Darah Uria (3:End)

Kegelapan malam terasa lebih mencekam di perkemahan prajurit Panglima Yoab, begitu berbeda dengan malam-malam sebelumnya. Bau ketakutan mencuat dengan kuat ke udara di tengah-tengah kumpulan prajurit. Dalam kemah pimpinan, Panglima Yoab dan beberapa bawahannya sedang mengatur strategi terbaik untuk penyerangan kota Raba. Sementara para prajurit tiba-tiba tidak banyak bicara, tidak ada nyanyian kegembiraan, minuman memabukkan pun seakan terkunci rapat di gudang, makan hanya seadanya, kebanyakan lebih memilih diam, berbicara irit atau berbisik dan termenung.

“Mungkin aku akan mati. Sampaikan salam untuk istri dan anakku. Aku belum sempat mengatakan pada putra sulungku kalau aku sangat bangganya padanya….” Seorang prajurit membuka suara dengan pelan dan melambat, “mestinya aku memeluknya saat aku berangkat. Karena mungkin saja itu hari terakhir kami bertemu.” lanjutnya lagi. Yang lain mulai mengikuti seandainya mereka mati dan ada yang selamat untuk meneruskan amanat mereka.

Tak ada yang tersisa di perkemahan, hanya sisa-sia pembakaran tenda dan barang-barang dalam pantauan pemandangan. Kelompok penjaga perkemahan pun semua tewas, ada kepalanya dipenggal, tubuhnya terpotong, tergantung di tiang, terbakar, tertusuk pedang dan sebagainya. Semua yang bisa diambil, dijarah sampai habis-habisan. Pasukan yang terluka kembali ke perkemahan dengan hati miris. Mereka saling merawat yang terluka dengan peralatan seadanya. Setidaknya sedikit perbekalan yang tersimpan dalam tanah untuk jaga-jaga menyelamatkan banyak sekalipun beberapa harus mati. Mereka menelan kekalahan terhebat sepanjang sejarah. Perhitungan strategi Panglima Yoab benar-benar di luar jangkauan. Jumlah pasukan Raba tiba-tiba muncul dalam jumlah yang sangat besar menyapu bersih di medan perang dan menyerang perkemahan seperti hantu. Taburan air mata yang membanjiri seluruh area perkemahan amat sangat pahit dan tak terlupakan. Di sanalah Panglima Yoab mendapat cedera parah dan meninggalkan bekas sayatan pedang yang sangat besar di punggungnya. Segelintir yang selamat tak pernah bisa melupakan kenangan akibat kekalahan melawan Raba.

Dan kini genderang perang sudah ditabuh lebih banyak membangkitkan kengerian ketimbang keberanian. Namun sebagai seorang prajurit harus lebih menonjolkan sisi keberaniannya demi tanah air. Bergabung dalam satuan prajurit Raja Vadid adalah suatu kehormatan dan kebanggan untuk berjuang hingga akhir hayat. Tak terkecuali Uria yang rela meninggalakan istrinya Batsy meski baru menikah, ketika kemesraan masih di puncak tertinggi dalam, ketika birahinya sedang berkobar melebihi semburan letusan gunung berapi.

Fajar menyingsing disertai gerimis menemani persiapan pasukan dalam penyerangan. Mengasah pedang, tombak, lembing, merapikan anak panah, mengenakan baju zirah dari kaki hingga kepala, menyiapkan kereta perang, kuda, bahkan menulis wasiat, dan sebagainya. Kesibukan rutin jelang perang. Hanya saja kali ini mereka lakukan dalam bisu yang pekat dan menyengat.

Iringan-iringan pasukan kembali bergerak menuju pusat kota Raba. Beberapa berbincang ringan atau bernyanyi lagu perjuangan. Tertawa oleh lelucon konyol untuk menghibur hati, bertikai karena perbedaan pendapat tentang hal remeh-temeh, membuat tebak-tebakan hambar atau hal-hal lainnya untuk menghabiskan waktu dalam perjalanan yang masih beberapa jam lagi. Bukan hal mudah menempuh jarak dari perkemahan satu hari satu malam, fisik dan mental harus lebih kuat dari baja.

Pemandangan yang hampir tak pernah terlihat dengan jarak hanya empat jam dari kota Raba, seluruh rombongan prajurit berhenti, dan pimpinan berkumpul di satu titik tentu saja mendekat di mana Yoab berada. Seakan-akan dialah magnetnya dan bawahannya butiran besi. Panglima Yoab dan bawahannya mematangkan strategi lebih tepatnya memastikan karena ia membuat sedikit perubahan yang tentu saja menimbulkan sedikit perdebatan.

Masing-masing pemimpin pasukan seratus menyiapkan anggotanya berbaris, membawa senjata terbaik, bendera dan tentu saja memberi semangat. Pimpinan kelompok Uria berpidato lebih panjang, menjelaskan kalau mereka kali ini mendapat kehormatan ada di barisan paling depan. Sontak menimbulkan banyak tanya dan merasa janggal dengan perubahan yang begitu mendadak dan belum pernah terjadi sebelumnya. Tapi tentu saja tidak seorang pun yang berani bertanya atau menolak.

Perjalanan dilanjutkan dan tak lagi mencoba mencari jawaban dari ketidakbiasaan yang terjadi. Kelompok kavaleri tingkat tiga di mana Uria berada tak luput dari obrolan. Apa kehabisan bahan pembicaraan sampai-sampai salah satu prajurit yang tidak jauh dari Uria membicarakan betapa hebat istrinya di ranjang, yang membuat si prajurit kewalahan. Obrolan khas ala pria itu melebar sampai kemana-mana, sampai pada kalimat, ‘Raja menjamu seorang prajurit’, dan mengirim pesan agar menyerang Raba’. Uria sangat tertarik, dan sepertinya orang yang mereka maksud itu adalah dirinya. Tapi ia harus memastikan perihal apa ini meski kuat instingnya mengatakan kalau ini berkaitan dengan dirinya. Ia mendekat, menanyakan lebih detail. Si prajurit tidak cukup mengenal Uria dan tidak tahu kalau orang yang dimaksud dalam desas-desus itu ada di sebelahnya. Ia mengaku memperoleh berita itu dari salah seorang teman di kelompok kavaleri satu. Setelah mendapat nama, Uria memacu kudanya menuju kelompok kavaleri satu. Ia menyisir setiap barisan dan akhirnya menemukan orang yang dimaksud. Istrinya bertugas mengantarkan susu ke istana dan mendapat berita itu dari pelayan lainnya. Uria mendapat cerita lebih lengkap dan benar itu adalah dirinya. Prajurit mabuk di dengan hadiah melimpah yang diperintah pulang ke istrinya tapi tidak pernah terjadi. Merasa hebat dan akan mendapat jabatan tinggi karena diperlakukan secara istimewa. Ternyata yang terjadi adalah sebaliknya, raja

Susunan kelompok pajurit di medan perang khusus pada pasukan kavaleri tingkat tiga yang akan mengambil posisi di depan. Tingkat pertama dianggap paling kuat biasanya ada dibarisan depan bersama para pemanah, pemegang pedang, tombak dan lembing, dibagian tengah akan ada pasukan berkuda tingkat dua yang menyiapkan meriam atau tembakan api serta sebagian pasukan kereta yang membawa lata-alat, sisanya akan di barisan ketiga sebagai penjaga pimpinan pasukan. Uria yang ada di pasukan kavaleri tingkat tiga kena terhadap perubahan posisi yang dibuat oleh Yoab. Tidak ada bantahan hanya yang membantah semua harus siap.

Semua barisan pada posisi masing-masing. Teriakan perintah Panglima Yoab berkumandang memberi perintah. Uria merasa konyol dengan dirinya yang berharap akan naik jabatan, merasa istimewa dengan jamuan raja tapi hanya tipuan muslihat iblis keparat untuk menipu rakyat dari perbuatan bejat dengan Batsy istrinya. Kebencian dan geram beranak pinak dalam benaknya kepada raja dan maupun kepada Batsy. Raja yang telah ia agung-agungkan seumur hidupntya, yang ia banggakan dan sangat disanjung seluruh rakyat dikenal dan ditakuti banyak kerajaan lain tapi kali ini Uria merasa jijik dengan raja.

Perang pun pecah, pasukan Raja Vadid menyerang kota Raba, serangan demi serangan dilancarkan, pedang dihunus dan mencabut nayawa hujan panah satu sama lain juga saling berhadapan. Dentingan pedang ada di mana-mana. Korban berjatuhan sangat cepat tanpa kata pembuka. Kavaleri tingkat tiga yang berada di depan menjadi korabn pertama yang jatuh. Pun Uria terkena pedang, ia tersungkur ke tanah, tak lagi berdaya seperti hatinya yang tiba-tiba membeku. Matanya menangkap Yoab yang telah undur ke belakang dan memandangnya. Dulu Yoab berlari sekuat tenaga menghampiri Uria dan menyelamatkannya, tapi tidak untuk kali ini, panglima yang terkenal gagah berani itu menjauh dan sepertinya sedang menanti kematian Uria.

Ia telah berkomplot dengan raja agar membunuh Uria dengan cara yangs sangat hina. Dan usaha raja menyingkirkan Uria kali ini pun berhasil. Kematian datang padanya di saat yang sangat menyakitkan bagi hati dan jiwanya. Ia sangat membenci raja, itu sangat jelas, ia juga membenci istrinya dan yang lebih menyakitkan lagi ia pun membenci Yoab yang telah menjadi soko guru baginya selama ini.

Hujan disertai petir membasahi mereka semua, menimbulkan alirian air berwarna merah. Angin kencang, gemuruh yang berkecamuk pun menyentak Raja Vadid yang termemung menanti kabar dari medan perang. Bukan kabar kemengan tapi kabar kematian seseorang.

Kabar itu datang ke istana, sesungguhnya itulah diharapkan raja. Tapi justru kabar itu pula yang menghantuinya hingga kematian menjemput. Ia telah mencurahkan darah Uria demi menutup dosanya telah menghamili Batsy.

Raja Vadid kini dengan leluasa bisa mengambil Batsy menjadi memiliki seutuhnya dan selamanya. (Fin/rs:311219)

https://www.churchofjesuschrist.org

Published by

rosegevari

Menulis apa aja yang pengen ditulis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s