Kebaruan Menjelma

Antara nyata dan maya, bisakah kamu membedakannya? Jangan tertawa saat kubilang ‘tidak’ karena memang demikianlah adanya. “Maukah engkau menikah denganku?”. Eitss tak perlu terkesiap begitu. Aku sedang tidak melamarmu. Meski engkau masuk kategori jomblo akut. Bersabarlah… Tuhan sedang mempersiapkan seseorang yang tepat bagimu serta waktu yang presisi.

Masa lalu, saat aku melamar seorang wanita. Kata-kata itu terucap begitu saja. Berkali-kali aku mencoba mengatur waktu, yang ada kubra. Malam datang, gema azan isya baru saja lewat. Kutangkap dengan bola mataku sesosok wanita. Tak ada riasan mencolok di wajahnya, rambut sebahu diikat ekor kuda, kaos oblong berwarna hitam, celana jeans biru laut, sepatu kets abu-abu bergaris warna toska. Entah apa sebab, ia seakan mempunyai magnet dengan daya tarik kuat pada rongsokan besi sepertiku, membuatku diam, terpana olehnya. Ia hilang bersama kerumunan orang menaiki bis kota. Beberapa kali kusengajakan dengan jam yang sama menanti dia datang. Apa itu? Dorongan yang kuat dalam diriku mendesak untuk bertemu lagi. Tak kuasa kutahan rasa ini, bayangan garis wajahnya begitu kuat melekat di benakku, padahal tak ada tambahan lem korea jualan teman-teman.

Setelah beberapa kali pengamatan, kuberanikan diri menyapa. Seperti dugaanku, ia mengambil jarak cukup jauh yang sebenarnya cukup bisa dimaklumi. Tampang preman, siapa juga yang mau.

Malam minggu itu, aku mengenakan pakaian terbaik, sepatu pinjaman dari teman buruh bangunan, dan tak lupa ia membawa seikat balon. Balon? Becanda kali? Sungguh, aku membawa balon.

Ia selalu mengunjungi bangsal anak-anak dan membawa balon. Kupikir ini tidak salah lagi. Dan aku ingat senyum itu saat menatapku dengan tampilan ‘memaksa’. Sejak itu, kami semakin dekat. Walaupun aku seorang buruh bangunan, ia bersedia kencan denganku. Saat merenung, kupikir ini hanyalah khayalan, bukan kenyataan. Walakin rasa ini sangat nyata.

Melamarnya di bis kota. Bisa kamu bayangkan? Aku tak tahan lagi, perasaan takut kehilangan dia kalau tidak kulakukan saat itu. Di luar dugaan, ia bersedia. Tak perlukan aku ceritakan reaksi saat itu. Yang pasti, semua menatap padaku setelah mendengar suara teriakan. Tak ada cincin, hanya benang yang kebetulan terjulur pada jahitan bajuku.

Perjalanan bersama dimulai, hari ke hari, mingu, bulan bahkan tahun berganti. Perihnya biduk rumah tangga tidak semanis saat pacaran. Tapi dari semua itu, dia wanita dengan masa lalu yang tak kalah pahit denganku bersedia tetap bersama. Tak ada harta atau pun tahta padaku. Perlahan dan sangat pelan, hidup kami bergerak. Berawal dari buruh bangunan, mandor dan kontraktor. Aku takkan bisa jika bukan karena dia. Bukan hanya itu, ia memberiku nyawa baru. Pahamkah engkau apa yang kumaksud? Sebelum menjadi buruh bangunan, aku ini preman pasar. Kesehariannya ya begitu, tidak jelas dan tak punya tujuan hidup. Minuman haram, itu makanan sehari-hari, mencuri, merampok dan masuk penjara. Bukan hal asing. Hingga kuputuskan pindah ke kota lain dan menjadi buruh bangunan.

Coba lihat kini, bukan aku yang dulu. Seseorang yang baru, yang berubah sangat jauh oleh kerja keras dan doa seorang wanita. Aku bertransformasi. (Fin:rs/27519)

#30dwcjilid18day27

#30dwc

#squad8

Belas Kasihan

“Panggilkan Humadad.” perintah sang raja yang sedang duduk di singgasana dikelilingi para menteri dan penasihat. Seorang prajurit bergegas menunggang kuda dan kembali dengan Humadad. Ia langsung dibawa ke hadapan raja. Setelah memberi hormat, kepada Humadad, raja Kesaum mengajukan beberapa pertanyaan perihal dirinya. Semua dijawab dengan sangat baik walau bercampur rasa takut.

“Baiklah, karena dari apa yang telah engkau sampaikan bisa kutangkap keluargamu sehat dan baik-baik saja.”

Setelah Kesaum memberi kode kembali ia berbicara, “Kalau tidak salah hitun, utangmu total seribu keping perak.” Humadad menatap secarik kertas berisi seluruh perhitungan hutangnya. Ia kaget tidak menyangka ternyata sudah sebanyak itu.

“Benar Yang Mulia.” jawab Humadad dengan perasaan makin takut.

“Baiklah, silahkan bayar.”

“Ampun Yang Mulia, hamba tidak mampu membayarmya.” dengan wajah memelas mencoba memohon keringanan

“Kalau begitu, mengapa tidak kau jual saja anak dan istrimu?”

“Jangan Yang Mulia.. Kumohon.. Jangan..” ia sujud hingga wajahnya menyentuh lantai. “Mohon berikan lagi waktu Yang Mulia, hamba akan berusaha melunasinya. Tolong hamba Yang Mulia. Tolong kasihani hamba!”

Raja Kesaum memandangi Humadad, melihat kesungguhan dan keteguhan hatinya kepada keluarganya. Ia pun tergerak oleh rasa belas kasihan, sehingga Humadad dibebaskan dan utangnya dihapuskan. Pria beranak tiga itu amat bersukacita, ia kembali ke rumahnya dengan wajah sumringah.

Dalam perjalanan pulang ia bertemu dengan Lusamka. Pria ini bekerja sebagai petani di ladang orang. Tidak memiliki harta, hanya seorang anak gadis dan istrinya yang sakit. Salah seorang teman Lusamka mengatakan kalau pria bernama Humadad mau memberi pinjaman. Tanpa pikir panjang ia menemui Humadad, dan benar sedikit pinjaman berhasil didapat.

Mereka bertemu di waktu yang tidak tepat, pertemuan yang tak direncanakan. Humadad langsung menagih hutang Lusamka sebesar 100 peser setara dengan 10 keping perak berlagak kasar dan memaksa. Lusamka sujud di hadapan Humadad memohon ampun dan perpanjangan waktu. Ia berjanji akan melunasi semua hutangnya. Sedikit pun tak dihiraukan Humadad, malahan ia memenjarakan Lusamka sampai utangnya lunas.

Beberapa orang yang melihat sangat sedih. Mereka mengadukan pada petinggi kerajaan hingga berita ini tersiar dan terdengar oleh raja.

Kembali Humadad dihadapkan pada raja.
“Humadad, kamu adalah hamba yang jahat. Seluruh utangmu telah kuhapuskan karena engkau memohon, seharusnyalah kamu bertindak hal yang sama. Raja Kesaum sangat marah atas tindakan Humadad, sehingga ia memerintahkan agar Humadad diserahkan kepada algojo-algojo hingga ia melunasi hutangnya. (Fin:rs/26519)

#30dwcjilid18day26

#squad8

#fiksi

#rosetam

#30dwc

Who Is the BOSS?

Akan ada banyak cara bagi anak untuk mendapatkan yang ia mau. Menangis, itu paling sering. Hanya menangis, itu biasa. Yang lain ada yang lempar barang-barang, guling-guling di lantai, teriak-teriak sampai memukuli orang tuanya. Umumnya untuk golongan anak-anak usia 2-7 tahun. Semua itu terbentuk atas pengamatan si anak. Jadi jangan anggap remeh, otak anak-anak sangat ajaib.Bagi yang sudah punya anak pasti paham. ‘Pertarungan’ hampir terjadi setiap hari. Anak mau apa, orang tua mau apa. Selama dalam kadar aman (tidak mengancam keselamata), saya biasanya memberi toleransi tingkat tinggi. Misalnya, tahu-tahu tepung berserakan seisi rumah, atau pasta gigi yang masih baru habis diolesi ke tembok, atau uang lembaran seratus ribu digunting jadi mainan.

Tapi terkadang keinginan anak tidak boleh, bukan tidak bisa dipenuhi. Misalnya, anak saya ngotot mau beli mainan yang sama dengan yang barusan rusak. Saya bersikeras tidak bisa memenuhinya saat itu juga, lagi pula ia kurang menjaga apa yang diberikan. Dengan berbagai cara diberi alasan mungkin akan dikabulkan di hari yang akan datang. Maka tangisnya akan meledak, sekuat tenaga suara dikeluarkan semuanya, hingga terbatuk-batuk dan sekujur tubuh berkeringat. Supaya lain kali ia lebih bisa menjaga terutama miliknya.

Ini pertarungan sengit, dan ketahanan banting jadi orang tua diuji. Melihat isak tangisnya membumbung, rasa kasihan akan muncul, atau bisa juga karena berisik, malu sama tetangga jadi “sudahlah, kasih saja” tidak jarang begitu. Bagi beberapa anak mungkin bisa “biarin aja ntar juga diam”, tapi untuk anak saya, trik ini tidak berhasil. Karena menantang dia menangis mau berapa lama juga ayo saja. Jadi tetap saya pakai dengan kombinasi. Salah satu cara adalah, alihkan perhatian ke hal-hal yang anak tertarik. Misalnya, anak saya suka memasak, akan kucoba hadirkan yang berbau masakan. Perkara dia ingat lagi soal mainan, nanti saja diurus karena suasana hati sudah berbeda, pasti lebih mudah menanganinya.

Intinya orang tua harus memenangkan pertarungan, meski hati tersayat oleh wajahnya yang menunjukkan kalau dia adalah “korban”. Atau rasa malu akan suaranya yang menggema ke segala arah mata angin, membuat sejenak jadi pusat perhatian? Boleh diabaikan, karena ini menyangkut pembentukan karakter anak.

Lama-kelamaan ia akan paham “who is the bos”.

Menang sekali, dua kali dan seterusnya, bukan berarti kita jadi orang tua yang otoriter namun justru inilah kasih sayang yang sebenarnya. (Fin:rs/25519)

@pejuang30dwc
#30dwcjilid18day25
#squad8
#30dwc
#rosetam
#rosetamb
#whoistheboss
#menang

Bernyala-nyala (4: End)

Nebud ingin memastikan sendiri apa sebenarnya yang terjadi densn tiga orang itu. Ia pun mendekati pintu perapian yang bernyala-nyala itu; berkatalah ia: “Sadra, Mes dan Abe, hamba-hamba Allah yang maha tinggi, keluarlah dan datanglah ke mari!” Lalu keluarlah Sadra, Mes dan Abe dari api itu. Dan para wakil raja, para penguasa, para bupati dan para menteri raja datang berkumpul; mereka melihat, bahwa tubuh orang-orang ini tidak mempan oleh api itu, bahwa rambut di kepala mereka tidak hangus, jubah mereka tidak berubah apa-apa, bahkan bau kebakaran pun tidak ada pada mereka.

Berkatalah Nebud, “Terpujilah Allahnya Sadra, Mes dan Abe! Ia telah mengutus malaikat-Nya dan melepaskan hamba-hamba-Nya, yang telah menaruh percaya kepada-Nya, dan melanggar titah raja, dan yang menyerahkan tubuh mereka, karena mereka tidak mau memuja dan menyembah allah mana pun kecuali Allah mereka. Sebab itu aku mengeluarkan perintah, bahwa setiap orang dari bangsa, suku bangsa atau bahasa mana pun ia, yang mengucapkan penghinaan terhadap Allahnya Sadra, Mes dan Abe, akan dipenggal-penggal dan rumahnya akan dirobohkan menjadi timbunan puing, karena tidak ada allah lain yang dapat melepaskan secara demikian itu.”
Lalu raja memberikan kedudukan tinggi kepada Sadra, Mes dan Abe di wilayah Bylon. (Fin:rs/21519)

Bernyala-nyala (3)

Derai tangis segelintir orang tak terhindarkan, namun sebagian besar sangat puas bahkan mereka bernyanyi, melompat, riang gembira, mengakui Raja Nebud sangat bijaksana.

Teriakan raja memenuhi ruangan pertemuan begitu Sadra menutup mulut setelah memberi jawab, maka meluaplah kegeraman Nebud, air mukanya berubah terhadap Sadra, Mes dan Abed; lalu diperintahkannya supaya perapian itu dibuat tujuh kali lebih panas dari yang biasa. Kepada beberapa orang yang sangat kuat dari tentaranya dititahkannya untuk mengikat mereka dan mencampakkan ke dalam perapian yang bernyala-nyala itu.

Ketiganya diikat dengan jubah, celana, topi dan pakaian-pakaian mereka yang lain, dan dicampakkan ke dalam perapian yang menyala-nyala. Karena titah raja itu keras, dipanaskanlah perapian itu dengan luar biasa, sehingga nyala api itu membakar mati orang-orang yang mengangkat Sadra, Mes dan Abe itu ke atas. Tetapi ketiga orang itu, yakni Sadra, Mes dan Abe, jatuh ke dalam perapian yang menyala-nyala itu dengan terikat.

Beberapa orang yang mengasihi Sadra, Mes dan Abe menangis histeris. Sedang yang lain semakin takut kepada Nebud. Membayangkan berada dalam api, sangat mengerikan, tidak mungkin selamat.

Di dalam istana, Raja Nebud masih geram, selama ini tak seorang pun menentangnya, “warga asing keparat itu berani-beraninya melawan!” ucapnya pada diri sendiri. Jawaban Sadra, masing terngiang jelas.

Tidak ada gunanya kami memberi jawab kepada tuanku dalam hal ini.
Jika Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu, dan dari dalam tanganmu, ya raja;
tetapi seandainya tidak, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku, dan tidak akan menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu.”

“Tuhan macam apa yang mereka punya? Sampai-sampai berani menentangku.” ucapnya lagi dalam amarah yang belum reda sedang berdiri di jendela melihat ke perapian.

Tiba-tiba penglihatan Nebud seperti terkecoh, ia mengucek matanya memastikan lagi apa yang dilihatnya. Rasa terkejutnya sudah tak tertahankan ia beranjak lalu menghampiri menterinya seraya berkata “Bukankah tiga orang yang telah kita campakkan dengan terikat ke dalam api itu?”

Jawab mereka kepada raja: “Benar, ya raja!”

“Tetapi ada empat orang kulihat berjalan-jalan dengan bebas di tengah-tengah api itu; mereka tidak terluka, dan yang keempat itu rupanya seperti anak dewa!” (Bersambung)

#30dwc

#30dwcjilid18day20

#squad8

#30dwc18

#rosetam

#cerbung

Bernyala-nyala (2)

Sadra, Mes dan Abe dikenal memang tak pernah berkenan menyembah kepada apa pun selain pada Tuhannya. Penduduk negeri Bylon geram dengan mereka yang lebih dalam banyak hal sementara mereka bukan pribumi. Maka diadukanlah pada raja penolakan ketiga lelaki otu pada raja.

Jauh sebelum ini kerajaan Bylon menyerang Negeri Huda -negeri asal Sadra, Mes dan Abe-. Peperangan yang sangat sengit terjadi berhari-hari bahkan berminggu-minggu pada akhirnya dimenangkan kerajaan Bylon. Mereke memperoleh jarahan yang sangat banyak termasuk rakyat yang diangkut ke Bylon dan dijadikan budak, pendahulu-pendahulu Sadra, Mes dan Abe.

Berpuluh-puluh tahun kemudian, tampillah Raja Nebud yang mengeluarkan perintah tanpa kecuali untuk menyembah patung emas yang didirikannya. Karena memang Kerajaan Bylon tidak mengenal Tuhan, mereka menyembah dewa-dewa. Dan perintah raja adalah harga mati.

Sementara, kerajaan Huda tidak mengenal dewa. Dari zaman dahulu mereka adalah bagian dari umat yang dipilih Tuhan secara khusus. Nabi-nabi diutus untuk berbicara mewakili Tuhan. Tidak terkecuali bagi Sadra, Mes dan Abe yang memegang teguh pendirian dan berbakti hanya kepada Tuhannya walau apa pun yang terjadi.

Tidak ada rasa takut atau gentar demi menyatakan iman pada Tuhannya. Sekalipun itu seorang raja Nebud yang ditakuti setiap orang bahkan termasuk orang di luar negeri Bylon. Sebab kekejamannya sudah tersiar hingga ke negeri jauh.

Kini mereka di hadapan raja, mempertaruhkan nyawa. Petinggi-petinggi yang bersama-sama dengan raja saat itu turut deg-degan. Berharap ketiganya itu lenyap. Karena mereka menjabat jabatan penting di salah satu wilayah bagian. Semakin membuat pribumi iri.

Semua orang menunggu jawaban mereka. Boleh dibilang mereka dengan sangat yakin kalau ketiganya pastilah akan dilempar ke perapian yang bernyala-nyala. Dan segelintir berharap ketiganya menaati raja agar terhindar dari hukuman mati terbakar dalam api yang bernyala-nyala

Jawabannya begitu membuat suasana riuh. Satu sama lain saling mengungkapkan ketidakpercayaan mereka dengan yang baru saja terjadi. Raja pun tak kalah kaget. Ia teperanjat bahkan menahan nafas beberapa detik, tidak percaya kalau di depan matanya ada kejadian semacam ini. (Bersambung)

#30dwc

#30dwcjilid18day19

#squad8

#fiksi

#rosetam

Bernyala-nyala (1)

Begitu terdengar suara sangkakala, seruling, kecapi, rebab, gambus, serdam dan berbagai-bagai jenis bunyi-bunyian, maka siapa pun harus sujud menyembah kepada patung emas yang didirikan Raja Nebud. Barang siapa tidak taat maka akan dilempar ke perapian yang menyala-nyala. Perintah raja tersiar ke seluruh pelosok negeri Bylon. Karena takutnya semua orang taat, dari segala umur.

Ketahuanlah tiga orang yang tidak mengindahkan perintah raja. Jelas ini memuakkan raja, sehingga ia murka dengan amarah yang meledak-ledak memerintahkan mereka menghadap. Sepertinya dia penasaran dengan oknum itu.

Sadra, Mes, Abe diseret menghadap raja. Mata merah, kedua tangannya dikepal, kegeraman meledak begitu dilihatnya tiga sosok pembangkang memasuki istana. Mulai memandang satu per satu tiga pria itu dengan melotot, seakan tak ingin melewatkan setitik pun dari semua yang ada di wajahnya. “Belum permah seorang pun yang menentang perintahku” gumamnya dalam hai.

Ketiga pria pendatang itu tertunduk tak memiliki keberanian menatap raja.
“Apakah benar, hai Sadra, Mes dan Abe, bahwa kamu tidak memuja dewaku dan tidak menyembah patung emas yang kudirikan itu?” ketiganya terdiam tak menjawab. Raja pun melanjutkan, “Sekarang, jika kamu bersedia, saat kamu mendengar bunyi sangkakala, seruling, kecapi, rebab, gambus, serdam dan berbagai-bagai jenis bunyi-bunyian, sujudlah menyembah patung yang kubuat itu! Tetapi jika kamu tidak menyembah, kamu akan dicampakkan seketika itu juga ke dalam perapian yang menyala-nyala. Dan dewa manakah yang dapat melepaskan kamu dari dalam tanganku?”
(Bersambung)

 

#30dwcjilid18day18

#30dwc18

#squad8

Memaku Air (3)

Hingar-bingar sorak-sorai desa Marunjung begitu riuh. Mereka bernyanyi, tertawa, bahkan tak sedikit yang menangis bahagia. Lantung yang hilang kini kembali, tertancap sempurna di tempat semula. Seorang warga di sekitar sedang duduk meratapi nasib. Tubuhnya kering, kulitnya kusam dan sangat putus asa. Ia memohon pada dewa agar segera mengembalikan lantung mereka. Hembusan angin menerpa wajahnya ia menoleh dan dalam sekejap Lantung telah tertancap. Angin segera menyebarkan kabar baik dan kegembiraan langsung memenuhi desa Marunjung.Di kejauhan, Ellaro memaksa kakinya yang sudah tak muda berlari. Koja melihatnya dari kejauhan, memanggil namanya tapi tak digubris. Koja berusaha mengejar karena tampak jelas di wajah itu kepanikan yang keluar. Ia mau menyampaikan tak perlu khawatir lagi karena lantung telah kembali.

Nafasnya habis, sedikit lagi akan tiba di tujuan. Sebuah rumah kayu yang telah berantakan membuat hatinya makin tak tenang. Tersungkur ia ke tanah, dihadapakan pada tubuh yang terkapar. Suaranya lantang memanggil, memukul-mukul wajahnya, mengguncang-guncang badannya tapi ta ada sahutan. Romlah telah tiada. Histeris Ellaro berteriak bergema menyesal. Dipeluknya erat sekali jasad teman kecilnya itu, isak tangisnya tak lagi tersembunyikan.

Dulu dalam satu perguruan menjadi sahabat bukan hanya itu, Ellaro diam-diam menyukai Romlah walau tak berbalas. Setelah dewasa sesuatu mengubah Romlah menjadi tamak dan haus akan kekuasaan hingga beberapa kali mencoba mencabut Lantung.

Berabad-abad lalu, dewa begitu mengagumi desa Marunjung hingga menghadiahi pelindung, yaitu sebuah tombak yang disebut Lantung. Tombak ular berwarna emas guratan hitam, di satu ujung runcing dan tajam, sedang ujung lainnya kepala ular empat wajah dengan arah mata angin yang berbeda-beda. Desa Marunjung akan aman selama lantung tetap tertancap tepat di titik tengah desa.

Siapa yang menyangka 30 tahun yang lalu wanita berparas cantik muncul berusaha mencuri lantung. Untunglah Ellaro bertindak cepat, lalu menaruh bubuk ajaib agar tak ada seorang pun yang bisa mencabutnya. Wanita itu, bernama Romlah melarikan diri menjauh dari desa Marunjung. Jadi tak salah, kejadian ini terulang dan tuduhan mendarat pada Romlah dengan riwayat pencuri lantungnya.

Ellaro mencari pencuri itu dalam dunia roh. Penjahat yang sangat kuat entah datang dari mana. Kepala banteng tapi badannya manusia. Segala upaya dikerahkan kepala banteng tak terkalahkan. Hampir saja ia dihabisi. Tapi kaget-sekagetnya saat dilihatnya Romlah, mengambil alih pertarungan sejenak. Sejenak ia terpana dengan wajah yang masih cantik walau usia telah bertambah jauh. Dilupakannya sebentar rasa sakit dan pertarungannya. Desiran darahnya semakin deras. Wanita yang dahulu ia kagumi, mendadak muncul membuat hatinya berbunga-bunga larut sejenak dalam lamunan.“Jangan diam saja..!” bangun teriak Romlah memudarkan lamunannya. Ia tersadar dan langsung bangkit.

Pertarungan sengit terus terjadi, Ellaro dan Romlah bekerja sama menghentikan si kepala banteng hingga tuntas. Romlah merelakan tubuhnya menangkis ajian terakhir kepala banteng keluar. Ellaro menjadi sangat marah dan dendam pada kepala banteng. Rasa cinta telah memberinya kekuatan. Ia kumpulkan dan kerahkan pada si kepala banteng dan menghancurkannya dengan api amarah hingga berkeping-keping.Terbata-bata suara Romlah pelan, “Ma ma maafkan aku.” sambil memegang erat tangan Ellaro.

Di dunia roh tidak ada yang bisa dilakukan, karena ragalah yang bernafas. Ia membuka mata, berlari ke rumah Romlah. Hatinya hancur, wanita yang dia impikan dan yang telah ia nantikan puluhan tahun meregang nyawa menyelamatkannya.

Sementara penduduk desa telah menikmati air yang kini melimpah ruah. ***(Fin:rs/14519)

Memaku Air (2)

Warga desa Marunjung mengenakan pakaian khas. Hanjung atasan bagi kaum pria terbuat dai kain katun berserat, dijahit dengan sederhana hingga sepinggul, berlengan panjang,tapi tidak berkancing, hanya menggunakan tali dari sisi kanan dan sisi kiri yang diikat di bagian samping kiri badan. Pada pakaian bagian depan dilipat secara berlawanan arah di mana yang bagian kiri di bawah bagian kanan. Lalu diikat di sisi kiri.

Sedangkan bawahan pria desa di sebut ‘lopera’. celana panjang dengan tali pengikat di bagian pinggang sebagai pengganti karet, tanpa resleting, tanpa kancing. Alas kaki yang mereka kenakan terbuat dari rotan yang di belah tipis-tipis sehingga lentur dan mudah dianyam dengan teliti agar nyaman dipakai.

Dan penutup kepala pria dari sehelai kain dililitkan dari dahi hingga menutupi kepala.

Sedangkan pakaian kaum perempuan ‘lopek’, sehelai kain katun yang sama dengan atasan pria, sepanjang 3 meter dililitkan di badan mulai dari bagian dada hingga di bawah lutut. Dibagian dada atas hanya ditutupi sehelai kain seukuran pasmina yang disebut dengan ‘cipalum’. Rambut digerai adalah larangan di Marunjung. Wanita wajib hukumnya menggulung rambut terutama untuk yang sudah dewasa tanpa alat tambahan seperti konde atau jepitan. Konon kabarnya, dewa mengirim malaikat untuk memberi mereka pakaian ini karena sering terluka oleh binatang buas, dan kedinginan saat malam. Maka diberilah pakaian yang berbeda sesuai jenis kelamin.

Dilihat dari cara berpakaiannya, ia layaknya seperti warga biasa, baik hanjung maupun lopera, tidak ada penanda kalau ia seorang yang pernah menyelamatkan desa Marunjung dari cengkraman maut penyihir Romlah. Ellaro duduk bersila di tengah hutan di atas batu besar. Matanya terpejam dan tanpa ekspresi. Ia sudah di sana selama 48 jam, tanpa makan dan minum. Sedang berkelana di alam roh mencari tahu penyebab kekeringan yang semakin buruk. Mata air Ibalum pun semakin sedikit.

Di hari ke tiga ia bersemedi, tepat tengah hari suara burung di hutan bersahut-sahutan dengan riuh. Segala macam burung mengeluarkan suara. Terasa sangat mencekam dan membuat bulu kuduk bediri bagi siapapun yang melihatnya. Ellaro tiba-tiba terjatuh, sekujur tubuhnya basah oleh keringat. Seakan ia menahan sesuatu dengan sekuat tenaga. Kemudian hidungnya mengeluarkan darah, dengan mata terpejam ia berusaha kembali duduk bersila namun kini di atas tanah. Ia kehabisan daya kalau harus kembali ke atas batu setinggi dua meter. Tegang masih ada di wajahnya. Kepala diputar ke berbagai arah seperti menangkis sesuatu yang berbahaya. Keringatnya masih mengucur deras. Sesaat kemudian kondisinya terlihat tenang namun raganya lemah lunglai dengan nafas yang tersenggal-senggal.

Di kediamannya yang berjarak sekitar empat kilo meter dari Marunjung, Romlah juga bernasib sama. Ia tergeletak di lantai sedang hidungnya mengeluarkan darah. Saat ia kembali ke posisinya hendak duduk bersila, tiba-tiba badannya terlempar sejauh 10 meter ke luar menembus dinding rumahnya yang terbuat dari kayu. Ia menggelapar-gelepar di atas tanah, hingga akhirnya maut menjemput. Jasad Romlah tergeletak tanpa ada yang melihat.

Ellaro membuka mata, melotot terperanjat. Tanpa sempat memikirkan apa yang harus ia makan, ia berlari dengan tergsa-gesa, meninggalkan hutan. (Bersambung)

Tokoh

Cerpen Raden Mandasia Pencuri Sapi

Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi

Menurut saya tokohnya,

Raden Mandasia:

Pangeran yang saya perkirakan masih belia belasan hingga pertengahan 20 an. Masih enerjik dan keras kepala. Apapun yang dia mau kudu diturutin. Mencuri sapi? Yang benar saja. Ada keunikan pada dirinya. Apa semacam penyakit klepto pada beberapa orang kali ya. Jadi kepuasan tersendiri “mencuri” sapi. Yang lebih unik, setiap detail bagian sapi dia tahu persis. Sangat tidak biasa untuk seorang pangeran. Sepertinya dia suka bertualang dan tak begitu menikmati kehidupan dalam istana makanya ia juga tak sungkan berteman dengan rakyat biasa.

Sungu Lembu:
Berteman dengan Raden Mandasia dengan maksud tersembunyi. Ia sepertinya menyukai kehidupan bebas. Barangkali Raden Mandasia belajat “begituan” ya dari Si Sungu. Mau tidak mau ia menuruti apa keinginan pangeran. Mau gimana lagi. Karena mungkin dia paham betul keras kepala si Raden.