Siapa Lidia?

Itu nama ibu saya. Di orang Batak adalah tabu menyebut nama orangtua. Jadi salah satu bentuk ejekan di kalangan anak-anak adalah menyebut nama orang tua. Sekarang sudah banyak yang meninggalkan hal itu, karena perubahan jaman. Justru anak harus didorong untuk mengetahui identitas diri dengan benar termasuk mengetahui nama kedua orangtua mereka.

Lidia dalam bahasa Inggris ditulis Lydia bisa kita temukan di Kisah Para Rasul 16:13-15. Namun bisa kita baca dari ayat 12. Ia bukan orang Israel namun menganut agama Yahudi. Beberapa sumber menyebut ia wanita pertama di Eropa yang bertobat.

12. dari situ kami ke Filipi, kota pertama di bagian Makedonia ini, suatu kota perantauan orang Roma. Di kota itu kami tinggal beberapa hari.

13. Pada hari Sabat kami ke luar pintu gerbang kota. Kami menyusur tepi sungai dan menemukan tempat sembahyang Yahudi, yang sudah kami duga ada di situ; setelah duduk, kami berbicara kepada perempuan-perempuan yang ada berkumpul di situ.

14. Seorang dari perempuan-perempuan itu yang bernama Lidia turut mendengarkan. Ia seorang penjual kain ungu dari kota Tiatira, yang beribadah kepada Allah. Tuhan membuka hatinya, sehingga ia memperhatikan apa yang dikatakan oleh Paulus.

15. Sesudah ia dibaptis bersama-sama dengan seisi rumahnya, ia mengajak kami, katanya: “Jika kamu berpendapat, bahwa aku sungguh-sungguh percaya kepada Tuhan, marilah menumpang di rumahku.” Ia mendesak sampai kami menerimanya.

 

Sumber: http://pmarksabbatical.blogspot.co.id/2015/07/trip-to-turkey-thyatirasardis.html. Thyatira is in modern Akhisar, and is an ancient ruin as are all of these places.

 

Paulus dan rombongan menemukan perempuan-perempuan dalam rumah ibadah. Salah satu diantara mereka Lidia, penjual kain ungu. Kain ungu kala itu kain yang digunakan bahan pakaian kaum bangsawan. Harganya pasti relatif lebih mahal secara yang beli kaum berada. Tiatira kota kuno kini masuk wilayah Turki.

Ayat 14 menyebut Tuhan membuka hatinya. Kadang saya berpikir mengapa Tuhan tidak membuka hati semua orang untuk Kristus. Hahah.. konyol sekali ya. Entahlah saya yakin Tuhan punya alasan tersendiri mengapa membuka hati yang dan yang lain tidak. Misteri Ilahi tak perlu bertanya-tanya adau mendesak mencari jawaban.

Setidaknya Lidia ini harus ramah kepada pelanggan, berpenampilan menarik (enak dipandang), berdagang barang mahal artinya punya modal karena kain ungu tidak murah. Analisis sederhana dari segi pekerjaan adalah, bisa jadi Lidia berasal dari keluarga yang punya, setidaknya dia sudah belajar berdagang jauh sebelum ia memulai profesi sebagai pedagang, yang paling memungkinkan adalah ia belajar dari orangtuanya cara berdagang, relasi yang banyak diantara para kaum bangsawan. Dan yang tak tak kalah menarik, hampir bisa dipastikan ia berdagang dengan baik sehingga pelanggan loyal padanya. Tidak ada ayat yang menyebut pembelinya loyal, namun kesan yang timbul karena ia adalah orang Yahudi yang sangat kuat dengan hukumnya mata ganti mata gigi ganti gigi. Ia senang belajar, mau mendengar Paulus saat di rumah ibadat.

Ayat 15, ia dibaptis bersama seisi rumahnya.

Tidak disebut siapa suaminya, ada kemungkinan ia adalah janda atau single. Namun sumber lain menyebut ia tidak menikah. Seisi rumahnya siapa saja? Minimal pekerja-pekerjanya, mungkin juga ada kerabat lain. Seluruhnya dibaptis. Lidia ini orangnya baik, bisa dipercaya, karena jika tidak, tidak mungkin seisi rumahnya mau dibaptis begitu saja. Mesti sudah melalui proses yang lama dan panjang mereka mengenal Lidia dan merasakan dampak baik hidup bersama Lidia. Setelah mendengar injil dari Paulus, ia langsung mau dibaptis. Tidak menunda-nunda atau pikir-pikir dulu. Ia juga mengaku bahwa ia orang percaya. Tidak malu atau sungkan dengan imannya. Salut dengan hatinya yang kokoh untuk imannya yang tidak mudah di kalangan orang Yahudi

Lidia mendesak Paulus dan rekannya (sepertinya yang dimaksud adalah Silas) mampir ke rumahnya setelah mereka dibaptis. Tampaknya Lidia ini memang cukup berada, hingga sedikit memaksa Paulus dan Silas untuk mampir ke rumahnya hendak menjamu mereka di rumahnya. Tidak semua orang begitu, bahkan jarang. Kalau pun ada sepertinya kebanyakan adalah basa basi. Iya nggak sih?.

 

Jadi sedikit kesimpulan yang bisa saya doc terhadap pribadi Lidia adalah:

1.Pedagang kain ungu

Seorang pedagang, kudu rajin, kerja keras, pintar, penampilan dan tutur kata yang menarik. Kalau tidak bisa cabut pelanggannya. Berdagang kain ungu yang tergolong mahal juga butuh modal. Ada kemungkinan juga Lidia ini orang kaya. Yang tak kalah penting, ia mesti memiliki pergaulan yang luas terutama di kalangan atas. Harusnya ia berdagang dengan jujur dan menjaga loyalitas pelanggan. Sebab ia orang Yahudi yang sangat kuat hukum, dan ia pun ada di rumah ibadah mendengar ceramah. Kalau pedagang lain mungkin lebih memilih istirahat setelah seminggu berdagang. Kepribadiannya sangat menarik dan disukai.

2. Memberi pengaruh baik

Ia dan seisi rumahnya dibaptis. Artinya ia memberi pengaruh baik. Mungkin sebagai ibu atauvpun majikan. Rasanya tidak akan semudah itu orang mau dibaptis jika belum tahu bagaimana Lidia ini memberi pengaruh baik bagi kehidupan orang rumahnya selama ini.

3. Baik hati mau memberi tumpangan/jamuan

Lidia mendesak agar Paulus dan rekannya mau singgah di rumahnya. Ini mencerminkan ketulusan dan apresiasi yang besar dari seorang Lidia kepada orang yang telah menolongnya. Jika ia tidak berhati baik, tak mungkin melakukan ini.

4. Tegas dengan imannya

Ia mendengar Paulus, percaya dan dibaptis dan ia mengaku bahwa ia orang percaya. Fantastis, ia tegas dan yakin dengan imannya bahkan di hadapan Paulus.

Jadi paham mengapa hatinya terbuka untuk injil alau mungkin bukan itu alasan Tuhan. Namun dari segi kepribadian Lidia jadi ada gambaran yang jelas. Tidak salah kalau Lidia adalah perempuan yang istimewa. Hanya beberapa ayat namun memberi penbertian yang dalam dan kuat untuk seorang Lidia.

 

lidia-kis.jpg
sumber: https://id.pinterest.com/pin/512495632577069736/

Tulisan ini hanya analisis penulis secara pribadi. (Fin:rs/25318)