Kebun Sebelah (6)

Keriuhan tak terbendung. Warna balai seketika berubah menjadi amarah yang meletup-letup di beberapa titik. Di deretan kursi pejabat hanya terdiam, seakan apa yang terjadi wajar dan biasa saja. Hancur berkeping-keping. Oh tidak. Luluh lantah? Tidak. Bukan itu. Tak ada kata yang bisa menggambarkan bagaimana isi hati istri Nabot. Mungkin lebih tepat, musnah. Bak jenis mahluk yang hilang dari peradaban. Tak bersisa lagi. Dunia sungguh tidak adil. Lidahnya kaku, aliran darah berhenti, dan berharap ini hanya mimpi buruk sesaat. Iya ini tidak nyata. Wanita itu mencoba menaikkan tingkat kesadarannya.

Teriakan tak berhenti dimana-mana. “Bebaskan Nabot! Bebaskan Nabot..” Kerumunan lain entah datang dari mana sudah ada berkumpul orang banyak satu suara, bersepakat dengan lantang berseru “Hukum Nabot!!Hukum Nabot!!”

Tak ada yang mengenal mereka. Apakah mereka musuh Nabot dari luar Rakasalun? Ini sungguh di luar nalar sehat. Di Kota Yedisalun, siapa yang tidak tahu Nabot. Kebaikan hatinya sudah jadi rahasia umum. Tapi itu cukup berhasil menggoyahkan kepercayaan orang-orang terhadap Nabot. Kalau ternyata selama ini, sandiwara yang dimainkannya. Tak butuh waktu lama, semakin bertambah golongan mendukung Nabot dihukum. Apakah ini semacam penyakit cacar yang dengan melirik saja tertular? Ibu dari anak-anak Nabot pun seperti dalam pusaran medan magnet, semakin lama semakin tertarik ke pusat. Mulailah orang memaki, meludahinya dan tuduhan-tuduhan pun melayang. “Dasar dursila! Pura-pura baik! Kamu pantasnya mati!” Salah seorang mendekat sambil menjitak wanita itu.

Prajurit membelenggu tangan dan kaki Nabot, mengiringnya ke luar balai pertemuan. Dicari wajah istrinya, wanita yang teramat ia cintai. Akhirnya tatapan mata itu berhenti, tapi mengapa wajahnya penuh luka? Rambutnya yang indah menjadi serampangan? Amarahnya tak tertahankan, namun hanya air mata yang mampu ia kerahkan. (Bersambung)

#30DWC

#30DWCJILID15

#day10

Advertisements

Kebun Sebelah (5)

Pembawa pesan kerajaan berpencar ke sudut-sudut kota Yedisalun dimana Nabot tinggal. Pemuka-pemuka, tua-tua kota terkejut mendapat surat dengan stempel raja yang tiba-tiba. Apalagi isi perintah menghabisi Nabot, seorang yang taat tak bercela. Bahkan orang banyak menyukainya. Tapi tak mampu mengelak. Akan membahayakan bagi jabatan dan kesejahteraan mereka.

Disiarkanlah maklumat baginda raja bagi seluruh rakyat Yedisalun agar berpuasa. Adalah kebiasaan Negeri Rakasalun mengadakan puasa publik untuk menengok dan menemukan sumber kejahatan yang membuat Tuhan murka.

Para Pemuka dan Pejabat sudah mengambil tempat di bagian depan. Sedang seluruh penduduk memenuhi ruangan. Tunggu mengapa Nabot duduk paling depan? Keriuhan dimana-mana. Semua yang hadir berbicara satu sama lain, bertanya jawab apa yang terjadi.

Nabot pun demikian dan seolah-olah dirinya sorotan setiap pasang mata yang ada. Sangat tidak nyaman bagi pria paruh baya itu berada di depan. Berkali-kali ia membenarkan posisi duduknya, mengamati orang-orang di sekitar. Tak luput ia memandang wajah istrinya yang teramat pilu bak seorang yang berkabung mengantar jenazah ke liang lahat. Tapi Nabot memberi isyarat dengan gerak bibirnya “Tenang, semua baik-baik saja.” Sedikit pun tidak mengurangi kegelisahan wanita yang telah mendampingi Nabot selama lebih dari dua dasawarsa. Semestinya tak ada alasan baginya untuk mengatakan ‘ada yang tidak beres di sini‘ mengingat riwayat Nabot yang bersih tanpa noda.

Hening sejenak seisi balai, di sudut kiri depan tampak satu di antara pemuka berdiri dan membuka suara untuk apa mereka di sana. Dua orang beranjak dari tempat duduknya, semakin membuat gusar dan membangkitkan rasa penasaran hadirin. Mengambil tempat di hadapan seluruh yang hadir. Dengan membungkukkan badan mulai berbicara “Ampun tuan, kami ada adalah saksi bahwa orang itu telah menghujat Tuhan dan raja!” Tangan pun menunjuk ke arah Nabot. (Bersambung)

#30DWC

#30DWCJILID15

#DAY9

Kebun Sebelah (4)

Sial, aku harus menolak makanan kesukaanku ini. Mulut tak mau mengunyah apapun.  Raja berkata pada diri sendiri. “Bawa keluar!” setengah berteriak sambil menjulur jari telunjuk ke arah luar. Sekejap para pengawal raja dan dayang dapur bergegas membereskan semua hidangan seraya undur dari hadapan raja. Sedang raja masih murung tak berselera.

Permaisuri memberanikan diri mendekati raja, “Yang Mulia, izinkan hamba bertanya. Sekiranya pertanyaan hamba dianggap tidak patut, biarlah tuanku raja menghukum hamba”. Wajah memelas dipasang membuat raja merasa iba.

“Permaisuri, mengapa engkau berkata demikian. Apa yang hendak engkau tanyakan. Seisi negeri ini pun akan kuberikan padamu.” Sambil merangkul istrinya dengan satu tangan.

“Yang Mulia, saya pantas dihukum mati. Saya tidak mampu mengemban beban ini. Jika makan saja Yang Mulia menolak, apa yang akan terjadi dengan negeri ini?”

Terlihat emosi raja mereda, tersentak mendengar ungkapan sang istri. Ia tak sanggup memandang wajah permaisuri yang memelas dan merasa bersalah. Raja menghela nafas panjang, menatap wajah permaisuri, ia pun menguraikan gejolak apa yang ada dalam pikirannya perihal kebun anggur Nabot. Dengan cermat permaisuri mendengar dan berbagai adegan seperti sedang menari-nari di benaknya. Bagaimana mungkin Si Nabot brengsek rakyat jelata berlaku demikian pada Raja. Sambil memegang gaun indahnya ia menjawab raja, “Yang Mulia, saya akan mendapatkannya untuk Anda.” Ada nada tegas, geram, tegas bercampur yakin ia pun mohon diri.

“Nabot…? Siapa dia?” Nadanya semakin penasaran. Ia memanggil seorang utusan agar mencari tahu segala sesuatu tentang Nabot. Bukan perkara sulit bagi utusan raja kalau hanya sekedar mengetahui latar belakang seseorang. Nabot, tidak ada yang istimewa. Tidak pernah berkasus kriminal, tidak ada catatan pelanggaran hukum, ia membayar pajak dengan tepat. Kalau boleh dibilang, Nabot ini warga negara yang baik tanpa cela. Bahkan di silsilah leluhurnya pun tak ditemukan catatan pelanggaran. Harusnya Nabot bukan tipe orang yang menentang raja. Permaisuri mulai mencari-cari akal. Memutar otak, mencari cela Nabot untuk dijadikan kasus. Rupanya perkara ini tidak semudah yang permaisuri kira. Ia berjalan mondar mandir, menatap ke kebun anggur sebelah istana, melemparkan pandangannya jauh melintasi cakrawala. Berpikir keras nampak dari raut wajahnya. Sesaat kemudian, wajahnya berseri, ada perasaan puas dan bangga di balik senyum itu. (Bersambung)

 

 

#30DWC

#30DWCJILID15

#DAY8

Kebun Sebelah (3)

Waktu berjalan, rumor pun mereda. Nampaknya raja sudah tak lagi menghiraukan kebun anggur itu. Di dalam istana tidak demikian. Raja Ahab mulai merajuk, tak senang, gampang marah, dan mogok makan. Sungguh tak sepadan dengan tahtanya, jubahnya, istananya apalagi kemegahan istana kediamannya. Lebih cocok disandingkan dengan anak kecil minta mainan pada orangtuanya tapi tak dipenuhi. Si Anak akan mulai menangis, melempari barang, berteriak dan tindakan lainnya. Padahal Ahab seorang “Raja”, ia penguasa negeri Rakalasun yang terkenal dengan kekayaanya, kemenangan di medan perang dan kelihaian raja berdagang dengan wilayah lain. Tidak ada yang mampu menyaingi.

“Siapkan hidangan terbaik untuk Raja!” Seru Permaisuri kepada Panglima.

“Baik Yang Mulia.” Jawabnya dengan penuh hormat.

Sesudah berbisik panglima kepada permaisuri, hidangan pun dibawa masuk. Para dayang istana dan kepala juru masak dapur istana turut menyaksikan. Semua ingin tahu apakah raja akan makan setelah beberapa hari menolak semua makanan?

“Yang Mulia, silahkan makan. Ini masakan terbaik istana. Saya khawatir kalau kalau Yang Mulia jatuh sakit” permaisuri membuka suara dengan nada memohon. Raja tak ingin menolak mentah-mentah permohonan istrinya ia pun berbasa-basi menanyakan apa yang disuguhkan kepala juru masak.

“Daging rusa muda dimasak dengan cuka kesemek yang difermemtasi selama 3 dekade. Baik untuk stami a Yang Mulia. Ada juga saos kacang kenari juga cocok untuk pencernaan Baginda Raja,  selain itu, aroma khas dan rasa manis yang muncul berasal berasal dari manisan nenas yang dipanen tepat bulan Juni, sehingga kadar airnya lebih sedikit dan baik untuk ginjal Yang Mulia. Hidangan ini akan membuat Yang Mulia merasa lebih tenang dan rileks karena rasa dan bau yang dimunculkan memberi keindahan rasa makanan.”  Nada bicara pria paruh baya itu tenang dan yakin.

“Sepertinya kepala juru masak istana ini berpendapat kalau Raja Negeri Rakalasun yang masyur sedang berantakan. Begitukah?” terdengar setengah marah mendengar pemaparan kepala juru masak istana.

Seraya menekuk kakinya satu, dan lutut yang satu menyentuh lantai, menundukkan kepala memohon ampun kepada raja, kepala juru masak istana dengan rasa takut berkata, “Ampun Yang Mulia, hamba mohon ampun. Tidak sedikit pun hamba berniat demikian. Mohon ampuni saya yang mulia!” Hingga dahinya menyentuh lain ia bersujud menyembah kepada raja. (Bersambung)

 

 

30DWC

#30DWCJILID15

#DAY7

 

Kebun Sebelah

“Maafkan tuan, saya tidak bisa menjualnya. Itu warisan turun temurun, saya akan jadi anak durhaka kalau menjualnya. Sekali lagi saya mohon ampun Yang Mulia.” Sambil menunduk kepada raja. Raja kesal dan ia merasa terhina oleh Nabot yang menolak menjual kebunnya pada raja. Belum pernah ada yang berani menolak keinginan raja apalagi untuk orang seukuran Nabot. Ia menjadi muram, bahkan menolak untuk makan karena kebun sepetak yang ditolak Nabot. Izebel, -istri Raja Ahab- mencari tahu penyebab suaminya berubah drastis. Juga merasa kesal pada Nabot, disuruhnya orang mengumpulkan semuainformasi soal Nabot. Akhirnya ia pun menyusun strategi agar Nabot menyerahkan tanah itu kepada Raja Ahab. Rencana yang disusun sangat rapi dan detail, diperhitungkan dengan sangat matang, resiko sekecil apapun dianalisis, setiap reaksi diprediksi dengan sempurna. Istri raja ini pun mulai melakukan aksinya. Mengembalikan keceriaan suaminya.

*

Satu tahun sebelumnya.

Raja Ahab akan pergi berburu. Tidak ada yang salah, semua sudah siap berangkat. Tatapan Raja Ahab mengarah ke kebun Nabot yang berada persis di sebelah istananya. Tak mampu ia menahan diri. Sesuatu yang aneh dirasakan ada di dalam kebun itu. Raja Ahab belum paham. Rombongan itu berjalan dan meninggalkan duri di hati Raja Ahab. Semenjak itu, tak berhenti ia memandang kebun itu. Akhirnya Raja Ahab mencari tahu siapa pemilik kebun itu. (Bersambung)

 

#30DWC

#30DWCJILID15

#DAY5

Sebab Aku Bodoh (Part 4 – End)

Si domba bodoh bak memiliki kekuatan super. Berjalan pincang tak menghentikan langkahnya mendatangi darimana asalnya suara si gembala. Seraya terkena sihir dengan jimat kekuatan turbo. Tapi masih saja kebodohannya mengambil peran. Ia menabrak batang pohon karena berlari tak karuan. Bukan mempercepat langkahnya itu malah membuatnya pingsan tergelat diatas tanah tidak sadarkan diri. Coba pikir bagaimana domba ini menabrak pohon lalu pingsan? Kebodohan apalagi ini?

***

Tak ada tanda-tanda apakah dombanya yang hilang masih selamat. Gembala berhenti sejenak, menarik nafas panjang meyakinkan dirinya bahwa ini tidak sia-sia. Domba yang lemah dan dungu masih hidup. Sekalipun ia bersuara lebih keras tak tak.ada sahutan yang ia dengar. Tegukan terakhir diminum olehnya dari sisa air yang dia bawa. Cucuran keringat membasahi dahi dan baju hingga jubahnya. Kemudian mata dipejamkan barangkali sedang mendengar suara hati arah mana yang harus dia tempuh. Mulai ada ragukah dalam diri si gembala. Dia melihat ke arah barat sesaat kemudian ia berpaling ke arah timur, ke arah utara,ah kebingungan si gembala membuat dia geram. Sekali lagi dia memejamkan mata meyakinkan diri arah mana yang akan ditelusuri. Terdengar desahan nafas panjang dan mantap ia melangkah ke arah tenggara. Tak jauh dari tempat dia berdiri, si domba yang hanya berjarak sepelemparan batu ke arah sebaliknya mulai tersadar dan terbangun. Sayup-sayup didengarnya suara gembala tapi tak cukup kuat ia menjawab. Lalu ia terdiam rebahan di atas tanah. Waktu berlalu, domba masih tergeletak. Sedang kawanan serigala mulai mengaum seakan-akan saling bertanya jawab kalau mangsa empuk ada di sini. Domba pernah mendengar suara serigala tapi tak pernah merasa setakut ini. Karena saat bersama gembala tak ada yang perlu dikawatirkan.

***

Ada sesuatu yang membuat si domba merasa hangat. Tubuhnya seperti diayun-ayun namun ia tak yakin dengan apa yang terjadi. Beberapa detik luka dikakinya terasa pedih dan dingin. Apakah itu nyata atau mimpi persisnya ia tidak tahu. Dia hanya menutup mata dan terlelap.

***

Keesokan harinya si domba membuka mata dan ada 99 ekor domba kawananya bersorak gembira. Si gembala tak kalah, ia sangat bersuka. Domba menangis dan tak percaya dengan keajaiban ini. Mimpi yang indah pikir si domba. Gembala menggendongnya mengangkatnya tinggi dan memeluk si domba yang hilang. Ternyata ia sedang tidak bermimpi. Ini nyata. Belum pernah ia sebahagia ini, dihampiri keajaiban yang dia pun tak yakin itu ada.

***

“Sesuatu mengubah arah langkahku”, ujar sang gembala tiba-tiba melihat anak domba yang hilang kebingungan, “tidak sengaja serangga masuk ke mata, aku mulai berputar putar tak jelas arah. Sejauh apa aku berpindah tidak tau pasti.” ia menjelaskan. “Ada bau domba tiba-tiba terasa. Dari situlah awalnya.” Si gembala menginjak tanah perlahan takut kalau kalau ada si domba yang hilang. Akhirnya ia menemukan sumber bau itu dan tanpa disangka-sangka itulah si anak domba yang hilang, hilang karena kebodohannya. Tubuhnya diselimuti, lukanya diobati dan dibalut kemudian digendong, dan dibawa pulang. Begitulah hingga domba merasa dirinya diayun-ayun. Gembala yang baik menjaga kawanan dombanya, dan dombanya mendengar karena mereka mengenal suaranya. (Fin:rs241018)

#30DWC

#30DWCJILID15

#DAY4

Sebab Aku Bodoh (Part 3)

Obornya masih menyala, untunglah persediaan minyak masih sangat cukup diantara kegelapan malam. Sesungguhnyan tak ada petunjuk arah kemana ia harus melangkah, ia hanya mengikuti kata hati menemukan si bodoh salah satu dari kawanan yang hilang. Hal terakhir yang diingat si gembala adalah saat ia membawa kawanan ke tepi mata air untuk minum. Di sana banyak juga kawanan lain. Karena mata air itulah satu-satunya yang ada di padang. Si bodoh satu ini tertinggal, terpisah dan tersesat hingga masuk ke hutan. Dan tiba saat memeriksa setiap anggota kawanan, hanya ada 99 domba. Dimana satu lagi? Sang gembala berangkat mencari si anak domba, tidak boleh ia dimakan binatang buas. Tanpa pikir panjang, ia membekali diri dan pergi.

***

Kebodohanku ini membawa malapetaka? Mengapa aku sangat bodoh? Tuanku gembala datanglah… Kata si domba dalam hati. Ia tak tau apa-apa. Setiap hari makan di padang, minum di mata air, berjalan ke sana kemari, dan yang dikenal satu-satunya hanya si gembala, ia sangat hapal dengan suara itu, seperti senandung alam membuai bumi. Begitulah si gembala, kadang ia memainkan serulingnya dan itu amat menenangkan, kadang ia membaca puisi yang dia tulis sendiri, itu pun terasa sedap sekali pun tidak ada kawanan yang mengerti. Dan seperti ahli bela diri, tak dibiarkannya satu pun dari kawanan terluka saat berhadapan dengan pemangsa. Si bodoh yang lain pernah terluka karena dungu ia masuk ke lobang. Kakinya hampir patah, dan tanpa ocehan sedikitpun ia merawat, membalut lukanya, dan menggendong. Itu belum seberapa. Pernah ia harus menggendong tiga ekor domba yang bodoh karena terinjak-injak kawanan lain di mata air. Lihatkan betapa bodohnya kawanan domba itu.(Bersambung)

#30DWC

#30DWCJILID15

#DAY3