Waspadai Testis Tidak Turun pada Bayi Laki-laki (Part 2, End)

Syukur kepada Tuhan karena menyediakan dana dan kami berencana kembali mengatur jadwal untuk operasi. Kembali ke adegan operasi…

Sesudah mengetahui perkiraan biaya operasi, saya mencoba mengirim pesan singkat ke Dokter Hendy. Menjelaskan perihal biaya yang dikenakan untuk operasi Gevariel oleh pihak rs. Saya sampaikan ternyata cukup tinggi jauh di atas perkiraan dan budget yang kami sediakan. Apalagi setelah baca-baca di internet operasi semacam ini kena kategori kecil. Saya sampaikan kepada beliau bahwa kami baru ada dana sekarang sudah menunggu sejak November lalu. Kami juga memutuskan untuk tidak sunat agar mengurangi biaya. Menunggu tidak lama balasan dari dokter datang menanyakan apakah kami memiliki asuransi atau tidak? Saya jawab kami bayar dengan dana pribadi. Akhirnya dokter mau menurunkan kategori bedah dari khusus menjadi besar. Lumayan biaya yang berkurang dan memilih di kelas satu kapasitas sekamar berdua. Awalnya suami berkeinginan di VIP dengan alasan suara Gevariel kencangnya minta ampun takut mengganggu teman sekamar. Tapi saya berkeras di kelas 1 saja karena pasien paham resiko jika memilih di kelas 1 apalagi kalau ternyata bisa ‘one day care’.
Rabu kami konsul lagi ke Dokter Hendy untuk memastikan jadwal operasi dan kelengkapan surat pengantar. “Kenapa ga jadi sunat?” Tanya dokter Hendy.
“Iya dok, ga nyampe budgetnya.”
“Ya Alloh…” Balas sang dokter saat tahu kami bayar pribadi bukan asuransi. Jadilah di surat pengantar circumsis dicoret.

Singkat cerita tibalah jadwal operasi yang sudah disepakati. Tapi kembali saya dirundung keraguan karena malam senin sekitar jam 11 Gevariel demam. Suhunya 37.8-38. Gelisah dan tidak bisa tidur. Menjelang subuh sekitar pukul 4 pagi Gevariel sudah mulai tenang dan pukul 5 demam tidak ada lagi Gevariel tertidur pulas. Saya ragu apakah operasi tetap bisa dilakukan. Namun demikian kami tetap ke rs sesuai jadwal dan menjelaskan kondisi Gevariel. Jika memang tidak memungkinkan ya ditunda sampai kondisi benar-benar baik. Dokter anastesi cek, dokter anak cek, dan dianjurkan cek darah serta rontgen kembali untuk hasil lebih akurat. Karena yang sebelumnya sudah lewat 2 minggu. Dokter anak menjelaskan kondisi jika memang leukosit tinggi operasi tetap bisa namun perlu antibiotik. Dokter anastesi sudah menjelaskan peluang dan resiko dari keadaan anak berdasarkan hasil cek darah dan rontgen. Saat hasil cek darah keluar benar leukosit tinggi. Kemungkinan ada infeksi bisa bakteri atau virus. Akhirnya diputuskan memberi antibiotik. Cek alergi terhadap antibiotik tidak ada masalah dan antibiotik mulai masuk.

Di UGD menahis setelah ambil darah
Di UGD menahis setelah ambil darah

Wajib puasa minimal 4-5 jam sebelum operasi. Karena dijadwalkan pukul 4 sore saya mulai hentikan makanan dan asupan untuk Gevariel dari jam 11. Masa-masa inilah yang paling menyita emosi dan energi. Secara Gevariel masih netek, mau tidur harus netek, haus lapar netek. Mulailah dia meronta menangis meminta disusui oleh ibunya. Saya tidak bisa memberinya karena sudah puasa. Infus sudah masuk agar tidak kekurangan cairan. Segala cara saya coba agar Gevariel berhenti menangis, mulai dari menulis, menggambar, membaca buku, melihat poto di telepon genggam, menonton video di youtube. Semuanya hanya bertahan dalam hitungan detik saja. Kembali jerit tangisnya bergema dikamar. Untunglah tempat tidur sebelah kosong jadi tidak terlalu mengganggu orang lain.

Sudah di ruangan bermain sebentar sebelum adegan tangis maha dahsyat dimulai
Sudah di ruangan bermain sebentar sebelum adegan tangis maha dahsyat dimulai
Memandangi tangannya setelah dipasang infus
Memandangi tangannya setelah dipasang infus

Saya bawa dia jalan-jalan ke lantai bawah, ke sana kemari mengitari seluruh rumah sakit. Saat itu dia diam sibuk mengamati rumah sakit melihat orang-orang, memencet tombol lift yang adalah kegemarannya. Lama sekali rasanya waktu berlalu menghadapi tangisnya yang membara dari jam 11. Sebentar-bentar saya melihat jam dan tidak membuat jam bergerak lebih cepat. Lelah datang juga menghampirinya, tidak kuat menahan kantuk Gevariel tertidur digendongan saya. Lumayan dia tertidur setengah jam memberi waktu istirahat buat saya dan suami. Saya benar-benar kelelahan kala itu, menangis sepanjang waktu, maunya digendong, mengantuk tapi tidak bisa tidur karena tidak bisa netek. Yang saya lihat adalah penyiksaan buat dia. ┬áHampir luluh hati ini ingin segera menyusuinya pikir saya waktu itu “dikit aja pun”, tapi saya harus bertahan untuk kebaikannya.

Menangis karena tidak bisa netek, makan dan minum sementara dirinya mengantuk. Selfie mengalihkan perhatian sejenak agar tangis reda
Menangis karena tidak bisa netek, makan dan minum sementara dirinya mengantuk. Selfie mengalihkan perhatian sejenak agar tangis reda

Akhirnya panggilan ke ruang operasi datang juga, suara tangisnya tak jua mereda. Sepertinya banyak yang operasi hari itu sehingga kami menunggu kurang lebih setengah jam karena pasien operasi yang keluar masuk. Untunglah ada lift petugas dekat ruang operasi saat Gevariel menangis saya bawa dia ke lift hanya untuk menekan tombol lift. Lumayan….. Saya melihat Dokter Hendy sudah datang dan masuk ke ruang operasi. Tak lama kemudian kami dipanggil. Saya memakai baju khusus menggendong Gevariel dan meletakkannya di meja operasi dengan raungan yang tak terkatakan kerasnya. Saya memegangi Gevariel saat dokter anastesi memasang bius. Dalam hitungan detik Gevariel sudah tidak sadar, saya melihatnya sudah tak sadarkan diri dan pilu rasa hati ini. Perawat mulai mengganti baju dan mempersiapkan operasi sementara saya disuruh tunggu di ruang tunggu. Saya dan suami duduk diam menunggu sambil memanjatkan doa agar operasi berjalan lancar.

Ada perasaan tak enak di hati selama operasi berlangsung, mungkin semacam rasa kuatir dan takut. Tapi saya terus berdoa menyerahkan operasi ke tangan Allah dan memberi yang terbaik bagi Gevariel dan kami. Ada kerabat yang datang berkunjung jadi kami ada bincang-bincang namun hati saya tetap memikirkan Gevariel. Bagaimana dia di sana? Apa sakitkah rasanya? Sekitar setengah jam berlalu perawat memanggil keluarga Gevariel. Saya kaget ada apa gerangan. “Sebentar ya Ibu dokternya mau menyampaikan sesuatu” sambil berlalu masuk ke ruang operasi. Perawat pria datang lagi memanggil keluarga Gevariel. Kami berdiri dan mendengarkan penjelasan si perawat. “Bapak Ibu, apa mau kalau anaknya sekalian disunat tidak akan ada penambahan biaya. Tidak dicharge. Biar sekalian kata dokternya.” Demikian penjelasan sang perawat. Kami, saya dan suami menyetujui dan terharu dengan kejadian itu. Formulir persetujuan pun diisi dan ditandatangani oleh suami. Saya tidak bisa melupakan bagaimana senangnya saya waktu itu hingga air mata pun mengalir. Saya terus menerus mengucap syukur pada Allah atas kasih karunianya dan berdoa untuk dokter, untuk keluarganya dan masa depannya. Karena sebenarnya ini sudah ada dibenak saya, seandainya sekalian sunat kami tidak perlu 2 kali menginap di rs, tapi karena kesepakatan dengan suami sunat ditunda ya sudahlah. Rasanya seperti mendapat kejutan hebat. Bagaimana Tuhan tahu persis isi hati saya dan betapa besarnya keinginan saya dan suami agar Gevariel juga sekalian disunat. Ah, Tuhan itu memang sangat baik…..

Lewat jam 10 malam mau juga dia tidur berbaring
Lewat jam 10 malam mau juga dia tidur berbaring

Beberapa kali dia terbangun untuk menyusu dan kesakitannya membuatnya merintih. Entah berapa jam saya tidur, tahu-tahu sudah jam 5. Tak lama kemudian saya mandi agar kalau Gevariel terbangun saya sudah rapi. Perawat memandikannya jam 6 dan tangisnya masih keras, kadang dia melihat ke arah kemaluannya dan heran sambil merintih lagi. Hahaa… Lucu juga. Saya pakaikan dia baju rs dan coba turun dari tempat tidur agar lelusa melakukan banyak aktivitas sambil memegangi tiang infus yang melambai-lambai. Benarlah, dia tampak seperti Gevariel yang sehari-hari bersama saya. Tertawa, bernyanyi, menulis, menggambar, membaca. Seperti tidak terjadi apa-apa. Saya sangat heran selasa pagi itu melihat kondisinya yang sehat, ceria dan lincah. Saya menyuapi seperti biasa, minum berceloteh, memanggil-manggil papanya. Sungguh tak terlihat di sedang kesakitan. Mungkin juga karena diberi obat pereda nyeri oleh dokter. Bedanya dia tidak pakai celana, hanya baju saja. Saya bersyukur luar biasa kepada Tuhan karena kasih karuniaNya yang tak terkira bagi kami terutama bagi anak kami.

Awalnya kami berencana paling tidak 2 malam di rs agar benar-benar siap merawatnya saat di rumah. Dokter Hendy sih sudah memperbolehkan pulang tingal bagaimana kata dokter anak. Tapi dokter anak tak kunjung datang. Saya tetapkan kami akan pulang dengan pertimbangan, Gevariel sehat, perawatan luka sudah diajari dan yang paling penting adalah untuk psikologis Gevariel. Sebab setiap kali melihat perawat dia akan ketakutan dan menangis dengan kencang. Kalau kami di situ misal satu malam lagi, berapa kali dia akan bertemu para perawat, ketakutan akan muncul lagi dan itu bagi saya tidak kondusif untuk pemulihannya. Saya mengirim pesan singkat ke dokter anak menjelaskan kondisi anak saya. Bahwa Gevariel sudah makan dan minum banyak, tidak rewel dan sehat. Saya juga minta agar infus dilepas sebab sangat mengganggu aktivitasnya. Dokter membalas ya bisa namun untuk lebih pasti saya akan cek ke ruangan. Akhirnya dokter anak datang sekitar jam 11 siang memastikan apakah si anak sudah siap pulang, menanyakan banyak makan atau minum. Saya jawab sudah dan anak saya tidak rewel. Cek punya cek, dokter anak mempebolehkan kami pulang dengan seperangkat obat. Dan kami pun pulang setelah makan siang.

IMG_1515
Di UGD menahis setelah ambil darah
Geva buang air kecil
Geva buang air kecil

Sekitar jam 10 petugas pengantar makanan rs menanyakan kami apakah mau makan siang dulu baru pulang? Karena di rumah makanan untuk Gevariel pasti tidak ada saya iyakan. Kembali ditanya asuransi atau pribadi? Kami bilang pribadi. Si Ibu pengantar makanan keluar dan selang tak lama petugas yang berpakaian rapi, seragam hijau dengan jilbab dan riasan di wajah bertanya? “Ibu pasien mau pulang ya? Mau makan siang dulu?”
“Iya mbak”
“Asuransi atau pribadi?”
“Pribadi mbak”
“Kalau Asuransi soalnya kena charge 30 persen dari harga kamar. Tapi kalau dana pribadi cukup bayar makan siangnya saja. Seharga tujuh puluh ribu.”
“Ooo… Baik Mbak, makan siang dulu baru kami pulang ya.”
Jadilah Gevariel makan siang di rumah sakit. Jadi bayar dengan auransi dan pribadi juga menjadi pertimbangan menarik bagi pihak rs.

Wajahnya yang ceria sudah siap untuk pulang
Wajahnya yang ceria sudah siap untuk pulang

Sebenarnya kami sempat survey satu rumah sakit di kawasan Antasari, RS Ibu dan Anak Brawijaya, dan di sana lebih mahal lagi. Pernah juga kepikiran operasi di rs lain seperti Hermina atau apalah. Waktu itu saya anjurannya Carolus dengan pertimbangan tetangga kakak saya yang domisili Cikarang anaknya operasi di sana dengan biaya di bawah dari RSPC. Namun suami menolak dengan alasan jauh dari rumah kurang pas apalagi jika mertua ingin jenguk. Jadi kami tetapkan hati operasi di RSPC saja.

Kasih karunia Tuhan yang tak terbatas dari Dia yang mengahasihi umatnya.

– Dari November kami diarahkan ke dokter lain yang praktek Selasa, Kamis dan Sabtu. Namun suami menolak menginginkan dokter dengan hari lain, sebab itu hari dimana dia kuliah. Untuk ini saja dia sudah bolos beberapa kali. Jadilah kami dialihkan ke dokter Hendy yang praktek Senin, Rabu Jumat.
– Tuhan menyediakan dana saat proyek suami mulai rampung.
– Awalnya kami memilih di VIP dengan alasan agar tidak mengganggu orang lain, namun saat kami menetepkan di kelas 1, tempat tidur sebelah kosong serasa VIP dan itu sangat menolong.
– Dokter Hendy dengan kebaikannya tidak keberatan menurunkan kategori bedah setelah mengetahui kondisi kami ini juga membuat biaya berkurang.
– Niat kami dari dulu agar Gevariel disunat, namun kami menunda karena budget tidak mencukupi. Ternyata oleh kasih karunia Dokter Hendy dengan rela menyunat Gevariel tanpa biaya tambahan.
– Bersyukur dengan pasca operasi Gevariel sama sekali tidak rewel, sehat dan tampak tidak kesakitan. Seperti setiap hari yang dia lakukan tidak ada keluhan sama sekali.

Apa yang kami alami, saya percaya itu pekerjaan dan kedaulatan Tuhan yang menggerakkan hati orang-orang dan menjadikannya baik adanya.

Pertolongan Tuhan itu ada saat kita perlukan. Salah satu lagu kesukaan Gevariel adalah Tuhan Yesus Baik. Lagu itu sering kami nyanyikan di rumah dan Gevariel menyukainya. Hari dimana dia operasi dan sehari sesudahnya saya meneteskan air mata setiap kali menyanyikan lagu itu. Tidak salah mengapa Gevariel begitu menyukai lagu itu. Hingga kini lagi itu amat menyentuh hati saya bahkan sampai seterusnya. Tak akan pernah saya menyelami bagaimana Tuhan bekerja tapi tak pernah tak saya rasakan kebaikan Tuhan yang luar biasa.
Mungkin ini tulisan yang panjang dan membosankan, ya sudahlah Tak mengapa… Semoga ada faedahnya.

Dari kami sekeluarga terima kasih yang tak ternilai kepada
1. Tuhan Yesus yang bekerja dengan luar biasa
2. Dokter Hendy Mirza Sp.U atas kebaikan dan kemurahan hatinya. Kami doakan Dokter Mirza sehat dan sukses selalu.
3. Dokter Rusmala
4. Dokter anastesi (lupa namanya) konsul, Dokter anastesi eksekutor dokter Kamaruddin Harahap, saat di ruang operasi suruh dipanggil oppung. Beliau sudah tua memang.
3. Dokter dan perawat di UGD
4. Dokter dan Perawat di ruang inap lantai 6 Aster
5. Perawat di lab dan rontgen
6. Dan semua pihak RS Puri Cinere yang menolong berlangsungnya operasi Gevariel

Teristimewa terima kasih buat semua keluarga, teman, kerabat, sahabat, rekan yang bersimpati dan berdoa untuk Gevariel. Kami doakan kita semua sehat selalu dan sukses dalam segala hal. (Fin/rs100615)

Waspadai Testis Tidak Turun Pada Bayi Laki-laki (Part 1)

Testis yang tidak turun ke kantong testis (skrotum) disebut kriptorkidisme pada bayi laki-laki yang hingga kini belum diketahui penyebabnya bisa terjadi pada bayi lahir prematur 30 persen dan 4 persen pada bayi lahir dengan waktu normal. Sebutan lain adalah undescended testicles (cryptorchidism). Pemeriksaan fisik akan dilakukan dengan cara meraba apakah terdeteksi testis ada atau tidak. Jika tidak ditemukan dokter akan menganjurkan pengobatan. Biasanya akan ditunggu hingga bayi usia 6 bulan dengan harapan akan turun secara alamai, lewat 6 bulan jika belum turun juga akan diterapi hormon hingga usia setahun. Usia diatas setahun beberapa sumber menyebut di atas 2 tahun harus operasi.

Kami tidak ada berpikiran sebelumnya akan terjadi pada anak kami Gevariel yang saat ini sudah berusia 22 bulan. Kami berpikir semua normal tidak ada yang salah dengan anak kami, karena memang tidak ada gejala sama sekali dan tak ada edukasi sama sekali dari pihak rumah sakit (hal ini yang paling saya sesalkan) padahal berkali kali bolak balik ke rs. SOP pemeriksaan bayi terutama laki-laki bagaimana sebenarnya.

Semua ini berawal saat jadwal vaksin tiba November 2014 (Gevariel berusia 16 bulan), namun vaksin di rumah sakit kosong sudah sebulan. Minggu berikutnya kami coba datang dan vaksin masih kosong. Bahkan sampai sekarangpun (Mei 2015) masih kosong malahan bertambah banyak item vaksin yang kosong. Jadi November kami tidak jadi vaksin, karena kami tidak ingin pulang dengan tangan kosong dua kali, akhirnya saya ke dokter anak iseng-iseng minta penisnya diperiksa. Sebab Gevariel sering pegang-pegang siapa tahu kotor atau luka. Ternyata penisnya baik-baik saja dan itu vase anal kalau sang anak suka memegang alat kelaminnya. Dokter dengan segera memeriksa testisnya dan benarlah yang kiri tidak ditempatnya namun di bagian atas di rongga abdomen. Dokter anak menyuruh ke bagian sub specialis Endokrin untuk memastikannya. Sabtu saat jadwal dokter endokrin tiba kami pun cek. Beliau sependapat dengan dokter anak. Dari beliau kami diberitahu kira-kira apa akibatnya. Secara kasat mata tidak tampak dan tidak mengganggu namun testis didesain Tuhan itu berada diluar tubuh dengan suhu lebih rendah 1-1,5 derajat dari suhu dalam tubuh. Normalnya laki-laki memiliki 2 testis, jika hanya ada satu yang berada di skrotum itu artinya abnormal yang bisa berdampak ke reproduksi. Artinya produksi sel sperma juga hanya setengah dari normalnya, peluang ini juga berlaku untuk pembuahan sel telur. Akibat lain adalah bisa menyebabkan keganasan. Karena itu harus segera ditangani. Dan untuk memastikan posisi testis dimana, ada atau tidak Dokter menganjurkan dilakukan USG. USG dijalanin dengan perjuangan yang keras sebab sang anak menangis meraung raung hingga munta-muntah. Kondisi yang sangat tidak nyaman bagi dia memang. Hasil USG pun keluar tidak lama kemudian dan secara awam bisa dilihat memang posisi testis tidak di dalam skrotum tapi ada.

 

Hasil USG
Hasil USG

Kembali konsultasi dengan dokter anak sub spesialis endokrin, jalan keluar kasus ini adalah operasi. Si Dokter juga bilang baru kemarin ada juga yang operasi kasus sama dengan ini, usianya pun sama satu tahun 4 bulan. Saya pribadi kaget mendengar dan tak tahu harus bagaimana. Membayangkan anakku dioperasi rasanya tidak menentu. Ingin saya saja yang menggantikan. Kami mulai mencari literatur di internet dan kerabat. Ternyata salah satu tetangga kakak saya punya anak laki-laki yang mengalami hal yang sama. Dari kejadian ini juga saya lebih paham sebenarnya ada standar dari rumah sakit untuk anaknyi laki-laki yang baru lahir. Penjelasan singkat dari pihak rumah sakit saat mau pulang:
-bayinya laki-laki ya bu
-ini penisnya dan testisnya
-bilirubinnya bla bla
-berat badan bla bla
-panjang bla bla
Dst

Dibeberapa poin RS tempat anak saya lahir tidak diberi penjelasan dan kambali saya sangat menyayangkan karena kakak saya bidan di Siloam sebelumnya dia menjelaskan apa yang harusnya dilakukan rumah sakit jika bayi laki-laki lahir dan mau pulang dari rs. Apa yang disebut kakak saya tidak dilakukan pihak rs sama sekali. Apalagi ini anak pertama, saya masih belum mengerti apa-apa. Tapi semua sudah terjadi, baik juga RS punya SOP terutama untuk bayi laki-laki. Saat hal ini kami sampaikan ke dokter anak dan dokter anak endokrin mereka hanya terdiam. Sudahlah…. Saya pikir selalu ada berkah dan Tuhan itu teramat baik. Mungkin ada hal yang harus lebih kami pahami dari karya Tuhan atas kejadian ini. Kembali ke topik, padahal kami berulang kali kembali untuk kontrol dan vaksin namun tak satupun kejadian yang melakukan pemeriksaan di bagian testis, bahkan kembali berkali-kali untuk vaksin tetap tidak ada. Mungkin karena bukan kasus umum. Saya sebagai ibu yang awam tidak menaruh curiga apapun dan tidak kepikiran sedikitpun untuk memeriksanya. Ditambah anak saya sehat, aktif, bobotya cukup, kecuali pupnya yang sering keras. Air lebih banyak serta buah dan sayur yang extra terkadang bisa mengatasinya. Tumbuh kembangnya berjalan seperti biasa.

Dari membaca literatur, artikel dan sharing pengalaman, kami sedkit banyak harus mempersiapkan diri menghadapi operasi. Secara finansial, emosi, mental dan waktu. Tidak bisa dilakukan saat itu juga walapun dari dokter menganjurkan secepatnya. Kami mencoba ke RS Siloam menanyakan second opinion, kurang lebih sama. Namun RS ini belum ada fasilitas operasi urologi sehingga kami tidak bisa mendapat perkiraan biaya. Sedang di RSPC petugas tidak bisa memperkirakan biaya tanpa ada kategori bedah apa dari dokter. Beberpa RS di internet menyatakan itu operasi kecil saja. Jadi di RSPC kami coba tanya bagaimana jika itu operasi kecil, mereka menyebut sejumlah nominal. Dari hasil tanya sana sini dan perkiraan biaya kami sepakat Gevariel akan dioperasi sekalian disunat tapi tidak dalam jangka waktu segera karena perlu waktu mengumpulkan dana. Namanya juga biaya pribadi bukan asuransi so ya begitulah. Dan hal tak terduga lainnya terjadi di bulan berikutnya saat saya harus masuk rumah sakit karena keguguran. Itu juga menyedot dana yang tak sedikit. Jadilah tertunda lagi operasinya selain itu ada hal yang harus dihadiri di luar kota jadi sekalian selesai tidak dikejar-kejar waktu menunggu masa semua tenang dan nyaman. Saat itu pikiran saya segera lakukan operas titik. Tapi keadaan tidak semudah itu ternyata. Kami terus berdoa untuk anak kami agar diberi kekuatan dan kesehatan saat menghadapi operasi. Kami berdoa agar mukjizat Tuhan terjadi bahwa tanpa operasi testisnya akan normal. Kami mengimani dan mempercayai Tuhan akan bekerja atas apa yang menimpa Gevariel. Tapi sekalipun harus menjalani operasi bukan kami kecewa kepada Tuhan karena tidak mengabulkan doa kami atau tidak memberi mujizat pada anak kami, tapi kami mengimani pekerjaan Allah itu tidak terbatas. Setiap hari berdoa dan membiarkan Allah bekerja dan bersandar pada kekuatan Tuhan saja.

Bulan April kami coba cek ke dokter bedah urologi Dr. Hendy Mirza SpU. Kesan saya, wah dokternya masih muda. Apa bisa dia?
Apa cari yang lain saja ya? Tapi dokter Mirza menceritakan pengalamannya sudah sering melihat dan operasi untuk kasus ini. Bawaannya sangat santai tenang dan praktis, padahal saya deg degan dan takut. Cek punya cek dokter langsung tanya mau operasi kapan? Jumat? Saat itu hari Senin, akhirnya kami sepakati hari senin minggu berikutnya yaitu 27 April 2015. Sebab dokter Mirza jadwal operasi Senin dan Jumat. Berkas-berkas dipenuhi dan kami langsung coba ke admission. Tada…. Jika semua dijabanin operasi testis dan sunat total biaya untuk operasi saja mencapai 34 juta belum obat dan kamar. Jauh sekali dari perkiraan sebelumnya yang hanya di kisaran belasan saja. Penyebab naiknya biaya secara fantastis adalah kategori bedah. Dokter Hendy mengkategorikannya di “kategori khusus”. Jadi untuk operasi itu ada kategori yang akan menentukan biaya. Kategori kecil, sedang, besar dan khusus. Yang paling mahal adalah kategori khusus melebihi kategori besar. Belum lagi kalau ada asisten, alat extra atau tambahan lainnya saat di ruang operasi. Biaya juga akan naik sesuai dengan kelas kamar. Kategori khusus untuk kelas satu dan VIP tentulah VIP lebih mahal. Ini tindakannya saja belum termasuk kamar, obat dan lain-lainnya. Mulai otak diputarrr…. Tapi Tuhan memang sangat baik. (Bersambung…..)