Meniup Gema Karma

Layaknya aliran sungai pemuda-pemuda dengan usia belasan itu tiada henti mengarahkan trik untuk mendapat perhatian dari dia yang berparas ayu serta senyum memawan.  Sekalipun balasan yang mereka terima sebentuk wajah dengan kedua ujung bibir ditarik ke arah yang berlawanan ala kadarnya berdurasi hitungan satu detik. Ditambah lagi ia tak terlihat dekat dengan pria dan tak ada perhatian lebih ke salah satu jejaka kampung. Dorongan oleh rasa penasaran memberi energi untuk terus mendekati si perempuan jelita.

Heningnya malam dinikmati Bella dengan iringan nyanyian jangkrik. Esok semua akan berbeda baginya. Desahan nafas panjang terdengar,  apa gerangan yang sedang melanda gadis lugu yang usianya tak lama lebih jumlah jemari tiga tangan. Kumandang sholat subuh pun belum lagi tersiar. Beberapa potong pakaian dalam buntalan sarung, sedikit nasi berlauk tempe sisa tadi malam. Kedua perempuan anak beranak itu melangkah semakin jauh hingga tak nampak lagi, rimbunan pepohonan seolah menelan mereka hidup-hidup.

Dan rumor pun menetas satu persatu atas kepergian Bella bersama sang ibu yang telah berganti purnama. Pemuda yang pernah menaruh simpati pada Bella pun berlahan dilupakan. Derap langkah kaki kokoh berhiaskan guratan otot yang tegas.  Terlihat jelas betapa kuat dan mantap saat kedua kaki diihentakkan dengan ringan. Tekadnya bulat meninggalkan kampung halamannya.  “Bagus, jangan pergi!” terdengar suara wanita dewasa mencoba menghalangi anaknya meninggalkan rumah. Seperti usaha mencari angin, sia-sia.  , terus berjalan menjauh dari rumah yang telah menjadi naungannya sejak lahir. Ia yang menjadi tumpuan keluarga tak lagi dirisaukannya, sebab baginya Bellalah yang menghidupkan dunia.

Bergantian nama hari berlalu, senyap kabar pemuda itu. Misteri ini membangkitkan ketakutan hebat di kampung Jati Kembar. (Bersambung…)