhirnya ketemu deh rumahnya. Di salah satu perumahan di bilangan Depok.  Rumahnya begitu terasa aura kebaikan hati pemiliknya, ditambah luksisan di tembok rumah dengan gambar lucu dan menarik semakin menambah keceriaan. Dia bilang seperti di sekolah TK. Tapi itu ide bagus juga kan bagi yang punya anak. Saya terharu setengah mati bagaimana tidak, dia masih seperti yang dulu. Baik, rendah hati, banyolan konyol, irama tawanya, gayanya dan inner beautynya yang masih seperti dulu. Saya bener-bener seperti terlempar ke masa lalu, seperti berada di rumah sendiri dengan jamuannya yang mempesona makanan ala kampung halaman. Ah, sobat betapa menganggumkanya dirimu dan betapa kekaguman ini padamu tak pudar.

Itulah salah satu kebahagiaan saat bertemu teman lama setelah berpisah bertahun-tahun lamanya dan dia masih seperti yang dulu. Bahkan kata suamiku yang baru pertama kali bertemu “enak orangnya ya. Apa adanya.” Jiahh….

Yang tak kalah fantastis dari semuanya itu, sesaat saya sebelum pulang dia menyuruh saya membungkus beberapa oleh-oleh dari kampung. Yang kualitas jempolan begini hanya ada di bonapasogit (kampung halaman pinggiran sekitaran danau Toba). Sebenarnya ada satu lagi yang membuat bener-bener layaknya di kampung halaman. Di dapurnya ada bawang merah diikat ala toba. Nah kalau di Toba sewaktu panen bawang merah daunnya turut diambil dijemur sampai kering. Daunnya ini yang akan diikat rapi bak rambut menjadi pegangan. Dua tumpukan bawang merah di bagian ujung daun disatukan agar mudah digantung. Biasanya yang dibuat seperi ini adalah bawang yang kualitasnya paling bagus. Entah kapan terakhir melihat ini jadi serasa bener-bener pulang ke rumah sendiri. Tapi sayang tak ada gambarnya.

Kenapa saya akhirnya menulis ini? Karena rasa kekaguman saya pada sahabat yang tak pernah sirna, mendapati dirinya persis seperti dahulu adalah kebahagiaan tersendiri bagi saya. Sehat sehat ya sobat, si kecil juga sehat si baby juga sehat cepat besar dan Tuhan senantiasa memberkati keluarga kalian. Berharap diantara kemacetan dan sibuknya ibukota kita bisa bertemu. Doaku untukmu dan keluarga selalu. Semoga juga diberi kesempatan bertemu langsung dengan sahabat lainnya.

 

image
Serasa kembali ke masa lalu. Jangan tertipu ini di rumah bukan di sekolah PAUD.

 

image
Bagi yang tak tahu, ini adalah asam gelugur. Kalau di Toba disebut “asom potong”. Dari asam utuh dipotong-potong lalu dikeringkan, karena hampir semua masakan batak itu pake asam jenis ini. Tapi yang ini beda benar-benar kualitas nomor wahid. Beda banget sama yang punya jakarta. Gileee… Serasa pulang dari rumah emak semua mua dibawa. Ah, keberuntungan yang sempurna karena sahabat.

 

 

image
Ya benar ini namanya kemiri. Tap ini bukan sembarang kemiri, ini kemiri dari bonapasogit. Kinclingnya saja beda sama yang punya ibukota. Dan yang bagus begini ga akan ada di Jakarta. Surely only in Toba. Saya beruntung mendapatnya dari seorang sahabat. Terima kasih ya sobat.

Sebenarnya ada satu lagi oleh-olehnya. Masakan beliau yaitu “rica”. Jelaslah tak ikut pemotretan, keburu abis dilahap. Sukacita terbesar bertemu dengan beliau setelah sekian lama, ditambah oleh-oleh khas Toba. How great is our God. Sampai jumpa ya sobat.. Maaf pajang potomu tanpa izin.  (Fin/rs:210616)

 

 

 

 

Advertisements

Published by

rosegevari

Menulis apa aja yang pengen ditulis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s