Tahun Baru Itu untuk “Kafir”

Nah lho, bingungkan sama judulnya. Tapi ngomong-ngomong soal “kafir” rasanya jadi kata primadona di Indonesia akhir-akhir ini. Yang paham anggukkan kepala. Kerap disebut-sebut dalam berbagai moment dan begitu menjamur di media sosial. Bahkan yang tak kalah viralnya salah satu akun, dengar-dengar sih pemilik akun adalah seorang guru bergelar master, jurusan psikologi dan bla bla, terang-terangan menyebut 5 pahlawan yang terpampang di cetakan uang baru Indonesia adalah “KAFIR”. Sanagt menggelitik ya ciutan si kawan ini yang katanya juga pernah jadi caleg dari salah satu partai. Duh, kalaulah para pahlawan bangsa mendengarnya apa katanya?  Semoga kita semakin menjadi manusia yang diridhoi oleh Pencipta sehingga akal sehat, nurani, logika tidak tertutupi oleh kebencian. Seperti Salomo dia hanya minta hikmat.

Saya membaca status salah yang menyebut tahun baru, tiup terompet bikin berisik, kembang api bakar-bakar uang. Mending tidur bala..bla bla. Lalu menguraikan sedikit pandangan petinggi agamanya. Intinya kaum kafirlah yang merayakan tahun baru. Pada bagian kalau malam tahun baru sama seperti malam-malam lain saya setuju, tapi jangan menghina orang lain dong. Bahkan yang berzikir pun dihina juga. Bingung saya, katanya kenapa ga zikir pada malam malam lain saja. Begini salah bagitu salah. Kalau tak suka tahun baru ya udah diam saja. Malah menyebar isu tak sedap.

Malam pergantian  tahun identik dengan kembang api, meriah, dentuman musik, minuman dan sebagainya. Kalau orang Batak terutama mereka yang Nasrani ini adalah momen paling berharga sepanjang masa. Dan buat kamu yang belum kawin tapi dianggap sudah cukup umur, inilah waktunya untuk disidang. Tapi semuanya itu diawali dengan ibadah singkat, berdoa bersama, mengucap syukur karena kasih karunia Tuhan menyertai sepanjang satu tahun yang penuh misteri.

Dimasa lalu, acara malam tahun baru adalah yang paling tidak kusuka. Karena seperti sidang, tapi kalau sudah lewat bagian itu giranglah hati. Dari enam bersaudara satu per satu kakak kakak saya meninggalakan rumah, satu persatu angota keluarga berkurang saat acara malam tahun baru. Di situ saya mulai iri dengan kakak kakak saya yang sudah merantau sebab mereka tak lagi disidang saat malam tahun baru. Hahah… Tapi masa-masa itu kini begitu dirindukan.

Buat saya pribadi malam tahun baru tidak begitu istimewa, sama saja dengan malam-malam lainya. Sama seperti hari ulang tahun, bagiku tak ada yang istimewa. Suami saya mengerti mengapa saya beranggapan demikian. Tapi saya tetap welcome dan melakukannya juga. Karena itu tidak mengurangi nilai apapun dan tidak mengubah saya menjadi lebih buruk. Yang lebih drama lagi kalau di orang batak, pas tahun baru loe ga berkunjung ke kerabat anu, ono, ini, itu, dianggap perbuatan tidak sopan, dikit dikit sombong. Haduhh. Hello…. Bisakah kita para Batak melebarkan pengertian dan pemahaman kita? Biar maju kita sikit. Cem betul aja.

Tahun baru, menjadi momen tepat memperbaharui komitmen, menguatkan visi dan misi pribadi. Biarlah kita menjadi pribadi yang semakin mengenal Allah, semakin serupa dengan Dia, dan bergantung pada kasih karunia.

Semangat….

Tahun baru 2017, komitmen baru, goals baru, niat dan itikad kuat, menjadi lebih baik, meraih impian.

Salam

 

image

 

Advertisements

Published by

rosegevari

Menulis apa aja yang pengen ditulis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s