Superman Bersandal Merah

Dengan cepat kaki mungil itu menghampiriku, masih dengan kesadaran seadanya, kedua bola matanya masih enggan untuk dibuka lebar-lebar. “Ma baju superman ma…” rengekannya yang khas yang tak asing meminta baju superman miliknya. Saya menoleh ke sisi lain dimana saya duduk ternyata baju superman ada di jemuran yang kemungkinan terlihat olehnya dari kamar tidur dan langsung tanpa basa basi minta untuk dipakai detik ini juga. Stelan baju dan celana superman yang beberapa bulan ini begitu ia gilai. Baju ini diberi oleh nantulangnya di Dumai sudah lama saat Geva kira-kira berusia setahun.

Kapan tepatnya ia mulai menggilai baju ini saya lupa. Tapi kisah ini begitu menggetarkan hatiku. Ia ingin setiap saaat memakai baju superman ini. Sulit sekali baginya melepas kalau sudah menempel di badan. Tentu dengan bujuk rayu kelas internasional harus saya kerahkan agar ia mau. Kalau mau tidur saya bilang ganti baju yang berlengan panjang dan celana panjang biar nanti tidak kedinginan tapi kecintaannya pada baju superman membuat ia tak mau menanggalkan. “Besok boleh ko pake lagi.” dan tanpa lelah saya membujuknya ia pun mau. Bangun pagi langsung ditagih tapi kan si baju belum kering atau belum dicuci, kembali saya mengeluarkan trik “Nanti pulang sekolah boleh pakai lagi, sekarang pakai yang ini dulu (pakaian ke sekolah)” sambil terus merengek namun menuruti. Pulang sekolah syukur-syukur si baju sudah kering bisa langsung pakai sebab sepanjang jalan di sekolah sudah dia bilang nanti pakai baju apa Ma? “baju superman” di sekolah juga masih disebut, “nanti di rumah pake baju apa ma?” , “baju superman”. Kalau jam sekolah sudah berakhir ia ingin segera pulang.”Ma pulang, mau pake baju apa Maaa?” “baju superman”. Tiba di rumah ternyata masih basah. Bola matanya mulai menunjukkan rasa kekecewaan yang dalam seolah ada penghianatan diantara kesepakatan kami. Ia akan menahan airmata sekuat tenaga. Tak jarang tangisnya pecah karena harus menunda memakai baju superman. Ia akan menunggui sang baju di jemuran, diambil, dipegangin, dijemur lagi, sebentar lagi diambil, dipegang apakah cukup kering lalu dijemur kembali. Kerap juga ia memaksa tetap ingin mengenakan sekalipun masih basah. Hasrtanya yang kuat kadang sulit saya bendung. Terkadang saya setrika sampai kering, dan ia akan kegirangan dengan wajah dan tawa yang renyah. Itulah adalah desiran arus kebahagiaan bagi saya. Karena ia lihat pernah saya setrika secara ajaib menjadi kering dan langsung bisa dipakai, jadilah ia pun menjadikan ini senjata agar bisa dipakai segera saat masih basah. Tapi kan tidak semua kondisi cara ini berhasil kalau masih plek baru dicuci airnya masih menetes dengan kecepatan tinggi tentu saja tak mungkin ini berhasil. Maka jurus bujukan harus extra dikeluarkan. Pakai saja dulu ini itu, nanti, ayo kita beli es krim, lihat video anu bla bla bla… Oh baju superman walau kini sudah kekecilan di badannya namun tetap saja membawa pesona bagi anakku. Seolah-olah saat mengenakan baju itu ada kekuatan baru yang muncul menjadi super hero. Tak bisa menggambarkan kegembiraannya setiap kali ia memakai baju superman. Tak akan cukup sejuta lagu menceritakan kebahagiaannya. Entah sampai kapan baju superman ini akan menggairahkan anakku.

Adegan-adegan di luar dugaan sering terjadi jika ia sudah sangat suka sesuatu. Berkaitan dengan baju si superman ini sering sekali ia tidak mau disuruh mandi. Karena itu berarti ia harus melepas baju superman dan memakai baju yang lain. Di beberapa kesempatan pun ia kekeh ingin tetap memakai baju itu sekalipun masih belum kering tanpa disetrika. Yang paling tragis dari semuanya itu adalah saat mau ke sekolah dia tidak mau ganti baju. Tepat dilihat dijemuran si baju sontak dia tunjuk dan teriak “baju Geva”. Saya ambil sembari saya jelaskan belum bisa dipakai karena masih basah secara habis dicuci coy, tapi ia tidak terima, saya paksa pun tetap tidak mau. Akhirnya ia tetap memakai baju itu dalam keadaan basah hingga kering di badan.

Masih dengan baju yang sama mandi sebelum berangkat sekolah, tapi tetap ingin memakai baju itu. Jadilah ia mandi tapi tetap mau mengenakan baju yang sudah ia pakai tidur semalaman. Di sekolah dikira ia belum mandi. Astaga nak…

Nah kejadian ini lebih kompleks lagi ia sama sekali tidak mau mengganti baju, apalagi mandi. Jadilah kami ke sekolah tanpa mandi tanpa ganti baju. Woww…. kemon men itu soal baju superman. Begitu obsesinya dia dengan si baju yang kini sudah kekecilan. Akhirnya saya berkali kali harus langsung mencucinya begitu selesai dia pakai supaya cepat kering dan bisa dipakai lagi.

Kejadian yang cukup menggelikan saya kira. Ia punya dua celana yang sama, tersebutlah celana superman 1 dan celana superman 2. Jika yang satu kotor atau basah ia akan bertanya celana superman 1 mana ma? itu atinya ia sedang mengindetifikasi celana yang mana yang sedang ia pakai?

 “Celana superman 1 mana ma?”, saya akan mulai mengamati celana yang ia gunakan. Jika saya jawab dipakai geva, maka tahap selanjutnya adalah,

“mana celana superman 2 ma?”.

“di lemari” itu artinya celana superman 2 dalam kondisi baik dan layak pakai.

“mama ambil celana superman 2” seraya melepas si celana superman 1 yang sedang dikenakan. saya mengambil dan ia pun mulai menyerukan ganti celana superman 1. Namun apabila kondisi si celana superman 2 sedang tidak dilemari, misalnya di jemuran atau di tempat baju kotor maka selagi masih dipakai harus diambil. Kalau tidak bisa dipakai misalnya sangat basah maka lebih baik memakai celana superman 1 yang mungkin hanya basah sedikit. Intinya harus memakai celana superman.

Ini lain lagi. Ia akan bertanya dimana keberaaan celana superman yang lain selain yang sedang ia pakai. Bila di lemari atau sudah kering, maka ia akan meminta dengan wajah lebih gembira. Luar biasa bahagianya dia sebab kedua celana kesayangannya sedang dalam kondisi siap pakai. Hal ini jarang terjadi. Apa yang dia lakukan? Sangat di luar dugaan.

“Mana celana superman 1 ma?”

“Di lemari.”

“Celana superman 2?”

“Dipake Geva.”

Ia pun berlalu dengan membawa serta rona bahagia di wajahnya. Eitsss.. jangan salah. Jangan senang dulu. Tak lama kemudian ia kembali dan minta supaya celana superman 2 yang sedang dikenanakan diganti. “Ma, ganti celana superman 2. Pake celana supeman 1.”

Saat ditanya kenapa diganti apa basah atau kotor. Rasanya tidak ia sedang tidak bermain kotor atau memegang sesuatu yang mengakibatkan kotor atau basah atau ngompol? Semua saya periksa tidak ada yang salah dengan celananya. Okelah saya ganti dengan celana superman 1. Lalu ia pun berlalu kembali tenggelam dengan kesibukannya. Tak lama kemudian ia datang lagi mau pipis katanya. Baik, saya antar dia pipis tapi ada permintaanya “ma ganti celana superman 1, pakai celana superman 2.”

 “Kenapa?” saya bilang “yang ini masih bersih masih bisa dipakai”, tapi ia tidak mau. Hal itu berulang terus sampai salah satu celana benar-beanr basah atau kotor dan tak bisa dipakai lagi. Ternyata oh teryata ia mau supaya kedua celana tepakai olehnya. Karena tidak mungkin memakai celana sekaligus 2 maka dipakailah secara bergantian. wowww…

Yang ini beda lagi, kalau sedang mengenakan baju superman atau celana superman maka pasangannya harus superman juga. Jadi waktu itu malam mau tidur saya suruh dia ganti baju pakai baju tidur. Eh tidak mau dan ngotot harus pakai baju superman. Jadi pikir saya nanti saja saya ganti pas dia tidur. Setelah dia terlelap saya pun mengganti celananya saja dengan celana panjang. Ia pun tertidur dan secara ajaib tak lama kemudian ia terbangun mengamati pakaian yang ia kenakan seolah-olah memastikan bahwa pakaian supermannya masih komplit. Saat dia lihat celananya beda langsung ia minta ganti bajunya “ma… baju apa ma…?” itu artinya saya harus menyebut satu baju yang bukan superman karena celanan yang dikenakan bukan celana superman. Misalnya baju bintik-bintik. Ia pun akan mengulang tanda setuju. Dan masih banyak lagi kenangan baju superman yang kelak akan kurindukan.

Bagaimana dengan sandal berwarna merah? Ini adalah sandal bergambar pokemon Pikachu tak ada yang istimewa. Saya membelinya sudah lama lupa tepatnya kapan dari nantulang mama Tiara. Sebelumnya ia tak pernah memakai sandal dengan model seperti itu. Rada ragu juga waktu membelinya. Tapi saya coba saja siapa tahu dia mau. Dipakaikan ke kakinya dia tidak mau merasa aneh dengan model sandal ini sebab belum pernah. Akhirnya jadilah si sandal nangkrak di rumah beberapa bulan. Saya sodorkan kembali tapi belum mau. Jeda beberapa waktu kembali saya sodorkan kali ini dengan pujian yang lebih dahsyat. ‘Wah sandalnya bagus ya, warna red. Sandal baru Pa, bagus kan pa. Coba pakai bang pasti bagus’. Akhirnya ia pun mau tapi tidak bertahan lama. Lumayan ada kemajuan. makin lama durasi bertambah dan terus membaik hingga sekarang tak mau lepas dari sandal merah, hingga jelek banget. kemana-mana maunya pakai sandal merah. hohoho…. jangan gini juga kali. Kemana pun ia harus memakai si sandal merah. Coba tawarkan sandal biru atau hijau yang terjadi adalah suara tangisnya meledak. Okelah…. tapi hebatnya kalau sekolah minggu ia mau memakai sepatu walau pun setelah tawar menawar dengan sandal red. Pernah juga sekalinya ia ke sekolah minggu mengeluarkan kengototannya tetap memakai sandal merah. Hmm… daripada memperpanjang debat tiada ujung ini saya izinkan dia dengan sandal merah tapi dengan satu syarat harus mengenakan kaos kaki biar menyamarkan sandalnya itu. 🙂

Kostum yang paling sempurna menurut si bocah kami. Superman bersendal merah.

Perfecto….

(Fin:rs/14616)

IMG_0039
promo sate
kaki
dengan sandal merah yang sudah usang
IMG_0026
full costume, superman bersandal merah
Advertisements

Meniup Gema Karma

Layaknya aliran sungai pemuda-pemuda dengan usia belasan itu tiada henti mengarahkan trik untuk mendapat perhatian dari dia yang berparas ayu serta senyum memawan.  Sekalipun balasan yang mereka terima sebentuk wajah dengan kedua ujung bibir ditarik ke arah yang berlawanan ala kadarnya berdurasi hitungan satu detik. Ditambah lagi ia tak terlihat dekat dengan pria dan tak ada perhatian lebih ke salah satu jejaka kampung. Dorongan oleh rasa penasaran memberi energi untuk terus mendekati si perempuan jelita.

Heningnya malam dinikmati Bella dengan iringan nyanyian jangkrik. Esok semua akan berbeda baginya. Desahan nafas panjang terdengar,  apa gerangan yang sedang melanda gadis lugu yang usianya tak lama lebih jumlah jemari tiga tangan. Kumandang sholat subuh pun belum lagi tersiar. Beberapa potong pakaian dalam buntalan sarung, sedikit nasi berlauk tempe sisa tadi malam. Kedua perempuan anak beranak itu melangkah semakin jauh hingga tak nampak lagi, rimbunan pepohonan seolah menelan mereka hidup-hidup.

Dan rumor pun menetas satu persatu atas kepergian Bella bersama sang ibu yang telah berganti purnama. Pemuda yang pernah menaruh simpati pada Bella pun berlahan dilupakan. Derap langkah kaki kokoh berhiaskan guratan otot yang tegas.  Terlihat jelas betapa kuat dan mantap saat kedua kaki diihentakkan dengan ringan. Tekadnya bulat meninggalkan kampung halamannya.  “Bagus, jangan pergi!” terdengar suara wanita dewasa mencoba menghalangi anaknya meninggalkan rumah. Seperti usaha mencari angin, sia-sia.  , terus berjalan menjauh dari rumah yang telah menjadi naungannya sejak lahir. Ia yang menjadi tumpuan keluarga tak lagi dirisaukannya, sebab baginya Bellalah yang menghidupkan dunia.

Bergantian nama hari berlalu, senyap kabar pemuda itu. Misteri ini membangkitkan ketakutan hebat di kampung Jati Kembar. (Bersambung…)

 

Sebab Setiap Anak Istimewa

Setiap tahap pertumbuhan anak berbeda.  Perlu dicatat tidak harus sama dengan orang lain. Anak orang lain umur segini udah begini begitu bla bla,  jadi otangtua khwatir seringnya memaksa anak untuk begitu begini biar tidak kalah saing sama uang lain.  Iya atau iya? Terus terang saya kadang merasa begitu,  tapi saya ingat lagi betapa istimewanya anak saya,  kalau dia tidak sama dengan anak lain itu sangat bisa dan saya anggap kalau anak saya anti mainstrem yang penting tumbuh kembangnya positif dan sesuai usianya.  Sesimpel itu.  Betul? Betul.  Baiklah.

Hari demi hari bersama Geva saya menyaksikan hal-hal baru dan menarik.  Membawa mainan kesukaan saat tidur,  dan otomatis mencarinya saat bangun pagi.  Ini menarik,  karena saya adalah satu-satu yang in charge di sini sebab apa pun itu sang bocah akan langsung menagih, no excuse.  Kadang bisa dirayu dan ditenangkan tentu saja itu bukan pekerjaan mudah ibarat perang kudu bertaburan air mata dan darah dulu. Ini mah lebih cocok di adegan sinetron ya daripada perang.  Pokoknya drama kelas paus,  kakap ma kalah. Yang begini ini memaksa saya lebih jeli mengingat,  benda apa yang lagi hits buat dia,  dan saat dia lengah lupa pada si benda saya tidak boleh, selalu awas dan menyelamatkan mainan kalau tak ingin situasi genting berhadapan dengan saya nanyinya.  Bukannya apa-apa,  urusannya panjang bo.  Kalau anak lain mungkin dibilang,  “Maaf Nak,  mainannya sudah rusak.”  serta merta si anak paham dan tak merengek lagi,  woww,  amazing.  Kalau Geva,  beughhh jangan harap.  Pokoknya kudu berdarah-darah dulu.  Karena itu saya harus awas.

Kebiasaan baru yang tak kalah hits dari lagunya Afgan adalah semangat dengan full power jumping on the bed sesudah mandi.  Pertanyaannya berapa lama itu bisa terjadi?  Hoho bisa sampai 30 menit.  Nah, trus masalahnya apa.  Gitu kan.  Ga masalah sih kerjaan banyak bo dan yang paling berpengaruh saat mau berangkat sekolah, arghhh naik pitam rasanya.  Tapi saya melihat suara tawanya yang renyah, kegembiraan hatinya, kebahagiaan yang terpancar ingin membiarkan saja. Semangat ini hanya terjadi sehabis mandi. Ada energi baru yang muncul rupanya begitu keluar dari kamat mandi.

Kekinian lagi selain minta AC harus nyala dan saat itu tidur di samping saya. Nah posisi pun harus seperti yang dia kehendaki. Tak ada ampun walau setitik melenceng. ‘Mama bobo’  itu artinya, saya tidur terlentang,  kepala beralaskan bantal di sisi kiri kasur, selanjutnya dia akan berbaring di sisi kanan dengan kepala beralaskan lengan saya.  Artinyan lengan kanan memanjang ke kanan tentunya dan mulailah ia berbaring dengan menyamping ke kiri sambil memeluk saya. Sampai kapanpun adegan tidur tak akan terpatri kalau posisi ini tidak terrealisasi.

Selalu ada hal baru yang mungkin tak akan terulang dan akan dirindukan.. Jadi apapun yang sedang disukai anak saat ini,  membuat orangtua jadi bulan-bulanan mungkin,   nikamatilah. Kelak itu akan menorehkan kenanganan manis yang tak kan pudar oleh keganasan waktu. (Fin:rs/250117)

Sebab Perubahan Selalu Ada

“Ayo bobo”,  suara saya memberi instruksi.  Ia pun melangkahkan kaki menuju kamar langsung menatap AC seraya berkata.  “Ma nyalain AC”.  Waduh..  Anak sekarang ya AC itu mutlak ada.  Bagaimana kelak kalau tak punya atau sedang bepergian dimana tak ada AC.

Masih ada yang lebih seru.  Tadi pagi saya bangunkan dia,  langsung dia lihat AC mati,  dan seperti dugaan saya perintah untuk menyalakan AC pun segera terucap.  Bukan hanya itu saja dengan langkah gontai turun dari tempat tidur menuju jendela.  Saya heran mau apa dia.  Ternyata oh ternyata tangannya yang mungil menarik narik tirai.  Hohoho…  Rupanya ia terganggu dengan cahaya yang masuk. Instruksi belum berakhir, “nyalain”  saya pikir apalagi yang mau dinyalain?  Saya coba sebut satu per satu,  AC,  lampu tapi tak satu pun yang tepat. Rupanya yang dimaksud adalah lampu senter,  lampu tidur dengan cahaya remang. Dia mau menciptakan suasana tidur selayaknya malam sebelumnya.  Tak kuat saya menahan tawa. Hahaha…  Lucunya anak kecil itu ya.

Tulisan ini memang tak berbobot,  tapi buat saya ini amat berharga 😁

Tahun Baru Itu untuk “Kafir”

Nah lho, bingungkan sama judulnya. Tapi ngomong-ngomong soal “kafir” rasanya jadi kata primadona di Indonesia akhir-akhir ini. Yang paham anggukkan kepala. Kerap disebut-sebut dalam berbagai moment dan begitu menjamur di media sosial. Bahkan yang tak kalah viralnya salah satu akun, dengar-dengar sih pemilik akun adalah seorang guru bergelar master, jurusan psikologi dan bla bla, terang-terangan menyebut 5 pahlawan yang terpampang di cetakan uang baru Indonesia adalah “KAFIR”. Sanagt menggelitik ya ciutan si kawan ini yang katanya juga pernah jadi caleg dari salah satu partai. Duh, kalaulah para pahlawan bangsa mendengarnya apa katanya?  Semoga kita semakin menjadi manusia yang diridhoi oleh Pencipta sehingga akal sehat, nurani, logika tidak tertutupi oleh kebencian. Seperti Salomo dia hanya minta hikmat.

Saya membaca status salah yang menyebut tahun baru, tiup terompet bikin berisik, kembang api bakar-bakar uang. Mending tidur bala..bla bla. Lalu menguraikan sedikit pandangan petinggi agamanya. Intinya kaum kafirlah yang merayakan tahun baru. Pada bagian kalau malam tahun baru sama seperti malam-malam lain saya setuju, tapi jangan menghina orang lain dong. Bahkan yang berzikir pun dihina juga. Bingung saya, katanya kenapa ga zikir pada malam malam lain saja. Begini salah bagitu salah. Kalau tak suka tahun baru ya udah diam saja. Malah menyebar isu tak sedap.

Malam pergantian  tahun identik dengan kembang api, meriah, dentuman musik, minuman dan sebagainya. Kalau orang Batak terutama mereka yang Nasrani ini adalah momen paling berharga sepanjang masa. Dan buat kamu yang belum kawin tapi dianggap sudah cukup umur, inilah waktunya untuk disidang. Tapi semuanya itu diawali dengan ibadah singkat, berdoa bersama, mengucap syukur karena kasih karunia Tuhan menyertai sepanjang satu tahun yang penuh misteri.

Dimasa lalu, acara malam tahun baru adalah yang paling tidak kusuka. Karena seperti sidang, tapi kalau sudah lewat bagian itu giranglah hati. Dari enam bersaudara satu per satu kakak kakak saya meninggalakan rumah, satu persatu angota keluarga berkurang saat acara malam tahun baru. Di situ saya mulai iri dengan kakak kakak saya yang sudah merantau sebab mereka tak lagi disidang saat malam tahun baru. Hahah… Tapi masa-masa itu kini begitu dirindukan.

Buat saya pribadi malam tahun baru tidak begitu istimewa, sama saja dengan malam-malam lainya. Sama seperti hari ulang tahun, bagiku tak ada yang istimewa. Suami saya mengerti mengapa saya beranggapan demikian. Tapi saya tetap welcome dan melakukannya juga. Karena itu tidak mengurangi nilai apapun dan tidak mengubah saya menjadi lebih buruk. Yang lebih drama lagi kalau di orang batak, pas tahun baru loe ga berkunjung ke kerabat anu, ono, ini, itu, dianggap perbuatan tidak sopan, dikit dikit sombong. Haduhh. Hello…. Bisakah kita para Batak melebarkan pengertian dan pemahaman kita? Biar maju kita sikit. Cem betul aja.

Tahun baru, menjadi momen tepat memperbaharui komitmen, menguatkan visi dan misi pribadi. Biarlah kita menjadi pribadi yang semakin mengenal Allah, semakin serupa dengan Dia, dan bergantung pada kasih karunia.

Semangat….

Tahun baru 2017, komitmen baru, goals baru, niat dan itikad kuat, menjadi lebih baik, meraih impian.

Salam

 

image

 

Dearest Noel

Seminggu jelang natal tahun ini, hari-hari yang tak mudah kami lewati. Saya berteriak sekencang-kencangnya pada Dia yang empunya alam semesta agar kami bisa melewati ini. Saya pribadi tak bisa berbuat apa-apa dan hampir putus asa. Yang saya lakukan hanya pasrah, menangis, menjerit memohon sedikit belas kasihan Sang Maha Empunya. Saking pilunya, tak bisa saya jelaskan bukan berita kedukaan tapi sedikit tanjakan akan perjalanan hidup. Di antara segalanya saya pun semestinyalah memohon ampun pada Nya, ditoel sedikit hampir langsung putus asa, merasa paling menderita sejagad raya. Oh Tuhan ampunilah kecongkakan jiwa yang lemah ini. Pribadi yang amat sangat rentan kala derita itu datang. Ampunilah kami karena kebodohan dan tidak tahu diri kami.

Waktu terus berputar tak banyak yang berubah, hingga hari menjelang malam kulihat pekerjaan Tuhan yang membawa kebaikan bagi kami. Hanya dengan melihatnya tidur pulas saja kegirangan hatiku bertambah-tambah. Oh, Tuhan betapa Engkau sangat baik, kalau bukan pertolongan Tuhan tidak mungkin. Karena kami sama sekali sudah tak berdaya. Terima kasih ya Tuhan Yesus, karena karya Penyelamatanmu atas kami, karena berkat yang tak berkesudahan bagi keluarga kami. Walau belum pulih tapi aku bisa melihat kemajuan pesat yang sedang mengarah ke sana.

Tak ada cukup kata mewakilkan bagaimana kebaikan Tuhan itu amat tak terukur bagi kami, dulu sekarang dan nanti.

 

Selamat Natal

image

 

Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa -Hebrews-

Mudik ke Baruara, Balige 2016

Woww… tak disangka, ternyata kami sekeluarga mudik tiap tahun tiga tahun terakhir. Kami mengingat-ingat kembali bagaimana proses kami mudik. Karena untuk mudik bukan hal mudah kami. Baik dari waktu maupun dana. Sungguh ini adalah kasih karunia. Bayangkan, berapa banyak orang yang ingin mudik menghampiri tanah kelahiran tapi tak bisa karena tak ada lagi yang harus dijumpai di sana, tak biaya atau tak sempat. Bisa mudik itu rasanya luar biasa.

Tahun 2016 kami mudik dalam rangka pernikahan adik bungsu kami. Atur waktu, lihat sela yang bisa dimanfaatin, ternyata tak punya banyak waktu. Jumat, 5 Agustus kami berangkat dari Jakarta dan mendarat di Silangit Airport sekitar jam 11 siang. Kali pertama kami menginjak Silangit Airport. Senang juga Bandara Silangit beroperasi, jadi lebih dekat ke rumah, coba kalau di Kuala Namu, masih harus menempuh 5-6 jam lagi untuk tiba di Balige.

Hari pertama, 5 Agustus 2016

Tiba di Silangit kami disambut hangat oleh kerabat. Fantastic man… kami dibawa makan BPK yang enak di Balige. Namanya Tambar Lihe. Pernah ke sana? Sepengamatan saya di sana pengunjung tak berkesudahan baik makan di tempat maupun yang take away. Geva aja makan banyak, sampai inangtuanya heran. Melintasi jalan dari Silangit-Balige-Baruara, tak terlalu berbeda jauh. Saya melihat setiap tempat dan kenangan masa lalu muncul. Masa kecil dan tumbuh besar di tempat ini. Itu mengingatkan saya akan perjalanan hidup yang tak mudah, mengingatkan saya siapa saya dan berasal dari mana.

Mendekati rumah, detak jantung semakin dipacu. Setengah berlari menuju rumah, saya berteriak memanggil Bapak dan Mamak. Kami disambut bapak, dan saya berlari memeluk Mamak saya. Kerutan di wajahnya telah bertambah tapi masih tetap setegar karang dan sekuat baja. Kakak yang datang dari Belanda dan abang yang dari Australia sudah di rumah. Bagaimana saya tidak berbahagia pulang ke rumah. Sebenarnya saya baru makan BPK, tapi tiba di rumah melihat masakan mamak, tidak akan tahan, pasti pengen makan. Selalu ada ruang untuk masakan mamak.

Mulai dari Sopo (rumah adat) hingga pekarangan belakang masih seperti dulu. Ada sedikit renovasi untuk mempercantik dan memudahkan mamak saat bekerja di dapur. Dan yang tak kalah hebatnya, pohon mangga yang saya tinggalkan sudah berbuah. Waowww… luar biasa. Dulu saya pesimis kalau pohon itu akan berbuah. Rupanya sang waktu memberi saya jawaban. Bukan mangga ternyata kueni apa bacang lupa saat saya konfirmasi ke mamak.

Geva tak tahan melihat air dalam ember, okelah saya izinkan dia berenang dalam ember. Air di Baruara aih mak, dinginnya persis seperti es. Brr….. Abang dan keluarga tiba dari Dumai, rumah makin ramai. Bertemu pertama kali dengan Anggy, ponakan yang pintar. Bertemu dengan Holy dan Geby yang luar biasa hebat dan pandai. Dan Geva bertemu dengan paribannya ini untuk pertama kali. Kadang Geva mau ditinggal dan bermain besama sepupunya, kadang juga tidak. Bahkan saya harus menggendong kemana pun. Sebab ia butuh waktu untuk beradaptasi dengan tempat dan orang baru. Malam hari datang lagi kerabat dari Pakam, inanguda dan Rony, ada juga Bapauda dan Inanguda Grace. Tambah ramai lagi, datang lagi namboru dan amang boru dan pariban dari Medan. Lama sekali tak berjumpa dengan mereka. Bertemu iban kecil Moses. Hello Moses, welcome! Malamnya kami tidur secepat mungkin sebab pagi-pagi benar harus sudah bangun untuk dirias.

Hari kedua, 6 Agutus 2016

Jam 4 pagi mulai adegan merias terus menerus sampai semua selesai sekitar jam setengah 8. Inilah pengalaman saya dengan salon Toba. Mereka sudah tiba di rumah jam setengah 4. woww, tepat waktu juga ya. Tapi kayaknya mesti belajar banyak bagaimana menghadapi klien atau customer. Saya yakin mereka ahli dalam hal merias, mereka juga punya pelanggan yang amat banyak, dan jam terbang tinggi. Sedikitpun saya tidak meragukan itu. Congratulation guyss!!!!

Tapi…..

Sangat jauh berbeda saat saya memakai jasa salon di Jakarta maupun di Medan. Amat sangat jauh.

Kasus 1: Riasan mamak, saya liat itu tidak sesuai buat orangtua dan jelek banget terutama di bagian alis dan bibir. Saya tidak terima dong ya, ini mamak saya, yang punya hajat loe rias begini. Itu di benak saya. Secara reflek saya nyelutuk “ko lipstiknya kayak itu?” serius ga banget dah…. Yang merias memasang wajah kusut tak terima diprotes. Mungkin dia menyadari betapa buruknya hasil riasannya terhadap mamak dan ia pun akhirnya mengubah walau tak sebagus ekpektasi saya. Saya juga ga setuju dengan alis yang dia bentuk untuk mamak. Udahlah saya biarkan saja.

Kasus 2: Kakak saya mau dicukur alisnya tanpa persetujuan. Itu kan belum tentu diterima oleh yang bersangkutan. Saya ingat betul memakai jasa salon di Medan, periasnya meminta persetujuan saya, apa boleh dicukur. Di Jakarta juga sama. Bahkan saya pernah nieh di salon Jakarta “Gimana Ka, cocok ga?” karena ada yang kurang pas, saya menjawabnya lama. “Gpp ka, kasi tahu aja, nanti saya perbaiki”. Kan kalau tukang salonnya begini enak ya. Dia juga makin mahir menangani orang dan yang paling penting, pelanggan ga kapok balik ke sana.

Kasus 3: Bulu mata, nieh perempuan kalau ke salon emang ribetnya selangit dah. Kakak saya kan pake kacamata, bagi dia ga perlu pakai bulu mata karena kan kena kaca matanya. Dia jelasin ke tukang salon. Sama dengan inanguda Yani, yang juga pakai kacamata. Trus ga nayaman kan, tau ga itu tukang salon jawab apa ” Kalau ga mau ga usah pake salon lah”. ya elah, bu bu… gitu doang udah kebakaran jenggot.

Kasus 4: saya merasa dia memasang bulu mata saya yang sebelah kanan terlalu ke kiri dan saya tidak nyaman. Dengan berat hati dia memindahkannya. ok, bagus dong ya dia tampung aspirasi saya. Nah saat selesai dirias ternyata dia pasangnya terlalu rendah. Jadi ga sama lentiknya dan itu kentara. Saya bilang dong sama tukang salonnya, “Ka ntar tolong benerin ya ini ga sama tingginya”. Lalu saya coba perlihatkan padanya dimana ketidakcocokannya. Perias menjawab, “tadi katanya terlalu ke kiri”, ya ilah….. sekarang masalahnya bukan telalu ke kiri lagi keles….Melihat mukanya yang sudah mutung tingkat kakap, udahlah ga usah diperbaiki. Sebel banget saya..  Udah ilfil.

Biasanya kalau tukang salon kalau sudah selesai kita akan diperlihatkan hasilnya lalu ditanya, bagaimana apakah ada yang kurang atau apalah. Ini sama sekali tidak ada. Perbaiki sedikitlah ibu -ibu tukang salon. Kita salon bayar, tapi tidak happy dan tidak akan kembali. Juga tidak akan merekomendasikan ke siapapun. Saya yakin kalau dia nyalon di Jakarta macam gituan, ke laut aja. Semoga membaik ke depannya ya ibu-ibu yang super hebat…

holy
Kak Holy sedang dirias mewakili semua keluarga ya. Abisnya kesan tak enak dengan perias

Hari H pesta begitu riuh dan sibuk. Rentetan upacara pemberkatan maupun adat dimulai. Saya yang sedang mengusung misi utama dari Jakarta berfoto sebanyak mungkin dengan kerabat maupun teman lama tak satu pun terwujud. Sibuknya setengah hidup. Boro-boro mau foto liat hp aja ga sempat. Beughhh…. Untung masih ingat nafas. Namanya pesta Batak ya, apalagi masih original di daerah asal jangan harap cepat selesai. Emangnya pesta di Jakarta, jam 5 sore sudah rampung. Satu lagi pesta Batak ga bakalan bisa sempurna dan menyenangkan bagi semua orang. Ga di kampung, ga di Jakarta yang saya kira dimana pun PASTI ada saja yang kurang kalau jadi suhut (yang punya hajat). Jadi ya biar saja, berusaha memberi yang terbaik. Itu saja. TITIK. Acara adat baru selesai malam hari sekitar jam 8 malam tamu undangan sudah meninggalkan arena pesta. Dilanjutkan makan bersama dengan dongan sahuta. Untung dua gadis remaja cantik Ranti dan Juni mau membantu jadi pekerjaan terasa lebih ringan kalau tidak, pingsan dah. Pesta berakhir tanpa foto dengan siapapun. Misi gagal. Belum lagi Geva demam. Lengkaplah. Malamnya masih ada lagi diskusi keluarga perihal pesta hingga larut.

Hari ketiga, Minggu, 7 Agustus 2016.

Pagi-pagi benar saya sudah niatkan harus bangun pagi menyiapkan sarapan pagi. Rupanya saya terlambat bangun, sudah jam 6 pagi. Mamak sudah bangun pagi-pagi benar. Inanguda juga sudah beberes rumah.  Secepat mungkin harus menyiapkan sarapan pagi. Malam sebelumnya saya sudah cek stok apa yang bisa dijadikan sarapan. Walau tak sepenuhnya sama dengan rencana semula berubah berkat ide adek pengantin baru. Secepat yang saya bisa saya kerjakan semua. Tada….. akhirnya tersaji juga makan pagi ala kadarnya. Lumayan… Sebab amang boru, namboru, inanguda, bapauda dan sepupu lainnyan akan pergi ziarah ke makam opung kemudian langsung berangkat menuju Medan. Jamuan makan siang di hotel ompu Herti di Lumban Silintong pun tanpa kehadiran mereka tapi Inanguda Pakam masih ada. Nantulang dan kedua puteranya turut meramaikan.

Kami mencoba naik boat bebek. Idih dasar parno akut, takutnya setengah mati. Sulit menikmati. Maunya cepat cepat kembali. Tidak demikian dengan yang lain terlihat begitu antusias. Apalgi Geva dia pengen mencelupkan tangannya ke danau saat boat melaju seperti sepupunya yang lain.

Belum berakhir, lanjut dengan naik kapal ke hotel Tiara Bunga. Yang ini pemandangan mantap pisan. Kayaknya betah berlama-lama kalau liburan di sini.  View langsung ke Danau Toba yang super aduhai. Siapa yang tak mau. Namun tak bisa berlama-lama sebab kapal harus segera kembali untuk mengangkut penumpang.

Acara dadakan muncul saat hendak meninggalkan rumah makan. Kami bersepakat meluncur ke Baba Udan kampung halaman Mamak. Astaga….. sejuta kenangan manis tertulis disana. Teringat bagaimana kami ke rumah oppung di Sibarani berjalan kaki melintasi perkampungan. Terkadang kami ke sana naik mobil mengunjungi Oppung boru (Nenek) semasa hidupnya. Kami semua saling melontarkan kenangan bersama Opung di rumahnya, bagaimana ia menata rumahnya, memberi sambutan pada kami. Ia sangat tidak punya, tapi setiap kami ke sana beliau memberi kami uang 25 perak dan sering sekali kami membawa pulang hasil bumi. Kami tidak akan saling menceritakan pengalaman ini kalau kami tidak mampir ke sana. Tidak banyak berubah. Rumah original oppung telah direnovasi menjadi lebih modern di bagian belakang, namun di bagian depan masih seperti dulu. Nantulang menempati rumah itu kini. Syukurlah supaya terawat. Jadi terinspirasi menulis part khusus untuk ini. Mudah-mudahan terwujud.

Hari sudah gelap, kami memutuskan kembali ke rumah, meninggalkan kampung halaman mamak yang tak akan terlupakan.

Ini adalah malam terakhir bagi kami di rumah. Tak selera makan karena masih kenyang, belum lagi kudapan nikmat ala Medan di sajikan di rumah nantulang. Tetiba, ada yang minta indomie rebus, kaena ingin sesuatu yang lebih hangat dan nikmat barang kali. Saya sudah membayangkannya. Kayaknya memang enak. Saya menawarkan diri untuk memasak, sekedar info aja, indomie yang saya masak enaknya beyond your imagination. Bukannya sombong, cuma sedikit pamer, tapi warung sebelah tidak menjual brand indomie namun brand lainnya yang mirip. Yang lain mengusulkan membeli bakmi. Jadilah bakmi dieksekusi. Karena mungkin terlalu malam, langganan yang biasa sudah tutup. Memang salah satu misi adalah menikmati bakmi di Balige yang super enak. Lumayan dapat walau tak seperti ekspektasi. Rupanya mereka pulang juga membawa durian. Berhubung sedang tidak musim durian, harganya pun mahal dan yang jual cuma satu orang. Kurasa saya makan durian paling banyak dan masih berasa kurang. Enak bo. Lain kali pasti bisa dapat banyaklah duriannya ya Tulang. Jadilah adegan makan bakmi dan durian. Minggu malam tidak terlalu begadang sudah terasa penat.  Geva yang sedang demam, malamnya menangis hebat. Hikkss… ada kali setengah jam. Haduhh… bo, jam setengah 2 pagi, coba bayangkan.

Hari keempat, Senin 8 Agustus

Kami berencana akan di rumah saja mengumpulkan stamina untuk perjalanan nanti malam ke Belawan, ditambah Geva masih belum fit. Rombongan Dumai pun akan segera bertolak. Maklum jauh sekali rumahnya, dan adek-adek harus sekolah esoknya. Sekitar jam 10 pagi mereka berangkat yang tentunya didahului poto-poto original artinya poto muka sesungguhnya tanpa riasan, idih… lecek juga muka ini ya. Kesibukan dilanjutkan mamak, merapikan barang-barangnya, lalu memasak arsik kesukaan kami. Enaknya tak tertandingi. SUPERRR.. Saya packing barang-barang. Tapi dalam sekejap sudah sepakat akan pergi ke pemandian air panas Sipoholon. Karena kami memang tak ada rencana bepergian, saya tidak menggubris obrolan itu. Lihat jam, masih cukup waktu. Konfirmasi jam keberangkatan masih sangat cukup. Lobi punya lobi diputuskanlah kami ikut tapi tidak ada adegan mandi. Kembali saya tidak membawa persiapan baju ganti.

IMG_20160808_095411_HDR
Sebelum berpisah dengan kloter Dumai

Tiba di Pemandian, lihat sana lihat sini yang bertepatan milik Kak Tanda. Yori yang sangat bersemangat mau nyemplung. Hebohlah…. mandi di kolam air panas. Geva tak kalah heboh merengek mau melihat ke kolam. Oke, saya bawa dong, ingat ya nak, kita tidak mandi. Rupanya dia nangis dan kekeh mau nyemplung. Tanya sana sini gimana nieh. Ya udahlah, saya bawa Geva nyemplung tanpa baju. Trus saya gimana? Ga bawa baju ganti. Untunglah ide cemerlangnya kakak keluar. Di situ kan ada jual celana pendek. Alhasil, jadilah saya nyemplung setengah badan, di pingir saja di bagian tangga. Geva udah mau ke tengah, kan iri dong dia lihat yang lainnya main di kolam ke sana kemari, sementara dia cuma ditangganya saja. Keluar dari kolam susahnya minta ampun…. Apalagi karena sedang tak enak badan cenderung rewel. Beughhh… kesabaran diuji. Satu yang menarik adalah, ada yang memesan indomie rebus termasuk si Tulang karena udah memang pengen banget malamnya. Saat makan dia bilang “ini yang aku mau tadi malam” pucuk dicinta ulam pun tiba. Dia makan dengan lahap. Hahaha…. Hari beranjak malam kami harus bergegas kembali ke rumah. Masih ada lagi adegan makam malam. Bah… aku ga lagilah.. Cukup sudah… Jam 10 malam, mobil datang dan akan membawa kami ke Belawan untuk melanjutkan perjalanan dengan KM Kelud menuju Jakarta. Mudik pun berakhir bersama orang-orang tercinta. Mudah-mudahan bisa berkumpul lagi dengan formasi yang lebih lengkap dan dalam suasana sukacita. Tuhan memberkati, aku cinta kalian semua. Sampai jumpa….

IMG_20160808_213943
Menunggu jemputan segera meluncur ke Belawan

Ini mudik paling fantastis kami dari tiga tahun ini. Terima kasih untuk semua keceriaan kita selama di kampung halaman. Karena itu selagi masih ada kesempatan, mudiklah. Sebab esok hari kita tak pernah tahu  apa yang akan terjadi. (Fin:rs/28816)