Tidak Berhenti

Menantangmu menulis selama 30 hari tanpa henti. Berani? Saya berani, dan itu buat terlihat menggiurkan. Semacam test untuk diri sendiri. Lalu berhasilkah? Tergantung. Kali ini 30 days writing challenge jilid 19 saya turut ambil bagian. Komitmen di awal adalah terus membangun kebiasaan menulis, dengan harapan akan meningkatkan skill dan membawa lebih dekat ke mimpi menjadi penulis terbaik di dunia. Terbaik di dunia? Boleh dong, karena harus bermimpi setinggi langit. Kalau tidak terwujud bagaimana? Tidak apa-apa setidaknya aku akan jatuh di antara bintang. Begitu kata para ‘hebator’.

Saya tidak beranggapan kalau saya sepenuhnya berhasil. Benar ada 30 tulisan. Appaluse untuk diri sendiri. Setidaknya aku berhasil menulis 30 tulisan. Cukupkah?

Jilid ini paling berat dari dua kali jilid lalu yang saya ikuti. Pertama kali ikut, ladang nilai selalu hijau. Sehari pun tak pernah telat setor, pemberian feedback tak ada absen. Woww.. ada rasa bangga dan tidak menyangka kalau aku bisa ternyata. Selanjutnya ikut lagi berharap ada suntikan energi, pecutan menggertak dan mendapat ilmu serta performa yang lebih baik. Tidak semulus sebelumnya, pada faktanya harus rela dua kali telat. Tapi semua feedback masih masuk.

Jilid 19, sangat mengecewakan secara performa. Dua kali drop out karena utang setoran berkali-kali. Sama sekali tidak memberi feedback (maafkan semua fighters).

Bulan Agustus ini harus menghadapi ritme harian yang baru karena anakku sudah mulai SD. Jam empat pagi, sudah harus bangun sebab anak harus bersiap ke sekolah dan rutinitas lainnya sudah menyita waktu (alasan…). Rupanya tidak mudah dengan ritme baru ini. Kalau sebelum-sebelumnya jam lima sampai jam 6 adalah waktu untuk feedback sekarang sudah tidak bisa. Atau lebih tepatnya belum menemukan slot yang tepat. Ini salah satu kekecewaan pada diriku sendiri. Akhirnya menyerah tidak memberi bisa memberi feedback sama sekali.

Ditambah perjalanan seminggu ke luar kota dan drop fisik bertambahlah tantangan (alasan lagii..).

Tekad minimal harus bisa produksi 30 tulisan meski sudah DO, meski utang sampai lima hari. Ternyata masih bisa.

Bagiku jilid 19 ini termasuk berdarah-darah tapi kok semakin penasaran ingin ikut lagi di jilid berikutnya. Memperbaiki performa, mengatur waktu, menghasilkan naskah, dan tentu saja membawaku semakin dekat ke mimpi Penulis Terbaik Dunia.

Memelihara semangat menulis, menebarkan kebaikan lewat menulis, dan siapa tahu memberi inspirasi bagi yang membaca.

Maju terus literasi Indonesia.

#30dwcjilid19
#squad10
#day30

Geva sedang menulis jurnal

Tentramnya Hati

Ada cinta yang berkelimpaahn. Rumah yang penuh kasih, kebersamaan bergelimang, dan makanan yang tak terkatakan enaknya. Masih banyakkkk lagi. Wow… Sekiranya semua kusebut tentu tak akan cukup semua kata.

Semua kudapat dengan cuma-cuma. Tanpa bayar sepeser pun.

Dear mama.. orang terbaik dan terhebat sepanjang masa.

Kurindu mama.. pangkuan yang selalu memberi kenyamanan. Pelabuhan yang setia setiap saat dalam keadaan apa pun. Terima kasih untuk telingamu yang setia mendengar tanpa menghakimi. Terima kasih atas kelimpahan tiada tara selama ini. Terima kasih masa kanak-kanak yang tak lagi bisa kulukiskan. Terima kasih untuk jerih lelah, keringat, air mata dan darah yang telah tercurah bagiku. Terima kasih atas waktu yang begitu membuatku bahagia, bergairah. Terima kasih atas masa remaja yang memberiku cinta dan membuatku mandiri, menyuntikku dengan kekuatan baru.

Sebanyak apapun kuucapkan terima kasih sebenarnya tak akan pernah cukup untuk apa yang telah engkau berikan.

Biarkan aku cerita sedikit salah satu momen di masa kanak-kanak, aku sakit mama selalu ada di sampingku. Iya bahkan tidak tidur semalam-malaman demi membuat aku nyaman agar segera sembuh. Bisa kulihat di matanya rasa lelah, ngantuk tapi tak dihiraukan. Setiap 2 jam aku dibangunkan untuk minum air hangat, aku tidak bisa makan tapi mama menyuapiku memberiku semangat. Itu baru aku, sakit satu kali. Belum lagi mengurus saudaraku lima orang lagi. Masih juga memperhatikan yang lain membayangkan semua, haduhhh… Tidak tahan bukan? Sanggup? Entahlah… Tapi mama bisa melewati tanpa ia harus sakit, masih harus bekerja ke sawah.
Terima kasih mama sudah merawat aku dengan sangat sangat baik dari sejak dalam kandungan hingga saat ini pun.

Sekalipun ada kesempatan untuk memilih siapa yang akan menjadi mama, aku akan tetap memilih Mama selamanya

Terima kasih mama karena selalu membuat aku rindu dan selalu ingin pulang.

Doaku untuk mama, supaya Mama sehat selalu, bahagia dan selalu dalam lindungan Tuhan.

Depok, 30 Agustus 2019

#30dwcjilid19 #day29 #temasuratterimakasih #squad10

Dear Ma

Mama, mama sehat? Semoga mama dalam keadaan sehat. Aku rindu ma. Kapan ya bisa bertemu.

Ma aku minta maaf. Dalam banyak hal membuatmu kecewa. Aku tahu bahkan mungkin di jalan hidupku yang sekarang masih membuatmu pilu aku minta maaf. Dengan segala upaya berusaha beri mama yang terbaik, memberi keluarga kita yang terbaik, berusaha membuat mama tersenyum. Yang mana tak ada satu pun yang mampu membalas semua kebaikan, jerih payah,pengorbanan, segala-galanya kau berikan untukku, untuk kami.

Tak ada keluh, ada rintihan hanya perjuangan hari demi hari.

Beberapa harapan sepertinya sudah ditetapkan di pundakku. Sejak awal aku menyadarinya sebagai anak. Sangat pantas engkau memetik dari semua apa yang telah kau berikan.

Aku tak sehebat anak tetangga yang melimpah akan materi. Aku juga tidak mampu memberi emas dan perak. Bahkan sekedar membelikanmu pulsa pun? Ah… Aku gagal sebagai sebagai anak. Tapi bisakah aku tetap jadi anakmu meski kutak bergemilangan materi? Aku tahu kasihmu tak diukur dengan itu semua. Aku tahu kalau aku tidak kan dicoret dari kartu keluarga, hanya saja batinku sangat ingin berbuat lebih.

Terus terang, sesungguhnya kuingin memberimu itu semua, agar aku sebagai anak merasa punya arti. Tapi sekalipun aku tak mampu, biarlah doa dan kasih, selagi masih ada waktu tertuang bagimu dengan caraku.

Maafkan aku, maafkan aku mama… Harapanmu mungkin tidak bisa kupenuhi sekarang. Aku mohon doamu bagi kami semua anak-anakmu, bagi keluarga kita semua diberi yang terbaik oleh Tuhan. Barangkali jalan Tuhan akan memberi kesempatan di lain waktu, atau dengan cara yang lain atau pun dalam bentuk yang berbeda. Yang pasti selagi masih ada kasih, sesungguhnya itu sangat cukup bagi kita sekeluarga.

Semoga Mama selalu berbahagia.

Depok, 29 Agustus 2019

#30dwcjilid19 #temasuratmaaf #squad10

Ma

Dear Ma…

Tadi malam aku sakit. Kepalaku mau pecah. Sakittt… sekali. Di atas meja tergelatak paracetamol. Sedari tadi sangat ingin kuambil sebenarnya, tapi kutahan. Berharap si sakit berlalu. Aku curiga dia enggan berpaling dari dalam tempurung kepalaku. Kemudian kulihat cucumu, berlarian ke sana ke mari tanpa beban hidup. Begitu pun ayahnya, kupandangi sedang bekerja sangat keras. “Aku tak boleh sakit.” bisikku pada diri sendiri. Jadi kubiarkan saja rumah semua berantakan dan raga ini tergeletak terbaring.

Aku jadi ingat mama. Entah dari mana datangnya kekuatanmu itu. Bekerja seharian, belum lagi mengurus enam orang krucil dengan segala unek-uneknya. Belum lagi suami (tentu saja ayahku. Hehe..).

Kadang begitu mudahnya menyatakan cinta pada orang lain. Tapi mungkin tidak semudah itu pada orang terdekat terutama orang tua papa, mama. Sebenarnya aku meneriakkannya sangat kencang dalam hati. Melalui surat ini cuma mau bilang sayang sama mama.

Sekarang setelah menjadi ibu aku semakin paham, betapa besar rasa sayang seorang ibu kepada anaknya. Amat sangat sangat besar.

Ma, aku dulu pernah berharap tidak punya mama. Waktu masih kanak-kanak. Saat mama melarang ini itu, tidak boleh ini, harus mengerjakan pekerjaan rumah, harus belajar, harus mandiri. Jadi kupikir akan lebih baik kalau aku tak punya mama, pasti tidak akan ada yang marah dan melarang. Tapi kemudian aku paham mengapa harus melakukan itu semua. Aku juga jadi mengerti untuk apa semua ajaran mama itu. Aku menyesal karena pernah terpikir hal seperti itu. Maafkan aku ma, aku mau punya mama, bahkan disurih memilih pun aku tetap pilih mama.

Kiranya Tuhan senantiasa menyertai keluarga kita ya ma.

Aku sayang mama

Depok, 28 Agustus 2019

#30dwcjilid19 #temasuratcinta #day27 #squad10

Di Mana? (7)

Tak tahu Firman harus mulai bergerak dari mana. Segalanya seolah bersepakat diam dan setuju Mamanya meninggal karena serangan jantung. Meski pertanyaan bertubi-tubi berhamburan dalam kepala namun haluan penanda arah terdiam. Tak.ada tempat berlabuh menagih kepingan akan teka-teki kematian sang ibu.

*******

Mirna menjawab dering telepon. Raut wajahnya sangat tak senang. Balutan gelisah yang membungkus dirinya seakan bertambah berlipat-lipat saat Anita, putrinya, memberi kabar akan pulang terlambat. Padahal ini bukan yang pertama tapi sangat mengganggu dan seakan-akan itu sebuah tragedi bagi.

Cuaca yang cerah membuat suhu seakan naik membabi-buta. Sendiri di rumah sebenarnya hampir setiap hari ia alami. Mirna duduk di ruang tamu bersandar dan menghela nafas panjang. Setiap sudut dipandanginya dalam-dalam. Tiba-tiba ada rasa kesepian yang amat pada dirinya. Dia sangat merindukan rumah yang bahkan saat itu kakinya saja berpijak di sana. Lekas-lekas ia tepis karena tak terasa air matanya berurai.

Satu per satu ia mulai mengecek bahan-bahan di dapur. Setidaknya akan mengalihkan perhatiannya dari rasa gelisah yang entah apa sebabnya. Beberapa sudah di tata di meja. Tepung, gula, mentega, ubi jalar berwarna ungu, serta bahan-bahan lain. Mulai membuat adonan, mengocok dengan lihai. Tak lupa dicicipinya sedikit mengetes rasa.

Langkahnya terburu-buru menuju kamar mandi. Meninggalkan pembuatan kue yang separuh jalan. Manakala pintu kamar mandi dibuka, mata Mirna terbelalak, wajahnya pucat seakan-akan sedang berhadapan dengan hantu. Kakinya tiba-tiba kaku dan tak bisa bergerak. Badannya tertahan persis di mulut pintu kamar mandi.

(Bersambung)

#rosetam #rosetamb #fiksi #30dwcjilid19 #squad10

Kala Berjaya

Berjaya…

Apa artinya…? Tentu saja tergantung orangnya. Masing-masing memiliki parameter berbeda. Ada yang harus dalam skala besar ada pula hal-hal kecil yang bagi sebagian orang sangat sepele. Ya itulah, beda kepala beda isinya bukan?

Jadi berjaya seperti apa yang Anda nikmati?

Menuturkan berbagai rasa, menyuratkan berbagai aroma, mengirimkan pesan kemanusiaan, menimbulkan rasa penasaran, memberi pengetahuan, dan masih banyak lagi. Beragam suguhan yang disajikan di antar pejuang menulis 30 hari tanpa henti. Berjayakah? masih ada beberapa hari lagi. Mudahkah? Bagi beberapa mungkin mudah, bagi yang lain bisa jadi sangat sulit. Dengan berbagai kendala.

Mmhh.. Menulis apa ya? Itu mungkin kesulitan paling banyak tidak tahu mau menulis apa, dan memulainya bagaimana. Ada yang kesulitan mengatur waktu, ada yang sakit dan sebagainya.

Saya termasuk di bagian sakit. Sempat drop dan tak mampu walau hanya mengetik saja. Sehari tertunda, sehari kagi dan lagi dan DO. Tapi tak boleh berhenti. Mulai lagi menulis melunasi hutang yang bolong-bolong. Terulang lagi, bahkan kali ini sampai lima hari. Dan mulailah kejar tayang. Sedapat-dapatnya saya harus lunasi tidak boleh tidak katena sudah komitmen. Akhirnya di hari ke-22 segala hutang saya lunasi. Dan bertekat untuk hari selanjutnya sampai hari ke-30 tidak boleh bolong lagi. Rasanya lumayan lega setelah melunasi hutang, di sisi kain kecewa karena belum mampu mengatur waktu dengan baik.

Rasanya menyenangkan akhirnya bisa berjaya melunasi utabg tulisan yang bolong-bolong. Padahal sempat bertanya-tanya apakah ini akan berhasil? Sudahlah, kerjakan saja.

Dan lihat, berjaya… Insyaallah berjaya hingga hari ke-30.

#30dwcjilid19 #squad10

Sabar, Tak Ada Pilihan

Di antara kegetiran yang menganga tertata akord harmoni nada. Membuatku tersenyum meski.

Perjalanan yang tidak mudah bahkan tahun tahun pun telah berganti semua terlewat dengan keindahan.
Haruskah kuhentikan di sini atau kuterjang.
Aku tak yakin apakah kali ini masih mampu

Tidak banyak pilihan. Diam dalam kemelut nestapa atau tungkai memilih berpindah?

Terus terang mengangkat pantat, menyuruh kaki bergerak dan melaju kencang dari adalah satu-satunya pilihan yang telah menari-nari sekian lama dalam benakku.

Tapi si akord memanggil, tanpa kata. Meluluhkan tekad yang telah terpatri.

Timbang sana timbang sini. Ingatlah akan Penciptamu…

#30dwcjili10 #squat 10

Di Mana? (6)

Sumringah terlihat di wajah-wajah yang ada di foto. Kecuali mama. Tidak ada menunjukkan kebahagiaan sebagaimana kesehariannya yang penuh semangat dan mengobral senyum. Niat Firman kembali ke pusat perbelanjaan di mana ia bertemu dengan Lukman. Tapi sayang tidak ada lagi di sana.

*******

30 tahun sebelumnya…

Terdengar cekcok yang cukup serius antara Mirna dan Lukman. Ia kekeh ingin putus, sementara Lukman bersikeras tidak mau putus. Bungkusan di meja berisi kwetiau goreng pun mendarat di wajah Mirna. Ia beranjak seketika dari tempat duduknya meninggalkan Lukman. Kesabaran Mirna telah habis, tidak tahan lagi dengan sikap Lukman yang selalu meledak-ledak, curigaan dan sering melarang ini itu, termasuk dengan siapa Mirna harus berteman semua harus dengan persetujuan Lukman. Berbeda dengan Lukman yang tak bisa menerima kenyataan kalau mereka putus. Ia beranggapan itu hanya kemarahan sesaat. Keesokan harinya ia kembali berniat minta maaf tapi sayang, Mirna sudah pindah kost. Lukman terus mengikutinya hingga akhirnya Mirna memutuskan pindah ke kota lain.

********

Lima tahun yang lalu…..

Suami Mirna, Heru pulang dengan wajah gembira. Ia bercerita bertemu dengan pramuniaga mobil dan memberinya harga yang sangat miring. Tanpa pikir panjang, semuanya deal dan selang beberapa hari si mobil diantar ke rumah langsung oleh salesman-nya. Mirna hampir pingsan, bahkan kakinya bergetar kuat mendapati siapa yang ada di depan matanya. Tapi ia haus bersabar dan menahan semuanya. Tentu saja ia tak ingin menimbulkan kekacauan sekarang. Walau setiap tarikan nafasnya terasa sangat sakit dan setiap suara yang terdengar dari Lukman menimbulkan luka dan tanya besar bagi Mirna.

(Bersambung)

#rosetam #rosetamb #fiksi #cerbung #30dwcjilid19 #squad10

 

 

 

Dear Mbak….

Agustus lalu aku bertemu di Jogja setelah rentang waktu sekian lama. Jantung langsung berdetak “tek”, Mbak… teriakku dalam hati. Bukannya apa-apa, langsung keingat skripsi. Kalau bukan karena beliau itu si tugas entah apa jadinya. Jadi aku kebingungan untuk sampling tugas akhir, karena responden harus ada di rentang usia yang lebih tua bukan hanya mahasiswa. Putar otak kemana harus mencari responden yang lebih smooth.

Sebenarnya bisa saja aku cari di gereja, tapi jadinya kurang variatif dan kebanyakan pendatang yang mugkin kurang familiar dengan produk yang lagi dikaji. Akhirnya seseorang (di komunitas) menyebut nama Mbak itu. Saya kontak beliau dan kami pun bertemu, membagikan apa yang saya butuhkan untuk tugas akhir. Tidak begitu sulit, ia memberi saya kesempatan untuk hadir di arisan ibu-ibu komplek. Sebenarnya responden yang saya butuhkan sudah tidak terlalu banyak lagi. Jadi sekali datang ke arisan komplek yang hadir lumayan banyak sangat cukup untuk memenuhi kuota responden saya.

Perasaan lega luar biasa. Karena setelah itu baru bisa mengolah data, itu artinya bisa ke tahap selanjutya, itu artinya ada kemajuan pesat di tugas akhir. Seakan bongkahan besar pertama terangkat. Walaupun masih ada bongkahan lain, tapi itu masih nanti-nanti kan ya.

Di situ juga Mbak e kasi tahu kalau ternyata arisan ibu-ibu komplek itu sering jadi momen untuk demo dari berbagai produk. Itu asli keren lho. Tidak ada yang mempersulit, mereka tenang dan rela membantu. Ah… indahnya kebersamaan..

Terima kasih ya Mbak Sinta Geo (begitu aku menyebut beliau). Karena ada Sinta lain, jadi harus kasi pembeda. Berhubung di Fakultas Geografi jadilah nama belakang dikasi Geo. Sekali kali terima kasih banyak Mbak, menolongku keluar dari Jogja. Hahaha…

Berproses bersama tugas akhir yang panjang, ada putus asa, ada tekanan, ada ketakutan. Rasanya gimana ya.Tapi setiap proses yang dijalani dengan ikhlas dan terus berjuang membuahkan hasil. Apalagi ada diantara orang-orang yang mendukung tanpa pamrih.

Pertemuan di Jogja aku juga bertemu dengan little princess Keiko yang cantik, putrinya Mbak Sinta. Salam manis dan peluk bahagia untuk Keiko ya Mbak. Semoga kita bisa bertemu kembali. Tuhan memberkati setiap langkah kita. (Fin:rs/23819)

#skripsi #tugasakhir #

Di Mana? (5)

“Nit, mama makanan kesukaannya apa?” pertanyaan yang tak terduga bagi Anita terlontar dari kakaknya.

“Soto ayam setahuku.”

“Lainnya apa?”

“Hmmm… apa ya?” sambil berpikir “Kayaknya sih itu yang paling suka. Lainnya sekedar aja. Emang napa ka?”

“Nggak. Menurutmu mama suka ga makan kwetiau goreng pake irisan cabe rawit?”

“Hah.. Kakak ko tahu?” spontan Anita terbelalak ke arah Firman. “Itu dulu. Mama pernah cerita. Tapi jauh sebelum menikah dengan papa mama ga suka lagi. Kalau kata mama, kisah masa lalu dengan mantan pacarnya” Anita menambahkan.

Sekuat tenaga Firman menahan rasa kagetnya. Potongan cerita yang sangat mirip dengan cerita Pak Lukman. Siapa sebenarmya dia?

Tumpukan album foto tertata rapi di lemari satu per satu dibuka oleh Firman untuk menemukan lembaran foto yang ada Pak Lukman. Tangannya berhenti membalik-balikkan dan matanya lekat-lekat memandangi foto di hadapannya. Mobil Toyota Avanza, Pak Lukman, Papa dan Mama.

Hanya saja, setelah dicermati ada yang aneh dengan foto itu. Selama ini barangkali tak satu pun menyadari.

“Kak, ada apa sih…?” suara Anita terdengar penasaran. Taknada jaeaban, ia mulai mendekati Firman, “Ka, ada apa? Tiba-tiba nanya makanan kesukaan mama, trus liat foto, trus bengong.”

“Ssstt.. Bentar ya. Nanti aku ceritain” balasnya sekadar menurunkan keingintahuan Anita melangkah menjauh.

(Bersambung)

#30dwcjilid19 #squad10 #rosetam #fiksi #rosetamb