Mudik ke Baruara, Balige 2016

Woww… tak disangka, ternyata kami sekeluarga mudik tiap tahun tiga tahun terakhir. Kami mengingat-ingat kembali bagaimana proses kami mudik. Karena untuk mudik bukan hal mudah kami. Baik dari waktu maupun dana. Sungguh ini adalah kasih karunia. Bayangkan, berapa banyak orang yang ingin mudik menghampiri tanah kelahiran tapi tak bisa karena tak ada lagi yang harus dijumpai di sana, tak biaya atau tak sempat. Bisa mudik itu rasanya luar biasa.

Tahun 2016 kami mudik dalam rangka pernikahan adik bungsu kami. Atur waktu, lihat sela yang bisa dimanfaatin, ternyata tak punya banyak waktu. Jumat, 5 Agustus kami berangkat dari Jakarta dan mendarat di Silangit Airport sekitar jam 11 siang. Kali pertama kami menginjak Silangit Airport. Senang juga Bandara Silangit beroperasi, jadi lebih dekat ke rumah, coba kalau di Kuala Namu, masih harus menempuh 5-6 jam lagi untuk tiba di Balige.

Hari pertama, 5 Agustus 2016

Tiba di Silangit kami disambut hangat oleh kerabat. Fantastic man… kami dibawa makan BPK yang enak di Balige. Namanya Tambar Lihe. Pernah ke sana? Sepengamatan saya di sana pengunjung tak berkesudahan baik makan di tempat maupun yang take away. Geva aja makan banyak, sampai inangtuanya heran. Melintasi jalan dari Silangit-Balige-Baruara, tak terlalu berbeda jauh. Saya melihat setiap tempat dan kenangan masa lalu muncul. Masa kecil dan tumbuh besar di tempat ini. Itu mengingatkan saya akan perjalanan hidup yang tak mudah, mengingatkan saya siapa saya dan berasal dari mana.

Mendekati rumah, detak jantung semakin dipacu. Setengah berlari menuju rumah, saya berteriak memanggil Bapak dan Mamak. Kami disambut bapak, dan saya berlari memeluk Mamak saya. Kerutan di wajahnya telah bertambah tapi masih tetap setegar karang dan sekuat baja. Kakak yang datang dari Belanda dan abang yang dari Australia sudah di rumah. Bagaimana saya tidak berbahagia pulang ke rumah. Sebenarnya saya baru makan BPK, tapi tiba di rumah melihat masakan mamak, tidak akan tahan, pasti pengen makan. Selalu ada ruang untuk masakan mamak.

Mulai dari Sopo (rumah adat) hingga pekarangan belakang masih seperti dulu. Ada sedikit renovasi untuk mempercantik dan memudahkan mamak saat bekerja di dapur. Dan yang tak kalah hebatnya, pohon mangga yang saya tinggalkan sudah berbuah. Waowww… luar biasa. Dulu saya pesimis kalau pohon itu akan berbuah. Rupanya sang waktu memberi saya jawaban. Bukan mangga ternyata kueni apa bacang lupa saat saya konfirmasi ke mamak.

Geva tak tahan melihat air dalam ember, okelah saya izinkan dia berenang dalam ember. Air di Baruara aih mak, dinginnya persis seperti es. Brr….. Abang dan keluarga tiba dari Dumai, rumah makin ramai. Bertemu pertama kali dengan Anggy, ponakan yang pintar. Bertemu dengan Holy dan Geby yang luar biasa hebat dan pandai. Dan Geva bertemu dengan paribannya ini untuk pertama kali. Kadang Geva mau ditinggal dan bermain besama sepupunya, kadang juga tidak. Bahkan saya harus menggendong kemana pun. Sebab ia butuh waktu untuk beradaptasi dengan tempat dan orang baru. Malam hari datang lagi kerabat dari Pakam, inanguda dan Rony, ada juga Bapauda dan Inanguda Grace. Tambah ramai lagi, datang lagi namboru dan amang boru dan pariban dari Medan. Lama sekali tak berjumpa dengan mereka. Bertemu iban kecil Moses. Hello Moses, welcome! Malamnya kami tidur secepat mungkin sebab pagi-pagi benar harus sudah bangun untuk dirias.

Hari kedua, 6 Agutus 2016

Jam 4 pagi mulai adegan merias terus menerus sampai semua selesai sekitar jam setengah 8. Inilah pengalaman saya dengan salon Toba. Mereka sudah tiba di rumah jam setengah 4. woww, tepat waktu juga ya. Tapi kayaknya mesti belajar banyak bagaimana menghadapi klien atau customer. Saya yakin mereka ahli dalam hal merias, mereka juga punya pelanggan yang amat banyak, dan jam terbang tinggi. Sedikitpun saya tidak meragukan itu. Congratulation guyss!!!!

Tapi…..

Sangat jauh berbeda saat saya memakai jasa salon di Jakarta maupun di Medan. Amat sangat jauh.

Kasus 1: Riasan mamak, saya liat itu tidak sesuai buat orangtua dan jelek banget terutama di bagian alis dan bibir. Saya tidak terima dong ya, ini mamak saya, yang punya hajat loe rias begini. Itu di benak saya. Secara reflek saya nyelutuk “ko lipstiknya kayak itu?” serius ga banget dah…. Yang merias memasang wajah kusut tak terima diprotes. Mungkin dia menyadari betapa buruknya hasil riasannya terhadap mamak dan ia pun akhirnya mengubah walau tak sebagus ekpektasi saya. Saya juga ga setuju dengan alis yang dia bentuk untuk mamak. Udahlah saya biarkan saja.

Kasus 2: Kakak saya mau dicukur alisnya tanpa persetujuan. Itu kan belum tentu diterima oleh yang bersangkutan. Saya ingat betul memakai jasa salon di Medan, periasnya meminta persetujuan saya, apa boleh dicukur. Di Jakarta juga sama. Bahkan saya pernah nieh di salon Jakarta “Gimana Ka, cocok ga?” karena ada yang kurang pas, saya menjawabnya lama. “Gpp ka, kasi tahu aja, nanti saya perbaiki”. Kan kalau tukang salonnya begini enak ya. Dia juga makin mahir menangani orang dan yang paling penting, pelanggan ga kapok balik ke sana.

Kasus 3: Bulu mata, nieh perempuan kalau ke salon emang ribetnya selangit dah. Kakak saya kan pake kacamata, bagi dia ga perlu pakai bulu mata karena kan kena kaca matanya. Dia jelasin ke tukang salon. Sama dengan inanguda Yani, yang juga pakai kacamata. Trus ga nayaman kan, tau ga itu tukang salon jawab apa ” Kalau ga mau ga usah pake salon lah”. ya elah, bu bu… gitu doang udah kebakaran jenggot.

Kasus 4: saya merasa dia memasang bulu mata saya yang sebelah kanan terlalu ke kiri dan saya tidak nyaman. Dengan berat hati dia memindahkannya. ok, bagus dong ya dia tampung aspirasi saya. Nah saat selesai dirias ternyata dia pasangnya terlalu rendah. Jadi ga sama lentiknya dan itu kentara. Saya bilang dong sama tukang salonnya, “Ka ntar tolong benerin ya ini ga sama tingginya”. Lalu saya coba perlihatkan padanya dimana ketidakcocokannya. Perias menjawab, “tadi katanya terlalu ke kiri”, ya ilah….. sekarang masalahnya bukan telalu ke kiri lagi keles….Melihat mukanya yang sudah mutung tingkat kakap, udahlah ga usah diperbaiki. Sebel banget saya..  Udah ilfil.

Biasanya kalau tukang salon kalau sudah selesai kita akan diperlihatkan hasilnya lalu ditanya, bagaimana apakah ada yang kurang atau apalah. Ini sama sekali tidak ada. Perbaiki sedikitlah ibu -ibu tukang salon. Kita salon bayar, tapi tidak happy dan tidak akan kembali. Juga tidak akan merekomendasikan ke siapapun. Saya yakin kalau dia nyalon di Jakarta macam gituan, ke laut aja. Semoga membaik ke depannya ya ibu-ibu yang super hebat…

holy
Kak Holy sedang dirias mewakili semua keluarga ya. Abisnya kesan tak enak dengan perias

Hari H pesta begitu riuh dan sibuk. Rentetan upacara pemberkatan maupun adat dimulai. Saya yang sedang mengusung misi utama dari Jakarta berfoto sebanyak mungkin dengan kerabat maupun teman lama tak satu pun terwujud. Sibuknya setengah hidup. Boro-boro mau foto liat hp aja ga sempat. Beughhh…. Untung masih ingat nafas. Namanya pesta Batak ya, apalagi masih original di daerah asal jangan harap cepat selesai. Emangnya pesta di Jakarta, jam 5 sore sudah rampung. Satu lagi pesta Batak ga bakalan bisa sempurna dan menyenangkan bagi semua orang. Ga di kampung, ga di Jakarta yang saya kira dimana pun PASTI ada saja yang kurang kalau jadi suhut (yang punya hajat). Jadi ya biar saja, berusaha memberi yang terbaik. Itu saja. TITIK. Acara adat baru selesai malam hari sekitar jam 8 malam tamu undangan sudah meninggalkan arena pesta. Dilanjutkan makan bersama dengan dongan sahuta. Untung dua gadis remaja cantik Ranti dan Juni mau membantu jadi pekerjaan terasa lebih ringan kalau tidak, pingsan dah. Pesta berakhir tanpa foto dengan siapapun. Misi gagal. Belum lagi Geva demam. Lengkaplah. Malamnya masih ada lagi diskusi keluarga perihal pesta hingga larut.

Hari ketiga, Minggu, 7 Agustus 2016.

Pagi-pagi benar saya sudah niatkan harus bangun pagi menyiapkan sarapan pagi. Rupanya saya terlambat bangun, sudah jam 6 pagi. Mamak sudah bangun pagi-pagi benar. Inanguda juga sudah beberes rumah.  Secepat mungkin harus menyiapkan sarapan pagi. Malam sebelumnya saya sudah cek stok apa yang bisa dijadikan sarapan. Walau tak sepenuhnya sama dengan rencana semula berubah berkat ide adek pengantin baru. Secepat yang saya bisa saya kerjakan semua. Tada….. akhirnya tersaji juga makan pagi ala kadarnya. Lumayan… Sebab amang boru, namboru, inanguda, bapauda dan sepupu lainnyan akan pergi ziarah ke makam opung kemudian langsung berangkat menuju Medan. Jamuan makan siang di hotel ompu Herti di Lumban Silintong pun tanpa kehadiran mereka tapi Inanguda Pakam masih ada. Nantulang dan kedua puteranya turut meramaikan.

Kami mencoba naik boat bebek. Idih dasar parno akut, takutnya setengah mati. Sulit menikmati. Maunya cepat cepat kembali. Tidak demikian dengan yang lain terlihat begitu antusias. Apalgi Geva dia pengen mencelupkan tangannya ke danau saat boat melaju seperti sepupunya yang lain.

Belum berakhir, lanjut dengan naik kapal ke hotel Tiara Bunga. Yang ini pemandangan mantap pisan. Kayaknya betah berlama-lama kalau liburan di sini.  View langsung ke Danau Toba yang super aduhai. Siapa yang tak mau. Namun tak bisa berlama-lama sebab kapal harus segera kembali untuk mengangkut penumpang.

Acara dadakan muncul saat hendak meninggalkan rumah makan. Kami bersepakat meluncur ke Baba Udan kampung halaman Mamak. Astaga….. sejuta kenangan manis tertulis disana. Teringat bagaimana kami ke rumah oppung di Sibarani berjalan kaki melintasi perkampungan. Terkadang kami ke sana naik mobil mengunjungi Oppung boru (Nenek) semasa hidupnya. Kami semua saling melontarkan kenangan bersama Opung di rumahnya, bagaimana ia menata rumahnya, memberi sambutan pada kami. Ia sangat tidak punya, tapi setiap kami ke sana beliau memberi kami uang 25 perak dan sering sekali kami membawa pulang hasil bumi. Kami tidak akan saling menceritakan pengalaman ini kalau kami tidak mampir ke sana. Tidak banyak berubah. Rumah original oppung telah direnovasi menjadi lebih modern di bagian belakang, namun di bagian depan masih seperti dulu. Nantulang menempati rumah itu kini. Syukurlah supaya terawat. Jadi terinspirasi menulis part khusus untuk ini. Mudah-mudahan terwujud.

Hari sudah gelap, kami memutuskan kembali ke rumah, meninggalkan kampung halaman mamak yang tak akan terlupakan.

Ini adalah malam terakhir bagi kami di rumah. Tak selera makan karena masih kenyang, belum lagi kudapan nikmat ala Medan di sajikan di rumah nantulang. Tetiba, ada yang minta indomie rebus, kaena ingin sesuatu yang lebih hangat dan nikmat barang kali. Saya sudah membayangkannya. Kayaknya memang enak. Saya menawarkan diri untuk memasak, sekedar info aja, indomie yang saya masak enaknya beyond your imagination. Bukannya sombong, cuma sedikit pamer, tapi warung sebelah tidak menjual brand indomie namun brand lainnya yang mirip. Yang lain mengusulkan membeli bakmi. Jadilah bakmi dieksekusi. Karena mungkin terlalu malam, langganan yang biasa sudah tutup. Memang salah satu misi adalah menikmati bakmi di Balige yang super enak. Lumayan dapat walau tak seperti ekspektasi. Rupanya mereka pulang juga membawa durian. Berhubung sedang tidak musim durian, harganya pun mahal dan yang jual cuma satu orang. Kurasa saya makan durian paling banyak dan masih berasa kurang. Enak bo. Lain kali pasti bisa dapat banyaklah duriannya ya Tulang. Jadilah adegan makan bakmi dan durian. Minggu malam tidak terlalu begadang sudah terasa penat.  Geva yang sedang demam, malamnya menangis hebat. Hikkss… ada kali setengah jam. Haduhh… bo, jam setengah 2 pagi, coba bayangkan.

Hari keempat, Senin 8 Agustus

Kami berencana akan di rumah saja mengumpulkan stamina untuk perjalanan nanti malam ke Belawan, ditambah Geva masih belum fit. Rombongan Dumai pun akan segera bertolak. Maklum jauh sekali rumahnya, dan adek-adek harus sekolah esoknya. Sekitar jam 10 pagi mereka berangkat yang tentunya didahului poto-poto original artinya poto muka sesungguhnya tanpa riasan, idih… lecek juga muka ini ya. Kesibukan dilanjutkan mamak, merapikan barang-barangnya, lalu memasak arsik kesukaan kami. Enaknya tak tertandingi. SUPERRR.. Saya packing barang-barang. Tapi dalam sekejap sudah sepakat akan pergi ke pemandian air panas Sipoholon. Karena kami memang tak ada rencana bepergian, saya tidak menggubris obrolan itu. Lihat jam, masih cukup waktu. Konfirmasi jam keberangkatan masih sangat cukup. Lobi punya lobi diputuskanlah kami ikut tapi tidak ada adegan mandi. Kembali saya tidak membawa persiapan baju ganti.

IMG_20160808_095411_HDR
Sebelum berpisah dengan kloter Dumai

Tiba di Pemandian, lihat sana lihat sini yang bertepatan milik Kak Tanda. Yori yang sangat bersemangat mau nyemplung. Hebohlah…. mandi di kolam air panas. Geva tak kalah heboh merengek mau melihat ke kolam. Oke, saya bawa dong, ingat ya nak, kita tidak mandi. Rupanya dia nangis dan kekeh mau nyemplung. Tanya sana sini gimana nieh. Ya udahlah, saya bawa Geva nyemplung tanpa baju. Trus saya gimana? Ga bawa baju ganti. Untunglah ide cemerlangnya kakak keluar. Di situ kan ada jual celana pendek. Alhasil, jadilah saya nyemplung setengah badan, di pingir saja di bagian tangga. Geva udah mau ke tengah, kan iri dong dia lihat yang lainnya main di kolam ke sana kemari, sementara dia cuma ditangganya saja. Keluar dari kolam susahnya minta ampun…. Apalagi karena sedang tak enak badan cenderung rewel. Beughhh… kesabaran diuji. Satu yang menarik adalah, ada yang memesan indomie rebus termasuk si Tulang karena udah memang pengen banget malamnya. Saat makan dia bilang “ini yang aku mau tadi malam” pucuk dicinta ulam pun tiba. Dia makan dengan lahap. Hahaha…. Hari beranjak malam kami harus bergegas kembali ke rumah. Masih ada lagi adegan makam malam. Bah… aku ga lagilah.. Cukup sudah… Jam 10 malam, mobil datang dan akan membawa kami ke Belawan untuk melanjutkan perjalanan dengan KM Kelud menuju Jakarta. Mudik pun berakhir bersama orang-orang tercinta. Mudah-mudahan bisa berkumpul lagi dengan formasi yang lebih lengkap dan dalam suasana sukacita. Tuhan memberkati, aku cinta kalian semua. Sampai jumpa….

IMG_20160808_213943
Menunggu jemputan segera meluncur ke Belawan

Ini mudik paling fantastis kami dari tiga tahun ini. Terima kasih untuk semua keceriaan kita selama di kampung halaman. Karena itu selagi masih ada kesempatan, mudiklah. Sebab esok hari kita tak pernah tahu  apa yang akan terjadi. (Fin:rs/28816)

 

Advertisements

Published by

rosegevari

Menulis apa aja yang pengen ditulis

3 thoughts on “Mudik ke Baruara, Balige 2016”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s