Darah Uria (2)

Perbincangan singkat dengan raja diakhiri dengan menyuruh Uria kembali ke rumahnya. Uria tidak berkeinginan membuatnya menjadi pelik, ia meninggalkan istana raja menghapus semua tanya ada apa di balik semua ini. Baginya kembali ke rumah bertemu istri bukan sesuatu yang mendesak dan keputusan tebaiknya saat ini. Rupanya saat meninggalkan istana, bagi Uria perintah raja yang sepele itu tidak ingin diambil pusing meski raja memberinya banyak hadiah. Walapun masih ada beberapa pertanyaan dengan kejadian yang terbilang janggal ini. Mungkin raja sedang kesambet atau apalah..

Uria belum benar-benar keluar dari halaman istana, ia bertemu hamba-hamba raja. Tanpa pikir panjang, pria itu langsung menghentikan langkahnya bergabung dengan mereka berbincang panjang lebar tentang berbagai hal. Uria tidak sampai ke rumahnya sepeti yang diperintahkan raja, bahkan ia tertidur bersama hamba-hamba itu.

Ini benar-benar di luar perkiraan raja, ia kesal dan marah terhadap Uria yang tak mengindahkan perintahnya. Namun sungguh tak mungkin baginya memberi hukuman apalagi Uria seorang parjurit yang tangguh dan setia dan begitu menjunjung tinggi Raja Vadid. Dan tentu saja itu akan merugikan raja sendiri. Desahan nafas panjang raja melemahkan semangatnya. Sungguh Raja Vadid tak berpikir sedikit pun ini akan gagal. Kini otaknyasedang mengolah cara lain.

Kedua kalinya Uria menghadap raja, kini tanpa basa basi pertanyaan seputar perang dan Yoab. Kemarin raja membuka perbincangan canggung ini dengan beberapa pertanyaan seputar Yoab, tentu saja pertanyaan yang raja tahu betul jawabannya. Kali kedua ini bagian basa basi dilewatkan. Raut wajah raja sangat berbeda, ada kemuraman, putus asa dan kekecewaan yang terpancar.

Rasa amarah memercik semakin banyak dalam hatinya, it sangat terlihat dari nada bcaranya “Uria, kudengar kamu tidak pulang ke rumahmu? Bukankah kamu baru kembali dari perjalanan panjang?” Uria merasa sedikit terkejut dengan pertanyaan raja, yang mengetahui bahwa ia tidak pulang. Padahal siapa sih Uria? bukan pejabat hebat, tapi untuk hal sesepele itu mengapa raja begitu terganganggu. Sebenarnya dalam hati Uria ada sedikit rasa bangga karena raja menaruh sedikit perhatian lebih. Karena itu ia semakin menunjukkan keloyalannya. Tapi juga menaruh curiga namun tak beralasan. Semenatra raja berharap reaksi Uria akan lebih baik dari kemarin. Sedangkan bagi Uria, inilah momen terbaik memberi kesan yang lebih bagi raja.

“Ampun Tuanku Raja, masakan hamba kembali ke rumah untuk makan, minum dan tidur bersama istri sementara tuanku Yoab dan hamba-hamba tuan berkemah di padang. Demi hidupmu dan demi nyawamu, aku tak akan melakukan itu.”

Raja Vadid seperti ditimpa bongkahan es sebesar istananya mendengar jawaban prajuritnya itu. Hati raja semakin berkecamuk ingin sekali memenggal kepala Uria saat itu juga lalu mengaraknya di halaman istanan bahkan ke seluruh penjuru negeri mengumumkan pada dunia ‘dia pantas mati’.

Kepala Raja tertunduk tak bisa bernuat apa-apa rupanya rencana sempurna yang telah disusun dengan penuh perhitungan, akurasi dan waktu pengerjaan rasanya tidak akan meleset. Uria bukan orang biasa, yang mudah ditaklukan dengan hadiah-hadiah mahal dan banyak, sekalipun jamuan istimewa dari raja, pendiriannya tetap tidak berubah. Tapi apapun yang terjadi raja harus terus maju melancarkan startegi jitu lain. Ia tak akan menyerah dan diam saja sebelum kasus ini tutup.

Hidangan makanan sudah siap, berbagai minuman pun telah tersaji. Raja duduk bersama Uria hari berikutnya. Secara khusus ia menjamu Uria di kediamannya. Kebanggan hati Uria terus mendaki hingga ke puncak. Raja benar-benar menyukai Uria, dan ia telah bersiap untuk jabatan dan posisi yang lebih baik. Wajah Uria selalu tersenyum bahagia. Tak pernah terbersit dalam benaknya suatu hari ia akan duduk bersama raja dalam jamuan terhebat sepanjag hidupnya. Boro-boro sama raja sama pimpinnanya di perkehaman prajurit pun untuk bermimpi ia tak bernai. Tapi ini secara pribadi raja menjamunya, secara pribadi dalam istananya dengan hidangan terbaik dan minuman terbaik dari juru minum raja. Pastilah hari lahirku sangat terbekarti hingga raja sendiri duduk semeja dengan gembel sepertiku. Pejabat manapun aku yakin belum pernah diperlakukan raja seperti ini. Mulut Uria tak berhenti mengunyah makanan yang nikmat dan menenggak minuman yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Hatinya sungguh bahagia.

Raja Vadid tidak banyak biacara, meneguk minuman setetes pun ia tak sanggup, tapi dipaksa jua karena tentu saja akan terasa aneh jika Uria tiba-tiba memperhatikannya dan bertanya. Jamuan makan hebat yang terbaik yang disediakan hamba-hambanya sungguh tak mampu raja menyantapnya. Justru ia merasa jijik. Terpaksa aku harus duduk bersama si keparat yang tak tahu diri ini. Berkali kali ia mengepal kedua tangannya, meremasnya dengan kuat terbungkus kebengisan yang kian berkobar dan siap melayang kapan saja. Kendati begtu, Raja Vadid menahannya. Aku tidak boleh ketahuan.

Kicauan Uria makin lama makin tak karuan, bagaimana tidak minuman tak berhenti masuk ke rongga, mulutnya. Celotehan panjang dan sesekali ia tertawa dengan sangat kencang sambil bercerita perang. Satu kisah hebat tak ia lewatkan untuk dipamerkan kepada raja, kala perang sengit yang tak terelakkan. Uria hampir menemui ajalnya kalau Yoab terlambat sedetik saja datang menolongnya, “hampir mati Tuan. Panglima Yoablah yang terbaik.” ia masih terus merepet. “Banyak sekali pasukan tewas terutama yang barisan depan. Di sanalah saya kehilangan sahabat terbaik saya, ia mati dengan terhormat.” tiba-tiba ada nada sedih dalam racauannya.

Nyanyian tak terarah dari mulut Uria bergema di istana, dengan kesadaran yang tersisa secuil. Badannya terhuyung-huyung keluar dari istana. Ajakan matanya untuk terpejam dia tahan dan berencana akan pulang ke rumah ke pelukan istrinya Batsy. Ingatannya memutar arah ke rumah membayangkan kehangatan ranjang sambil menceritakan kehebatan suaminya yang berpesta secara khusus bersama raja.

Mata Uria menangkap hamba raja yang kemarin ia singgah. Beberapa masih terjaga sambil mengobrol diterangi cahaya remang pelita. Dan sekali lagi Uria menghapus bayangan Batsy, berbelok ke tempat hamba-hamba raja lalu tertidur pulas.

Kehangatan pagi musim semi mengumumkan kecerahan hari dan indah. Kicauan burung merdu di mana-mana, matahari bersinar dengan dengan perlahan namun tetap perkasa. Sungguh bertolak belakang dengan suasana hati raja yang tak mampu menyantap sarapan yang disediakan pelayan. Semalaman ia tidak tidur, perilaku Uria sangat mengganggunya. “Mengapa kutu kecil tengik itu sulit untuk ditumpas?” umpat raja. Ia meneguk air berkali-kali sambil menanti kabar yang semoga saja kabar seperti yang dia idamkan. Seorang suruhan pun datang mendekat dan berbisik. Spontan membangkitkan kemurkaannya. Ia melempar semua yang ada di atas meja. Kedua tangannya terkepal dengan kencang memukul meja. Menebarkan rasa ketakutan yang pekat dalam ruangan di antara para pelayan. Geram dan muak, wajahnya memerah, kebenciannya sudah tak terbendung.

Raja Vadid menancapkan rasa tolerirnya untuk Uria di titik nol. Tak lagi berkompromi. “Maafkan saya Uria.” sambil menulis sepucuk surat, diberikan kepada Uria agar segera mengantarkan kepada Yoab.

Tali kekang si kuda jantan ditarik dan bersiap dengan semangat menyala seperti keadaan tuannya yang tak lagi mendung. Wajah sumringah Uria mekar tanpa jeda. Ia membayangkan isi surat pengangkatannya menjadi pimpinan seratus orang. Bunga-bunga di hatinya bertaburan. Hanya ada sedikit penyesalan ia tak sempat menceritakan apa pun pada Batsy berita bahagia ini. “Seharusnya aku berkunjung walau sebentar”. Bagai anginsi kuda jantan membawanya ke perkemahan pasukan.

Suasana perkemahan prajurit berlatih perang yang dipimpin oleh panglima Yoab. Tak satu pun yang tak sungguh-sunguh. Semua mengikuti dengan serius. Uria menyodorkan gulungan surat dari raja saat menghadap Yoab dengan harap-harap akan mendapat berita bahagia. Ia telah membaca dan memahami isinya, sebentar matanya memandang kepada Uria tanpa perubahan raut wajah sama sekali. “Ayo berlatih lebih keras. Kita akan berperang melawan Raba.” sambil berpaling meninggalkan arena latihan. Meninggalkan Yoab terdiam bagai patung.

Krasak-krusuk di antara prajurit terdengar di mana-mana. Raba, bangsa yang sangat ganas dan kuat. Mereka mulai merasa takut kalau-kalau di perang nanti kekalahan berpihak pada pasukan Yoab dan diri mereka sendiri mati. Pertanyaan demi pertanyaan terlontar sebab terkesan tiba-tiba Panglima Yoab ingin perang dengan Raba. Apa karena surat yang dibawa Uria? Lalu semua mata kini tertuju pada Uria, dengan tatapan tajam, bengis, curiga dan sebagainya. Perasaannya mulai tak menentu sepertinya sebentar lagi sesi interogasi akan ditujukan padanya yang juga sama lopak-lapiknya. (Bersambung)

Sumber: https://www.churchofjesuschrist.org

Published by

rosegevari

Menulis apa aja yang pengen ditulis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s