Menepi Bingkai (3)

Lavender artificial pemberian Dilan sudah lama menghilang, menghilang dari kehidupan Deli. Apa karena ia masih sendiri sehingga ada hasrat yang sangat mengelitik rasa ingin tahunya? Mungkin ada harapan bagi Deli dan Dilan jadian lagi. “Dan mengapa juga aku memikirkannya.life must go on.” ujarnya pada diri sendiri tanpa disadari tengah melamun tentang Dilan. Ia memutuskan tak lagi peduli, menjalani hidup dengan normal, menanti pangeran tampan yang bersedia menerima dirinya.

Pulang kerja, Deli mampir di toko buku bersama sahabatnya Sarah. Mereka terlihat sibuk membolak-balikkan halaman buku yang mungkin tak akan dibeli. Beralih ke rak buku lain, dan akhirnya mendarat di tumpukan buku diskon. Masih sama, belum menunjukkan minat yang berarti. Sarah beredar entah dimana, dan Deli memaksakan kakinya mencari. Ternyata ada di lorong alat tulis sedang diskusi dengan anak berumur sekitar lima tahun tentangtentang apa yang paling bagus. Si gadis kecil berencana membeli hadiah kecil untuk seorang teman. Tak berselang lama, sosok pria bertubuh tinggi, lengan kemeja biru langitnya digulung sesiku, celana kain berwarna gelap lengkap dengan sepatu pantofel hitam mengkilat. Wajahnya bersih, berseri dan menawan. Alunan langkah kakinya menghampiri gadis kecil menanyakan apakah ia sudah memutuskan akan membeli apa.

Deli, menahan nafas. Dalam jangka waktu sepersekian detik ia menghilang bersembunyi di balik rak. Hampir saja ia roboh karena lututnya bergetar. Detak jatuknya dipacu semakin cepat. Hampir pecah…! Pria itu sangat mirip dengan Dilan. Ah tidak! Itu adalah Dilan. Ia sangat yakin itu Dilan.  Dilan Riyanto. Lalu gadis kecil itu? Sudahlah. *** ( Fin:rs/291218)

 

Advertisements

Menepi Bingkai (2)

 

Ia tersihir oleh sepotong tulisan hiasan dinding, berbingkai biru toska, latar belakang hamparan bunga lavender ungu menawan dengan tulisan indah dibagian sudut kanan atas “Begitu Indah” ditulis dengan font Embassy BT.  Hanya dua kata namu sarat makna. Brnar, tidak salah lagi itu salah satu judul lagu grup band bernama “Padi”. Anak 90-an pasti tahu siapa mreka. “Ibu Risma… Ibu Risma?” panggilan suara pelayan toko memaksanya berhenti berkelana, gilirannya tiba mengambil pesanan atas nama Risma, teman di gereja. Ia terus bertanya-tanya apakah itu si Dilan brengsek yang dulu digilai oleh Deli semasa SMA.

 

****

Minggu sore sekitar pukul setengah 6, Dilan tiba-tiba sudah duduk di ruang tamu tanpa pemberitahuan apapun. Maklumlah masa itu yang namanya telepon PSTN langka, boro-boro smart phone telepon genggam pun belum ada. Deli tiba-tiba membujur kaku tak percaya pada penglihatannya sendiri. Cowok yang disukai Deli sekarang ada di rumahnya. Tentu ini tidak nyata bukan? Pikir Deli yang masih kelas 1 SMA. What a hell is this? Tanpa sengaja ia mengumpat dalam hati. Rasa malu mengerogotinya karena saat itu rumah sedang dipenuhi kerabat dari pihak ayahnya yang nota bene sebelas ersaudara ada di situ lebih dari separuh lengkap dengan keturunannya. Di antara rasa kesal yang menjalar ada rasa bahagia yang terselip, rasa senang yang tak biasa, rasa marah karena Dilan datang di saat yang tak tepat. Pertemuan singkat yang kikuk tanpa status pacaran. Tapi didatangi cowok yang kamu suka ke rumah, tidak terkatakan senangnya. Dilan berpamitan, sebelum benar-benar beranjak ia menarik tangan Deli, yang membuat jantung perempuan itu hampir meledak, terperanjat menahan nafas beberapa detik, tahu-tahu di tangannya sudah ada bunga lavender lengkap dengan potnya dengan kartu berwarna biru toska “Begitu Indah”, inisial D, ditulis dengan tangan dan terlihat sangat manis.

 

Rasa penasarannya tersedot dalam jumlah besar akan toko kue di pojok jalan. Ingin sekali ia kembali ke sana bak intel menanyakan perihal pemilik toko. Gejolak rasa ingin tahu semakin terusik, apakah itu Dilan brengsek di SMA atau hanya kebetulan saja. Sesungguhnya tak ingin Deli mengingat lagi kenangan itu. Ia pun mencoba mencari tahu di sosial media namun hasilnya nihil. “Miss Deli…!” Serombongan anak murid yang diajarnya memanggil menyadarkan guru wanita itu kalau buku yang di depannya tak berpindah halaman. Jam istirahat mengharuskan guru terutama wali kelas berjaga-jaga di antara anak murid yang bermain ke sana kemari, karena tentu saja rawan cedera, iya kalau orang tua murid tidak komplain, kalau komplain bisa panjang. Tapi hari itu Deli hanya duduk di kelas. “Edward up Miss…!” sambung Chris anak murid yang imut dan lucu dengan wajah penuh keringat.

Yes Miss, I see he up!” celutuk yang lain dengan antusias.

Excuse me, say the magic word please…!” balas Deli . Seketika anak-anak itu terdiam dan berpikir sejenak.

Excuse me, Miss Deli!” Calista memberanikan diri.

Yes Dear…Do you want to say something? Don’t forget to show your big smile.” Sekaligus dipraktekkannya di hadapan anak-anak.

Calista menyahut sambil tersenyum “Edward go up Miss!

You mean Edward is going up stairs?

Yes Miss, I want to say that.

Ok repeat the correct one please.” Tanpa pikir panjang Calista pun mengulang tak lupa ia sambil senyum. “Thank you Calista. I got your point. I’ll ask Edward later.” Ia pun mengakhiri pembicaraan dengan anak-anak itu. Anak-anak gemar mengamati kesalahan temannya lalu mengadukan pada guru bersama-sama. Itu jadi makanan sehari-hari semua guru terutama yang mengajar pra sekolah hingga SD. Sepulang sekolah diputuskannya mampir ke toko kue, tidak seramai kemarin mungkin karena masa promo sudah habis. Ia bingung harus membeli apa dan untuk siapa? Deli melewati deretan kue, tak menunujukkan minat, ia lebih banyak mengawasi orang keluar masuk kalau-kalau hidungnya Dilan muncul ke permukaan. Kini ia ada di antara roti, sekilas dilihat juga tak mampu memikat seleranya. Dilan brengsek, ini kamu apa bukan? Dalam benaknya berkecamuk. (Bersambung…)

 

 

 

 

 

Menepi Bingkai (1)

Hiruk pikuk ibukota masih seperti kemarin, suara klakson kendaraan , dibumbui asap, erangan suara knalpot di perempatan jalan dan tentu saja para pengendara menunggu giliran menjadi lampu menjadi hijau hijau yang sudah gusar terburu-buru terbukti dari erangan motor yang ingin selalu di depan dan tanpa henti mengisi setiap celah di jalan meskipun itu sudah bukan area jalurnya. Semua orang terlihat terburu-buru setiap hari. Tak terkecuali Deli, memandang sekilas ke toko dekat sudut jalan mencoba menarik perhatian dengan tulisan grand opening, diskon semua kue dan roti hanya 3 hari. Banyak ucapan bunga papan di depan sepetinya pemiliknya adalah orang terpandang. Warna lampu berganti, motor pun melaju seketika berpacu dengan waktu.

“Pagi semua…!” sapa Deli saat masuk ke ruang guru.

“Morning” balas yang lain,”  Zǎo ān” si guru Mandarin membalas. Sudah ada beberapa yang hadir dan sedang sibuk diantara tumpukan buku, berkasr alat peraga dan benda-benda lain. Jam dinding menunjukkan pukul 06.15 pagi tapi sudah harus bersitegang dengan kertas-kertas. Desahan nafas  terdengar, pertanda akan dimulai hari yang penuh pertarungan. Menjadi guru di sekolah swasta tidak mudah, karena yang dihadapi bukan hanya murid tapi juga orang tua murid yang kadang jauh lebih intens. Bagiamana tidak, mereka membayar mahal tentu saja tuntutannya juga besar. Di sekolah negeri sepertinya tidak segitunya, gurulah yang punya otoriter. Kelas satu SD adalah murid yang diajari Deli.

 

Pelajaran hari itu berakhir dan Deli mendapati di mejanya sepotong kue ulang tahun. Itu memang hal biasa, sepertinya ada anak yang ulang tahun di kelas lain, guru pun ketiban. Deli jarang memakannya, tentu saja kue itu penuh kalori yang menakutkan tapi terkadang tak bisa mengelak kalau disuguhkan saat lapar yang dahsyat. Apalagi dengan umur yang tak lagi sedikit sebenarnya wanita yang kini bermumur kepala 3 itu tak lagi berminat pada semua jenis keik.

Guys, tuh anak gue ultah. Si Sharon. Enjoy the cake ya..!” Ujar Vina wali kelas 1B sambil berlalu membawa setumpuk kertas.

Thanks miss…!”sahut yang lain hampir bersamaan. Ruangan itu hanya untuk guru-guru kelas 1 dan kelas 2, karena 1 guru mengajar semua mata pelajaran utama. Bisa dibilang kelas 1 dan kelas 2 satu divisi. Deli tidak begitu memperhatikan kue jatahnya, karena ia akan memberikannya utuk mbak cleaning service atau kepada ibu penjaga kost. Tangan Deli meraih selebaran salah satu toko kue sepetinya toko yang tadi ia lewati. “Kue artis ya?” tanya Deli acak tanpa mengalihkan pandangan dari kertas berwarna dominan biru toska.

“Sepertinya sih nggak. Soalnya temanku termakan isu viral juga yang katanya enak trus diskon lagi. Kata dia nggak ada tanda-tanda.” salah seorang menjawab Deli

“Namanya mengundang rasa ingin tahu orang ‘D’Dilan Licious’, sepertinya demam Dilanku*” tambah Deli. ‘Gue sihn udah lama move on dari Dilan’ teringat dirinya akan mantan pacarnya bernama Dilan.

 

Mengingat Deli bukan pengemar kue jadi ia tak benar-benar menaruh perhatian. Sampai ia harus menginjakkan kaki dan menongolkan batang hidungnya di sana. Ia mendapat mandat mengambil pesanan kue untuk dibawa ke gereja. Desain interiornya sangat menarik, ada pajangan dinding berupa motivasi, gambar kue sepertinya yang akan membawa kebahagiaan, warna di dominasi putih dan etalease kue yang begitu apik, rapid dan mengundang nafsu makan. Dipandanginya sekeliling toko, ada rasa kagum dan wah. Deli tertegun, salah satu tulisan pajangan memaksanya kembali ke masa lalu, ke masa SMA. (Bersambung)

 

 

 

September-Desember

Jadi saya tulis saja apa yang menarik menurut pandangan
saya. Sekitar bulan September sampai awal Desember ini. Biar saya tidak lupa.
Pengen juga posting di sosmed, tapi saya kan orangnya bukan sosmed ya. Jarang update status dan posting. 

 

Kami mulai permainan berjualan. Awalnya Geva senang
berjualan baju, dia mengambil beberapa baju dari keranjang. Bahkan saat
bepergian ke kemana pun saya membawa beberapa potong pakaian agar kami bisa berjualan
di mobil. Lalu dia mulai beralih profesi menjadi dokter sekaligus pedagang
bantal, guling dan selimut. Maka terciptalah ritual baru, yang mengharuskan
berjualan sebelum tidur. Kadang saya sangat mengantuk dan tak ingin
melakukannya, tapi ia bersikeras saya harus membeli dulu jualannya baru boleh
tidur. Baiklah saya turutin. Ia juga memeriksa saya layaknya dokter dan memberi
obat. Hah.. Hiburan yang mempesona. Kemudian ia berubah lagi jadi penjual
siomay. Mungkin karena seringnya lewat penjual siomay di depan rumah dengan bunyi
khasnya. Mulailah ia berjualan siomay, sekali lagi saya harus membeli,
memakannya. Sesekali saya bilang tambahain sambal, ga pake kol dsb. Karena
siomay ada sambal kepedasan harus ada minum, nambahlah jualannya aneka minuman.
Tak lengkap rasanya penjual siomay tanpa motor, ia pun menciptakan motor
siomaynya. Dengan komposisi satu bantal di bagian depan dengan guling diatasnya
sebagai stang, dua bantal di tengah sebagai badan dan tempat duduk motor di
sampingnya satu guling sebagai ban/roda, dan di bagian belakang satu bantal
diatasnya satu guling sebagai panci siomay. Dan posisi ini harus tetap begini,
jika sempat ia tahu berubah alhasil ia akan marah dan menangis. Kadang motor
ini juga ia jadikan gojek, go ride di
mana kita harus order lewat aplikasi. Tak lupa ia memberi plat walau hanya
menempelkan sarung di bagian bantal. Awalnya kami mengira paling bertahan motor
ini sekitar 2 minggu. Karena apa semua bantal dan guling diambil alih olehnya
dan tak ada yang boleh memakainya. Hanya tersisa satu bantal dan satu guling.
Kalau ditanya tidur pake bantal apa, ia akan mengambil selimut “mama pake
selimut aja jadi bantal.” Bahkan ia tak jarang tidur di luar kasur motor
siomay itu, dengan ikhlas tidur di lantai memgambil lengan saya untuk dijadikan
bantal. Suatu kali saya juga memergokinya tidur di kasur lantai berbantalkan
selimut, karena segitu istimewanya motor siomay ini. Hingga bulan Desember
motor siomay masih belum tersentuh, jauh meleset dari dugaan awal yang hanya
dua minggu. Sekarang berjualan siomay hanya sesekali kami lakoni. 

 

Mainan kardus berukuran besar juga bertambah yang
tentunya memakan tempat, ada mobil balap, mobil serbaguna (truk sampah, truk
hidolik, truk berbak), belum lagi rumah bercerobong asap, mobil kecil. Bagi
saya itu sangat menarik, biarkan saja toh masa ini akan berlalu.

Kami bepergian ke pantai Pangandaran, dan saya tak kuasa
menahannya untuk terus bermain pasir. Huff.. sebenarnya ini ego saya yang malas
menggonta ganti bajunya, memandikan dan membersihkan. Tapi itu tak berhasil,
bermain pasir adalah yang terpenting. Persis saat kami ke Bali dan ke pantai
Ancol. Bahkan saat di rumah di Lebak Bulus juga, pasir dan tanah adalah sahabat
setianya. Sayanya paranoid, di situkan ada kotoran kucinglah, kotoran tikuslah
dan sebagainya. Sangat menyenangkan melihat dia bermain di pantai. Ia sangat
bahagia. Dan ia sangat ingin lagi berkunjung ke pantai. Papanya pun mengobral
janji kalau Desember nanti akan ke pantai Ancol. Kemudian yang terjadilah
adalah setiap bagun pagi ia menanyakan “ma sekarang bulan berapa?” Saya jawab
November. “Belum Desember ya? Nanti gelap bobo, trus bangn trus Desember
ya?”

“Belum nak, Desember masih beberapa hari lagi”
Tapi keesokan harinya ia tetap bertanya hingga bulan Desember itu datang. Saya
bilang iya ini Desember tanggal 1. Langsung dia timpali, “Kita mau ke pantai
Ancol ma.” sambil terus menerus ia melihat di aplikasi waze posisi pantai
Ancol dimana. “Hari ini kita belum ke Ancol bang, Kita mau ke Semper
Tanjung Priok, ada pesta pernikhanan.” Tau tidak diajawab apa, kita ke
Ancol dulu baru ke Semper.

“Tidk bisa bang, ke Ancolnya bukan sekarang.”
Mencoba mengalihkan topik, saya tekankan kalau perayaan natal sekolah minggu
tangal 15 Desember. Ia pun mulai menghitung hitung hari. “Sekarang tanggal
berapa Ma?” Tanggal 1 Desember. Trus tangal berapa?” Besoknya?
besoknya? terus hingga tanggal 15. Sepertinya ia sudah tidak sabar. Seperti
hari minggu lalu waktu gladi kotor, ia kira sudah waktunya perayaan, ternyata
masih latihan. “Ko tadi mama bilang mau Natal?” padahal ma di otak
saya iyalah kita mau Natal nanti tanggal 15, tapi “mau” yang dia
maksud adalah hari itu juga. Seperti saat bertanya di minimarket, Geva mau es
krim ga? Jadi saat berkomunikasi dengan anak, ia sudah menganalisa. Lain lagi
saat berbicara soal ulang tahun, “Geva nanti umur 6 tahun ulang tahun ya
ma?” Ia pun menghitung bulan, Desember, Januari sampai Juli. Lalu bulan Juli
dibedah lagi tangal 1 siapa, tanggal 2, karena tangal 6,7,8,9 dan 30 ada yang
ulang tahun. Ia memastikan bahwa namanya disebut dalam list yang ulang tahun di
bukan Juli.

 

Musim penghujan tiba, dan untuk pertama kalinya Geva
bermain hujan. Tak terkatakan betapa senangnya dia, ia tertawa bahagia, ia
menikmati air hujan yang kena ke kulinya, berlarian ke sana kemari diantara
hujan, merasakan bulir air hujan masuk ke mulutnya, kebahagiaan tiada tara.
Sejak itu ia masih pengen lagi main hujan. Hanya saja kalau hujan hanya sedikit
tidak deras maksimal, main hujan tidak akan seru. Atau saat amlam sudah tiba maka
tidak saya izinkan. Jadi beberapa kali ia sudah main hujan masih terpesona.
Barkan saja, masa ini pun akan berlalu tanpa saya menyadarinya.

 

Peayaan Natal segera tiba, dan kembali Geva dapat
liturgi. Kali ini dalam bahasa Bali. Seperti biasa ia sangat cepat menghapalnya
tapi masih terhambat saat mengucapkan di depan. Haduhhh…ini kali ketiga. Semoga
tahun ini berhasil… Ayo nakku… *** (Fin/rs:41218)