Darah Uria (3:End)

Kegelapan malam terasa lebih mencekam di perkemahan prajurit Panglima Yoab, begitu berbeda dengan malam-malam sebelumnya. Bau ketakutan mencuat dengan kuat ke udara di tengah-tengah kumpulan prajurit. Dalam kemah pimpinan, Panglima Yoab dan beberapa bawahannya sedang mengatur strategi terbaik untuk penyerangan kota Raba. Sementara para prajurit tiba-tiba tidak banyak bicara, tidak ada nyanyian kegembiraan, minuman memabukkan pun seakan terkunci rapat di gudang, makan hanya seadanya, kebanyakan lebih memilih diam, berbicara irit atau berbisik dan termenung.

“Mungkin aku akan mati. Sampaikan salam untuk istri dan anakku. Aku belum sempat mengatakan pada putra sulungku kalau aku sangat bangganya padanya….” Seorang prajurit membuka suara dengan pelan dan melambat, “mestinya aku memeluknya saat aku berangkat. Karena mungkin saja itu hari terakhir kami bertemu.” lanjutnya lagi. Yang lain mulai mengikuti seandainya mereka mati dan ada yang selamat untuk meneruskan amanat mereka.

Tak ada yang tersisa di perkemahan, hanya sisa-sia pembakaran tenda dan barang-barang dalam pantauan pemandangan. Kelompok penjaga perkemahan pun semua tewas, ada kepalanya dipenggal, tubuhnya terpotong, tergantung di tiang, terbakar, tertusuk pedang dan sebagainya. Semua yang bisa diambil, dijarah sampai habis-habisan. Pasukan yang terluka kembali ke perkemahan dengan hati miris. Mereka saling merawat yang terluka dengan peralatan seadanya. Setidaknya sedikit perbekalan yang tersimpan dalam tanah untuk jaga-jaga menyelamatkan banyak sekalipun beberapa harus mati. Mereka menelan kekalahan terhebat sepanjang sejarah. Perhitungan strategi Panglima Yoab benar-benar di luar jangkauan. Jumlah pasukan Raba tiba-tiba muncul dalam jumlah yang sangat besar menyapu bersih di medan perang dan menyerang perkemahan seperti hantu. Taburan air mata yang membanjiri seluruh area perkemahan amat sangat pahit dan tak terlupakan. Di sanalah Panglima Yoab mendapat cedera parah dan meninggalkan bekas sayatan pedang yang sangat besar di punggungnya. Segelintir yang selamat tak pernah bisa melupakan kenangan akibat kekalahan melawan Raba.

Dan kini genderang perang sudah ditabuh lebih banyak membangkitkan kengerian ketimbang keberanian. Namun sebagai seorang prajurit harus lebih menonjolkan sisi keberaniannya demi tanah air. Bergabung dalam satuan prajurit Raja Vadid adalah suatu kehormatan dan kebanggan untuk berjuang hingga akhir hayat. Tak terkecuali Uria yang rela meninggalakan istrinya Batsy meski baru menikah, ketika kemesraan masih di puncak tertinggi dalam, ketika birahinya sedang berkobar melebihi semburan letusan gunung berapi.

Fajar menyingsing disertai gerimis menemani persiapan pasukan dalam penyerangan. Mengasah pedang, tombak, lembing, merapikan anak panah, mengenakan baju zirah dari kaki hingga kepala, menyiapkan kereta perang, kuda, bahkan menulis wasiat, dan sebagainya. Kesibukan rutin jelang perang. Hanya saja kali ini mereka lakukan dalam bisu yang pekat dan menyengat.

Iringan-iringan pasukan kembali bergerak menuju pusat kota Raba. Beberapa berbincang ringan atau bernyanyi lagu perjuangan. Tertawa oleh lelucon konyol untuk menghibur hati, bertikai karena perbedaan pendapat tentang hal remeh-temeh, membuat tebak-tebakan hambar atau hal-hal lainnya untuk menghabiskan waktu dalam perjalanan yang masih beberapa jam lagi. Bukan hal mudah menempuh jarak dari perkemahan satu hari satu malam, fisik dan mental harus lebih kuat dari baja.

Pemandangan yang hampir tak pernah terlihat dengan jarak hanya empat jam dari kota Raba, seluruh rombongan prajurit berhenti, dan pimpinan berkumpul di satu titik tentu saja mendekat di mana Yoab berada. Seakan-akan dialah magnetnya dan bawahannya butiran besi. Panglima Yoab dan bawahannya mematangkan strategi lebih tepatnya memastikan karena ia membuat sedikit perubahan yang tentu saja menimbulkan sedikit perdebatan.

Masing-masing pemimpin pasukan seratus menyiapkan anggotanya berbaris, membawa senjata terbaik, bendera dan tentu saja memberi semangat. Pimpinan kelompok Uria berpidato lebih panjang, menjelaskan kalau mereka kali ini mendapat kehormatan ada di barisan paling depan. Sontak menimbulkan banyak tanya dan merasa janggal dengan perubahan yang begitu mendadak dan belum pernah terjadi sebelumnya. Tapi tentu saja tidak seorang pun yang berani bertanya atau menolak.

Perjalanan dilanjutkan dan tak lagi mencoba mencari jawaban dari ketidakbiasaan yang terjadi. Kelompok kavaleri tingkat tiga di mana Uria berada tak luput dari obrolan. Apa kehabisan bahan pembicaraan sampai-sampai salah satu prajurit yang tidak jauh dari Uria membicarakan betapa hebat istrinya di ranjang, yang membuat si prajurit kewalahan. Obrolan khas ala pria itu melebar sampai kemana-mana, sampai pada kalimat, ‘Raja menjamu seorang prajurit’, dan mengirim pesan agar menyerang Raba’. Uria sangat tertarik, dan sepertinya orang yang mereka maksud itu adalah dirinya. Tapi ia harus memastikan perihal apa ini meski kuat instingnya mengatakan kalau ini berkaitan dengan dirinya. Ia mendekat, menanyakan lebih detail. Si prajurit tidak cukup mengenal Uria dan tidak tahu kalau orang yang dimaksud dalam desas-desus itu ada di sebelahnya. Ia mengaku memperoleh berita itu dari salah seorang teman di kelompok kavaleri satu. Setelah mendapat nama, Uria memacu kudanya menuju kelompok kavaleri satu. Ia menyisir setiap barisan dan akhirnya menemukan orang yang dimaksud. Istrinya bertugas mengantarkan susu ke istana dan mendapat berita itu dari pelayan lainnya. Uria mendapat cerita lebih lengkap dan benar itu adalah dirinya. Prajurit mabuk di dengan hadiah melimpah yang diperintah pulang ke istrinya tapi tidak pernah terjadi. Merasa hebat dan akan mendapat jabatan tinggi karena diperlakukan secara istimewa. Ternyata yang terjadi adalah sebaliknya, raja

Susunan kelompok pajurit di medan perang khusus pada pasukan kavaleri tingkat tiga yang akan mengambil posisi di depan. Tingkat pertama dianggap paling kuat biasanya ada dibarisan depan bersama para pemanah, pemegang pedang, tombak dan lembing, dibagian tengah akan ada pasukan berkuda tingkat dua yang menyiapkan meriam atau tembakan api serta sebagian pasukan kereta yang membawa lata-alat, sisanya akan di barisan ketiga sebagai penjaga pimpinan pasukan. Uria yang ada di pasukan kavaleri tingkat tiga kena terhadap perubahan posisi yang dibuat oleh Yoab. Tidak ada bantahan hanya yang membantah semua harus siap.

Semua barisan pada posisi masing-masing. Teriakan perintah Panglima Yoab berkumandang memberi perintah. Uria merasa konyol dengan dirinya yang berharap akan naik jabatan, merasa istimewa dengan jamuan raja tapi hanya tipuan muslihat iblis keparat untuk menipu rakyat dari perbuatan bejat dengan Batsy istrinya. Kebencian dan geram beranak pinak dalam benaknya kepada raja dan maupun kepada Batsy. Raja yang telah ia agung-agungkan seumur hidupntya, yang ia banggakan dan sangat disanjung seluruh rakyat dikenal dan ditakuti banyak kerajaan lain tapi kali ini Uria merasa jijik dengan raja.

Perang pun pecah, pasukan Raja Vadid menyerang kota Raba, serangan demi serangan dilancarkan, pedang dihunus dan mencabut nayawa hujan panah satu sama lain juga saling berhadapan. Dentingan pedang ada di mana-mana. Korban berjatuhan sangat cepat tanpa kata pembuka. Kavaleri tingkat tiga yang berada di depan menjadi korabn pertama yang jatuh. Pun Uria terkena pedang, ia tersungkur ke tanah, tak lagi berdaya seperti hatinya yang tiba-tiba membeku. Matanya menangkap Yoab yang telah undur ke belakang dan memandangnya. Dulu Yoab berlari sekuat tenaga menghampiri Uria dan menyelamatkannya, tapi tidak untuk kali ini, panglima yang terkenal gagah berani itu menjauh dan sepertinya sedang menanti kematian Uria.

Ia telah berkomplot dengan raja agar membunuh Uria dengan cara yangs sangat hina. Dan usaha raja menyingkirkan Uria kali ini pun berhasil. Kematian datang padanya di saat yang sangat menyakitkan bagi hati dan jiwanya. Ia sangat membenci raja, itu sangat jelas, ia juga membenci istrinya dan yang lebih menyakitkan lagi ia pun membenci Yoab yang telah menjadi soko guru baginya selama ini.

Hujan disertai petir membasahi mereka semua, menimbulkan alirian air berwarna merah. Angin kencang, gemuruh yang berkecamuk pun menyentak Raja Vadid yang termemung menanti kabar dari medan perang. Bukan kabar kemengan tapi kabar kematian seseorang.

Kabar itu datang ke istana, sesungguhnya itulah diharapkan raja. Tapi justru kabar itu pula yang menghantuinya hingga kematian menjemput. Ia telah mencurahkan darah Uria demi menutup dosanya telah menghamili Batsy.

Raja Vadid kini dengan leluasa bisa mengambil Batsy menjadi memiliki seutuhnya dan selamanya. (Fin/rs:311219)

https://www.churchofjesuschrist.org

Darah Uria (2)

Perbincangan singkat dengan raja diakhiri dengan menyuruh Uria kembali ke rumahnya. Uria tidak berkeinginan membuatnya menjadi pelik, ia meninggalkan istana raja menghapus semua tanya ada apa di balik semua ini. Baginya kembali ke rumah bertemu istri bukan sesuatu yang mendesak dan keputusan tebaiknya saat ini. Rupanya saat meninggalkan istana, bagi Uria perintah raja yang sepele itu tidak ingin diambil pusing meski raja memberinya banyak hadiah. Walapun masih ada beberapa pertanyaan dengan kejadian yang terbilang janggal ini. Mungkin raja sedang kesambet atau apalah..

Uria belum benar-benar keluar dari halaman istana, ia bertemu hamba-hamba raja. Tanpa pikir panjang, pria itu langsung menghentikan langkahnya bergabung dengan mereka berbincang panjang lebar tentang berbagai hal. Uria tidak sampai ke rumahnya sepeti yang diperintahkan raja, bahkan ia tertidur bersama hamba-hamba itu.

Ini benar-benar di luar perkiraan raja, ia kesal dan marah terhadap Uria yang tak mengindahkan perintahnya. Namun sungguh tak mungkin baginya memberi hukuman apalagi Uria seorang parjurit yang tangguh dan setia dan begitu menjunjung tinggi Raja Vadid. Dan tentu saja itu akan merugikan raja sendiri. Desahan nafas panjang raja melemahkan semangatnya. Sungguh Raja Vadid tak berpikir sedikit pun ini akan gagal. Kini otaknyasedang mengolah cara lain.

Kedua kalinya Uria menghadap raja, kini tanpa basa basi pertanyaan seputar perang dan Yoab. Kemarin raja membuka perbincangan canggung ini dengan beberapa pertanyaan seputar Yoab, tentu saja pertanyaan yang raja tahu betul jawabannya. Kali kedua ini bagian basa basi dilewatkan. Raut wajah raja sangat berbeda, ada kemuraman, putus asa dan kekecewaan yang terpancar.

Rasa amarah memercik semakin banyak dalam hatinya, it sangat terlihat dari nada bcaranya “Uria, kudengar kamu tidak pulang ke rumahmu? Bukankah kamu baru kembali dari perjalanan panjang?” Uria merasa sedikit terkejut dengan pertanyaan raja, yang mengetahui bahwa ia tidak pulang. Padahal siapa sih Uria? bukan pejabat hebat, tapi untuk hal sesepele itu mengapa raja begitu terganganggu. Sebenarnya dalam hati Uria ada sedikit rasa bangga karena raja menaruh sedikit perhatian lebih. Karena itu ia semakin menunjukkan keloyalannya. Tapi juga menaruh curiga namun tak beralasan. Semenatra raja berharap reaksi Uria akan lebih baik dari kemarin. Sedangkan bagi Uria, inilah momen terbaik memberi kesan yang lebih bagi raja.

“Ampun Tuanku Raja, masakan hamba kembali ke rumah untuk makan, minum dan tidur bersama istri sementara tuanku Yoab dan hamba-hamba tuan berkemah di padang. Demi hidupmu dan demi nyawamu, aku tak akan melakukan itu.”

Raja Vadid seperti ditimpa bongkahan es sebesar istananya mendengar jawaban prajuritnya itu. Hati raja semakin berkecamuk ingin sekali memenggal kepala Uria saat itu juga lalu mengaraknya di halaman istanan bahkan ke seluruh penjuru negeri mengumumkan pada dunia ‘dia pantas mati’.

Kepala Raja tertunduk tak bisa bernuat apa-apa rupanya rencana sempurna yang telah disusun dengan penuh perhitungan, akurasi dan waktu pengerjaan rasanya tidak akan meleset. Uria bukan orang biasa, yang mudah ditaklukan dengan hadiah-hadiah mahal dan banyak, sekalipun jamuan istimewa dari raja, pendiriannya tetap tidak berubah. Tapi apapun yang terjadi raja harus terus maju melancarkan startegi jitu lain. Ia tak akan menyerah dan diam saja sebelum kasus ini tutup.

Hidangan makanan sudah siap, berbagai minuman pun telah tersaji. Raja duduk bersama Uria hari berikutnya. Secara khusus ia menjamu Uria di kediamannya. Kebanggan hati Uria terus mendaki hingga ke puncak. Raja benar-benar menyukai Uria, dan ia telah bersiap untuk jabatan dan posisi yang lebih baik. Wajah Uria selalu tersenyum bahagia. Tak pernah terbersit dalam benaknya suatu hari ia akan duduk bersama raja dalam jamuan terhebat sepanjag hidupnya. Boro-boro sama raja sama pimpinnanya di perkehaman prajurit pun untuk bermimpi ia tak bernai. Tapi ini secara pribadi raja menjamunya, secara pribadi dalam istananya dengan hidangan terbaik dan minuman terbaik dari juru minum raja. Pastilah hari lahirku sangat terbekarti hingga raja sendiri duduk semeja dengan gembel sepertiku. Pejabat manapun aku yakin belum pernah diperlakukan raja seperti ini. Mulut Uria tak berhenti mengunyah makanan yang nikmat dan menenggak minuman yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Hatinya sungguh bahagia.

Raja Vadid tidak banyak biacara, meneguk minuman setetes pun ia tak sanggup, tapi dipaksa jua karena tentu saja akan terasa aneh jika Uria tiba-tiba memperhatikannya dan bertanya. Jamuan makan hebat yang terbaik yang disediakan hamba-hambanya sungguh tak mampu raja menyantapnya. Justru ia merasa jijik. Terpaksa aku harus duduk bersama si keparat yang tak tahu diri ini. Berkali kali ia mengepal kedua tangannya, meremasnya dengan kuat terbungkus kebengisan yang kian berkobar dan siap melayang kapan saja. Kendati begtu, Raja Vadid menahannya. Aku tidak boleh ketahuan.

Kicauan Uria makin lama makin tak karuan, bagaimana tidak minuman tak berhenti masuk ke rongga, mulutnya. Celotehan panjang dan sesekali ia tertawa dengan sangat kencang sambil bercerita perang. Satu kisah hebat tak ia lewatkan untuk dipamerkan kepada raja, kala perang sengit yang tak terelakkan. Uria hampir menemui ajalnya kalau Yoab terlambat sedetik saja datang menolongnya, “hampir mati Tuan. Panglima Yoablah yang terbaik.” ia masih terus merepet. “Banyak sekali pasukan tewas terutama yang barisan depan. Di sanalah saya kehilangan sahabat terbaik saya, ia mati dengan terhormat.” tiba-tiba ada nada sedih dalam racauannya.

Nyanyian tak terarah dari mulut Uria bergema di istana, dengan kesadaran yang tersisa secuil. Badannya terhuyung-huyung keluar dari istana. Ajakan matanya untuk terpejam dia tahan dan berencana akan pulang ke rumah ke pelukan istrinya Batsy. Ingatannya memutar arah ke rumah membayangkan kehangatan ranjang sambil menceritakan kehebatan suaminya yang berpesta secara khusus bersama raja.

Mata Uria menangkap hamba raja yang kemarin ia singgah. Beberapa masih terjaga sambil mengobrol diterangi cahaya remang pelita. Dan sekali lagi Uria menghapus bayangan Batsy, berbelok ke tempat hamba-hamba raja lalu tertidur pulas.

Kehangatan pagi musim semi mengumumkan kecerahan hari dan indah. Kicauan burung merdu di mana-mana, matahari bersinar dengan dengan perlahan namun tetap perkasa. Sungguh bertolak belakang dengan suasana hati raja yang tak mampu menyantap sarapan yang disediakan pelayan. Semalaman ia tidak tidur, perilaku Uria sangat mengganggunya. “Mengapa kutu kecil tengik itu sulit untuk ditumpas?” umpat raja. Ia meneguk air berkali-kali sambil menanti kabar yang semoga saja kabar seperti yang dia idamkan. Seorang suruhan pun datang mendekat dan berbisik. Spontan membangkitkan kemurkaannya. Ia melempar semua yang ada di atas meja. Kedua tangannya terkepal dengan kencang memukul meja. Menebarkan rasa ketakutan yang pekat dalam ruangan di antara para pelayan. Geram dan muak, wajahnya memerah, kebenciannya sudah tak terbendung.

Raja Vadid menancapkan rasa tolerirnya untuk Uria di titik nol. Tak lagi berkompromi. “Maafkan saya Uria.” sambil menulis sepucuk surat, diberikan kepada Uria agar segera mengantarkan kepada Yoab.

Tali kekang si kuda jantan ditarik dan bersiap dengan semangat menyala seperti keadaan tuannya yang tak lagi mendung. Wajah sumringah Uria mekar tanpa jeda. Ia membayangkan isi surat pengangkatannya menjadi pimpinan seratus orang. Bunga-bunga di hatinya bertaburan. Hanya ada sedikit penyesalan ia tak sempat menceritakan apa pun pada Batsy berita bahagia ini. “Seharusnya aku berkunjung walau sebentar”. Bagai anginsi kuda jantan membawanya ke perkemahan pasukan.

Suasana perkemahan prajurit berlatih perang yang dipimpin oleh panglima Yoab. Tak satu pun yang tak sungguh-sunguh. Semua mengikuti dengan serius. Uria menyodorkan gulungan surat dari raja saat menghadap Yoab dengan harap-harap akan mendapat berita bahagia. Ia telah membaca dan memahami isinya, sebentar matanya memandang kepada Uria tanpa perubahan raut wajah sama sekali. “Ayo berlatih lebih keras. Kita akan berperang melawan Raba.” sambil berpaling meninggalkan arena latihan. Meninggalkan Yoab terdiam bagai patung.

Krasak-krusuk di antara prajurit terdengar di mana-mana. Raba, bangsa yang sangat ganas dan kuat. Mereka mulai merasa takut kalau-kalau di perang nanti kekalahan berpihak pada pasukan Yoab dan diri mereka sendiri mati. Pertanyaan demi pertanyaan terlontar sebab terkesan tiba-tiba Panglima Yoab ingin perang dengan Raba. Apa karena surat yang dibawa Uria? Lalu semua mata kini tertuju pada Uria, dengan tatapan tajam, bengis, curiga dan sebagainya. Perasaannya mulai tak menentu sepertinya sebentar lagi sesi interogasi akan ditujukan padanya yang juga sama lopak-lapiknya. (Bersambung)

Sumber: https://www.churchofjesuschrist.org

Darah Uria (1)

Sorak-sorai seisi kota terdengar begitu riuh. Nyanyian dan bunyi berbagai alat musik bergema mengumandangkan kemenangan. Di antara kegembiraan terselip tangis, jeritan ratapan kehilangan.

Iringan rombongan prajurit pulang membawa kemenangan akan perang, berbagai hasil rampasan yang melimpah pun di bawa pulang. Untuk kesekian kalinya pasukan kerajaan Sirai memenangkan pertempuran. Tidak sedikit yang terluka dan harus dipapa, kehilangan anggota tubuh bukan hal baru. Pekik tangis mendapati kabar kalau anak lelaki, suami, ayah, mertua bahkan kakek beberapa orang tidak turut pulang terdengar bukan untuk pertama kali. Dan bersebelahan dengan itu tawa bercampur haru menyambut pulang anggota keluarga yang selamat. Ada campuran rasa yang tersebar tapi kebahagiaan mendominasi.

“Uria, kamu dipanggil bos..” seorang prajurit memanggil uria. Ia sedang asyik bersenda gurau bersama teman-teman di perkemahan tidak mendengar dengan jelas. Minuman terus saja masuk ke mulutnya terkadang terdenganr suara tawa yang kerasa oleh lelucon konyol di antara mereka atau candaan vulgar khas ala laki-laki. Masih untung Uria belum mabuk apalagi hari masih siang terlalu dini menenggak minuman terlalu banyak yang membuatnya mabuk, meski begitu kepulangan dari medan perang keap membuat mereka mabuk tanpa kenal waktu.

“Uria… kamu dipanggil bos..!” katanya lebih tegas sembari mendekatkan mulut ke daun telinga Uria.
Raut wajah Uria berubah seketika, mengkerut penuh tanya. “Siapa?”

“Bos besar…!” jawab sang prajurit sembari meninggalkan kelompok itu. Ia tidak menunda walau sedetik. sedikit membenahi pakaiannya uga membasuh wajahnya dengan air. Ia pun menarik nafas panjang, memasukkan sebanyak mungkin udara ke rongga da dan mengeluarkannya dan siap memenuhi panggilan “Bos Besar”.

Meski bukan kali pertama bagi Uria masuk ke ruangan ini, tetap saja ia merasa terhempas oleh tiupan uadara wibawa dan yahudnya seorang Panglima Yoab. Siapaun yang melihatnya bahakan yang baru pertama sekalipun akan langsung menaruh hormat dan segan seketika. Namanya mashyur hingga ke negeri-negeri jauh di sana. Tak salah kalau beliau menjadi kepercayaan raja.

Ruangan Panglima Yoab cukup luas, kursi kayu berukir, lampu yang terbilang banyak untuk ukuran ruangan sebesar itu, dan sebuah meja tak terlalu besar kira sedepa orang dewasa, lengkap dengan miniatur perang. Di atasnya tercipta strategi jitu melawan musuf, di sana juga debat para pahlawan super Raja Vadid berdebat, kemudian bersepakat memberi terbaik di medan perang. Berbagai macam makanan terhidang yang akan menggiurkan siapapun yang melihatnya. “Uria ya? Sebentar ya…” Suara Panglima Yoab menyambut Uria di balik bilik kecil tempat Panglima Yoab tidur. Beberapa detik kemudian ia muncul sambil mengusapkan kedua telapak tanganya di kepala, merapikan tatanan rambut hitamnya.

“Maaf tuan…”Baru saja Uria membuka mulut, seseorang keluar dari bilik yang sama. Seorang wanita berpakaian serba warna emas lengkap dengan cadar, baunya sangat khas bau wewangian bunga. Uria tidak bisa menahan untuk tidak membiarkan bola matanya menuju pada sang wanita hingga tidak lagi melanjutkan kata-katanya.

“Uria…!” panggil Yoab segera menyadarkannya yang tengah tersihir oleh seorang perempuan yang baru saja lewat.

“Ii..iyaa.. tuan..” dengan terbata-bata bercampur malu suara Uria menyahut.

“Kamu diminta segera menghadap.” Mata mereka saling bertemu memandang dengan dalam satu sama lain. “Jangan tanya ini masalah apa ya, saya juga tidak tahu menahu.” Yoab segera melanjutkan bicaranya seakan tahu isi kepala Uria. Tanpa memperpanjang pembicaraan Uria segera undur diri. Pastilah ini sesuatu yang sangat penting sehingga raja meminta agar bos besar yang menyampaikan langsung berhadapan muka dengan muka.

Dan di singgana Raja Vadid merasakan gejolak perut yang luar biasa. Seakan perutnya bak kapal menghantam batu karang yang tak tergoyahkan. Ia mencoba menelan ludahnya yang tiba-tiba terasa sangat pahit dan kerongkongannya terasa kering.

Kendati ia telah menyusun seuntai sempurna dengnan tingkat keberhasilan hampir mencapai 99%, tapi perasaan was was dan takut akan angka 1 persen bersemayam. Ia tak bisa menampik kemungkinan kegagalan rencana ini.

Perintah sederhana yang diberikan Yoab cukup membuat warna muka Uria berubah drastis tak karuan. Apalagi Yoab tak memberinya kuncian sedikit ini perihal apa. Tak membuang waktu banyak, ia segera bersiap. Di sela waktunya berkemas ia memegang erat-erat sapu tangan berwarna hijau menghirupnya dalam-dalam sambil menutup mata. Jelita wajah istrinya muncul dalam bongkahan rasa rindu yang membara, memanggil kembali aroma tubuhnya yang wangi. Terbersit dalam benaknya, akan merasakan lagi pergulatan intim bersama istrinya diatas ranjang dengan bermandikan keharuman wewangian musk, beradu lekak-lekuk tubuh tanpa sekat walau hanya sehelai benang. Tapi segera dibuangnya pikiran itu jauh-jauh sebab ia tak tahu pasti perihal apa ia harus menghadap raja.

Kuda yang bertubuh kekar dengan surai yang mengkilap pertanda ia dirawat dengan sangat baik. Perpaduan coklat dan abu-abu menambah kegagahannya. Penunggang satu-satunya yang telah dibawanya ke dalam puluhan arena perang, menjelajahi negeri-negeri lain dengan tantangan maut, tapi mereka masih di sini hidup, utuh dan masih akan terus lagi bekutat di peperangan yang entah sapai kapan akan berakhir. Berbagai kemenangan berhasil mereka gotong. Sebagian perang sengit, sebagian hanya perang cetek yang mudah dengan mudah dikalahkan. Si kuda jantan seakan terlindung oleh dewi keberuntungan yang tak pernah terluka meski hujan anak panah mendera di medan perang. Pun dengan tuannya tak pernah terluka walau perang sengit ada dihadapannya. Semangat tuannya selalu memberinya kekuatan baru dalam bekerja.

Kali ini ia bisa merasakan aura yang sangat beebeda dalam diri majikannya, bukan semprotan kobaran semangat seperti biasanya. Tak banyak yang bisa diperbuatnya selain setia melangkahkan kakinya dengan gesit dan cepat penuh daya mencapai tujuan di halaman istana raja. Uria menuntunnya dan menambatkan ke istal di bagian belakang. Si kuda jantan diam saja dan seperti biasa selalu menurut apa pun kata tuannya. Badannya yang kokoh dan kakinya yang kuat mampu menopang si kuda jantan, tetap gagah bahkan saat ia tertidur sambil berdiri.

Wajah si tuan masih muram dan penuh tanda tanya. Tapi setidaknya ia masih selamat dan utuh. Kaki Uria menaiki si kuda jantan setelah ia tertidur, mengunyah, lalu tertdur lagi, mengendus untuk menghabiskan waktu menunggu.

Terdaftar menjadi salah satu dari deretan pahlawan perkasa Raja Vadid bukan berarti ia aman selamanya. Panggilan menedsak raja terasa sangat janggal di telinga. Meski ia tahu betapa ia rindu akan istrinya Batsy tapi rasanya tak bisa ia memenuhi keinginan raja. Apa sebab Uria begitu gelisah dan merasa tak mampu melakukan perintah raja? Apa rupanya yang telah diperintahkan raja? (Bersambung)

Batsy Dipanggil Raja (3: End)

Pasrah sepasrah-pasrahnya, barangkali itulah ungkapan yang lebih tepat bagaimana kondisi lahir dan batin Batsy saat ini. Pelan tatapannya menyapu ke seluruh isi ruangan. Tidak ada siapa-siapa. Kamar yang besar, dengan perabot yang kelihatannya bagus dan mahal pun terisi dengan teratur dan seimbang. Tidak ketinggalan hamparan tempat tidur yang sangat besar, berukiran motif padma setiap sisinya diwarnai dengan warna kayu mengkilap. Alas sutera terbaik yang khusus didatangkan dari negeri jauh berjarak tempuh enam bulan perjalanan. Beberapa bantal berbagai ukuran di atasnya dengan sarung berwarna merah dipadu dengan warna putih gading dan memiliki motif sama dengan dipan. Terdapat empat tiang di tiap sudutnya, sebagai penyangga penutup yang juga begitu indah, berwarna senada dan bermotif persis dengan sarung bantal dan seprai juga selimut. Amat sempurna. Biasanya keempat tiang selain sebagai penyangga juga untuk mengikat kelambu saat tidak digunakan. Tapi kala itu, kelambu terbuka hanya di satu sisi.

“Selamat datang nyonya Batsy…” Tiba-tiba terdengar seorang pria dari balik pintu beraoma kayu manis spontan Batsy menoleh ke arah datangnya suara. Ia berpakaian layaknya bangsawan. Ia lebih terkejut lagi karena pria itu bukan Raja Vadid. Sepersekian detik haluan jalan pikiran Batsy mencar dengan berbagai arah yang tak menentu.

Sambil menyuguhkan teh, “Jangan kuatir, Raja akan segera menemuimu. Silahkan nikmati tehnya. Ini teh terbaik di istana beraroma kayu manis.” Sang pelayan raja langsung membaca raut wajah Batsy yang buncah tak karuan. Batsy tidak mengeluarkan suara sedikit, namun ia kini paham dari mana datangnya bau kayu manis itu. Anggukkan kepalalah satu-satunya jawaban yang bisa Batsy berikan. Tenggorokannya penaka tersumbat bongkahan biji durian, air liurnya teras sangat pahit. Menelan ludah saja terasa sepeti rodi. Ia hanya berdiri merasa sungkan untuk duduk. Mendapati batang tubuhnya di dalam kamar tidur raja. Bayangkan, kamar tidur raja. Barangkali sedikit banyak Batsy bisa membaca mau dibawa kemana panggilan raja ini.

Bau lain mulai bercampur dengan bau teh kayu manis. Batsy mengenal bau ini, karena Uria sesekali memakainya saat mereka akan bergulat di ranjang. Menurut suaminya, bau ini sangat sensual dan menarik gairah seks. Bukan hanya itu, Uria juga menyebut aroma-aroma lain khasiatnya sama salah satunya kayu manis. Semakin jelas apa adegan selanjutnya. Batsy masih berusaha mengingat namanya tapi tubuh seorang pria mendekat dengan jarak nol padanya. Melingkarkan kedua lengannya di pinggang Batsy. Terang saja jantungnya otomatis serasa melepas diri dari rongga dada seakan lebih memilih segera loncat.

Batsy tidak bereaksi apa-apa, yang dipikirannya semoga kali ini yang datang benar-benar raja dan bukan adegan prank.

“Aku sudah menantimu sedari tadi.” Bisik raja dengan suara lembut di telinga Batsy. Desahan nafasnya terasa sangat kuat, tangannya mulai melucuti pakaian Batsy satu per satu sambil terus mencumbui rambut, kepala, re y tengkuk terus menjalar ke leher.

Batsy bisa merasakan kecupan raja yang mengalirkan libido di masa suburnya menjadi ramuan paling sempurna ditambah bumbu hembusan udara panas nafas raja semakin menciptakan erotisme pekat. Tidak ada penolakan sedikitpun dari Batsy yang memutuskan untuk menikmati dan mencair dalam kenikmatan ramuan. Tubuh sintal Batsy kini tanpa sehelai benang, dengan kedua tangan Raja Vadid yang gagah dan masyhur, mengalahkan singa seorang diri, mencabut nyawa musuh bertubuh raksasa dengan batu dan ketapel , menewaskan berlaksa-laksa tentara musuh dengan perkasa kedua tangan itu menggendong Batsy menuju ranjang membaringkan melalui tirai yang terbuka. Matanya binar tak sekali pun diberi kesempatan berkedip demi pemandangan yang merasukinya tak sampai hitungan dua jam yang lalu.

Tak kalah dengan Batsy yang sedang di awang-awang melupakan Uria dan karena pertemuan kulitnya dengan kulit raja yang melekat erat dari segala sisi rasanya tidak boleh dilewatkan apalagi dihalangi sekalipun oleh orang bernama Uria yang kini berada entah di mana. Udara dalam kamar raja kini dipenuhi birahi yang meletup-letup, mengalahkan bau teh kayu manis dan wewangiang raja. Keduanya bergelut penuh gairah bersatu dan melekat terbungkus kuat oleh nafsu yang tertahan dan kini terlepas bebas dalam pergulatan dua tubuh beda jenis kelamin.

Bibir Batsy terus menerus ditarik ke kiri dan ke kanan. Tidak ada rasa bersalah justru ia merasa terhormat dipilih secara khusus oleh raja ke peraduannya, sementara dirinya bukan siapa-siapa. Senandung dari mulutnya terus mengalir. Kadang ia berhenti dan tertawa sendiri, berguling ke kiri ke kanan di ranjang kamar tidurnya lalu tertawa. Ia bahkan menutup poto pernikahannya dengan Uria. Tatkala ia duduk di depan cermin meja riasnya matanya menangkap wewangian Uria yang baunya sangat mirip dengan milik raja. Musk, itu dia.

Hanya puluhan menit lalu ia membayangkan kalau raja akan menjadikannya selir seakan sulit dipercaya kalau semua ini bukan mimpi belaka. Tangannya meraba lagi dan lagi kalung permata berwarna hijau, krisopas, yang dihadiahi raja sesaat sebelum dia pulang. Batsy merasakan, kalau hidupnya berubah dan jalan nasibnya akan segera berbelok ke arah sesuatu yang jauh lebih besar dan sangat besar. Meski begitu ia terus bertanya-tanya bgaimana raja memilih dia? Batsy tidak mengetahui kalau ternyata saat ia mandi di pemadian masa pentahiran, kemolekan tubuhnya telah terlebih dahulu menjadi suguhan pemandangan yang mencengkram gairah raja hingga ke ubun-ubun.(Fin:rs/51219)

Batsy Dipanggil Raja (2)

Seragam khas ala istana Sirai melekat sempurna di badan dua orang prajurit di balik pintu rumah Batsy. Apa gerangan yang telah diperbuatnya sehingga utusan raja ada di hadapannya. Mungkinkah ia telah melakukan sesuatu yang buruk? Atau adakah ini kabar tentang kematian suaminya? Atau.. atau…. Sampai-sampi ia tak mendengar apa perkataan kedua prajurit.

“Ma.. maaf maaf..” ucap Batsy terbata-bata begitu menyadari namanya dipanggil lebih dari sekali karena tone suara itu jelas menyiratkan.

“Apa..!!?” matanya melongo mencoba mencerna apa yang baru saja didengarnya. Ia tak percaya. “Boleh saya tahu ini perihal apa tuan-tuan?” pertanyaan dengan penasaran yang memuncak

“Maaf nyonya, kami hanya mengikuti perintah raja membawa Anda ke istana.”

“Kalau begitu, izinkan saya mengenakan sesuatu yang lebih pantas di hadapan raja.” sejenak Batsy mengundurkan diri, memilah milah pakaian terbaik yang dimilikinya. Tak lupa ia menyapukan riasan sederhana di wajahnya yang murung. “Bisa saja raja akan memenggal kepalaku. Setidaknya saat aku mati, wajahku tampak tidak telalu buruk” ucap Batsy dalam hatinya. Sekali lagi ia menatap seluruh ruangan, karena begitu kakinya melangkah mengikuti pengawal istana apa saja bisa terjadi pada dirinya. Mungkin ini yang terkahir aku di sini, katanya pada diri sendiri

Hampir bersamaan kedua pengawal dari istana menoleh begitu derik pintu terdengar. Tak kalah bengong mereka mendapat suguhan pemandangan di luar dugaan. Mereka terdiam dan larut, bahkan matanya tak berkdip. Detak jantung dipacu, bulu kuduknya merinding. Bukan, bukan karena hantu. Batsy yang kini di hadapan mereka amat berbeda dengan Batsy yang tadi membuka pintu.

Dalam balutan gaun panjang berwarna biru muda kain satin yang mengkilap, di lengkapi dengan bordir berwarna emas pada bagian leher, pinggang, ujung lengan. Ditambah lagi pemanis renda berjumbai manik-manik warna emas semakin menyempurnakan penampilan Batsy, seakan-akan gaun itu memang diciptakan untuknya meski di pedagang banyak gaun yang sama. Tapi di tubuh Batsy terasa sangat berbeda. Batsy sengaja memilih gaun kesukaanya itu, kalau dia harus mati, minimal ia mengenakan sesuatu yang ia sukai di penghujung hidupnya. Tak lupa ia mengenakan kerudung warna senada,membiarkan rambut panjang mengintip sesedikit semakin membuatnya tampak anggun dan elok. Jemarinya mengapitkan cadar yang terbuat dari kain linen tipis dengan warna senada gaunnya melangkah menuju kuda yang dibawa pengawal. Kedua pengawal terlihat sangat menikmati pemandangan ini, mereka menyesap dalam-dalam bau yang dikeluarkan Batsy. Ia sengaja memamaki wewangian beraroma kayu yang diberikan Uria tak lama setelah mereka menikah.

Hentakan tiga ekor kuda mulai bergerak menjauh menuju istana. Beberapa tetangga yang menyaksikannya mulai bergunjing tentang Batsy. Tapi sekali raja bertitah maka jadilah demikian. Siapa pun tak ada yang berani menyimpulkan perihal apa yang akan menghantam Batsy. Karena masih dalam ingatan yang tak akan terkikis, pernah Raja Vadid menyuruh membawa salah satu warga ke istana. Namun di pagi hari kepalanya sudah terpanjang dengan tombak tepat di depan istana. Katanya karena ia tidak menuruti apa kata Raja. Pun Batsy, siapa yang bisa memprediksi.

Setiap benda yang ia temui di istana begitu mengagumkan. Batsy memandang dengan takjub isi istana rajanya. Belum pernah ia menginjak kaki hingga jauh ke dalam. Paling juga sampai di halaman istana di kala perayaan-perayaan saja. Anehnya Batsy tidak dibawa ke ruang utama, tapi melewati beberapa ruangan besar yang dipenuhi dengan hiasan dinding, lukisan, temboknya amat mengagumkan. Ia berkali kali berdecak kagum tanpa disadarinya. Saat tangannya memegang pilar-pilar yang megah jemarinya seakan menyerap sesuatu energi yang membuatnya rasa takjubnya terus meluap-luap.

Ia tak memberi jeda sedikit pun bagi matanya memandang apa yang ada di hadapannya saat ini, karena belum tentu ada kesempatan lagi. Sampai-sampai ia menabrak pengawal yang ternyata telah berhenti dan Batsy sama sekali tak melihat. Dengan gerakan kikuk bercampur malu ia segera meminta maaf.

“Mohon tunggu sebentar nyonya.” salah satu pengawal membuka pintu besar berukir motif khas kerajaan Sirai. Pintu yang amat tinggi setidaknya ada dua kali tinggi orang dewasa. Irama denyut nadi Batsy tak beraturan, cuaca yang tak panas tapi beberapa butir keringat mengucur dari dahinya. Tangannya bergetar hebat, dan sekuat tenaga ia memaksa kakinya agar mau bekerja sama menopang berdiri di tengah lututnya yang berguncang. Pikiran kalutnya terus mengembara membayangkan kematian, hukuman atau sesuatu yang lain.

Si pengawal sudah kembali. Ia mempersilahkan Batsy masuk. “Apa yang harus aku lakukan?” tanyanya kepada pengawal. Sebab ia tak tahu harus bagaimana, tak sempat meminta saran orang lain, tak ada buku panduan apalagi tutorial. Desahan nafas panjang terdengar dari Batsy, menenangkan diri dan pasrah. Sekali anggukan pertanda ia siap, pintu dibuka. Perlahan kakinya memasuki ruangan di balik pintu, gaun cantiknya mulai basah oleh keringat yang bukan karena kepanasan. Rasanya ia bisa mendengar detak jantungnya sendiri begitu berada di dalam.

Hening… Tapi keterkejutannya belum berakhir kala suara itu tertangkap telinganya. (Bersambung)

Sumber: https://www.churchofjesuschrist.org/manual/old-testament-stories/chapter-29-king-david?lang=ind

Batsy Dipanggil Raja

Hari akan sore, Batsy harus segera ke pemandian keburu matahari terbenam. Ia genap tujuh hari semenjak haidnya berhenti. Itu artinya inilah hari pentahiran. Beberapa keperluan ia kemasi, mengunci rumah dan memastikan sudah aman untuk ditinggalkan. Sebelum benar-benar keluar ia sejenak berhenti memandang poto pernikahannya dengan Uria. Dalam balutan pakaian tradisional dengan suasana yang sakral dan hikmat. Sekilas senyumnya merekah. Berbulan-bulan terkadang ia tak bertemu Uria, suaminya. Itu hal biasa bagi istri prajurit dan Batsy bukan satu-satunya wanita dengan nasib ini.

Bukan pernikahan ini yang ia bayangkan. Awalnya, Batsy merasa akan mampu menerima ini. Tapi jujur saja terkadang ia merindukan kehangatan belaian dan pelukan pria.

Megahnya istana Raja tampak dari kejauhan dalam perjalanan ke pemandian. Pandangan kekaguman Batsy masih seperti kemarin. Ada kalanya ia berkhayal tinggal di sana dan menjadi pelayan raja. Kalau beruntung mungkin dijadikan selir. Tiba-tiba ia nyengir sendiri yang berkhayal terlalu jauh dan tak mungkin.

Kulit tubuh Batsy kini terlihat dengan jelas hanya berbalut sehelai kain. Kecantikannya memang” luar biasa tidak sedikit yang yang meragukannya. Lontaran “bajingan beruntung bertubi-tubi kepada Uria di hari pernikahannya. Walau pun tak bisa dipungkiri wajahnya memang tampan. Namun masih ada yang memuji menyebut mereka pasangan yang serasi.

Siraman air yang menyentuh tubuhnya begitu menyegarkan. Batsy memutuskan membasuh dirinya lebih lama. Ia ingin bersentuhan dengan air yang tampaknya jauh lebih segar dari biasanya. Masa najis sangat tidak mengenakkan bagi Batsy juga bagi yang lain. Ia harus berdiam diri di rumah tidak harus tapi akan lebih baik begitu daripada menyebarkan kenajisan kepada yang yang lain. Tapi ini bukan kali pertama, bertahun tahun sudah dan masih akan terus berlanjut. Masa menstruasi memang najis di kerajaan Sirai kala itu. Bukan hanya masa menstruasi tapi masih ada hal-hal lain yang membuat seseorang najis. Sebut saja memegang jenazah, menginjak kubur, organ vital mengeluarakan cairan dan sebagainya.

Musim semi yang indah bergulir menyatu utuh dengan kesegaran air. Ia harus segera bergegas, karena sebelum matahari terbenam semua ritual pentahiran harus sudah selelsai. Matahari semakin ke barat Batsy melangkah keluar menuju rumah.

di rumah tidak ada siapa-siapa, Batsy sedang merapikan bawaanya dari pemandian lalu tiba-tiba mendengar suara yang keras memanggil dari pintu. Ia heran dan kaget, siapa gerangan. Jantung berdebar kencang sambil berpikir keras, siapa dan ada keperluan apa. Dengan sangat hati-hati dibukanya pintu. Ia hampir mati berdiri mendapati sosok di balik pintunya. Jantungnya seakan meledak. (Bersambung)

Sumber: netralnews.com

Memeluk Cerah

Untunglah badai tidak berlanjut. Namun begitu dampaknya sungguh luar biasa. Luar biasa merusak meski dengan durasi yang pendek.

Sumay duduk dengan lunglai memandang seisi kamarnya. Dan kali ini ia benar-benar menyadari kalau ia tak suka keberantakan ini. Seberkas cahaya matahari masuk tepat di matanya, secepat kilat tangan kiri menghalangi jumlah cahaya karena silau. Sinar matahari itu tampak mengkilap. Perlahan dan penasaran kedua kakinya melangkah mendekati lagi jendela kaca. Secara perlahan membuka daun jendela, suguhan kekakacauan akibat badai masih terlihat.

Tapi langit memberi suguhan lain. Warna biru yang menawan bermotif gumpalan awan tipis-tipis, matahari yang gagah menempati singgasananya. ” Ah, cerah.” ucap Sumay.

Sedekat ini dengan badai baru pertama kali dalam hidup gadis itu. Menyadarkannya bahwa maut bisa datang saja. Badai mampir kapan saja.

Meski mendung amat menawan dan seksi, juga bukan jaminan kalau ia tak diikuti badai. Tapi juga akan selalu ada cerah yang merengkuh dan memberi harapan.

Sumay terdiam dalam kekagumannya bagaimana mendung, badai dan cerah datang seketika silih berganti.(Fin:rs/151119)

#squad3

#temacerah

#day29

#30dwcjilid20