Dearest Noel

Seminggu jelang natal tahun ini, hari-hari yang tak mudah kami lewati. Saya berteriak sekencang-kencangnya pada Dia yang empunya alam semesta agar kami bisa melewati ini. Saya pribadi tak bisa berbuat apa-apa dan hampir putus asa. Yang saya lakukan hanya pasrah, menangis, menjerit memohon sedikit belas kasihan Sang Maha Empunya. Saking pilunya, tak bisa saya jelaskan bukan berita kedukaan tapi sedikit tanjakan akan perjalanan hidup. Di antara segalanya saya pun semestinyalah memohon ampun pada Nya, ditoel sedikit hampir langsung putus asa, merasa paling menderita sejagad raya. Oh Tuhan ampunilah kecongkakan jiwa yang lemah ini. Pribadi yang amat sangat rentan kala derita itu datang. Ampunilah kami karena kebodohan dan tidak tahu diri kami.

Waktu terus berputar tak banyak yang berubah, hingga hari menjelang malam kulihat pekerjaan Tuhan yang membawa kebaikan bagi kami. Hanya dengan melihatnya tidur pulas saja kegirangan hatiku bertambah-tambah. Oh, Tuhan betapa Engkau sangat baik, kalau bukan pertolongan Tuhan tidak mungkin. Karena kami sama sekali sudah tak berdaya. Terima kasih ya Tuhan Yesus, karena karya Penyelamatanmu atas kami, karena berkat yang tak berkesudahan bagi keluarga kami. Walau belum pulih tapi aku bisa melihat kemajuan pesat yang sedang mengarah ke sana.

Tak ada cukup kata mewakilkan bagaimana kebaikan Tuhan itu amat tak terukur bagi kami, dulu sekarang dan nanti.

 

Selamat Natal

image

 

Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa -Hebrews-

Advertisements